Senin, 13 Desember 2010

Kemenangan Hari Ini, Once More!!!

Hari ini sungguh luar biasa. Aku mengalami kemenangan. Kemenangan yang sungguh indah. Aku menang terhadap pikiran-pikiran negatif dan bad mood yang merongrong jiwaku tadi siang. Bagaimana bisa? How come? Thanks to Jesus Christ, the Lord my God... and thanks to Mas Cah, me beloved one... Begini ceritanya... siapkan mata dan telinga anda untuk menyaksikan... ^^

Pulang dari Bethesda, aku merasa bahwa diriku adalah manusia paling dungu dan bego. Aku gak bisa berkomunikasi verbal dengan baik. Apa pun yang kulakukan tidak ada yang betul. Sangat-sangat tidak memuaskan. Aku merasa tidak dianggap ada. Aku merasa dipandang sebelah mata, atau bahkan mungkin tidak dipandang sama sekali. Aku merasa kecil dan tidak sehebat rekan-rekan sejawatku. Di antara semuanya, aku merasa akulah yang paling hina dina, paling miskin-buta -telanjang, paling memalukan, paling lemah daya pikirnya, dsb dll. Sehingga, aku menarik kesimpulan--entah benar entah salah--bahwa aku telah salah tempat. Tidak seharusnya aku berada di tempat di mana aku bekerja. Aku seperti keledai dungu yang dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak kusukai sama sekali. Betapa menyedihkan. Makhluk paling malang sedunia, itulah aku.

Itulah pikiran-pikiran dan perkataan-perkataan negatif yang menyerangku bertubi-tubi. Akibatnya, aku jadi nggak bisa ceria. Maka, Mas Cah memutuskan untuk mengajakku jalan-jalan setelah beberapa saat duduk-duduk di ruang tamu rumah Pelem Kecut. Pertama-tama, kami jalan-jalan naik motor mau beli es krim tip top. Ternyata tokonya tutup. Kemudian sejenak melihat kondisi Kali Code yang semakin dangkal saja. Akhirnya, kami ke Galeria beli es krim coco top. Sambil duduk-duduk, kami makan es krim dan menikmati suasana yang ada di Galeria. Setelah puas makan es krim dan duduk-duduk, aku mengajak Mas Cah untuk sembahyang di Taman Doa GKI Gejayan. Di sanalah sesuatu yang indah terjadi.

Taman Doa GKI Gejayan. Sudah lama kami gak berdoa bareng di tempat ini. Aku mengambil satu alkitab milik seseorang yang tertinggal di lemari kaca. Kemudian kami duduk di kursi batu yang nyaman. Ngobrol ngalor ngidul. Kemudian, entah bagaimana mulainya, aku membacakan kitab Wahyu dan Mas Cah mendengarkan. Aku menikmati membacakan kitab Wahyu dan menerangkan sedikit-sedikit semua yang kutahu kepada Mas Cah. Mas Cah pun sepertinya menikmati juga penjelasanku. Puas dengan membaca satu dua pasal kitab Wahyu, kami pun mulai berdoa. Mas Cah berdoa terlebih dahulu, mendoakan kebutuhan-kebutuhan spesifik kami berdua. Saat Mas Cah berdoa, aku merasa sangat damai sejahtera. Aku merasa sangat tenang. Kemudian aku menyanyikan lagu El Shaddai dengan penuh perasaan. Rasanya terharu, sepertinya Tuhan ada di tengah-tengah kami (memang iya). Kemudian aku menutup dengan doa yang isinya hanyalah pujian pengagungan buat Tuhan Yesus. Sesaat sebelum doa berakhir, HPku berbunyi. SMS dan misscall. Musik ringtone "Refiners fire" seolah menjadi back sound doa kami. Doa selesai, kata amin terucapkan dengan mantap. SMS dan misscall kubuka, ternyata dari Pak Paulus yang memberi tahu bahwa besok Selasa aku mulai mengajar piano dari jam 15.00 sampai 18.30. Aku segera menelpon balik Pak Paulus dan menyatakan kesanggupanku. Benar-benar tepat waktu. Indah sekali.

