Senin, 26 Mei 2014

Wajah Bangsa: "Syukur dan Terima Kasih"

Siang tadi, Pak Ias melontarkan bahan perbincangan menarik. Berdasarkan apa yang disampaikan pengkotbah dari Korea yang mengisi firman di gereja tempat Pak Ias berjemaat, ada fakta menarik yang membedakan bangsa Korea dengan bangsa Indonesia. Dikatakan bahwa bangsa Korea adalah bangsa yang sangat berterima kasih atas pengaruh misionari Injil yang masuk selama seratusan tahun di Korea. Hal ini tampak dari begitu banyaknya misi penginjilan modern Korea dari berbagai profesi ke seluruh dunia. Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia dapat dikatakan lebih lama 'dipengaruhi' oleh misionari Injil, namun apa yang dihasilkan? Adakah Indonesia pun mempunyai wujud 'rasa terima kasih' atau syukur yang nyata atas pengaruh Injil tersebut? Jika ada, apakah itu? Jika tidak, mengapa bisa demikian?

Dari sekilas obrolan yang tiba-tiba kuingat itu, aku jadi mikir. Apakah bangsaku ini sedemikian parah mentalnya sehingga tidak punya rasa terima kasih? Apakah sedemikian sukarnya bangsa Indonesia ini untuk bersyukur? Ah, apa iya? Mau buktinya? Coba perhatikan sehari-hari di sekitar kita. Dalam setiap obrolan yang terjadi, adakah celetukan bernada miris, menghujat, dan menyesali nasib bangsa ini? Entah karena pemimpinnya, korupsinya, keamanannya, kesemrawutannya, dan berbagai hal negatif lainnya? Dan, adakah seruan bernada optimis dan positif bagi bangsa ini? Kalau ada, berapa banyak perbandingannya dengan yang pesimis dan negatif? Nah, setelah menghitung dengan jujur, bagaimana kesimpulannya? Sederhana saja. Semakin besar kadar positif dan optimis dalam seruan yang kita dengar sehari-hari, semakin besarlah rasa syukur dan terima kasih kita sebagai bangsa Indonesia. Sebaliknya, semakin besar kadar negatif dan pesimis dalam seruan dan ucapan sehari-hari, semakin kecillah rasa syukur dan terima kasih yang ditunjukkan oleh bangsa ini.

Mari kita asumsikan kondisi di atas sebagai kondisi di luar kita, di mana kita belumlah terlibat. Selanjutnya, mari kita mawas diri terlebih dahulu. Apakah kita adalah orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih? Apakah kita mau menjadi orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih? Mari kita pilih yang benar dan terbaik, yang sudah cetha wela-wela itu!

Bagaimana? Sudah memilih? Kalau sudah, mari kita warnai keseharian kita dengan ucapan dan seruan yang lahir dari kemantapan hati yang sudah memilih itu. Maka, (mungkin) wajah bangsa kita akan lain dari sebelumnya. Setuju?!?

Rabu, 21 Mei 2014

Komodo Hijau Tosca

Komodo adalah julukan yang kuberikan bagi mobil Escudo dengan cat hijau tosca metalic atas nama ibuku yang diwariskannya kepadaku. Saat ini si Komodo ini menjadi pusaka keluarga di Rumah Cahaya, alias tidak pernah dioperasikan sebagaimana tugas panggilannya, sebagai kendaraan keluarga. Dulu, ketika masih jaya-jayanya, si Komodo pernah dikendarai kami sekeluarga sampai ke Bali, bahkan sampai mendaki ke Bromo. Bannya yang kuat dan kokoh mampu memanjat trotoar, meskipun itu bukanlah bagian dari tugas wajibnya. Bodinya yang imut dan lucu itu sering terbentur-bentur entah itu pagar, tembok, maupun kendaraan lain. Dengan Komodo inilah aku pertama kali belajar mengendarai mobil. Komodo ini pulalah yang setia kuajak ke sekolah dan kuliah. Hiasannya yang awet dan paling khas adalah gantungan berbentuk tulang paha mini di spion tengah depan. Di kaca belakang, tertempel stiker-stiker lucu dengan satu yang paling keren yaitu tulisan “Holy Spirit Team”. Yang paling penting dari si Komodo ini adalah pemutar kaset musik dan radio yang selalu setia mengisi udara dengan nyanyian-nyanyian surgawi. Maka, bolehlah dikatakan bahwa Komodo hijau tosca ini adalah kendaraan jurusan surga. Aku dulu pernah mendedikasikan si Komodo ini untuk melayani TUHAN, apapun itu bentuknya. Dulu, sering aku melakukan doa keliling kota dengan mengendarai Komodo ini, entah sendiri ataupun bersama-sama teman. Rasanya seru dan menyenangkan sekali bertualang bersama Komodo!
                Naik mobil seperti Komodo hijau tosca itu ada keuntungannya. Selain nyaman dan relatif lebih aman jika dibandingkan dengan naik sepeda motor, dengan naik Komodo aku bisa menikmati keliling-keliling kota bahkan luar kota jarak jauh sambil mendengarkan musik sesuka hati. Selain itu, kalau tidak mengemudi, aku bisa duduk sampai jatuh tertidur selama perjalanan. Hal seperti ini tidak bisa kulakukan jika aku membonceng sepeda motor. Namun di samping keuntungan, ada pula kerugian dari naik Komodo atau mobil pada umunya. Aku jadi tidak bisa menikimati semilir angin dan suasana riuh rendah lalu lintas di sekitarku karena terhalang bodi mobil yang rapat. Kesannya jadi seperti menonton film di layar lebar tiga dimensi saja. Sedangkan jika naik sepeda atau sepeda motor itu bagaikan bertualang dalam kondisi alam yang sesugguhnya. Yang paling tidak menyenangkan, dengan naik Komodo, aku turut menyumbang kemacetan dan polusi di jalan raya. Mungkin aku merasa nyaman-nyaman saja, tapi bagaimana dengan lingkungan dan orang-orang yang tidak seberuntung aku? Hal inilah yang patut kupikirkan.
                Dari uraian di atas, aku berkesimpulan bahwa memiliki mobil semacam Komodo hijau tosca ada nilai plus maupun minusnya. Nilai plusnya mungkin hanya sebatas meningkatkan gengsi dan demi kepraktisan perjalanan. Nilai minusnya adalah dampak jangka panjang bagi lingkungan dan budaya. Bagi lingkungan, terlalu banyak orang yang menggunakan mobil pribadi di jalan raya dapat menambah kemacetan, aneka polusi, dan meningkatkan stres. Bagi budaya, dalam jangka panjang, orang semakin malas menggerakkan otot-otot kaki mereka untuk berjalan meskipun jarak tempuh hanya pendek. Orang hanya mengejar segi kepraktisannya saja tanpa memikirkan dampaknya bagi diri dan lingkungan. Dari segi kesehatan, tubuh manusia semakin lama semakin penuh dengan faktor risiko akibat kurang bergerak. Oleh karena itu, aku berketetapan dalam hati untuk membatasi diri tidak naik Komodo hijau tosca itu kalau tidak terlalu kepepet. Selama masih bisa berjalan, bersepeda, atau membonceng sepeda motor, aku akan mengisitirahatan si Komodo di rumah Cahaya. Mungkin yang kupilih ini terbilang bodoh menurut anggapan umum, tapi aku tahu bahwa aku telah berkontribusi untuk kebaikan diri, sesama, dan lingkungan dalam jangka panjang. Maka, biarlah Komodo hijau tosca itu berdiri tenang sebagai pusaka yang agung di tempatnya, tak perlu mengejar gengsi atau hormat dari orang lain.


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 8 November 2013)

Petualangan Naik Bus

Naik bus keliling kota. Siapa yang pernah melakukannya? Saya pernah, entah sendiri entah bersama-sama. Pengalaman naik bus kota satu putaran sendirian pernah saya lakoni sekali dua kali dulu ketika masih bujangan. Motivasinya hanya sekedar melepas kejenuhan dan melihat-lihat suasana kota sepintas lalu. Sedangkan naik bus bersama Mas Cah pernah saya lakukan satu dua tahun yang lalu. Waktu itu kami naik bus Trans Jogja jurusan RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda. Waktu itu bus Trans Jogja masih adem dan nyaman sekali. Waktu itu pula saya pertama kali naik bus Trans Jogja. Beberapa menit perjalanan saya sempat jatuh tertidur karena begitu nyamannya. Mas Cah berhasil mengambil gambar saya sewaktu tertidur dengan kamera ponselnya. Sungguh bukan hasil yang fotogenik tentunya. Pengalaman kedua kali naik bus Trans Jogja jurusan yang sama, RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda, mempunyai kenangan tersendiri. Kenyamanan sudah agak berkurang, penumpang pun banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Selama perjalanan itu, saya mengajak ngobrol seorang bapak yang lanjut usia namun masih tampak segar bugar. Saya ngobrol ngalor ngidul dan iseng-iseng menanyakan kepadanya perbedaan situasi sewaktu G 30 S dengan sewaktu awal-awal reformasi dulu. Menurut penuturan beliau, suasana waktu G 30 S jauh lebih mencekam. Saya pun hanya manggut-manggut sambil membayangkan.
                Perjalanan naik bus itu menurut saya sangatlah menyenangkan. Banyak hal yang bisa saya dapatkan selama duduk diam menikmati perjalanan. Saya bisa memperhatikan aneka rupa penumpang yang sama-sama duduk atau berdiri selama perjalanan. Ada yang sendiri, berdua-dua, sampai berombongan. Ada yang diam, tidur, membaca, mendengarkan musik, dan ada pula yang mengobrol. Dari obrolan yang secara otomatis saya dengar, saya menebak-nebak berbagai macam hal seperti latar belakang, pekerjaan, kesibukan, keluarga, dsb dari para penumpang tersebut. Diam-diam saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka. Melatih empati, mungkin itulah yang sedang saya lakukan. Ada kalanya, saya terdorong untuk berdoa dalam hati bagi penumpang, sopir, atau kota yang sedang saya jelajahi. Dalam berdoa itu, saya melatih kepedulian dan kepekaan akan kebutuhan mereka yang sedang saya doakan. Namun, lebih sering saya hanya duduk diam dan beristirahat tanpa ada keinginan untuk mendengarkan ataupun berdoa macam-macam. Saya mengistirahatkan badan dan pikiran sejenak sebelum kemudian aktif lagi setelah sampai di tempat tujuan. Dalam beristirahat itu, saya tetap waspada dan berjaga-jaga terhadap berbagai kemungkinan. Saya selalu awas terhadap posisi pintu atau jendela darurat dan siap kalau-kalau terjadi peristiwa yang tidak diinginkan semisal kecelakaan. Saya juga selalu siaga kalau-kalau ada tangan usil atau jahil yang berniat mengganggu keamanan dan kenyamanan. Di atas semua itu, saya selalu berserah kepada TUHAN sepanjang perjalanan.
                Dari pengalaman naik bus yang belumlah seberapa itu, saya memperoleh beberapa manfaat bagi diri saya maupun bagi orang lain. Bagi diri saya, saya memperoleh kepuasan dari kegiatan duduk diam, mendengarkan, kadang berdoa, dan beristirahat sambil melihat-lihat dan menikmati pemandangan kota sepintas lalu. Saya puas melihat situasi dunia sekeliling saya pada saat itu untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanan hidup saya yang entah sampai kapan. Selain itu, saya juga menambah pengetahuan dan pengalaman dari apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan selama perjalanan naik bus. Pengetahuan itu bisa menjadi bekal saya dalam melanjutkan petualangan kehidupan bersama TUHAN. bagi orang lain, saya menganggap bahwa orang yang naik bus itu termasuk pahlawan lingkungan. Mereka membantu mengurangi kepadatan lalu lintas dan polusi. Dengan semakin banyak orang yang naik bus atau kendaraan umum massal lainnya, semakin sedikitlah jumlah pengendara kendaraan pribadi sehingga berkuranglah kemacetan. Di samping itu, kita dapat belajar untuk sungguh-sungguh hidup merakyat, berdampingan dengan sesama, dan tidak mengagung-agungkan ego berkedok privasi.
                Semoga ke depannya pelayanan bus kota dan angkutan umum dapat semakin baik lagi sehingga kesempatan untuk mengalami perjumpaan yang bermakna dengan sesama dapat semakin sering terjadi. Dan, dari perjumpaan dengan sesama itu, kita dapat belajar mengenali perjumpaan dengan TUHAN yang kadang menyamar di keseharian kita.

