Minggu, 14 Agustus 2016

Orang Jawa

Tuhan Yesus mengasihi orang Jawa dengan segala keunikannya.

kepada Orang Jawa

TUHAN YESUS
sangat mengasihi
Orang Jawa

Orang Jawa
yang nyinyir
yang takut salah
yang takut malu
yang tidak tahu bersyukur
yang tidak bisa membedakan benar dan salah
yang kecil hati

termasuk aku di dalamnya

TUHAN YESUS
telah mati
demi menebus manusia
termasuk Orang Jawa

Hati-Nya
begitu penuh 
Belas Kasihan
terhadap Orang Jawa

Orang Jawa 
yang minder
yang kurang pe de
yang takut
yang malu
namun tidak tahu
harus berkata apa

TUHAN YESUS
menyapa Orang Jawa
melalui berbagai macam cara
sepanjang sejarah
melalui orang-orang asing
orang Eropa
orang Amerika
orang Jepang
orang China
orang Australia
dan masih banyak lagi

perjumpaan sejarah
perjumpaan budaya
perjumpaan hati

Rumah Sakit Bethesda
adalah saksi hidup 
perjumpaan Orang Jawa
dengan
Gusti Yesus Kristus
(melalui wong Landa)
di situ ada
Pemulihan
Pengampunan
Transformasi
sehingga
KERAJAAN SURGA datang
KEHENDAK TUHAN jadi
di bumi seperti di surga

Sejak awal berdiri
hingga saat ini
sampai entah kapan

TUHAN YESUS melalui BETHESDA
masih terus menyapa
Orang Jawa

satu demi satu
tanpa terkecuali
disapa-Nya
dijumpai-Nya
diubah-Nya

TUHAN YESUS
mengasihi
orang JAWA
dengan kasih yang kekal
dan hendak melanjutkan 
kasih-Nya itu

diajak-Nya orang JAWA
untuk belajar
untuk bersyukur
bukan sekedar 'nrima'

aku sebagai bagian
dari orang JAWA
turut merasakan
sekelumit isi hati
TUHAN YESUS
yang penuh belas kasihan itu

maka
aku dimampukan untuk
mengampuni
menerima
mengasihi
sesamaku Orang JAWA

sebagaimana TUHAN YESUS
telah mengampuni, menerima,
dan mengasihiku
Sedemikian Rupa

hai orang JAWA

TUHAN YESUS
mengasihimu
memberkatimu
mati bagimu

mari
angkatlah wajahmu
sambutlah Dia
RATU ADIL-mu

bersyukurlah
belajarlah
jangan takut
jangan malu

aku pun mengasihimu
^^

Minggu, 07 Agustus 2016

About Destiny

Ini sedikit kegalauanku perihal karier hidup alias profesi.

Wa iki

Ini adalah gambaran yang mampu kutangkap.

Damai

Saat kebingungan melanda, damai sejahtera Tuhan tetap ada.

Satu Hal yang Penting

Seperti Maria yang memilih untuk duduk diam mendengarkan Tuhan Yesus...

Integritas

Ini adalah pengingat untuk terus menjaga intrgritas hidup.

Haleluya

Ini adalah ungkapan syukur dan iman akan kuasa Tuhan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan dan orang yang percaya.

Thank You

Saat hati dipenuhi sukacita, aku hanya bisa bersyukur.

Melekat dan Berbuah

Melekat pada pokok anggur yang benar adalah rahasia dari hidup yang berbuah lebat.

Bersyukur

Bersyukur adalah kunci hidup yang berbahagia.

Prioritas Hidup

Hidup yang berpusat pada Kristus itu adalah kunci dari prioritas.

Ajaib Tuhan

Ungkapan kagum dari jiwa akan kebesaran dan kebaikan Tuhan.

Bungah

Kegembiraan
Sukacita
Bahagia

Keluarga Cahaya

Aku sangat bersyukur dan terberkati atas keluargaku. Terima kasih, Tuhan.

Jumat, 22 Juli 2016

Salaman Damai

Sore menjelang malam, aku sedang berada di kamar bersama Asa. Asa sedang bermain loncat-loncatan di kasur. Sebelumnya, kami bertiga—Pak Cahyono, aku, dan Asa—melakukan mezbah keluarga yang ditingkahpolahi Asa. Maklum, minta perhatian. Mezbah sukses, Asa dinasihati untuk sopan. Kemudian, aku disibukkan dengan menjawab pesan dari WA yang kupikir penting (urusan kantor). Waktu itu antara jam 18.00-21.00. Karena konsentrasi pada WA, aku jadi agak emosi ketika Asa meloncat-loncat di kasur hingga menginjak kakiku dan memukul-mukul tanganku. Aku tahu dia butuh perhatian.