Sebelum pulang, aku meminta Mas Cah untuk jalan-jalan lagi naik motor, menikmati suasana hati yang sudah diperbarui. Rasanya benar-benar luar biasa indah. Aku tidak lagi merasa sedih atau bad mood. Semua pikiran dan perasaan negatif itu hilang sirna, digantikan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Sungguh ajaib. Sampai di rumah, Mas Cah langsung pulang karena ada pekerjaan yang masih harus diselesaikannya.

Di rumah, aku menyetel DVD Hillsong, A beautiful Exchange. Aku berdiri dan menaikkan pujian dengan sepenuh hati. Rasanya dahsyat. Aku sangat menikmatinya. Tuhan benar-benar kreatif. Berbagai pikiran kreatif yang menyukakan hati membanjiri hati dan pikiranku. Menggantikan semua pikiran dan perasaan negatif sebelumnya. Siang sampai sore ini aku akhiri dengan mandi air dingin. Puas sekali rasanya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Haleluya. Maranatha!!! ^^

Selasa, 07 Desember 2010

Bajawa-Ende, 6 Desember 2010--bukan tempat dan waktu penulisan






Hari ketiga. Bajawa, 6 Desember 2010. Pagi-pagi seperti hari yang sudah-sudah, Mimi Imut bangun, mandi, dan siap-siap. Kali ini rencananya mau ke RS Bajawa dan ke Dinkes. Makan pagi di hotel dengan menu yang cukuplah untuk mengganjal perut. Mimi imut pakai baju yang agak resmi sedikit, nggak sekedar kaos oblong. Bawahan tetap black jeans dengan sepatu kets yang sudah agak mendingan gak bau kecut. Ibu, Pak Heru, dr. Rahardjo, dan Pak Adi semuanya pakai batik. Wah, kompak ya. Seperti mau kondangan. Maklum, hari ketiga ini mau ketemu direktur RS Bajawa untuk membicarakan program sister hospital. Inilah inti acara kita selama ini, saudara-saudara. Jadi bukan hanya capek-capek hiking dan jalan-jalan! Hehe...

RS Bajawa. Rumah Sakit tipe C dengan kontur yang naik turun. Sister hospital. PONEK. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Mimi imut cuma mendengar segala sesuatu yang dibicarakan oleh rombongan secara sambil lalu saja. Solanya memang Mimi imut cuma penggembira di sini. Tugas Mimi imut hanyalah bergembira dan menikmati apa yang ada. Syukur-syukur disuruh memfoto. Hasil jepretan Mimi imut lumayan juga, gak goyang. Hehe... Tidak banyak yang bisa Mimi imut ceritakan di RS Bajawa ini. Semuanya serba teknis. Tapi Mimi imut cukup senang dengan acara jalan-jalan mellihat-lihat suasana RS Bajawa. Apalagi waktu pertemuan dengan direktur. Disuguh pisang goreng lho. Mimi imut makan satu. Enak. ^^ Pertemuan cuma berlangsung sekitar satu jam, seperti rencana. Agak molor karena harus menunggu ibu direktur yang lagi ada pertemuan juga di Dinkes. Hebat juga lho ibu direktur RS Bajawa ini. Coba Mimi imut lebih mengenal profilnya. Mungkin bisa diceritakan dengan lebih detil lagi di sini. Hasil pembicaraan semalam dengan dr Ririel dkk disampaikan di pertemuan dengan direktur ini, menjadi masukan yang berharga bagi RS Bajawa. Maju terus RS Bajawa!

Dari RS Bajawa, rombongan menuju Dinkes dengan diantar oleh mobil dan driver dari RS. Tidak terlalu jauh letaknya dengan RS. Kota Bajawa memang tidak terlalu besar. Cukup sejuk. Bahkan cenderung dingin. Maklum, di daerah pegunungan. Di Dinkes, rombongan disambut dengan hangat. Cuma sebentar, tidak terlalu lama. Jadi nggak sempat disuguh makan dan minum ^^. Jam 12.00 harus segera check out dari hotel. Pihak Dinkes pun memaklumi.

Tiba di hotel, Pak Markus dengan kendaraannya telah menunggu. Kami pun segera berkemas-kemas, siap kembali ke Ende. Sebelumnya, kami makan siang di RM Padang (lagi???). Lumayan... dari sini Mimi imut menyimpulkan, apapun daerahnya, selalu ada RM Padang. Mimi imut dan ibu kali ini membeli ransum untuk bekal kletik kletik selama perjalanan menuju Ende. Lumayan...