(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 7 November 2013)

Ritual Jalan-Jalan

Sebelum membangun keluarga sendiri, aku dan keluarga intiku (bapak, ibu, dan kakak) punya ritual untuk melepas penat dan sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga. Ritual itu adalah ‘berjalan-jalan’ naik mobil. Biasanya kami melakukan ritual itu setelah menghadiri kebaktian hari Minggu, entah siang atau sore. Rute yang ditempuh bervariasi, tergantung selera sang pengemudi, yaitu bapak. Jarak yang ditempuh bisa mencapai berpuluh-puluh kilo meter. Perjalanan pergi pulang dari Jogja dapat memakan waktu sampai larut malam. Capek atau lelah tidak terasa karena tertutup oleh kepuasan batin yang diperoleh. Masing-masing kami mempunyai kesenangan sendiri-sendiri. Bapak senang mengemudi dengan penuh konsentrasi, tanpa banyak omong, mungkin sambil mendengarkan obrolan atau celetukan para penumpang dengan latar belakang musik dari audio mobil. Ibu lebih senang tertidur menjelang pertengahan perjalanan sampai ke tujuan perjalanan. Aku dan kakakku cenderung suka mengamati sekeliling, mendengarkan musik, atau membaca, sebelum pada akhirnya pun tidur juga karena getaran mobil yang monoton.
                Setelah berkeluarga, aku seperti ‘kehilangan’ ritual jalan-jalan naik mobil sampai tertidur itu. Maklum, sampai tulisan ini dibuat, Mas Cah belum punya SIM A sehingga belum berani membawa mobil ke mana-mana. Walhasil, aku pun menjadi terbiasa melek atau terjaga terus sepanjang perjalanan membonceng sepeda motor. Jarak tempuh ‘berjalan-jalan’ dengan sepeda motor tidak sejauh dengan mobil. Sehingga, aku belajar untuk mencukupkan diriku dengan apa yang ada. Tidak ada lagi mendengarkan musik sepanjang perjalanan apalagi sampai tertidur. Namun akhir-akhir ini, muncullah kebiasaan baru yang terbilang cukup menyenangkan. Ini semua berkat Asa, sang putri kerajaan surga. Setelah mandi sore dan makan, biasanya Asa rewel karena menjelang waktu tidur. Untuk mengatasi rewelnya, aku dan Mas Cah mengajak Asa ‘berjalan-jalan’ naik motor menjelajah kampung sekitar rumah. Biasanya kami pergi sekitar jam lima sampai jam enam sore. Asa yang digendong dengan ransel itu pun terlihat sangat menikmati waktu-waktu kebersamaan ini. Biasanya dia akan tertidur menjelang berakhirnya ‘jalan-jalan’. Sepanjang perjalanan naik motor itu, aku menikmati pemandangan kanan kiri jalan sambil mengajak ngobrol Mas Cah. Aku jadi terbiasa dengan perjalanan tanpa mendengarkan musik di tape. Aku bisa menikmati musik jalan raya berupa deru kendaraan bermotor dan bunyi klakson yang bertalu-talu. Rasanya begitu kaya dan merakyat sekali.
                Ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari ritual ‘berjalan-jalan’ naik motor atau mobil itu. Yang pertama adalah melepas penat terutama akibat kebosanan atau lelah berpikir. Pikiran yang jenuh akibat rutinitas baik itu di rumah maupun di kantor dapat terjernihkan dengan selingan berupa menikmati ritual jalan-jalan. Kedua, dapat mempererat tali kasih. Dengan mengobrol sepanjang perjalanan, entah topik apa yang diangkat, pikiran menjadi santai dan hati menjadi lebih hangat. Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah adanya kesempatan untuk mengadakan kontemplasi terselubung. Pikiran yang mengembara ke mana-mana dapat tersalurkan pengembaraannya sepanjang perjalanan. Tubuh yang tidak banyak bergerak namun sudah mengalami perpindahan ruang dan waktu berkat kendaraan yang dinaiki itu cukup membantu menyantaikan arus pikiran sehingga sering muncul gagasan-gagasan yang inspiratif dari hasil kontemplasi terselubung. Sering pula waktu-waktu itu aku manfaatkan untuk berseru atau ngobrol dalam hati dengan TUHAN. Mungkin di perjalanan aku melihat suatu pemandangan menarik kemudian aku serukan gagasan yang timbul darinya kepada Tuhan. Waktu yang kumanfaatkan dengan ‘jalan-jalan’ naik motor itu sungguh tidaklah sia-sia karena selain berhasil menidurkan Asa, aku memperoleh penyegaran roh dan jiwa yang murah dan meriah.
(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 25 Oktober 2013)


Menjadi Juru Semangat

Kegiatanku sehari-hari diwarnai dengan banyak mendengarkan celotehan menarik dari sesamaku manusia. Baik itu di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan persekutuan, aku sering mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Ada yang menceritakan tentang kegelisahan, kegaduhan, kegalauan, kesedihan, dan penderitaan yang dialaminya. Ada pula yang menceritakan tentang pergumulan iman dan bagaimana solusi atau jawaban Tuhan yang diperolehnya. Begitu penuh variasi isi pembicaraan yang berseliweran di sekitarku membentuk mozaik kehidupan yang penuh dinamika.
                Kecenderungan alami manusia adalah membicarakan keburukan situasi atau sesamanya dalam percakapan ringan di mana pun mereka berada. Tidak terasa sudah sedemikian banyak energi negatif yang dihasilkan akibat pembicaraan yang juga bernada negatif itu. Tanpa terasa pula, semangat hidup yang ada menjadi negatif dipenuhi kemarahan, pesimisme, dan apatisme. Di situlah diperlukan peran ‘juru semangat’. Apa itu juru semangat? Ia adalah orang yang senantiasa mengobarkan semangat positif dan optimisime di manapun dia berada, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di lingkungan keluarga, ia dapat berupa seorang ayah, ibu, anak, atau kerabat yang lebih banyak mendengar tanpa ikut nimbrung membunuh karakter anggota keluarga yang lain dalam perbincangan ringan manakala sedang ada perkumpulan. Di tempat kerja, ia dapat berupa seorang pemimpin, manajer, atau karyawan yang fokus pada pekerjaan sembari terbuka terhadap berbagai informasi yang ada tanpa harus hanyut larut dalam berbagai isu yang menggembosi semangat kerja. Di persekutuan, ia dapat berupa seorang gembala, guru, pemimpin kelompok, atau anggota yang ikut senang ketika saudaranya senang dan ikut sedih ketika saudaranya sedih. Pendek kata, juru semangat adalah seorang yang sungguh-sungguh hadir dan ada, di mana kehadirannya itu berdampak positif sehingga mempengaruhi atmosfer lingkungan sekitarnya yang cenderung negatif.
                Menjadi juru semangat dapat dilakukan oleh siapapun juga tanpa mengenal pangkat dan kedudukan. Yang dibutuhkan adalah hati yang mau memberi dan berbagi dengan tujuan menjadikan dunia menjadi lebih baik lagi. Dibutuhkan konsistensi dan disiplin yang terus-menerus untuk menjadi seorang juru semangat yang benar-benar berdampak. Syarat utamanya adalah menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatannya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana setiap hari secara konsisten dan sepenuh hati. Misalnya, datang dan pergi sesuai jam kerja. Kemudian, bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, dan sekuat tenaga tanpa terjebak pada rutinitas. Selanjutnya, bersikap ramah, sopan, dan hormat dengan kadang disertai humor sehat terhadap sesama manusia di sekeliling kita. Jika ada masalah, jadilah bagian dari solusi, jangan menambah masalah.
                Jika ada satu atau dua saja juru semangat di suatu tempat, maka atmosfer tempat tersebut akan terpengaruh oleh keberadaan mereka. Sikap mereka yang positif sedikit banyak akan menular kepada sekelilingnya. Dengan semakin banyak orang yang tertular sikap positif, lahirlah juru semangat-juru semangat yang baru. Mereka pun semakin banyak menularkan energi positif. Ada di manakah mereka? Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka adalah kita yang mau dan bersedia menjadi juru semangat itu. Mari!


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 24 Oktober 2013)

Mengiringi dan Ngesound

Dalam ibadah atau kebaktian di gereja, selain kotbah dan doa, pelayanan musik memegang peranan yang tidak kalah penting. Rasanya ada yang kurang jika ibadah tanpa ada nyanyian atau musiknya. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa gereja itu adalah jemaat yang bernyanyi. Kualitas musik dan nyanyian jemaat sangat menentukan kualitas ibadah atau kebaktian yang diselenggarakan. Jika jemaat menyanyikan dengan baik dan sesuai dengan tujuan, maka sebenarnya kotbah dan doa sudah termasuk di dalamnya. Unsur yang membuat kualitas musik dan nyanyian jemaat menjadi baik adalah pelayanan musik yang ditunjang oleh pelayanan sound system. Kedua hal ini saling menopang dan melengkapi. Tanpa musik, jemaat kadang kurang semangat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian. Tempo kadang melambat, jemaat pun takut salah. Tanpa sound system, musik yang dimainkan pun tidak maksimal karena jemaat kadang terganggu oleh volume suara yang mungkin terlalu keras atau lemah. Di sinilah diperlukan kerja sama antara pemain musik dan petugas sound system.
                Setiap Minggu, aku dan Mas Cah biasanya dijadwalkan melayani di kebaktian. Aku dijadwalkan memainkan musik di GKJ Gondokusuman, sedangkan Mas Cah dijadwalkan mengatur sound system di GKJ Ambarrukmo. Kami memang belum mengurus untuk bisa tercatat di satu administrasi gereja pada saat tulisan ini dibuat. Aku bersyukur karena proses belajar musik dari sejak kecil sampai sekarang, meskipun sempat berhenti karena fokus sekolah, dapat berguna untuk memuliakan Tuhan di gereja. Mas Cah pun demikian. Hasil belajar formalnya di bidang elektronika sekaligus merupakan hobbynya itu sungguh berguna juga bagi pelayanan ibadah di gereja. Aku dan Mas Cah sama-sama menerapkan prinsip totalitas setiap kali melayani kebaktian. Aku minimal harus latihan terlebih dahulu satu hari sebelum kebaktian. Kemudian, aku harus sudah siap paling tidak setengah jam sebelum kebaktian dimulai. Yang kulakukan adalah memainkan lagu-lagu pujian secara lembut untuk menciptakan suasana hening sebelum kebaktian dimulai. Biasanya ada jemaat yang datang awal untuk berdoa sebelum kebaktian. Di sinilah aku berperan membantu mereka memasuki suasana hening dan syahdu dalam menikmati hadirat Tuhan melalui doa-doa pribadi mereka. Untuk bisa mengiringi dengan baik dan penuh penghayatan, selain teknis latihan, aku perlu mempersiapkan juga hati dan jiwaku. Aku perlu berdoa dan menenangkan hatiku supaya aku bisa konsentrasi dan fokus pada saat bertugas mengiringi. Kadang saat bermain musik, Tuhan mengalirkan ide-ide kreatif sehingga aku bisa memainkan improvisasi cantik yang menambah meriah ataupun syahdu lagu pujian yang dinyanyikan.
                Dalam bertugas mengatur sound system pun, Mas Cah juga bersikap profesional. Mas Cah selalu datang awal jauh sebelum kebaktian dimulai. Ia selalu mengecek semua mikrofon yang akan digunakan beserta spiker-spiker alat musiknya. Setelah semua beres, diputarnya lagu-lagu instrumentalia lembut untuk menciptakan suasana indah dalam gedung gereja. Sama seperti yang kulakukan dengan alat musik, demikian juga yang dilakukan Mas Cah dengan peralatan sound systemnya. Ketika kebaktian berlangsung, Mas Cah selalu siaga di tempatnya, mengatur volume di sana sini dan sigap manakala ada feedback yang mengganggu. Pekerjaan pelayanan Mas Cah selalu beres dan tidak pernah setengah-setengah. Aku sungguh kagum dan bangga akan sikap Mas Cah itu.
                Kami sering mendiskusikan kebaktian yang kami layani masing-masing. Kami saling mencurahkan gagasan mengenai musik dan sound system. Harapan kami, gereja di mana kami berjemaat pun dapat bertumbuh dan berkembang dalam hal pelayanan musik dan sound system di setiap kebaktiannya. Kami masih belum puas dengan kondisi yang ada saat ini. Karena itu, kami senantiasa setia mengerjakan tugas panggilan kami sebagai pemusik dan petugas sound system meskipun tidak banyak diperhatikan orang.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Kamis 16 Mei 2013)