                Aku singkirkan poselku, dan kuajak Asa bicara. Aku katakan kepadanya tentang golden rule atau kaidah kencana yaitu “jika tidak ingin disakiti, jangan menyakiti”. Asa sepertinya sangat marah terhadapku. Masih saja Asa memukuliku dan kukatakan bahwa itu tidak baik. Singkat cerita, aku mengajak damai dengan cara bersalaman tangan kanan. Asa bersikukuh tidak mau bersalaman, namun ia minta aku terus menemaninya di kamar. Aku rasa Asa tahu bahwa dia salah namun gengsi untuk bersalaman. Aku pun salah karena sebelumnya main HP di kamar pada jam 18.00-21.00.

                Lama sekali aku berusaha mengajak Asa untuk bersalaman damai. Setelah berkali-kali usaha, akhirnya Asa mau bersamalan sambil berkata “Damai!”. Duh, manisnya ^^

                Dari pengalaman sederhana tersebut, aku mendapat gambaran tentang damai dengan Tuhan. Begini gambarannya. Kita pernah dan mungkin sering salah terhadap Tuhan. Waktu Tuhan menawarkan solusi damai-Nya, kita terlalu gengsi untuk menerima-Nya. Namun kita tahu kita sangat membutuhkan Tuhan. Gambarannya seperti Asa yang ingin terus ditemani mama Mimi namun enggan bersalaman damai. Tuhan pun tidak tinggal diam. Dia tidak mau sekedar menjadi baby sitter tanpa persekutuan yang akrab dengan kita. Tawaran damai-Nya selalu terulur bagi kita kapan saja. Tinggal kitanya yang mau merendahkan hati atau tidak untuk “bersalaman damai” dengan Tuhan. Dan, saat salaman damai itu terjadi, betapa leganya hati kita. Sama seperti yang Asa dan aku alami di atas.

                Lucu sekali sewaktu melihat Asa berusaha membuatku tertawa saat sebelum salaman damai. Gambaran itu seperti usaha kita yang seolah menyuap Tuhan untuk menerima kita tanpa mau melalui proses salaman damai yang Tuhan tawarkan. O iya. Salaman damai itu adalah proses mengakui kesalahan dan memaafkan yang salah, atau pengampunan. Dan proses itu selalu ditawarkan oleh pihak Tuhan melalui karya-Nya dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah menderita di salib, mati, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai dengan kitab suci. Pertanyaannya, maukah kita menerima-Nya?


                Salam Damai!

Selasa, 26 April 2016

Berbagi Kegelisahan dengan “Impian dari Yogyakarta” (Y.B. Mangunwijaya)

Saat ini aku sedang menyelesaikan membaca buku “Impian dari Yogyakarta”, kumpulan esai masalah pendidikan dari Y.B. Mangunwijaya. Buku terbitan KOMPAS tahun 2003 itu masih berbicara lantang menggelisahkan hati sanubariku. Romo Mangun masih abadi jiwa dan semangatnya melalui tulisan-tulisan buah pikirannya yang bernas dan menggelitik, seperti biasanya. Kali ini kegelisahan Sang Romo tentang pendidikan dasar Indonesia telah menyalakan juga kegelisahanku yang senada. Romo Mangun yang mumpuni dalam bidangnya telah meninggalkan warisan yang sangat berharga perihal pandangannya tentang pendidikan dasar yang semestinya. Aku yang sedang belajar dan akan terus belajar ini menjadi semakin terpacu, meskipun sedikit pusing, untuk terus menggelorakan semangat kemanusiaan yang sejati.
                
Dari ribuan kata dan kalimat yang tesusun secara apik itu, aku hanya mampu menangkap satu hal yang sangat penting dan relevan bagiku. Hal itu adalah mengenai naluri bertanya atau bereksplorasi yang secara alamiah telah diberikan Tuhan kepada setiap anak manusia. Sejak lahir, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, sampai tua dan meninggal dunia, naluri dasariah itu semestinya terus ada dan terus terpupuk supaya manusia tetap menjadi manusia yang utuh. Sayang sekali, naluri dasar tersebut telah dikerdilkan, digembosi, dan dimatikan oleh sistem pendidikan dasar Indonesia selama tiga puluh tahunan. Itu terbukti dengan yang kualami selama duduk di bangku sekolah dan efeknya pun masih terasa sampai saat ini. Aku tidak lagi punya kehausan untuk bertanya atau mempertanyakan setiap jawaban yang ada. Aku terlalu cepat puas dengan apa yang ada sehingga secara tidak sadar aku mengalami kerugian yang amat fatal. Ini yang kualami sendiri, entah dengan orang lain.
                