Karena kekenyangan, Mimi imut tidak bisa tidur selama perjalanan ke Ende. Walhasil, terjadilah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mimi imut mabuk darat. Wew... untung nggak sampai muntah-muntah. Cukup diatasi dengan tiduran di pangkuan ibu. Setelah puyeng di jalan, sampailah kami di Ende. Menginap di hotel Grand Wisata. Kali ini benar-benar kualitas hotel betulan. Hehe... Mimi imut dan ibu pun beristirahat dengan tenang. ^^

Nggak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan selanjutnya. Jadi, mohon maaf kalau laporan perjalanannya diakhiri sampai di sini saja. Semoga bisa menghibur dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Next time better. GBU all!!!

Bajawa, 5 Desember 2010--bukan tempat dan waktu penulisan






Wuaaaa... Mimi imut kewalahan mau menuliskan perjalanan hari-hari selanjutnya di Flores, NTT. Setelah pengalaman hari pertama yang cukup melelahkan, capek di jalan, Mimi Imut pun tepar gak sanggup bangun untuk menunaikan tugasnya menulis di hari-hari berikutnya. Jadi, mohon maaf kalau tulisan kali ini tidak on the spot. Semoga masih hangat-hangat tahi bebek, maksudnya ceritanya masih cukup segar dalam ingatan dan kesan yang ditangkap Mimi Imut. Here we go.

Hari kedua. Tanggal 5 Desember 2010. Mimi imut bangun pagi-pagi sekali, mandi, dan siap-siap. Mau ke manakah gerangan? O rupanya rombongan Mimi imut mau berhiking ke danau Kelimutu. Jarak antara Ende dengan Kelimutu sekitar 2-3 jam perjalanan naik mobil. Untung mobil kali ini lebih akomodatif (baca: nyaman) dibandingkan mobil yang dipakai driver untuk menjemput dari bandara kemarin. Sopirnya pun ganti, bukan lagi om Ignas yang kurang banyak cerita (sopir kok gak banyak cerita ya ^^) melainkan Pak Markus yang lebih friendly dan lebih banyak cerita. Perjalanan menuju danau Kelimutu ditempuh dari jam 6-7 WITA. Tanpa ada banyak halangan dan rintangan (cuma beberapa bekas longsoran dan baru besar yang menutupi sebagian jalan, hiiii), kami pun sampai ke Kelimutu dengan selamat.

Kami jalan kaki dari parkiran mobil ke kawah tiga warna Kelimutu yang sudah sangat tersohor seantero dunia itu. Wah, jauh juga ya. Untung Mimi imut pakai sepatu basket yang cukup nyaman di kaki (meskipun setelah dilepas baunya kecut banget--kata ibu ^^). Perjalanan naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali pun dimulai. Mimi imut dan ibu bersama-sama berjalan santai sambil sebentar-sebentar foto-foto (padune mung pingin leren). Jalan setapak yang dilalui cukup bersih dan nyaman, nggak banyak sampah berceceran. Wisatawan yang mengunjungi lokasi pun nggak terlalu banyak. Jadilah perjalanan hiking ini terasa amat nyaman. Mimi Imut dan ibu berfoto-foto di dua danau pertama yang airnya sekarang berwarna hijau tosca. Sebelumnya, katanya, air yang di danau pertama berwarna merah hati. Tapi waktu Mimi imut dan rombongan tiba, airnya telah berubah warna menjadi hijau tosca. Kata orang, warna danau Kelimutu itu menunjukkan arti tertentu. Hmmm... menarik... menarik... Danau yang satu lagi baru kelihatan jika dilihat dari puncak, itu berarti kami masih harus melanjutkan hiking lagi... yah, pelan-pelan kami pun berjalan menuju puncak (kok seperti AFI ya? masih ingat AFI?). Sayang, Mimi imut dan ibu merasa kecapekan sehingga gak kuat sampai ke puncak. Beberapa meter dari puncak, Mimi imut dan ibu menghentikan perjuangan mereka dan cukup puas dengan melihat sekilas danau ketiga yang meminjam kata Pak Markus, berwarna cocacola... ^^ Saat itu kabut mulai turun... di puncak, katanya lagi, adalah tempat Bung Karno bersemedi sehingga mendapatkan rumusan Pancasila... wew...