Mbak Ami Sang Pekerja

PRT atau pekerja rumah tangga menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya dalam lingkup keluarga. Karena pada zaman sekarang, di Indonesia, sudah umum jika laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja di luar rumah, kebutuhan akan PRT menjadi tak terelakkan. Memang ada juga keluarga yang mandiri dan modern yang tidak mempekerjakan PRT dalam rumah tangga mereka. Tapi, bagi sebagian besar keluarga yang mampu secara ekonomi, sepertinya sudah menjadi hal wajib untuk mempekerjakan PRT. Bermula atas dasar kebutuhan itulah, maka beberapa waktu yang lalu, kami mepekerjakan seorang PRT yang tugas utamanya adalah membantu menjaga Asa yang masih bayi sementara aku dan Mas Cah bekerja di luar rumah.
                Namanya Aminah. Aku memanggilnya Mbak Ami. Mbak Ami adalah PRT yang direkrut bekerja di rumah tangga kami di Rumah Cahaya selama beberapa waktu yang lalu. Pekerjaan utamanya adalah membantuku menjaga Asa terutama saat aku harus pergi bekerja di ladang TUHAN di Yogyakarta. Mbak Ami berasal dari Wonosari, sebuah kota kecil di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memang, banyak sekali perempuan-perempuan muda dari Gunung Kidul yang merantau ke kota menjadi PRT dengan berbagai motivasi. Mbak Ami sendiri ketika kami tanya-tanyai mengatakan bahwa motivasinya adalah untuk belajar menjadi ibu rumah tangga kelak saat sudah menikah, di samping tentu saja mencari penghasilan yang halal. Pendidikan terakhirnya SMP. Mbak Ami tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan biaya dan memang sudah umum bagi perempuan muda di daerahnya untuk tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
                Sejak awal kerja sampai keluarnya Mbak Ami, aku belajar banyak hal berharga. Aku belajar bagaimana menilai seseorang dari kinerjanya. Selama ini, aku menganggap Mbak Ami sebagai bagian dari keluarga sendiri tanpa perlu menilai apakah pekerjaannya beres atau tidak. Ternyata, sebagai ibu rumah tangga, sangatlah perlu bagiku untuk mengecek dan mengevaluasi kinerja PRT dengan objektif. Aku yang cenderung cuek ini belajar dari Mas Cah dan keluarganya bagaimana bersikap tegas sekaligus lemah lembut dalam mengarahkan PRT. Dari ibu mertua, aku belajar bagaimana bersikap benar dan pada tempatnya jika berhubungan dengan PRT. Ibu mertua banyak sekali memberikan wejangan untuk Mbak Ami yang intinya mengajari Mbak Ami bagaimana bersikap yang baik dan benar. Mbak Ami pun aku beri dorongan untuk terus belajar. Karena keluarga dari Solo sudah biasa melakukan segala sesuatu secara mandiri, maka mereka bisa menilai dengan lebih cermat kinerja Mbak Ami. Ternyata, apa yang kuanggap wajar dan bukan masalah merupakan hal yang kurang baik dan menjadi ganjalan bagi ayah ibu mertua dan Mas Cah. Memang kesan yang kudapat dari sikap ayah ibu mertua terhadap Mbak Ami pada awalnya terlalu keras dan kaku. Tapi setelah dipikir dan direnungkan, aku mendapati ada benarnya juga pendapat mereka. Bahkan, aku merasa TUHAN menegurku melalui nasihat ibu mertua perihal kedekatan Asa yang lebih lengket kepada Mbak Ami daripada kepadaku. Aku mengambil hikmah pada saat yang tepat. Aku sadar sebelum semuanya terlambat. Aku mengambil kembali tugas, tanggung jawab, dan posisiku sebagai ibu yang baik tepat sebelum Mbak Ami berpamitan untuk berhenti bekerja. Rasanya semuanya begitu tepat waktu. TUHAN terasa betul sudah mengatur semuanya sehingga aku secara pribadi sudah siap dengan berbagai bentuk perubahan dalam kehidupan keluargaku.
                Setelah Mbak Ami berhenti, aku dan Mas Cah bersama-sama bekerja mengatur kembali kebiasaan rutin dalam keluarga. Aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan, memandikan Asa, bersiap-siap untuk kerja, dan lain sebagainya. Aku juga harus belajar kembali untuk menata prioritas kegiatan-kegiatan dalam rumah tangga supaya tidak ada yang terabaikan. Prioritas utama adalah kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Aku perlu belajar untuk mengatur makanan, pakaian, dan tetek bengek rumah secara mandiri. Apa yang selama ini menjadi tugas rutin Mbak Ami kini menjadi tugas rutin aku dan Mas Cah. Aku tidak menyesalkan Mbak Ami berhenti jadi PRT di rumah kami. Aku berharap Mbak Ami dapat memetik pelajaran yang berharga dari pengalamannya bekerja di keluarga kami meskipun cuma sebentar. Lebih dari itu, aku berdoa supaya dalam perjalanan hidupnya kemudian, Mbak Ami pun beroleh pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya pribadi. Aku bersyukur karena setidaknya aku pernah sekali dua kali menyampaikan kabar baik keselamatan secara halus kepada Mbak Ami. Kiranya apa yang aku sampaikan itu menjadi benih yang tumbuh dalam hati Mbak Ami sehingga saatnya nanti dapat dituai. Selamat tinggal, Mbak Ami! Sampai ketemu lagi!


(Rumah Cahaya, Rabu 15 Mei 2013)

Bermain dengan Asa

Asa suka sekali bermain dan bereksplorasi. Dalam usianya yang masih terhitung bayi saat tulisan ini dibuat, tampak bahwa pertumbuhan dan perkembangan Asa begitu luar biasa. Bisa dikatakan bahwa Asa adalah bayi yang sempurna. Pertumbuhan fisiknya di atas rata-rata anak bayi pada umumnya. Perkembangannya juga aku lihat cukup optimal. Setiap hari, Asa selalu bermain. Dalam bermain itu terlihat betul bagaimana jiwa petualangannya. Tidak terlihat rasa takut atau ragu dalam setiap gerak-geriknya. Seperti layaknya bayi yang sedang dalam masa emas pertumbuhannya, Asa pun sangat peka terhadap berbagai stimulasi. Terhadap bunyi-bunyian, Asa sangatlah responsif. Apalagi jika diperdengarkan bunyi musik dan nyanyian. Kecerdasan musikal Asa tampaknya cukup tinggi. Ini mungkin karena sejak dalam kandungan, aku suka memainkan musik-musik piano baik itu klasik maupun pop rohani.
                Asa tampak memiliki beberapa mainan favorit. Yang paling sering disentuhnya adalah boneka-boneka beruang mungil berwarna putih. Ada tiga buah boneka beruang. Masing-masing kami beri nama unik dan lucu. Yang pertama kami namai Kumbro, kependekan dari Kumbokarno. Asa paling sering memasukkan hidung Kumbro ke dalam mulutnya. Mungkin enak rasanya. Yang kedua kami beri nama Sisri, kependekan dari Srimanganti. Asa kurang begitu suka bermain dengan Sisri, mungkin karena bulunya yang lebat atau dhiwut-dhiwut kalau orang Jawa bilang. Maka, kami gantung Sisri ini di atas box tempat tidur Asa bersama dengan alat yang bisa mengeluarkan bunyi musik pengantar tidur. Yang ketiga kami namai sebagai Juno, kependekan dari Arjuno. Asa suka sekali mengenyot telinga Juno yang berwarna merah biru.
                Benda favorit lain yang melebihi boneka bagi Asa adalah buku atau literatur. Asa suka sekali melihat dan memegang buku atau majalah atau apapun yang ada tulisannya. Pernah aku melakukan percobaan kecil. Aku tempatkan boneka di sisi yang satu dan sebuah buku di sisi yang lain. Ternyata, Asa lebih memilih buku daripada boneka. Berkali-kali aku ubah posisinya, tetap saja Asa memilih buku. Meskipun belum bisa membaca, Asa suka sekali melihat tulisan-tulisan yang ada. Asa suka pura-pura membaca dengan bersuara. Suaranya hanya berupa gumaman tidak jelas dan terdengar sangat lucu. Kemungkinan besar Asa mempunyai kecerdasan verbal di atas rata-rata.
                Untuk psikomotoriknya, Asa juga tidak mau ketinggalan. Saat tulisan ini dibuat, Asa sudah bisa berdiri sendiri di boxnya meskipun susah untuk balik kembali. Jika merangkak di lantai, cepatnya bukan main. Kami harus mengawasinya dengan penuh perhatian supaya Asa tidak terbentur-bentur ataupun jatuh terjelungup. Satu kebiasaan lucu Asa adalah “linjo-linjo”, demikian kami istilahkan. Linjo-linjo ini adalah gerakan menyendal-nyendal seluruh tubuh naik turun. Jika Asa sedang sangat euforia atau bersemangat, ia suka sekali linjo-linjo, apalagi jika sedang digendong. Sehingga, semakin beratlah beban si penggendong Asa. Berat badan Asa saat tulisan ini dibuat kemungkinan sudah sekitar sebelas kilogram, padahal usianya masih sepuluh bulan. Tidak heran jika teman TPA-nya ada yang menjuluki Asa sebagai bayi jumbo. Untuk ukuran bayi Indonesia memang besarnya Asa tidak umum. Tapi mungkin ini umum bagi bayi bule. Mungkinkah ada gen bule dalam diri Asa?
                Sebagai seseorang yang sedang belajar menjadi ibu yang baik, aku berusaha hadir 100% bagi Asa. Ketika Asa sedang terjaga atau asyik bermain, maka aku singkirkan semua buku maupun catatanku untuk sementara waktu. Aku berketetapan untuk tidak meninggalkan Asa dengan membaca buku atau majalah apalagi menulis-nulis. Karena, waktu untuk bermain bersama bayi itu terhitung cukup singkat. Tidak dapat diulang kembali. Aku bisa membaca atau menulis kapan saja tetapi waktu bermain bersama Asa tidak dapat digantikan dengan apa pun juga. Jika aku kehiangan waktu yang sangat berharga ini, tidak ada gunanya segala macam buku dan tulisan yang aku buat itu. Mario Teguh pernah mengatakan bahwa dalam cinta, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Maka, kuatur pola pikirku untuk memandang waktu bermain bersama Asa ini sebagai bentuk kebahagiaan, bukan pengorbanan, karena aku mengasihi Asa. Tulisan ini sendiri pun aku tulis setelah Asa tidur dengan nyenyaknya. Maka, ayo kita bermain, Asa! Nanti, kalau kamu sudah bangun!


(Rumah Cahaya, Rabu 15 Mei 2013)

Belajar dalam Bekerja

Dulu aku cenderung lebih banyak berdiam diri sehingga aku dikenal sebagai Mimi si pendiam. Bukan karena aku tidak bisa bicara, melainkan karena aku tidak ada bahan untuk dibicarakan. Selain itu, lingkunganku masih kurang kondusif bagiku untuk mengaktualisasikan diri melalui berbicara. Aku masih belum terlalu mengenal orang-orang di sekitarku. Memang bukan kebiasaanku untuk langsung bersikap sok kenal sok dekat dengan siapapun yang baru saja kutemui. Sehingga, kesan pertama orang-orang yang bertemu denganku adalah aku ini pendiam, cuek, dan dingin. Tapi begitu sudah kenal akrab, aku lebih banyak terbuka dan lebih banyak bicara. Di bagian di mana aku ditempatkan pertama kali, aku seperti kecemplung di kawah candradimuka. Banyak hal baru yang harus kupelajari dalam waktu yang singkat sementara aku belum menemukan orang-orang yang bisa kuajak berbincang-bincang dengan lebih akrab. Walhasil, aku kelabakan dan lebih banyak terlihat kikuk bin kaku. Tidak masalah bagiku sekarang, karena saat aku menuliskan tulisan ini, aku sudah ditempatkan di tempat yang lebih nyaman dan kondusif untuk belajar.
                Di tempat ini, di mana aku membuat tulisan ini, aku merasakan atmosfer yang lebih nyaman dan tidak terlalu menekan. Maklum, di sini bukan di garis depan yang berhadpan langsung dengan pasien gawat darurat. Aku lebih banyak berkutat dengan hal-hal administratif yang melibatkan banyak kertas dan tulisan. Waktuku untuk berpikir, berdiam diri, dan menulis tentu saja lebih banyak. Aku bisa leluasa belajar apa pun yang kusukai, tentu saja sepanjang tidak mengganggu jalannya kerja rumah sakit. Yang sangat membuatku bersemangat di sini adalah kesempatan untuk mengembangkan sisi sosialku dalam hal berbicara atau berbincang-bincang. Aku mendapati di tempat ini aku bisa mengobrol masalah apa pun sesukaku sepanjang tidak memancing keributan. Dengan Pak Ias, sang analisator data, aku bisa mengobrol tentang hal-hal rohani apa pun. Dengan Pak Harto, sang pemasuk data, aku bisa mengobrol tentang hal-hal sosial kemasyarakatan. Dari obrolan-obrolan itu, aku bisa belajar dan menyerap banyak hal. Jendela wawasanku bertambah luas melaluinya. Yang lebih mengasyikkan lagi, aku bisa belajar berbicara dengan orang lain dalam suasana yang menyenangkan. Tidak terlalu menekan dan tidak tergesa-gesa. Memang, belajar itu paling pas jika suasana hati senang dan tenang, tidak dalam kondisi terintimidasi apalagi termanipulasi.
                Jika nanti aku ditempatkan di tempat lain yang mungkin tidak senyaman saat ini, aku sudah siap. Aku siap untuk berinteraksi dengan orang-orang baru berbekal apa yang sudah kupelajari. Tidak ada lagi yang namanya minder, takut, atau ragu. Setidaknya, di tempat sekarang aku sudah belajar untuk berbicara dengan santai tanpa takut menyakiti maupun disakiti. Aku belajar untuk mendahulukan hal-hal penting daripada hal-hal yang genting. Hal-hal penting bagiku belum tentu genting atau penting bagi orang lain. Aku belajar untuk mengenali kecenderungan hatiku dan kesukaanku yang terbesar. Ternyata aku cenderung untuk lebih banyak mendengar dan mengamati situasi terlebih dahulu sebelum menceburkan diri ke dalam hiruk-pikuknya. Jika sudah terlalu kewalahan dengan hiruk-pikuk itu, aku biasanya menarik diri sebentar. Aku mencari tempat yang tenang untuk menemukan kembali orientasiku berada di tempat di mana aku ditempatkan. Setelah tenang, aku beroleh energi baru untuk menghadapi segala sesuatunya.
                Belajar memang tidak ada matinya! Sementara waktu ini, aku sedang belajar untuk berkomunikasi efektif dengan sesama rekan kerjaku. Tidak kusia-siakan waktu dan kesempatan yang ada ini. Kunikmati proses belajar ini dengan antusias dan semangat. Aku percaya semua ini tidak sia-sia, pasti berguna untuk diriku dan orang lain.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Sepanjang Lorong Rumah Sakit

Rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta ini sungguh menarik dan mengesankan. Bangunannya kuno, termasuk cagar budaya. Di situ banyak peninggalan sejarah dan kenangan-kenangan yang bernilai tinggi. Yang paling menunjukkan ciri khas adalah lorong-lorongnya yang panjang itu. Katanya, tidak boleh diubah bentuknya. Itu adalah penanda bahwa rumah sakit ini berdiri di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta. Lihat saja tiang-tiangnya yang bercat hijau tua khas keraton itu! Lorong rumah sakit ini panjangnya terhitung cukup lumayan untuk meningkatikan aktivitas fisik berjalan kaki kita. Dari kelurahan Klitren sampai Kotabaru ia membentang, sekitar setengah kilometer panjangnya. Jika kita kekurangan tempat untuk berjalan kaki, maka manfaatkanlah lorong rumah sakit ini dari ujung timur ke ujung barat. Cukup dua puluh menit sehari berjalan kaki untuk menambah kualitas dan kuantitas aktivitas fisik kita.
                Selain lorongnya yang bersejarah, tentu saja di rumah sakit ini terdapat banyak ruangan atau bangsal. Ada yang sudah kuno sekali, setengah kuno, dan baru. Yang kuno sekali tidak boleh dirombak karena merupakan cagar budaya juga. Kalau toh mau merombak, tidak boleh mengubah bentuk aslinya. Itu sudah ketentuan undang-undang. Konon, di bagian bangsal yang kuno itu terdapat banyak kejadian irasional yang melibatkan makhluk-makhluk gaib alias hantu. Sudah banyak orang yang mengalami sendiri interaksi dengan para hantu, baik itu yang bersifat sekedar gangguan iseng sampai gangguan yang mengerikan. Tapi sejauh ini, tidak sampai terjadi gangguan yang mengancam nyawa.
                Sebagai seorang karyawannya, aku juga suka berjalan-jalan menjelajah lorong-lorong rumah sakit ini. Biasanya aku ambil waktu pagi hari sekitar jam sembilan untuk melakukan ekspedisiku. Sambil melakukan tugasku, aku berjalan dari ujung timur sampai ke ujung barat mengunjungi bangsal-bangsal. Sambil berjalan, aku menyapa dan menebar senyum kepada sesama karyawan rumah sakit. Kalau ada yang kenal, aku sempatkan untuk berhenti sebentar sekedar berbasa-basi dengannya. Sungguh menyenangkan berbagi senyum, sapa, dan salam itu. Aku jadi ingat cerita yang berjudul “pay it forward”, yaitu tentang berbuat kebaikan kepada orang lain yang berefek berantai menimbulkan mata rantai kebaikan lainnya. Aku percaya secercah senyumku dapat mencerahkan hari orang-orang yang kusapa itu. Dan mereka yang terkena efek senyum dan sapa itu pun akan melanjutkan energi positif yang mereka terima ke siapa pun yang mereka jumpai berikutnya. Luar biasa!
                Banyak hal yang kuperoleh dari kegemaranku berjalan-jalan di lorong rumah sakit ini. Yang pertama adalah badan menjadi segar dan bugar. Tidak terasa aku sudah berjalan sekitar satu kilometer setiap harinya. Aku tidak merasa capek atau bosan karena ada interaksi yang hangat dan menyenangkan dengan sesama yang kutemui sepanjang perjalanan. Tugas-tugas pun dapat kulakukan tanpa rasa terbebani yang amat sangat. Selain itu, banyak hal inspiratif yang kudapatkan. Salah satu hak inspiratif itu adalah merasakan kasih, sukacita, dan kebaikan dari orang-orang yang kutemui di sana. Tidak peduli masalah apa yang sedang menggelayuti hati mereka, saat mereka tersenyum itu seolah-olah ada beban yang terangkat yang membuat mereka beroleh tambahan kekuatan untuk melanjutkan hidup. Sukacita dan pengharapan seperti inilah yang kurasakan menjadi jiwa dan semangat segenap civitas hospitalia rumah sakit ini. Kiranya dengan blusukan dan penjelajahanku ini aku pun dapat menebarkan atmosfer pengharapan bagi setiap orang yang melihatku. Shalom alaehim!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Jiwa Korsa

Beberapa waktu yang lalu, kota Yogyakarta dikejutkan oleh peristiwa berdarah yang melibatkan aksi premanisme. Dimulai dari peristiwa tewasnya seorang anggota Kopasus di tangan empat preman yang katanya adalah mantan anggota kepolisian, dilanjutkan dengan drama aksi penembakan para tersangka di LP Cebongan oleh para anggota Kopasus. Ternyata, masyarakat Yogya lebih banyak bersimpati kepada tindakan Kopasus itu karena selama ini sudah merasa sangat dirugikan oleh premanisme. Maka, menjadi sangat populerlah istilah jiwa korsa. Jiwa korsa adalah semangat solidaritas yang ditumbuhkan dalam diri para prajurit TNI. Dengan jiwa korsa ini, para prajurit TNI menjadi sangat kuat dalam kesatuan. Jika ada satu yang dilukai, yang lain turut merasakan.
                Semangat jiwa korsa yang ditunjukkan oleh oknum Kopasus itu telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Kopasus adalah pasukan elit TNI Angkatan Darat yang dilatih secara khusus untuk melindungi negara. Dalam latihan yang berat, mereka dikondisikan untuk senantiasa siaga karena taruhannya adalah nyawa. Mereka terlatih untuk melakukan suatu misi sampai berhasil. Keluarga mereka pun harus siap sewaktu-waktu terhadap kemungkinan terburuk yaitu berpisah selamanya dengan anggota keluarga yang menjadi Kopasus. Maka, dapatlah dimaklumi apabila dalam keseharian mereka dipandang sebagai orang-orang yang melebihi masyarakat sipil. Itu sebabnya pula orang-orang tidak boleh bersikap sembarangan terhadap tentara.
                Belajar dari semangat kesetiakawanan ala jiwa korsa itu, kita dapat sedikit meniru dan menerapkannya di keluarga, tempat kerja, dan persekutuan gereja. Manakala satu anggota tersakiti atau menderita, anggota-anggota lain pun turut merasakannya. Ada rasa kepedulian yang tulus dan murni. Rasa kepedulian itu dapat diekspresikan dengan bermacam-macam cara. Tidak cukup hanya dengan berdoa atau mendukung secara tidak langsung. Diperlukan sumbangan daya dan kalau perlu dana juga. Misalnya, ketika salah seorang anggota keluarga atau rekan kerja dan persekutuan sedang sakit atau tertimpa musibah, sudah selayaknyalah kita sebagai bagian dari orang-orang terdekatnya untuk berbela rasa dengan cara menjenguk, mendoakan, dan kalau perlu membantu biaya sekedarnya. Semua itu akan menambahkan daya juang dan semangat hidup dari si sakit atau orang yang menderita. Misalnya lagi, ketika ada yang kesusahan dalam hal keuangan dan dalam kondisi terjepit, maka sudah selayaknya bagi kita sebagai orang terdekat untuk membantu semampu kita. Semua ini semata-mata karena rasa solidaritas antar teman dan saudara yang murni seperti jiwa korsa para tentara.
                Sebaliknya, ketika seseorang sedang mujur atau mendapat kelimpahan berkat berupa harta yang bertambah, kenaikan pangkat, atau bertambahnya jumlah anggota keluarga, maka kita sebagai orang-orang terdekat hendaknya ikut pula merasa senang dan bangga. Jika yang satu dimuliakan, semua anggota pun ikut merasa senang, bukannya iri hati dan dengki. Memang lebih mudah untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dibandingkan dengan ikut merasakan kesenangannya. Kita pada umumnya lebih suka melihat wajah yang memelas dan menderita daripada wajah yang senang atas keberhasilan. Tapi Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk bisa bersikap benar, yaitu menangis bersama dengan orang yang menangis dan tertawa bersama dengan orang yang tertawa. Selain itu, kita sebagai anggota persekutuan orang percaya digambarkan juga sebagai satu anggota tubuh Kristus. Meskipun berbeda-beda bentuk dan fungsinya, kita diikat dan disatukan oleh kepala yaitu Yesus Kristus sendiri. Seperti layaknya satu tubuh, maka kesatuan tujuan dan kebersamaan itu penting. Pertanyaannya, sudahkan semangat kesatuan itu ada terwujud?
                Marilah kita kobarkan semangat kesatuan hati layaknya jiwa korsa itu di manapun TUHAN telah menempatkan kita. Di keluarga, di tempat kerja, di persekutuan, di mana pun. Salam komando!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Persahabatan yang Membangun

Salah satu hal yang termanis dan terindah dalam hidup ini adalah persahabatan. Persahabatan adalah hubungan yang terjadi antara dua atau lebih pribadi di mana terjadi saling memberi dan menerima yang dilandasi kasih yang tulus dan sejati. Persahabatan tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, agama, suku, bangsa, bahkan spesies. Banyak kisah atau cerita yang telah dibukukan dan difilmkan yang terinspirasi dari hubungan perahabatan yang sejati. Bahkan, kisah penebusan dan karya keselamatan manusia oleh Tuhan Yesus Kristus itu adalah wujud dari persahabatan yang sejati dan abadi antara Tuhan dan manusia. Tuhan yang baik telah menawarkan hubungan persahabatan dengan umat ciptaan-Nya yang dinyatakan dengan amat dramatisnya di peristiwa salib itu.
                Bagiku, persahabatan adalah hal yang sangat penting. Aku bertekad menjadi seorang sahabat yang sejati bagi mereka-mereka yang memang telah ditentukan untuk menjadi sahabatku. Di rumah, aku mengembangkan hubungan persahabatan dengan suami dan anakku. Maksudnya, aku tidak melulu berkutat pada tugas dan kewajibanku saja sebagai istri dan ibu yang baik tetapi bagaimana aku bisa membangun hubungan persekutuan yang akrab dan karib dengan mereka. Bukan hanya melayani saja melainkan juga bermain dan bercanda tawa dengan suami dan anak. Di tempat kerja pun juga demikian adanya. Bukan hanya berkutat pada urusan pekerjaan yang kadang terasa menjemukan dan meletihkan melainkan juga berinteraksi dengan hangat seperti layaknya teman dengan mereka-mereka yang kutemui di tempat kerja. Sekedar menyapa, mengobrol, atau bersenda gurau itu penting untuk mencairkan suasana dan membangun suasana tempat kerja menjadi nyaman.
                Dalam persahabatan itu, kita dapat saling membangun karakter satu sama lain. Dengan berbicara dan mendengarkan, kita dapat saling memahami dan dipahami. Komunikasi yang baik terjadi manakala dua orang yang sudah berada pada frekuensi persahabatan tengah berinteraksi dengan baik entah itu untuk urusan kerja ataupun urusan di luar kerja. Banyak pengalaman yang berkesan selama aku bekerja di ladang TUHAN di Yogyakarta ini. Suatu ketika, seorang rekan kerjaku memintaku untuk mendukungnya dalam doa perihal masalah yang dihadapi keluarga besarnya. Dengan sigap aku pun mendengarkannya. Dalam hati kudoakan supaya masalahnya terselesaikan dengan cara TUHAN. Tanpa menunggu berlama-lama, keesokan harinya, jawaban TUHAN sudah terjadi. Rekan kerjaku menceritakan bagaimana sedikit demi sedikit, masalah itu terselesaikan meskipun harus menembakkan banyak amunisi yang  makan hati. Sebagai teman dan rekan yang baik, aku ikut bersyukur. Lain waktu, seorang rekan kerja yang lain bertanya padaku perihal obat yang penting pada saat darurat. Aku pun dengan santai memberikan nama obat itu dan dia pun mencatatnya. Tidak disangka, besoknya dia bercerita bahwa apa yang kusampaikan itu telah menolong dia menyelamatkan ibunya yang terkena serangan jantung. Sebelum dibawa ke IGD rumah sakit, temanku berinisiatif membeli dan memberikan jenis obat itu sehingga pertolongan pertama dapat dilakukan dengan tepat. Aku terheran-heran. Ternyarta, hal kecil yang aku lakukan sangat besar dampaknya.
                Nyata benarlah apa yang tertulis dalam Alkitab yaitu bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17). Seorang sahabat sejati bukan hanya hadir saat senang melainkan juga saat susah. Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang jatuh. Sahabat yang baik akan tetap berada di sisi sahabatnya yang sedang jatuh, tidak ikut menimpakan tangga ataupun menusuknya, apalagi menusuk dari belakang.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Selasa 14 Mei 2013)