Kebiasaan bertanya itu baik, harus dipupuk sejak dini. Sejak anak bisa berbicara dan takjub akan segala sesuatu, ia akan secara naluriah bertanya tentang apa pun yang dilihat, didengar, dirasakan, maupun dialaminya. Mungkin sebagai orang yang lebih tua kita sering jengah dan bosan ditanyai hal-hal yang kita anggap remeh itu. Sebagai akibatnya, kita pun asal-asalan menjawabnya atau lebih parah lagi, menyuruh si anak untuk diam dan jangan bertanya-tanya lagi. Tanpa sadar, kita secara sistematis mematikan kemampuan dasar anak manusia untuk berkembang menjadi dirinya sepenuhnya. Hasilnya, lahirlah generasi yang hanya bisa jadi beo siap pakai (meminjam istilah Romo Mangun) tanpa pernah mengetahui untuk apa dan siapa ia dipakai. Tragis memang, tapi itulah realitas yang terjadi berpuluh-puluh tahun di negeri ini.
                
Sang Romo memang sudah pergi, tapi jejaknya masih bisa kita temui di mana-mana asalkan kita cermat memperhatikan. Salah satu jejaknya adalah kumpulan esai “Impian dari Yogyakarta” ini, yang aku rekomendasikan bagi siapa pun yang punya beban dan kerinduan yang tulus terhadap pendidikan Indonesia. Dengan membaca esai tersebut, setidaknya kita bisa berbagi beban dengan Romo Mangun yang sangat peduli terhadap harkat dan martabat anak bangsa itu. Dengan membaca esai tersebut, bersiaplah untuk menjadi ikut gelisah dan tergelitik untuk melakukan sesuatu. Syukur kepada Tuhan untuk munculnya orang-orang mumpuni pada masa kini seperti Mas Menteri Anies dan Pak Bukik yang juga sangat peduli terhadap masalah pendidikan dasar di sini. Syukur kepada Tuhan karena kesadaran itu mulai muncul dan menyebar bagaikan nyala lilin yang saling membakar satu sama lain.

                
Semoga renungan pendek ini dapat menjadi pemantik kegelisahan kudus demi proses pendidikan yang semakin manusiawi di negeri ini. Salam damai!

Senin, 28 Maret 2016

Perjumpaan

Lautan manusia dalam satu tempat
Desa, kota, bangsa, dan negara
Belum tentu saling mengenal
Apalagi berkawan akrab
Tetangga pun banyak tidak kenal
Padahal setiap hari berdampingan
Berbagi lingkungan, jalan, ruangan
Lain halnya dengan kantor, sekolah, rumah ibadah
Padahal rumahnya saling berjauhan
Terlalu dekat kurang baik
Terlalu jauh pun kurang pas
Karena beda tujuan dan kebiasaan
Seperti ada tembok pemisah dengan pintu tersembunyi
Untuk terjadi perjumpaan itu

Tuhan Yesus pun demikian
Tidak semua tetangga-Nya mengenal betul
Tidak semua orang menerima-Nya
Bagaikan lautan luas penuh ikan
Penuh, ramai, tapi hampa
Maka Tuhan Yesus pun bertindak
Dipilihnya para murid dan rasul
Untuk fokus menjala manusia
Melalui perjumpaan demi perjumpaan
Diawali dengan diri-Nya

Sejak penciptaan pun begitu
Adam dan Hawa dipertemukan
Abraham dan Sara dipanggil
Ishak, Yakub, dan keturunannya tampil
Seolah fokus sejarah ada di situ
Sehingga seluruh bumi penuh makna
Tak lagi hampa

Rabu, 17 Februari 2016

Kliping

Mozaik kehidupan satu dua dekade yang lalu sedang kupandangi...
Kupelajari dan kuresapi perlahan-lahan...
Kuperoleh gambaran sekilas tentang negeti ini, tentang bangsa ini, dari penuturan para jurnalis...
Menoleh ke belakang dan bercermin diri, itulah yang kulakukan...
Dengan bahasa budi dan rasa aku mencoba menyelami setiap cerita, setiap makna...