Puas dengan memandangi danau Kelimutu dan berfoto-foto, rombongan pun turun gunung... di kaki gunung, dekat tempat parkir, kami duduk-duduk sambil jajan mie instan dan teh hangat, mengingat belum sempat sarapan di hotel... Sambil ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu penjual makanan, ibu berusaha menawar kain ikat hasil tenunan tangan untuk oleh-oleh... namun gagal... si ibu penjual tetap tidak mau menurunkan harganya... 1-0 untuk mama penjual... Gerimis turun rintik-rintik, kami pun pulang kembali ke Ende...

Di Ende, kami makan siang di RM padang (yang sudah jelas kualitasnya). Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Bajawa sekitar jam 13.00 WIB atau 14.00 WITA. Jarak Ende ke Bajawa sekitar 3 jam perjalanan naik mobil. Mimi imut banyak tidur di mobil seperti kebiasaannya selama ini ^^. Sehingga, tidak banyak yang bisa diceritakan di sini. Cuma sebentar-sebentar bangun. Yang jelas, awal perjalanan kami menyusuri pantai yang indah dan bersih. Kemudian mulai memasuki daerah pegunungan yang hijau asri. Berkelok-kelok, begitu terus selama 2-3 jam, bosan. Maka, lebih baik tidur saja. Hehe...

Sampai di Bajawa... kami menuju hotel Bintang Wisata yang katanya merupakan hotel terbaik di Bajawa. Masuk ke kamar, Mimi imut dan ibu beristirahat sebentar. Dan seperti sudah diduga sebelumnya, sepatu dan kaos kaki Mimi imut bau kecut. Untunglah, di hotel tersedia air hangat untuk mandi. Mimi imut lupa kronologis di hotel ngapain aja. Yang jelas, mandi dan siap-siap ketemu dr Ririel beserta rombongannya.

Jam 18.00 WIB atau 19.00 WITA, rombongan dr Ririel datang menjemput kami. Mimi imut cuma ikut-ikut aja acara makan-makan dan meeting yang dilaksanakan di restoran Camelia. Ibu sebagai team leader memimpin acara meeting yang berisi laporan dari dr Ririel dkk. Laporan itu pun dicatat dan dijadikan bahan masukan untuk pertemuan hari berikutnya dengan direktur RS Bajawa dan Dinkes. Meeting diakhiri dengan makan-makan. Mimi imut pesan nasi goreng ayam. Ibu pesan nasi goreng B2 yang katanya asin sekali.

Makan malam selesai. Rombongan pulang ke hotel. Istirahat. Jadilah petang dan jadilah pagi. Demikianlah hari kedua.

Sabtu, 04 Desember 2010

Ende, 4 Desember 2010 jam 18.00 WITA






Akhirnya, setelah tanpa proses yang rumit2 atau terlalu pikir panjang, Mimi Imut pun ikut juga pergi ke Flores dari tanggal 4 sampai 7 Desember 2010. Tanpa terlalu berharap yang muluk-muluk, Mimi Imut berangkat menemani ibu dengan satu tekad bulat yaitu untuk mendapatkan pelajaran berharga yang bisa dituliskannya sebagai oleh-oleh. Mimi Imut tidak berharap akan mendapatkan kenyamanan ataupun kemewahan selama perjalanan ke timur ini. Sebaliknya, Mimi Imut ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk menyerap apa pun sebaik-baiknya supaya bisa membagikan sesuatu yang berharga, sekecil apa pun itu, melalui laporan tertulis tidak wajib ini. Dengan diiringi doa singkat yang tidak bertele-tele, Mimi imut pun berangkat dengan penuh rasa syukur dan percaya diri bersama rombongan. Mari kita ikuti bersama perjalanan Mimi Imut.