Obrolan yang Menyembuhkan

Aku mendapati bahwa di lingkungan keluarga, persekutuan, dan tempat kerja selalu ada kecenderungan yang satu ini. Itu adalah kesukaan orang-orang untuk mengobrol atau berbagi cerita. Cerita yang dibagikan bisa macam-macam. Ada yang menceritakan pergumulan pribadi, ada yang menceritakan kondisi bangsa dan negara, ada pula yang menceritakan tentang pergumulan orang lain. Tidak salah memang, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial di samping sebagai makhluk pribadi. Sebagai makhluk sosial, maka kebutuhan dasarnya adalah membangun hubungan dengan orang lain. Dan salah satu cara terampuh untuk membangun hubungan itu adalah dengan mengobrol atau bebicara satu sama lain. Semakin dekat dan dalam hubungan, bahan obrolan pun bisa semakin banyak dan beragam. Hal-hal kecil pun dapat menjadi bahan obrolan yang menarik dan tidak berkesudahan.
                Obrolan itu dapat kukelompokkan menjadi dua. Yang pertama adalah obrolan yang mematikan. Mematikan di sini dapat berupa mematikan semangat maupun karakter orang. Bentuk yang paling jamak dijumpai adalah gosip. Gosip adalah kegiatan membicarakan atau menggunjingkan orang lain di belakangnya. Asyik dan seru karena kita jadi lupa diri dan menganggap diri lebih baik dan lebih benar jika dibandingkan dengan orang yang kita gosipkan. Tanpa kita sadari, kita ternyata telah membunuh karakter orang itu dengan menjelek-jelekkannya di hadapan orang lain. Sungguh mematikan! Selain gosip tentang sesama, obrolan yang tidak kalah mematikan itu dapat berupa obrolan negatif dan pesimistik. Hal ini terutama nyata saat kita mengobrolkan kondisi bangsa, negara, dan masyarakat yang jauh dari kondisi ideal. Pemerintah yang korupsi, bangsa yang kehilangan identitas, masyarakat yang semakin ngawur, tentu membuat kita frustrasi. Rasa frustrasi itu kemudian kita katarsiskan dengan membicarakannya secara membabi buta dan tidak bijak dengan siapa saja yang kita anggap punya pemikiran yang sama dengan kita. Selain itu, di tempat kerja pun tidak jarang kita suka mengkritik sana sini tanpa mampu memberikan solusi nyata. Kita sebar desas-desus yang belum tentu kebenarannya sehingga membuat keruh suasana. Atmosfer tempat kerja pun menjadi tidak nyaman dan kinerja pun menjadi buruk. Semua hanya gara-gara obrolan yang mematikan, yang sayangnya sering tidak kita sadari.
                Obrolan yang kedua adalah obrolan yang menyembuhkan. Daripada sibuk dengan obrolan yang menyakiti orang lain, adalah lebih baik untuk membudayakan obrolan yang menyembuhkan. Menyembuhkan karena isinya menyejukkan dan meneduhkan hati. Pemandangan yang indah ini mungkin bagi sebagian orang sangat jarang ditemui. Aku mau menjadi bagian obrolan yang kedua ini. Aku membiasakan diriku untuk membicarakan hal-hal yang baik dan sedap didengar di manapun dan dengan siapa pun aku berada. Di rumah, aku membiasakan diri untuk tidak menggosipkan anggota keluarga yang lain. Aku mengekang diriku manakala ada hasrat untuk menjelek-jelekkan anggota keluarga yang lain. Demikian juga di tempat kerja. Aku berusaha untuk tidak menyulut api permusuhan. Sebaliknya, aku menyiramkan air kedamaian hati. Jika ada rekan kerja yang memancingku untuk berkomentar negatif pesimistik, aku akan belokkan dengan memunculkan sisi positif optimistik dari hal yang dibicarakan.
                Selama ini aku lebih banyak mendengarkan orang lain berbicara. Dengan banyak mendengarkan itu, aku jadi lebih banyak mengerti dan memahami situasi. Aku lebih bisa memahami cara berpikir orang lain tanpa menghakiminya. Jika ada sesama rekan kerja yang kurang atau tidak akur satu sama lain, sebisa mungkin aku tidak mengadu domba mereka. Aku memilih bersikap bijak yaitu dengan menjadi juru penengah yang adil. Tidak memihak salah satu. Pernah aku mendengar dari salah seorang rekanku, sebut saja A, yang dengan jujur mengatakan bahwa ia kurang atau tidak terlalu akur dengan rekan yang lain, sebut saja B. Demikian juga sebaliknya, B pun mengatakan ketidakcocokannya dengan A pada suatu ketika. Sikapku sebagai rekan kerja dan penengah yang baik adalah tidak mengompori mereka. Aku memilih untuk lebih banyak diam saat mereka masing-masing bercerita. Dalam hati aku baru bisa berdoa supaya mereka dapat bekerja tanpa harus mengganggu satu sama lain. Jika mereka bisa saling cocok dan akur, maka aku bisa mengatakan bahwa Tuhan telah mengerjakan mukjizat-Nya di tempat kerjaku. Dengan A dan B secara terpisah, aku bisa ngobrol atau berbincang-bincang tentang apa pun dengan suasana yang menyenangkan. Obrolan kami dapat dikatakan merupakan obrolan yang sarat akan makna, positif, optimitik, dan membangun. Memang ada kalanya kami membicarakan juga orang lain dengan nada sinis karena tidak setuju dengan sikap mereka. Tapi, secara keseluruhan, aku menilai obrolan-obrolan yang terjadi itu lebih banyak positifnya.
                Demikianlah sedikit uneg-unegku seputar obrolan yang menyembuhkan. Kiranya kita semua dapat membudayakan obrolan semacam itu dalam keseharian masing-masing sehingga berubahlah atmosfer di sekeliling kita menjadi lebih baik. Haleluya!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 13 Mei 2013)

Restorasi Karakter

Siang itu di ruang kopi pecah (coffee break) ladang TUHAN di Yogyakarta, aku dan sesama rekan sejawat mengikuti acara pendalaman Alkitab. Acaranya cukup seru dan menarik. Dipimpin oleh pak pendeta Christian Sutopo, kami semua berdiskusi dan saling berbagi cerita dan pergumulan seputar kehidupan pelayanan di dunia medis. Pada akhir acara, aku membagikan apa yang menjadi semacam visi atau harapanku untuk ladang TUHAN ini. Dengan antusias aku ceritakan bahwa kami para dokter muda alias junior ini telah membentuk diri sebagai satu tim yang kuat dan kompak. Kami menamakan diri kami sebagai “Medical Dragon Team”, mengambil nama dari sebuah judul komik Jepang. Masing-masing kami mempunyai julukan unik yang menggambarkan ciri khas kami masing-masing. Aku yang jarang kelihatan di area pelayanan klinis dinamakan “invisible dragon”. Yohan yang suka memberikan kata-kata bijaknya dinamakan “wise dragon”. Julukan-julukan yang lain adalah “brave dragon”, “smooth dragon”, powerful dragon”, “incredible dragon”, “honest dragon”. Dengan kesatuan hati ini, kami dengan bangga mengusung visi yang kusebut sebagai “restorasi”.
                Restorasi adalah mengembalikan sesuatu ke kondisi semula sebelum rusak, bahkan menjadikannya lebih baik lagi daripada aslinya. Sebutan lainnya adalah pemulihan. Apa yang perlu dipulihkan atau direstorasi? Banyak! Di rumah sakit ladang anggur TUHAN ini ada banyak hal yang bisa dan harus dipulihkan. Mulai dari hubungan antara karyawan dengan atasannya, hubungan senior dengan junior, hubungan antar bagian, sampai rasa memiliki yang bertanggung jawab alias “handarbeni” terhadap lingkungan kerja. Ada banyak mekanisme negatif yang selama ini berlangsung sekian lama dan sudah dianggap sebagai kewajaran. Contohnya adalah mekanisme gosip, favoritisme, saling menyalahkan, tidak transparan yang berujung kecurigaan, dan lain sebagainya. Semua itu harus diubah! Tidak bisa tidak! Ciri khas ladang TUHAN yang dilandasi kasih dalam pelayanan ini harus dikembalikan ke posisinya semula.
                Bagaimana caranya? Untuk mengubah lingkungan, orang-orangnya harus berubah terlebih dahulu. Supaya orang-orang mau dan dapat berubah, harus ada yang memberi contoh. Siapa yang mau menjadi contoh atau teladan? Ternyata jawabannya bukanlah dengan menunggu apalagi menyuruh orang lain berubah. Diri sendirilah yang harus berubah terlebih dahulu. Apa yang harus diubah? Karakter! Sifat dan sikap yang ada pada diri sendiri harus diubah sesuai dengan firman TUHAN. Harus ada kemauan dan sikap bertobat terus-menerus setiap hari. Pembaharuan budi harus terjadi dalam diri pribadi.
                Karena itulah, Pak Pendeta Christian Sutopo mengusung satu kosa kata lagi untuk melengkapi kata restorasi. Sehingga, jadilah visi kami dilengkapi menjadi “restorasi karakter”. Kami pun semakin tercerahkan dan tersemangati. Semua menjadi bertambah dahsyat karena Pak Christian menutup acara pendalaman Alkitab itu dengan doa yang penuh kuasa. Dalam doa itu, beliau meneguhkan supaya restorasi karakter sungguh-sungguh terjadi dan dimulai dengan kuasa TUHAN. Memang, kita tidak bisa melakukan sesuatu tanpa kekuatan dari TUHAN.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 13 Mei 2013)

