Jumat, 12 Agustus 2011

Sekelumit Pandanganku tentang Pendidikan

Habis jalan-jalan sama mas Cah di Togamas jalan Gejayan. Tujuan utama adalah memburu buku 'Where There Is No Doctor' sampai ketemu. Dan tidak terlalu susah juga mencarinya. Tinggal memanfaatkan komputer yang tersedia di toko, maka buku yang dicari pun segera ketemu. Yang bikin aku dan mas Cah betah berlama-lama di Togamas sampai jam tutup adalah karena kami menemukan buku-buku yang menarik perhatian masing-masing. Mas Cah segera tenggelam dalam buku-buku praktis tentang elektronik di sudut toko. Sedangkan aku? Setelah menemukan buku target, aku tertarik dengan buku-buku teks psikiatri yang terpajang. Nggak aku beli sih, cuma aku catat saja. Mungkin lain kali belinya. Mau aku baca sampai khatam sebelum masuk sekolah lagi, kalau Tuhan Yesus berkehendak. Joss!

Aku percaya ini bukanlah kebetulan. Tuhan pasti yang mengarahkanku dan menarik perhatianku untuk melirik buku-buku tentang pendidikan di Indonesia. Lihat sana, lihat sini. Baca sekilas. Aku sangat antusias dengan apa yang aku temukan. Aku catat beberapa judul buku yang sangat menarik perhatianku itu, siapa tahu nanti aku akan sempat membeli dan membacanya. Dan karena begitu bersemangatnya, aku beli satu buku kecil tipis tentang Homecshooling: Pendidikan Multikultur untuk Remaja. Cukup menarik perhatianku saat ini. Bukan hanya tertarik, melainkan juga sangat berminat. Aku sangat terkesan dengan wawasan yang dibagikan oleh tiga serangkai penulis buku tersebut.

Dari buku tersebut, aku belajar bahwa pendidikan alternatif seperti homeschooling dapat digunakan untuk mengajarkan kehidupan konkret yang multikultur kepada anak-anak dan remaja. Yang penting, dalam belajar itu (entah di sekolah konvensional maupun di sekolah alternatif), anak tidak merasa terpaksa. Sebaliknya, anak belajar atas kemauannya sendiri. Tugas orang tua dan pendidik bukanlah sebagai guru yang mahatahu melainkan sebagai fasilitator saja. Sistem belajar yang pasif dan hanya sebagai penerima input satu arah seperti yang selama ini terjadi di sekolah-sekolah pada umumnya (entah sekolah sekarang seperti apa, tapi waktu aku sekolah dulu aku merasa seperti itu) ternyata merupakan suatu bentuk dehumanisasi. Tidak memanusiakan manusia. Yang ideal adalah sistem pembelajaran yang dialogis, di mana anak atau remaja dapat aktif mengemukakan pendapatnya dan membagikan wawasan serta pengalamannya.

Mungkin apa yang aku tuliskan di atas cuma dipandang sebagai teori yang sulit untuk diaplikasikan secara nyata sekarang ini. Tapi aku pikir lebih baik menyuarakan isi hati dan pikiran terlebih dahulu (meskipun kemudian dicap tukang gombal kebanyakan teori) daripada stres memendam banyak hal. Dengan demikian, aku bisa lega dan puas karena telah menyalurkan hasrat hati. Semoga apa yang kutulis ini dapat berguna dan membangkitkan minat anda yang membaca untuk berani berpikir lebih dalam lagi. Amin!

Jumat, 05 Agustus 2011

Sekelumit tentang Persekutuan... ^^

Hari ini sungguh terasa kurang bergairah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Padahal pagi-pagi sudah kumulai dengan berdoa dan membaca renungan harian bersama Mas Cah. Apa mungkin karena aku bangun agak kesiangan ya? Semalam nonton bareng PA dewasa muda sampai lumayan lama. Terus pulang nonton, aku dan mas Cah masih mampir dolan ngobrol-ngobrol di rumah mas Markus dan mbak Betty. Nggak terlalu banyak yang berkesan dari film yang aku tonton semalam. Aku lebih menikmati kebersamaan dengan mas Cah dan teman-teman persekutuan. Baik itu dewasa muda, keluarga muda "Murakabi", maupun keluarga muda "PA Daniel-yang-sebentar-lagi-akan-diganti-namanya.