Pada hari Sabtu, tanggal 4 Desember 20101, di rumah Pelem Kecut, Mimi Imut terbangun dengan perasaan masih terkantuk-kantuk karena semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak. Maklum, mau menemani ibu pergi ke NTT, FLores, Bajawa. Mimi Imut belum pernah ke sana. Sedangkan ibu sendiri sudah pernah ke sana, ini kali yang kedua buat ibu pergi ke Bajawa. Jam 4.00 Mimi Imut bangun dan harus berjuang mengalahkan rasa malas dan godaan untuk tidur lagi. Setelah melalui beberapa fase bangun-tidur-bangun, kira-kira jam 4 lebih sedikit, Mimi imut pun bangun dan segera menyiapkan baju2 dan barang bawaan. Mimi imut secara khusus membawa si laptop Lenovo pink kembang2 yang selama ini setia menemaninya ke mana2, buku tulis, buku Eat Pray Love terjemahan bahasa Indonesia, Our Daily Bread, pensil, buku neuorologi ringkas serta pemeriksaan fisik untuk membunuh waktu selama di sana. Baju-baju pun secukupnya saja. Barang bawaan Mimi Imut dan ibu cukup ringkas.

Setelah mandi dan siap2, mimi Imut dan ibu berangkat juga ke bandara diantar oleh bapak. Waktunya lumayan mepet, untung tidak terlambat. Sampai di bandara Adisutjipto, Mimi imut dan ibu ketemu pak Adi yang sudah mengantri check in. Dr Rahardjo sudah check in duluan. Pak Heru pun baru datang kemudian. O iya, rombongan kali ini adalah lima orang terdiri dari ibu, dr. Rahardjo, Pak Heru, Pak Adi, dan si penggembira Mimi Imut. Pesawat pertama yang kami tumpangi adalah Lion Air dengan tujuan Surabaya, kemudian dari Surabaya ke Denpasar naik Wings Air, dari Denpasar ke Ende naik Wings Air. Yang menarik, Wings Air yang kami tumpangi adalah pesawat baling-baling ^^. Jadi ingat perjalanan Mimi Imut ke Soroako waktu kecil dulu, juga naik pesawat baling-baling. Untung bukan pesawat bolang-baling ^^. Selama naik pesawat, Mimi Imut banyak tidur. Jadi nggak ada hal-hal spesial yang bisa diceritakan di sini selama perjalanan naik pesawat itu.

Penerbangan cukup tepat waktu, bahkan kami sampai hampir ketinggalan waktu transit di Surabaya sama di Denpasar. Untunglah semua baik-baik dan lancar-lancar saja. Di Denpasar, Mimi Imut menyempatkan diri minta dibelikan kacang disko untuk kletik2 selama perjalanan (gak penting ya ^^). Ternyata, penerbangan dari Denpasar singgah dulu di Bandara Komodo di Muara Bajo. Tahu begitu, Yoyo diajak saja soalnya Yoyo kan kepingin banget ke Pulau Komodo. Yah, meskipun kami nggak benar2 turun di Pulau Komodo sih, cukup di bandara Komodo saja. Dan komodonya cukup diwakilkan dengan patung kecil saja. Singkat kata, kami pun sampai di Ende dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Di Ende, kami sudah ditunggu oleh driver yang sudah dipesan sebelumnya. Nama drivernya Om Ignas. Kendaraan yang dipakai oleh Om Ignas cukup 'merakyat'. Beberapa dari rombongan sedikit mengeluh karena ukuran kendaraannya kecil, AC kurang dingin, dan kaca jendela terlalu gelap. Buat Mimi Imut sih no problemo. Yang penting sampai di tujuan dan masih utuh bersama dengan rombongan. Setelah makan siang di rumah makan Padang (gak ada rumah makan Ende), kami diantarkan melihat-lihat sekilas rumah pengasingan Bung Karno. Kami menyempatkan diri berfoto-foto di sana. Mimi imut dalam hati berpikir, bagaimana ya rasanya diasingkan? Mungkin kalau diasingkan, Mimi Imut dapat menghasilkan karya pikir yang luar biasa pula seperti halnya tokoh2 besar dunia. Hehe...