Si Putri Kerajaan Surga

Asa atau harapan. Nama panggilan putri kami yang Tuhan anugerahakan dan percayakan ini sungguh penuh makna. Lengkapnya adalah Hadasa Mazeltov Puji Pangastuti. Asa diambil dari kata Hadasa. Hadasa aku ambil dari Alkitab, nama asli dari Ester, sang gadis Yahudi yang menjadi ratu Persia yang berjasa menyelamatkan bangsanya dari ancaman genosida pada masa pemerintahan raja Ahasyweros atau Xerxes. Mazeltov aku dapatkan dari usul seorang saudara sepupuku yang mengatakan bahwa artinya adalah ucapan selamat atas keberhasilan dalam bahasa Ibrani modern. Nama Puji adalah nama yang dipakai oleh keluarga besar dari pihak ibuku untuk memberi nama anak perempuan. Untuk anak laki-laki diberi nama Pudyo. Sedangkan Pangastuti aku ambil dari peribahasa Jawa “suradira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang artinya sikap sombong dan mengagung-agungkan diri dikalahkan oleh sikap rendah hati dan manembah. Karena nama adalah doa, maka berarti nama putri kami adalah doa dan harapan kami bagi putri kami. Berdasarkan keterangan di atas, kami berharap agar Asa dapat seberani Ester, selalu berhasil, suka memuji Tuhan, dan senantiasa rendah hati. Selain itu, Asa semoga dapat menjadi jawaban atas doa dan harapan umat manusia.
                Asa adalah anak mukjizat. Ya, mukjizat! Bagaimana tidak? Ketika masih berusia enam minggu dalam kandungan, aku terancam mengalami keguguran. Waktu itu aku mengalami flek-flek. Kemungkinan karena kecapekan dan pengaruh infeksi TORCH. Aku harus minum obat antibiotika rutin sampai Asa lahir untuk meminimalkan efek infeksi tersebut. Memasuki usia lima bulan, air ketuban Asa merembes sedikit-sedikit. Aku harus istirahat total. Berkali-kali dokter yang memeriksa mengatakan apabila anak ini lahir normal dan sempurna, maka itu adalah mukjizat. Dan benarlah! Hari Senin pagi tanggal 9 Juli 2012, lahirlah bayi perempuan yang cantik dan sempurna bernama panggilan Asa. Mukjizat sungguh-sungguh terjadi!
                Kelahiran Asa menjadi sukacita tersendiri dalam keluargaku. Segala tingkah polahnya membuat hati siapa saja yang melihatnya bersukacita. Sejak lahir, Asa terkenal sebagai bayi yang sumeh (Jawa: ramah). Selalu menebar senyum dan tawa kepada setiap orang yang ditemuinya. Aku pikir hal ini wajar dan normal-normal saja. Ternyata, tidak demikian. Asa memiliki kadar keramahan di atas rata-rata. Meskipun semakin hari semakin berkurang kadarnya, keramahan Asa sudah menjadi ciri tersendiri yang melekat padanya. Di TPA, di lingkungan keluarga, di lingkungan kerja, dan di mana saja, Asa sudah terkenal sebagai bayi yang sangat ramah. Semua orang berebut untuk membuatnya tertawa. Sering sekali kudapati Asa tertawa-tawa asyik baik itu ketika bermain sendiri maupun bermain dengan orang lain. Kalau suasana hatinya sedang bagus, Asa bisa sampai tertawa terbahak-bahak seperti layaknya orang tua. Suara tertawanya sungguh lucu dan menular.
                Satu hal yang harus kupegang adalah bahwa Asa bukanlah beban melainkan anugerah. Memang terkadang aku merasa lelah dan kewalahan dalam mengasuh dan merawat Asa. Tapi aku belajar untuk tidak mengeluh atau bersungut-sungut. Anugerah yang Tuhan percayakan ini harus kurawat dan kudidik sebagai wujud tanggung jawabku kepada Tuhan. Sebab, aku tahu dan sadar bahwa Asa ini bukanlah semata-mata anak manusia yang hidup menurut kehendaknya atau kehendak orang lain. Asa adalah putri kerajaan surga yang akan menjadi alat Tuhan untuk memenuhi kehendak-Nya yang mulia di atas bumi ini. Sungguh suatu kehormatan bagiku untuk dapat menerima Asa sebagai anak kandung sekaligus anak anugerah Tuhan ini.
                Perjalanan masih sangat panjang. Aku belum tahu sampai kapan dan hendak ke mana Tuhan membentuk Asa. Yang bisa kulakukan hanyalah bersandar pada Tuhan, memohon hikmat dan tuntunan-Nya supaya aku bisa menjadi ibu yang baik bagi Asa. Bersama dengan Mas Cah, kami sebagai orang tua akan mengantarkan Asa sampai kehendak Tuhan yang sempurna terjadi dalam hidupnya. Mari kita lihat bersama! Haleluya!

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Minggu 12 Mei 2013)

                

Ibuku Pahlawanku

Ibu adalah orang terdekat yang mengenalkanku pada TUHAN dan kasih-Nya sejak aku masih kecil. Ibu jugalah yang membimbing, membombong, dan menstimulasiku sehingga aku menjadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang ibuku lakukan yang mempengaruhiku baik aku sadar maupun tidak menyadarinya. Tulisan ini adalah sebagai penghargaan dan wujud cinta kasihku kepada ibuku, sang Kartini ladang anggur TUHAN di Yogyakarta.
                Lahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, ibuku tumbuh sebagai seorang perempuan kuat yang sangat peduli kepada keluarganya. Beliau biasa dipanggil dengan nama kecilnya di tengah keluarga besar kami, yaitu sebagai bude, tante, eyang, dan ibu Titiek. Nama lengkapnya adalah Pudji Sri Rasmiati. Dengan gelar profesi kebanggannya, yaitu dokter, beliau lebih dikenal sebagai dr. Pudji di lingkungan kerja rumah sakit. Tapi bagiku, apa pun jabatan atau profesinya, ibuku tetaplah ibu yang luar biasa. Beliau tetap kupandang dan kuperlakukan sebagai ibu meskipun profesi dan posisi jabatannya sedemikian rupa menuntut sikap profesional. Sikap profesional ini pada umumnya mereduksi personalitas atau kepribadian seseorang sehingga membuatnya kehilangan kemanusiawian manakala berinteraksi dengan orang lain. Namun, dalam diri ibuku, profesionalisme tidaklah membuatnya menjadi mesin atau budak kerja. Ibuku tetap mampu bersikap manusiawi dan personal meskipun dalam lingkungan profesional yang paling tidak berpribadi seperti apa pun itu. Dan itulah yang membuatku salut dan bangga menjadi anak ibuku.
                Hubunganku dengan ibuku penuh dengan warna-warni kehidupan antara ibu dan anak. Waktu kecil, aku sering bersikap seenaknya sendiri dan tidak menghormati ibuku. Sampai suatu ketika TUHAN mengizinkanku untuk ‘kena batunya’ yang keras dan sakit sekali sehingga membuatku harus berubah sikap lebih mengasihi dan menghormati ibuku. Sejak itu, sikapku berubah menjadi jauh lebih baik. Aku mulai belajar mengenal ibuku dan mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk beliau. Tidak ada lagi sikap kurang ajar atau memusuhi, yang ada hanya sikap mengasihi, menghargai, dan menghormati. Meskipun tidak jarang kami berselisih paham dan berdebat sengit mengenai sesuatu hal, aku tetap menghormati ibuku dengan menyampaikan pendapatku dengan cara sebaik mungkin yang tidak merendahkan atau melecehkan harkat dan martabat ibuku. Semua ini aku pelajari seiring perjalanan hidupku yang tidak luput dari liku-liku.
                Dalam tugas pekerjaannya, ibuku selalu bersikap menjunjung tinggi totalitas. Bagi beliau, pekerjaan di ladang TUHAN, baik itu sebagai klinisi maupun struktural, bukan sekedar pekerjaan mencari uang belaka melainkan sebagai wujud nyata pelayanan beliau kepada TUHAN. Iman ibuku nampak nyata dalam setiap sepak terjangnya. Segala sesuatu yang ada di depannya selalu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tanpa pamrih, dan sesempurna mungkin. Semangat ibuku yang tinggi dalam bekerja itu sering membuat orang yang melihatnya geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa seorang perempuan bekerja sedemikian rupa, mengatur waktu dan perhatiannya dengan cermat, sehingga pekerjaan sebagai dokter bedah dan sebagai bagian struktur organisasi ladang TUHAN tidak ada satupun yang terbengkalai. Semangat yang gigih itu juga menyemangati setiap orang yang terlibat di dalam pekerjaan ibuku. Mungkin itu salah satu sebabnya ibuku dijuluki sebagai “Kartini” ladang TUHAN ini.
                Satu hal yang membuatku salut, bangga, dan hormat terhadap ibuku adalah sikap beliau dalam membimbing dan mendidik bawahan dan juniornya. Dalam mendidik, ibuku tidak pernah memadamkan semangat orang yang dididiknya. Sebaliknya, ibuku mengarahkan dan membombong mereka supaya terdorong untuk mau belajar dan maju. Metode yang sering digunkan oleh ibuku adalah memberikan tugas atau pekerjaan yang harus diselesaikan. Dari tugas dan pekerjaan itu, ibuku menanamkan sikap bertanggung jawab dan mau belajar terus menerus. Selain itu, ibuku pun dapat menilai karakter seseorang melalui setiap pekerjaan yang dilakukannya. Jika hasilnya belum sesuai harapan, ibuku dengan sabar terus mendorong orang itu untuk bisa memenuhi target yang diharapkan. Aku melihat ibuku sangat berjiwa besar sebagai seorang pendidik. Bisa dikatakan bahwa beliau termasuk figur guru teladan.
                Ibuku sangat bangga dan mengidolakan figur ayahnya, yang berarti adalah kakekku juga, yaitu eyang Kasmolo Paulus. Lebih dikenal dengan sebutan dr. Kasmolo, kakekku telah menginspirasi dan memotivasi ibuku untuk meneruskan jejak perjuangannya menjadi seorang dokter bedah yang tetap berpegang teguh pada prinsip pelayanan dan kasih kepada TUHAN. Ketika muda, ibuku sering diajak eyang Kasmolo visite (mengunjungi dan memeriksa keadaan) pasien di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta. Mungkin dari kegiatan jalan-jalan itulah mulai tertanam jiwa kasih dan militan seorang dokter Kristen dalam diri ibuku. Jiwa kasih dan militan itu tampak ketika ibuku berjuang mempertahankan dan memajukan rumah sakit ladang TUHAN ini meskipun harus menghadapi banyak tantangan. Bisa dibayangkan besarnya tantangan bagi seorang perempuan yang berprofesi sebagai dokter bedah yang didominasi oleh laki-laki sambil mengerjakan urusan struktur organisasi rumah sakit dan menjaga keharmonisan keluarga (kecil dan besar) itu. Ibuku sering menganalogikan dirinya sendiri sebagai pohon beringin dalam keluarga yang bertanggung jawab memastikan kelangsungan hidup anggota keluarganya yang lain. Dan analogi itu sangat aku amini kebenarannya berdasarakan pengamatan dan pendengaranku selama ini.
                Dalam lingkungan keluarga, ibuku sangat gemar mengumpulkan anggota-anggota keluarga dalam suatu acara persekutuan yang akrab dan meriah. Rumah besar beliau sering menjadi tempat berkumpulnya sanak saudara dan handai taulan dari dalam maupun luar kota pada hari Natal, tahun baru, atau acara-acara khusus seperti ulang tahun, syukuran, dan lain sebagainya. Ibuku sangat menyukai suasana kebersamaan dalam riuh rendahnya celoteh keluarga besar. Bisa dimaklumi, karena beliau tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar pula. Ibuku sering bercerita tentang suka duka keluarga besarnya dulu. Diceritakannya bagaimana eyang Kasmolo selalu membacakan Alkitab sebelum mulai makan bersama di meja makan. Dengan bahasa zaman sekarang, mezbah keluarga sudah terjadi di keluarga besar ibuku dulu. Dan mezbah keluarga seperti inilah yang dirindukan untuk terus-menerus berlangsung di rumah oleh ibuku. Sungguh warisan iman yang luar biasa. Aku patut bersyukur dan berbangga.
                Akhirnya, aku hanya bisa bersyukur dan berbangga memiliki seorang ibu yang luar biasa. Dan wujud syukurku itu aku tuangkan dalam tulisan ini. Jika aku agak kesulitan atau kurang luwes dalam mengekspresikan rasa cinta dan sayangku kepada ibuku, maka semoga dengan tulisan ini semua rasa cinta dan sayang itu dapat tersampaikan dengan baik. TUHAN memberkati dan merahmati ibuku selalu! Haleluya!


(Rumah Sakit Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 15 April 2013)