Bicara tentang persekutuan, aku sungguh bersyukur pada Tuhan. Kalau ingat masa-masa remaja awal dulu sampai sekarang, aku sungguh sangat bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padaku. Dulu waktu awal-awal SMP, aku begitu minder karena aku merasa tidak punya komunitas. Komunitas rohani alias persekutuan di mana aku bisa eksis sambil dekat dengan Tuhan. Aku begitu iri pada teman-teman sebayaku yang selalu bercerita tentang kegiatan-kegiatan mereka di persekutuan gereja masing-masing. Aku sama sekali buta dan tidak tahu menahu bahwa ternyata persekutuan remaja dan pemuda di gereja itu ada. Aku cuma tahu gereja itu ya kebaktian tiap Minggu dan sekolah minggu. Titik. Dan ketika aku mulai terlibat dalam persekutuan siswa di sekolah, aku semakin merasa minder dan tidak PD karena pengalamanku dalam organisasi dan persekutuan ternyata sangatlah kurang.

Pengalaman minder waktu SMP pun berimbas sampai SMA. Aku berusaha menutupi kekuranganku dengan berusaha tampil serohani mungkin. Akibatnya, aku jadi kaku dan sangat-sangat tidak luwes dalam pergaulan sehari-hari Aku menganggap diriku yang paling kudus dan rohani. Standarku begitu tinggi dan idealis. Tanpa sadar mungkin aku telah menjadi seorang legalis. Aku sering menghakimi teman-temanku yang kuran rohani menurut pandanganku. Akibatnya lagi, suasana persekutuan pun menjadi tidak nyaman. Sungguh masa-masa yang memprihatinkan.

Bersyukur kepada Tuhan, menjelang lulus SMA dan masuk kuliah, aku diizinkan mencicipi kehidupan persekutuan rohani seperti yang ada dalam bayanganku. Sangat menyenangkan dan membuatku semakin bangga akan diriku sendiri. Mungkin karena saking sombongnya aku, Tuhan pun mengizinkan aku mengalami kegoncangan jiwa. Hubungan dengan teman-teman persekutuan yang kurang kuat pun hancur karena aku tidak membangun dengan dasar kasih. Pondasiku masih rapuh. Singkat kata, aku kembali lagi ke titik nol di mana aku hidup tanpa ada kegiatan persekutuan.

Seiring berjalannya waktu, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa persekutuan dalam Tuhan yang sejati itu bukan melulu hanya terletak pada acara yang meriah saja. Persekutuan itu bukan terletak pada acara menyanyi bersama dan berbagai macam ritual keagamaan. Persekutuan itu pada hakikatnya adalah hubungan yang terjalin antara saudara-saudara seiman dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita saat di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di kampung, di mana saja. Dalam hal-hal yang disebut oleh masyarakat umum sebagai hal sekuler (bukan rohani) itulah letak kesejatian dari persekutuan. Saat sedang ngobrol-ngobrol santai, saat sedang bekerja setiap hari, di situlah persekutuan yang erat dapat terjadi. Dan waktu-waktu yang disebut sebagi jam persekutuan yang meliputi pujian, penyembahan, doa, dan firman Tuhan akan menjadi perayaan yang bermakna atas persekutuan sejati yang telah terjadi dan terbangun sedikit demi sedikit.

Melihat apa yang Tuhan izinkan terjadi pada masa lalu dan apa yang Tuhan berikan pada masa sekarang membuatku semakin bersyukur dan bersyukur. Aku tidak lagi terobsesi dengan yang namanya persekutuan atau komunitas rohani. Aku juga tidak antipati terhadap persekutuan yang ada. Sebaliknya, aku berketetapan hati untuk menjadi berkat di mana pun Tuhan telah menempatkan aku untuk bersekutu. Bersama dengan mas Cah, aku sekarang menikmati hidup persekutuan dengan penuh sukacita. Sekali lagi, syukur kepada Tuhan atas hidup persekutuan yang telah memperlengkapi dan memperkaya batinku sehingga aku dapat bertahan dan menang dalam hidup di dunia ini. Haleluya!!!