Puas foto-foto dan jalan-jalan melihat-lihat suasana kota, Mimi imut dan rombongan kemudian mencari hotel yang cukup representatif. Dan akhirnya, setelah mencari-cari dengan tekun, kami pun dapat beristirahat dengan tenang di hotel Dwi Putra yang berAC dan bertempat tidur besar, ada TVnya, dan yang penting buat Mimi Imut: ada cop2an listriknya sehingga dapat menyalakan laptop sesuka hati. Thank God, hari pertama ini sungguh menyenangkan. Sekarang Mimi Imut mau beristirahat dulu untuk menyiapkan diri buat waktu yang lebih luar biasa lagi nanti malam dan besok. Haleluya. Maranatha!!! ^^



Kamis, 02 Desember 2010

Imanku dalam Pergumulan

Pak Yusup minta aku mempersiapkan presentasi untuk les terakhir ini, hari ini. Tema yang harus kusiapkan adalah "short term & long term plans", sedangkan buat Yoyo "next project". Berhubung aku masih hidup dan kerja secara serabutan, maka kupandang tugas kali ini cukup banyak membantuku untuk memikirkan secara lebih serius dan sistematis tentang rencana hidupku. Sampai sekarang aku merasa masih belum menemukan minat sejatiku. Yang baru kelihatan sekarang adalah terbukanya satu kesempatan untuk melakukan hal baru yaitu mengajar anak-anak main piano. Di samping itu, menulis apa saja yang terlintas dalam kepalaku di mana pun dan kapan pun aku sanggup. Yang masih belum kelihatan adalah apa yang harus kuambil untuk melanjutkan jenjang karier di masa yang akan datang. Sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku nggak suka jadi klinisi. Lalu mengapa aku jadi dokter di sini? Kenapa aku nggak berani melangkah menuju apa yang benar-benar kusukai? Hmmm...

Susah juga menjawab pertanyaan itu. Seandainya aku dalam kondisi manik, mungkin aku akan bisa menjawabnya dengan lebih pe de. Apa harus manik dulu baru bisa menjawab? Yang dibutuhkan di sini, menurut Pdt. Eka Darmaputra, adalah iman. Iman adalah menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban. Jadi, aku coba untuk menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu. Mengapa aku jadi dokter di sini? Pertama, karena pada awalnya aku sendirilah yang memilih untuk ambil jurusan kedokteran dulu. Tanpa paksaan. Mungkin orang tua memang sangat berharap besar supaya aku jadi dokter, tapi mereka tidak pernah memaksaku sedemikian rupa. Mungkin akunya sendiri yang kurang wawasan sehingga hanya tahu satu macam dunia kerja yaitu dunia kedokteran. Menyesal? Tidak, sedapat mungkin tidak. Aku tidak boleh dan tidak akan menyesali pilihan yang sudah kubuat. Sebab tidak ada gunanya. Mungkin sedikit penyesalan yang ada adalah mengapa aku nggak berani mengambil jurusan musik gerejawi, padahal aku merasa sangat tertarik. Yah, sudahlah. Sudah kadung. Setidaknya aku masih bisa main musik ala kadarnya untuk mengiringi ibadah di gereja meskipun masih nggandul2 ibu. Kedua, aku harus bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah kubuat itu. Menurut kata Pramodia Ananta Toer, bertanggung jawab itu adalah berani menanggung dan berani menjawab. Aku sudah berani menanggung akibat dari pilihan2ku. Sekarang waktunya untuk memikirkan jawaban2 dan mengumpulkan keberanian untuk menyampaikannya pada saat yang tepat. Ketiga, mungkin Tuhan punya maksud yang aku belum tahu sekarang, tapi pasti rencana Tuhan itu indah pada waktuNya.

Dari ketiga jawaban tersebut, apa yang bisa kutarik sebagai kesimpulan sementara? Untuk sementara, aku menyimpulkan bahwa:
hidup yang kujalani ini ditentukan oleh pilihan-pilihanku di masa yang lalu dan masa sekarang, karena itu aku harus benar-benar bijaksana dalam memilih.
penyesalan itu ada, tapi aku tidak boleh hidup berlarut-larut dalam penyesalan.
menjadi dokter saat ini di tempat ini mungkin terasa tidak nyaman dan tampaknya bukanlah panggila hiduku yang sebenarnya, tapi aku tetap optimis dan percaya bahwa Tuhan terus campur tangan dan pasti akan menunjukkan jalanNya serta membuka jalan pikiranku sehingga aku dapat melihat seperti Tuhan melihat segala sesuatu.

Itulah rumusan jawaban dan pertanyaan yang mecerminkan iman dalam pergumulanku saat ini. Semoga memberkati dan mencerahkan. Maranatha!!!