Pak Harto, Sang Pemerhati yang Penuh Aksi

Penampilannya sederhana, tidak terlalu menyolok. Pekerjaan rutinnya pun tidak terbilang spektakuler, ‘hanya’ berkutat di depan komputer menekuni data-data rekam medis. Jika aku menjadi beliau, aku pasti sudah mati kebosanan. Dialah Pak Daniel Suharta. Kami akrab memanggilnya Pak Harto, seperti nama presiden kedua Indonesia itu. Setiap hari aku berjumpa dengan Pak Harto. Bukan suatu kebetulan jika aku ditempatkan di ruangan besar kantor rekam medis bersebelahan dengan Pak Harto. Setiap pagi, kami selalu bersalam komando ria dan menyapa dengan yel “jiwa korsa”, seolah-olah kami adalah anggota Kopasus sungguhan. Maklum, aku dan Pak Harto masih berkerabat dekat dengan abdi negara alias tentara di keluarga masing-masing. Adanya persinggungan dengan para jiwa korsa di keluarga itu membuat aku dan Pak Harto memiliki pula jiwa militan yang kuat dan tangguh. Hal itu tampak dari langgam bahasa percakapan kami sehari-hari. Tidak ada rasa mengasihani diri sendiri, pesimistik, negativistik, dan berbagai macam kelemahan dalam karakter setiap kali kami bercakap-cakap. Yang ada adalah saling menguatkan, menyemangati, dan meneguhkan sikap dan pendirian.
                Di rumah sakit ladang TUHAN ini, Pak Harto terkenal dengan kegiatannya bersepeda. Beliau dipercaya untuk menggiatkan kegiatan bersepeda para karyawan rumah sakit. Dengan senang hati dan penuh semangat, Pak Harto menggiati bersepeda itu. Ternyata, dalam keseharian pun, Pak Harto adalah seorang pesepeda yang aktif. Aktif dalam arti giat berpikir dan beraksi nyata di masyarakat, bukan hanya terkungkung di lingkungan rumah sakit saja. Hati Pak Harto tertambat pada sikap dan budaya masyarakat yang tampak pada lalu lintas jalan raya kota Yogyakarta tercinta. Pak Harto rajin menulis tentang toleransi masyarakat dalam berkendara dan menggunakan fasilitas publik seputar lallu lintas. Seringkali tulisan beliau menjadi headline “kompasiana”, sebuah situs jurnalisme publik yang sangat terkenal dan populer itu. Saking produktifnya menulis, Pak Harto pun membukukan artikel-artikelnya menjadi satu jilid yang disimpannya sebagai pengingat dan penyemangat hidup. Aku sempat dikasih pinjam jilidan itu dan membaca beberapa artikel ciamik beliau. Sangat tajam namun masih dalam koridor sopan santun ala wong Yogyakarta tulisan-tulisan beliau.
                Dalam pandangan Pak Harto, toleransi hidup masyarakat yang sesungguhnya nampak dari sikap mereka di jalan raya. Apa pun agama, kepercayaan, suku, dan rasnya akan tampak karakter aslinya manakala diperhadapkan dengan situasi-situasi di jalan raya. Sebagai contoh ketika menanti antrian lampu lalu lintas di perempatan jalan, Pak Harto sering prihatin karena sebagian besar pengguna jalan lebih memilih membunyikan klakson kendaraan mereka ketimbang rela antri bersabar menunggu giliran menjalankan lagi kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran dan kerelaan bekorban demi kepentingan bersama masyarakat kita masih jauh dari ideal. Bandingkan dengan masyarakat Jepang yang masih tertib antri ketika menerima bantuan saat gempa dan tsunami melanda wilayah mereka beberapa waktu yang lalu. Contoh lain lagi yang membuat geram hati Pak Harto adalah bagaimana hak para pejalan kaki diserobot atau dilanggar oleh para pengguna jalan yang lain, terutama para pengendara sepeda motor. Trotoar-trotoar yang seharusnya aman dan nyaman dipakai untuk berjalan kaki menjadi tempat yang sering digunakan para pengendara motor yang tidak sabar menunggu antrian kendaraan yang sudah terlalu padat di jalan raya. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan yang menjadi hak si lemah masih belum bisa diberikan oleh si kuat dalam masyarakat kita sehari-hari.
                Keprihatinan Pak Harto pada masalah-masalah lalu lintas dan sopan santun di jalan raya menunjukkan betapa peka hati beliau terhadap masalah-masalah yang dihadapi sesama di sekitarnya. Di tempat kerja pun Pak Harto tidak tinggal diam manakala melihat atau mendengar sendiri akan adanya ketidakbenaran dan ketidakadilan. Bisa dikatakan bahwa Pak Harto adalah manusia yang bertindak dan beraksi (man of action), bukan hanya berpikir dan berwacana. Meskipun bukan pemegang jabatan tinggi, kepedulian dan pengaruh beliau sangat besar terasa. Ini semua tidak lain dan tidak bukan adalah karena satunya kata dan perbuatan Pak Harto. Aku bisa katakan bahwa Pak Harto termasuk salah satu manusia langka yang ada di negeri Indonesia, bahkan di muka bumi ini. Langka karena tidak banyak orang mau bersusah payah atau repot-repot menegakkan kebenaran dan keadilan padahal mereka mampu untuk itu. Langka karena banyak orang yang suka berdiskusi dan berwacana tetapi tidak mau mewujudkan hasil diskusi tersebut dalam tindakan yang nyata dan sederhana. Langka karena dalam kesederhanaan itulah terilhat wibawa luar biasa.
                Banyak hal yang bisa kupelajari dan kuteladani dari Pak Harto. Aku belajar bahwa menjadi dokter tidak harus berubah sikap menjadi arogan atau menjaga-jaga wibawa di hadapan orang lain. Kewibawaan atau citra diri seseorang itu akan terpancar dengan sendirinya ketika kita dapat bertindak sesuai dengan perkataan kita. Selain itu, status sosial ataupun harta kepemilikan kita tidak seberapa penting jika dibandingkan dengan karakter kita yang jauh lebih dari emas nilainya. Yang terakhir, sikap kita terhadap diri sendiri maupun orang lain tampak dalam keseharian kita melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap waktu. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak. Semua hal ini hanya dapat terjadi jika kita bekerja sama dengan pribadi Utama alam semesta, yaitu TUHAN. Maju terus, Pak Harto! Salam komando!             

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Minggu 14 April 2013)

                

Kopi Pecah, Sang Saksi Bisu

Tempat itu luas dengan pencahayaan ruang yang cukup terang. Dikelilingi empat dinding dengan terdapat tiga pintu dan sederetan jendela. Di tengah-tengah terdapat meja persegi panjang yang disusun melingkar membentuk susunan seperti untuk konferensi. Kursi-kursi empuk dan nyaman tersusun mengelilingi susunan meja tersebut. Di ruangan inilah aku sering menghabiskan sebagian waktu luangku. Mulai dari sekedar ‘ngadhem’, berbincang-bincang alias ngobrol, sampai mendengarkan alias menguping perbincangan seru antara sesama rekan sejawat para dokter. Ruangan yang nama aslinya adalah Ruang Komite Medik ini lebih terkenal disebut sebagai ruang coffee break alias kopi pecah, demikian aku menyebutnya (coffee=kopi, break=pecah), karena di sinilah para dokter rumah sakit ladang TUHAN mengambil waktu mereka untuk beristirahat sejenak sambil minum kopi, makan camilan, nonton televisi, berselancar internet, dan bermain kibor.
                Aku mencatat ada tiga fungsi yang paling menonjol dari ruang kopi pecah ini. Fungsi yang pertama adalah sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan berbagi informasi seputar dunia kesehatan, obat, pelayanan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas pokok rumah sakit. Setiap hari Jumat siang sekitar jam dua belas sampai selesai, biasanya diadakan pertemuan rutin untuk meningkatkan pengetahuan para dokter, perawat, apoteker, dan petugas rekam medis yang terkait. Pertemuan tersebut dapat berupa presentasi produk obat paten, presentasi dokter yang sedang dalam proses pengangkatan menjadi karyawan tetap, presentasi program kerja rumah sakit, dan lain sebaginya. Yang menjadi daya tarik utama para peserta yang diundang bukan melulu pada materi presentasi itu sendiri melainkan pada makanan prasmanan yang disajikan dengan menu yang bervariasi. Sambil menikmati makanan lezat, sambil menyimak pula presentasi. Selain itu, biasanya terdapat acara pembagian hadiah kejutan alias doorprize yang cukup kuat menjadi iming-iming alias gratifikasi bagi para dokter untuk meresepkan obat-obat paten yang dipresentasikan itu. Tidak masalah bagiku dengan adanya praktek “suap” terselubung itu, asalkan aku tetap berpedang pada prinsip. Prinsipku adalah tetap memegang teguh janjiku ketika dilantik sebagai seorang dokter, yaitu tidak mencelakai pasien dan terus meningkatkan kompetensi diri. Bahasa Inggrisnya adalah “do no harm” dan ”life long loearning”.
                Fungsi kedua ruang kopi pecah ini adalah sebagai tempat bersekutu yang nyaman bagi para dokter yang bekerja di rumah sakit ladang TUHAN ini. Setiap hari Kamis minggu kedua, bagian sosiopastoral rumah sakit mengadakan pendalaman Alkitab bagi para dokter. Difasilitasi oleh para pendeta rumah sakit sebagai moderator, terkadang mengundang pendeta dari luar sebagai pembicara, acara PA berjalan dengan sangat seru dan dinamis. Seru karena kadang dapat terjadi semacam debat pendapat dan pandangan antara dokter, fasilitator, dan pembicara. Dinamis karena diskusi-diskusi yang terjadi tidak dapat diprediksi hasil akhirnya. Dokter-dokter senior maupun junior, laki-laki maupun perempuan, umum maupun spesialis, tumpah ruah dengan segala macam uneg-uneg, pengalaman, dan pendapat mereka. Aku sangat senang mengikuti kegiatan PA rutin di kopi pecah ini karena aku dapat menambah wawasan dan pengetahuanku dalam bidang pelayanan medis yang holistik untuk kemuliaan TUHAN. Bagianku yang terbesar adalah mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian setiap ucapan para peserta PA, merenungkan, mengendapkannya, untuk kemudian kurefleksikan dan kukontlempasikan bagi diriku sendiri sehingga menambah kaya khasanah  batinku. Tidak jarang, aku pun juga mengungkapkan isi hatiku dengan jujur, tulus, dan terbuka di PA ini dengan berpegang bahwa yang hadir semuanya sudah kuanggap sebagai bagian keluarga rohaniku.
                Fungsi ketiga mungkin hanya berlaku bagi diriku secara pribadi. Di sini, aku bisa memperoleh berbagai macam informasi penting yang sifatnya bukan untuk konsumsi umum. Misalnya, diskusi-diskusi sesama dokter senior perihal pasien yang ditanganinya, bagaimana kondisi mereka, masalah-masalah apa yang dihadapi dokter dan rumah sakit, dan bagaimana seolusi terbaiknya. Selain itu, ada juga masalah-masalah di luar tembok rumah sakit yang dibicarakan secara sepintas lalu seperti masalah keamanan kota, kesejahteraan masyarakat, kebijakan pemerintah, kasus-kasus yang melibatkan dokter di Indonesia, dan lain-lain. Aku banyak mendengar bagaimana para dokter senior mengungkapkan pendapat mereka dengan cukup santun meskipun tidak jarang terjadi perbedaan-perbedaan di sana sini. Sumber informasi itu dapat berasal dari mana saja, pada umumnya adalah media massa seperti koran dan televisi. Aku belajar bahwa hal-hal yang kubaca dan kuperhatikan di media massa itu merupakan mozaik kehidupan yang jika dirangkaikan dengan tepat, akan memberikanku wawasan yang cukup kaya untuk mengambil keputusan strategis. Aku juga belajar bahwa dengan duduk diam mendengarkan baik-baik itu jauh lebih bermakna dan berarti daripada terlalu banyak bicara dengan motivasi sesumbar untuk menunjukkan kepintaran atau kepiawaianku dalam berolah pikir.
                Kopi pecah menjadi saksi bisu dinamika kehidupan personal dan profesional para dokter di rumah sakit ini. Di sinilah sejarah disaksikan dan dibentuk kembali oleh pribadi-pribadi yang terpanggil dan terpilih sesuai dengan rencana TUHAN. Bagi mereka yang menyadarinya, sungguh amat menjadi berkat yang luar biasa bukan hanya bagi diri sendiri dan kelompoknya melainkan juga bagi seluruh civitas hospitalia, masyarakat, bangsa, dan negara. Kiranya melalui hal-hal sederhana yang disaksikan dan diperbincangkan di ruangan ini, banyak hal besar dapat terjadi yang menjawab setiap permasalahan yang membelit bangsa Indonesia tercinta ini. Hidup kopi pecah! Hidup ladang TUHAN! Hidup Indonesia!