Rabu, 03 Agustus 2011

Sore Bersama Meryl dan Harry Potter

Saat ini aku sedang duduk di depan lapto kecil milik ibu di Pelem Kecut. Tidak terlalu capek. Rasanya ingin sekali menulis lagi di sini sekedar untuk berbagi. Berbagi apa saja. Mumpung mas Cah lagi sibuk kerja juga di BI (Bank Indonesia) sampai agak malam. Bukan, mas Cah bukan alih profesi menjadi bankir... mas Cah tetap tekun dan setia pada pekerjaannya yaitu sebagai ahli listrik panggilan... lebih kerennya: konsultan elektronik freelance ^^ . Jadi begitulah... hari ini sungguh berkesan dan membuat hati puas. Setelah selesai menunaikan tugas dan kewajiban di IGD (maaf Tuhan, aku masih belum menghayati pekerjaanku sebagai panggilan yang penuh sukacita), aku ditraktir Meryl nonton film Harry Potter 7.2 di Empire XXI. Bersama-sama dengan Pak Wahyu, Bu Cicik, dan kedua anaknya. Datangnya terlambat beberapa menit karena Pak Wahyu kebingungan cari tempat parkir. Maklum, parkir penuh. Puji Tuhan, syukurlah, kami tidak terlalu lama terlambatnya. Nonton film pun dapat berjalan dengan lancar.

Pulang dari nonton film, sebenarnya aku mau mengikuti saran mas Cah yaitu nebeng Meryl pulang ke Pelem Kecut. Biar nanti nunggu mas Cah njemput di Pelem Kecut. Ternyata Meryl pun tidak dijemput. Karena kami sama-sama mau naik bus, Bu Cicik dan Pak Wahyu bersikeras mengantarkan kami pulang sampai rumah. Karena aku kurang bisa berbasa-basi, maka aku pun mengikuti ajakan Pak Wahyu dan Bu Cicik. Maka, jadilah hari ini aku dan Meryl seperti anak-anak Pak Wahyu dan Bu Cicik. Hehe... Karena masih terpengaruh oleh film yang baru saja aku tonton, maksudnya masih terbengong-bengong sedikit, aku tidak bisa mengobrol sampai puas sama Meryl, Pak Wahyu dan Bu Cicik. Maksud hati pingin membagikan apa yang aku dapatkan dari film Harry Potter, seperti hikmah apa saja yang bisa dipetik, eh... aku sama Meryl malah asyik mengagumi pemeran anaknya Harry Potter yang imut banget. Mungkin lain kali kami bisa mendiskusikan hal-hal berharga tentang cerita Harry Potter dengan lebih leluasa. Semoga.

Sore ini senang sekali bisa menemani Meryl nonton bareng. Sayang sekali mas Cah, Yudith, Mbak Ony, Yohan nggak bisa ikut. Maka, sebagai gantinya, Meryl mengajak Pak Wahyu, Bu Cicik, dan kedua anaknya untuk nonton bareng. Bulan ini bulan terakhir Meryl bertugas jaga di Bethesda. Makanya, saat-saat farewell harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sudah hampir setahun Meryl magang di Bethesda Yogyakarta. Dan nonton bareng film Harry Potter 7.2 ini merupakan 'farewell party' ronde pertama Meryl. Besok-besok masih ada lagi acara-acara yanbg bakalan digelar. Kita tunggu saja! O iya... Meryl tadi secara sambil lalu mengajak aku jalan-jalan ke jalan Gejayan besok sore sesudah kerja. Katanya sih lagi suntuk di rumah sendirian. Maklum, orang tua Meryl sudah ada di Medan. Sebentar lagi Meryl juga akan menyusul ke Medan. Semoga kalau Tuhan mengizinkan, aku besok bisa nemenin lagi Meryl jalan-jalan. Kalau nggak terlalu capek dan kalau nggak ada sesuatu yang lebih mendesak. Penting ini. Mumpung besok mas Cah rencananya mau ke Solo dari jam 11 sampai jam 5 sore, mau layat ibunya Pak Bagus. Siapakah Pak Bagus? Lain kali mungkin aku akan ceritakan di sini. Kalau ingat... hehe... ^^