(Rumah Cahaya, Minggu 14 April 2013)

                

dr Tedjo, Sang Guru Teladan

Suara yang membahana memenuhi ruangan tempat kami para dokter biasa berkumpul untuk istirahat dan ngobrol. Suara itu berasal dari seorang dokter senior bertubuh besar. Usia yang senior tidak membuatnya lambat berpikir atau berinteraksi. Sebaliknya, berbagai pengalaman hidup yang luar biasa selalu dibagikannya dengan murah meriah. Itulah dr. Tedjo. Beliau suka sekali berbincang-bincang dengan siapa pun, terutama sesama rekan dokter dan saudara seiman. Topik pembicaraannya bermacam-macam. Dari urusan klinis medis, politik, bahkan sampai klenik spiritual. Maklum, dulu beliau menggeluti mistik kejawen sebelum akhirnya hidup dalam Kristus. Semenjak hidup baru, beliau selalu rindu untuk berbagi cerita tentang Kristus dan Roh Kudus. Tidak jarang, beliau mengajak atau diajak diskusi (bahkan sampai debat yang selalu dimenangkan oleh dr. Tedjo) oleh rekan-rekan dokter yang berlainan iman kepercayaan.
                Di ruangan yang akrab disebut sebagai “coffe break” inilah aku sering menjumpai dr. Tedjo asyik berbincang-bincang dengan sesama rekan sejawat, yaitu para dokter yang bekerja di rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta. Perbincangan demi perbincangan selalu asyik untuk kudengarkan karena dapat memperluas wawasanku dalam berbagai bidang. Dalam bidang medis, beliau sudah tidak perlu diragukan lagi memang adalah ahlinya ilmu penyakit THT dan alergi imunologi. Aku banyak belajar tentang konsep-konsep, teori-teori, dan berbagai hal yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dalam skala molekuler hanya dengan mendengarkan pemaparan dr. Tedjo yang sederhana. Memang, semakin ahli atau cerdas seseorang, semakin sederhana pulalah ia dalam memaparkan sesuatu yang rumit. Ada yang mengatakan bahwa orang jenius adalah orang yang dapat membuat hal rumit menjadi sederhana. Dan itu memang terbukti.
                Selain bidang medis klinis maupun preklinis, aku banyak belajar pula tentang dunia sosial politik di Indonesia, juga hanya dengan mendengarkan percakapan dr. Tedjo dengan dokter-dokter senior lainnya. Dr. Tedjo tekun mengikuti perkembangan yang terjadi di Indonesia melalui berbagai media massa seperti televisi dan surat kabar. Beliau gemar sekali berbagi cerita dan opini kepada siapapun yang ditemuinya perihal semua hal yang diketahuinya. Karena pembawaan beliau yang lugas, tanpa dibuat-buat, dan penuh keyakinan, maka banyak orang yang tertarik untuk ikut ambil bagian dalam setiap perbincangan dengan dr. Tedjo itu. Selain dari media massa pada umumnya, seringkali informasi-informasi tentang sosial politik diperoleh dr. Tedjo melalui sumber-sumber yang layak dipercaya secara langsung maupun tidak langsung. Maklum, dr. Tedjo bukan orang sembarangan. Beliau adalah cucu dari pangeran Tedjokusumo, keturunan dari HB VII, dengan kata lain adalah bangsawan. Koneksi atau jaringan pertemanan dr. Tedjo sangatlah luas, sehingga tidak heran jika beliau banyak memperoleh informasi penting yang tidak banyak orang mengetahuinya. Ditambah dengan wawasan yang lahir dari olah pikir dan olah rasa, setiap perbincangan dr.Tedjo dalam hal sosial politik selalu penuh dengan hal-hal yang berisi dan bermakna.
                Dan bidang yang satu ini, yaitu bidang rohani spiritual, adalah bidang favoritku dalam mendengarkan perbincangan dr. Tedjo. Latar belakang kehidupan rohani dr. Tedjo yang mantan penganut Kejawen itu membuat beliau sangat kaya akan penghayatan dan pemahaman iman. aku banyak belajar dari beliau. Aku belajar bagaimana mengekspresikan iman dan pengharapan dengan kasih yang tulus melalui perkataan dan perbuatan sehari-hari, khususnya di lingkungan rumah sakit. Aku belajar untuk tidak takut mengungkapkan iman, pengetahuan rohani, dan pendapat yang dapat membangun sesama yang mendengarkan. Aku belajar untuk menyampaikan semua itu dengan hati yang murni, tulus, dan jujur tanpa takut akan reaksi orang lain. Yang terutama dari setiap pesan yang tersurat dan tersirat dari dr. Tedjo adalah Roh Kudus dan peran-Nya dalam kehidupan kita pada masa sekarang. Dengan pengalaman dan pengetahuannya, dr. Tedjo selalu mengemukakan hal ini berdasarkan firman TUHAN dan pengalaman hidupnya. Sebagai pendengar, aku selalu terkesan dengan kejelasan dan kesederhanaan dr. Tedjo dalam menjelaskan tentang perihal Roh Kudus, yang untuk beberapa kalangan adalah perihal yang tidak mudah untuk dijelaskan. Untuk hal ini, aku sangat salut, hormat, dan bertekad meneladani semangat dr. Tedjo.
                Sungguh luar biasa bagaimana TUHAN menempatkan orang-orang tertentu yang membantuku dalam belajar, berakar, bertumbuh, dan berbuah. Salah satu orang itu adalah dr. Tedjo. Aku menganggap beliau sebagai guru yang sangat kuhormati dan patut kuteladani. Sebagai balas budi dan jasa, aku pun mendoakan supaya keluarga beliau dapat pula beroleh pengenalan dan pengalaman hidup bersama TUHAN yang sama-sama disembah olehku dan dr. Tedjo dan semua orang percaya lainnya. Haleluya!


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, Sabtu, 13 April 2013)

Pak Ias, Rekan Penyemangat

Suasana ruangan di mana aku duduk bekerja sungguh menyenangkan. Ada canda tawa, ada guyon-guyon, ada ledek-meledek. Pendeknya, penuh sukacita! Tidak ada rasa bosan dalam kamus kami yang ada di sini. Setiap pekerjaan dilakukan dengan hati riang gembira. Aku yakin, TUHAN pun ikut bergembira pula bersama kami setiap hari. Di sudut ruangan, duduklah seorang pekerja yang dengan rajin terpekur menekuni data-data analisis di hadapannya. Angka-angka mati berubah menjadi data-data dan informasi yang hidup dalam pikirannya. Sesekali terdengar celoteh riang menghidupkan suasana. Itulah Pak Ias, begitu kami memanggilnya. Setiap hari aku selalu mendapati beliau bekerja dengan semangat dan menyemangati orang lain. Menyenangkan sekali!
                Pak Ias adalah orang yang ramah, terbuka, dan humoris. Setiap hal selalu diperhatikannya dengan seksama, sekecil apa pun itu kelihatannya. Terlihat dari setiap omonganku mulai dari yang berat-berat sampai yang remeh-temeh. Bisa dikatakan, Pak Ias adalah seorang pendengar yang baik. Selain pendengar yang baik, beliau ternyata juga seorang pembicara yang jempolan. Setiap perkataannya selalu ada benarnya meskipun sering dilontarkan dengan nada bercanda. Mungkin ini pengaruh lingkungan keluarganya yang kental dengan atmosfer surgawi. Maklum, ayah Pak Ias adalah seorang pendeta jemaat.
                Yang paling aku apresiasi dari Pak Ias adalah kesediaan beliau untuk mendengarkan setiap orang yang berbicara kepadanya dengan penuh perhatian. Setelah mendengar, barulah beliau memberikan komentar yang relevan. Laki-laki dan perempuan tidak ada yang segan atau enggan dalam menceritakan isi hati dan pikiran mereka kepada Pak Ias. Bisa dikatakan, Pak Ias adalah seorang konselor tidak resmi bagi rekan-rekan kerjanya. Masalah apa pun dapat disampaikan kepadanya. Masalah pribadi, keluarga, pertemanan, pekerjaan, bahkan sampai masalah-masalah spiritual. Aku banyak belajar dari Pak Ias bagaimana mendengar dan menanggapi setiap keluhan orang lain dengan cara yang elegan.
                Hal lain yang aku apresiasi juga dari pribadi Pak Ias adalah kesediaan untuk selalu mau belajar dan berbagi hal-hal yang dipelajarinya. Tidak ada rasa sombong atau sok paling tahu sendiri yang terpancar dari sikapnya. Aku senang belajar dan ikut berbagi pelajaran dengan Pak Ias karenanya. Dengan berbagi itu, pengetahuanku bukannya semakin berkurang. Sebaliknya, malah semakin bertambah dan semakin mudah mengendap. Aku jadi semakin percaya diri dalam berkomunikasi verbal. Sebelumnya, aku merasa ada hambatan tidak terlihat dalam berkomunikasi verbal terutama dalam berbagi ilmu pengetahuan kepada sesamaku. Dengan belajar bersama, kemampuan bersosialisasi menjadi terasah dan tidak terasa hambatan tidak terlihat itu pun teratasi. Puji Tuhan!
                Berbagi dan belajar bersama sesama rekan kerja memang menyenangkan. Apalagi jika rekan kerja itu sama-sama berada pada jalur pertandingan iman yang sama. Saling berbagi dapat berkisar seputar iman dan kehidupan yang muaranya pada keselamatan dan penguatan semangat. Semangat yang diperbarui itu sangat penting dalam menghadapi hari-hari yang penuh tantangan. Dengan hadirnya seorang rekan dan sahabat dalam bekerja, pekerjaan tidak terasa berat dan membosankan. Karena itu, bersyukurlah kita jika kita mempunyai teman seperti Pak Ias itu. Dan bagi yang belum, mintalah kepada TUHAN supaya dikirimkan Pak Ias-Pak Ias yang lain supaya terceriakanlah hidup kita. Selamat bersahabat dalam melayani!


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, Rabu, 13 Maret 2013)

TPA, Tempat Persiapan Agung

Apa yang terlintas dalam pikiran kita apabila muncul kata TPA? Dalam konteks pengasuhan, TPA jamak dikenal sebagai Tempat Penitipan Anak. Tempat ini berguna untuk menitipkan anak-anak yang masih terbilang terlalu kecil untuk ditinggal maupun disekolahkan sementara kedua orang tuanya bekerja. Kondisi zaman yang semakin menuntut peran kedua gender dalam bekerja di luar rumah membuat jasa pengasuhan anak menjadi semakin laris manis. Selain dengan tenaga pengasuh domestik (baby sitter), jasa TPA menjadi salah satu pilihan strategis. Bagi saya dan suami, jasa TPA inilah yang kami pilih karena alasan kepraktisan dan pendidikan. Praktis karena kami juga mempunyai seorang pekerja rumah tangga (PRT) yang tidak bisa disambi pekerjaannya sambil momong anak. Mendidik karena pada umumnya anak-anak yang dititipkan di TPA lebih mandiri dan lebih biasa bersosialisasi dengan sesamanya.
                Bagi saya pribadi, TPA bukan hanya sekedar tempat menitipkan anak. TPA bisa juga berarti “tempat pemberdayaan anak”. Saya sebut pemberdayaan anak karena di situlah anak diberdayakan menjadi manusia yang utuh. Anak bukanlah barang yang bisa dengan seenaknya ditinggalkan, dititipkan, kemudian diambil lagi begitu saja. Selama dititipkan di TPA, anak mendapatkan pengasuhan yang cukup. Selain itu, anak mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi diri maupun lingkungannya. Anak biasanya dibiarkan bermain sendiri untuk mengembangkan imajinasinya. Anak yang lebih besar biasanya sudah dapat berinteraksi dengan sesama anak yang lain. Dalam interaksi ini, mereka dapat belajar mengenal satu sama lain. Meskipun masih terbatas, mereka dapat mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Pengasuh sigap mengawasi dan menolong anak-anak yang mengalami masalah misalnya menangis, terganggu oleh anak lain, lapar, BAB, BAK, dll. Kemandirian anak dapat terbentuk sejak ditinggalkan oleh orang tuanya bekerja. Mereka tidak lagi terlalu melekat atau tergantung pada kenyamanan dekapan orang tua manakala merasa tidak nyaman. Mereka juga sudah dibiasakan sejak dini untuk mengenal orang lain yang bermaksud baik untuk menolong.
                Selain tempat pemberdayaan, TPA bisa juga berarti “Tempat Persiapan Agung”. Saya namakan demikian karena di sinilah anak-anak disiapkan untuk menghadapi kehidupan yang lebih luas lagi. Tidak lagi berkutat pada lingkungan rumah dan sekitarnya yang sempit dan nyaman, anak mulai dipaparkan dengan lingkungan kehidupan yang lebih luas. Mereka diperkenalkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari anak-anak lain. Mereka belajar  bagaimana mengemukakan isi hati dan pikiran kepada orang yang bukan keluarganya sendiri. Dengan pengasuh yang terlatih, anak dapat belajar mandiri dalam hal makan, minum, tidur, BAB, BAK, dll. Persiapan menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya begitu ditekankan di sini. Anak yang satu tidak boleh mengganggu anak yang lain. Anak yang satu tidak boleh mengambil barang kepunyaan anak yang lain tanpa izin. Jika mengganggu anak lain sampai menangis, maka ‘hukuman’ yang didapatkan adalah tidak boleh bermain bersama anak lain selama beberapa waktu. Pengasuh yang peka dan kreatif akan berusaha mengembangkan kepribadian anak sesuai dengan ciri khas masing-masing, bukan hanya menjaga mereka sementara menunggu dijemput.
                Saya dan suami sepakat menitipkan Asa, anak kami, ke TPA yang dikelola di bawah naungan rumah sakit di mana saya bekerja. Di situ, kami mempercayakan Asa untuk dijagai dan diasuh oleh para pengasuh yang kami nilai cukup berpengalaman dengan anak-anak kecil. Sebelum mulai menitipkan Asa, kami sudah mensurvey terlebih dahulu tempat dan suasananya. Beayanya sangat murah. Kami pun cocok. Maka, sampai saat ini pun kami mempercayakan Asa untuk dititipkan di sana. Kebiasaan yang kami lakukan sebelum meninggalkan Asa ‘sendiri’ di TPA adalah dengan menumpangkan tangan kami ke atas kepalanya sambil mengatakan, “Tuhan memberkati!”. Kami percaya tindakan iman ini berarti besar bagi pertumbuhan dan perkembangan Asa. Dan kami bersyukur karena dengan adanya TPA ini, kami dapat berfokus pada pekerjaan kami masing-masing. Puji TUHAN! ^^

(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, Rabu, 13 Maret 2013)