Dalam ketenangan dan kedamaian yang kudus, aku menikmati jalannya cerita negeriku...
Dulu...
Kini...
Dan esok...

Turut merasakan dan memahami setiap kata, kalimat, paragraf, karangan...
Dan kudapati diriku makin peka, makin mudah tersentuh oleh gerak batin sesamaku...
Makin terbukalah jiwaku, TUHAN...

Ahok

Pengharapan kembali menyala, diembusi oleh iman...
Kasih pun mulai dihargai...
Orang-orang benar, jujur, dan hebat mulai dipromosikan oleh Tangan Tak Terlihat...
Keyakinan akan Sang Pribadi yang "datan sare" bertumbuh bersemi...
Dengan senandung doa kami mengiringi angin perubahan ini...

Terima kasih, TUHAN...

TUHAN...

Mata hati membuka diri
Memahami mencoba menghayati
Mendengarkan rahasia kelam
Pertumpahan darah tiada habisnya
Memenuhi bumi langit negeri
Kekejaman yang curang
Kebengisan yang kelam

Senyum tak lagi tersungging
Menyisakan garis datar sudut bibir
Memendam geram duka nestapa
"Sampai kapan, Tuhan?"

TUHAN...
pertumpahan darah,
Ketidakadilan,
Kesewenang-wenangan,
Intrik licik politik,
Telah, sedang, dan masih terus terjadi
Di sini di bumi ini...

TUHAN...
tolong suarakan kebenaran
Tolong tegakkan keadilan
Paparkan semuanya apa adanya...
Kami rindu...
Kami muak...
Kami siap...

TUHAN...
bukan demi negeri ini...
Bukan demi diri kami...
Tapi demi nama-Mu yang kudus...
Karena Engkau benar dan adil...
Hosana Anak Daud...
Hosana Gusti Yesus...
Hosana Jehova Shalom...

TUHAN...
kami merindukan-Mu
Sang Alfa
Sang Omega

TUHAN...
aku tahu Engkau lebih tahu
Aku tahu Engkau berkuasa
Aku tahu Engkau adil dan benar
Engkau telah mendengar seru doa
Engkau telah melihat setiap kejadian
Engkau punya penyelesaian terbaik

Karena itu...
Mari TUHAN, nyatakanlah
Hikmat keperkasaan-Mu...
Keajaiban kuasa-Mu...
Kasih karunia-Mu tercurah...

Singkapkan semua selubung
Pulihkan setiap luka hati
Mampukan untuk mengampuni
Hingga kesembuhan sejati terjadi...

TUHAN...
Tiada yang mustahil bagi-Mu
Tiada yang tak mungkin bagi yang percaya
Dan aku percaya...
Aku percaya...
Aku percaya...

(Rabu, 10 Februari 2016)

Optimis dan Ingin Tahu

Pada hari Kamis malam tanggal 4 Februari 2016, aku menyapa TUHAN-ku.

Malam itu, aku diingatkan untuk selalu:

* bersikap optimis karena iman sejati yang tumbuh dari pendengaran akan firman-Nya; iman yang melihat seperti Dia melihat, berpikir seperti Dia berpikir; iman yang tumbuh karena aku hidup melekat pada-Nya,

* menumbuhkan rasa ingin tahu; aku selalu ingin tahu akan kehendak-Nya, cara kerja-Nya, jalan-jalan-Nya; aku ingin melihat dan memahami gambaran besar fenomena-fenomena yang ada di sekitarku; aku ingin mempelajari hal-hal yang berguna bagiku, orang lain, dan kemuliaan-Nya.

Itu! Inilah aku. Aku berterima kasih kepada TUHAN. Haleluya.

Minggu, 24 Januari 2016

Awal Baru 2016

Selamat malam! Selamat tahun baru 2016 meskipun agak terlambat.

Tahun yang baru ini kumulai dengan sikap tenang. Aku sedang menenangkan hati dan pikiranku untuk bisa mendengar dengan lebih baik. Aku berketetapan hati untuk mendengarkan suara TUHAN melalui apa pun yang ada. Aku sedang mengumpulkan data dan petunjuk mengenai arah yang hendak kutuju. Aku sedang menjajagi berbagai kemungkinan yang bisa kuambil berkenaan dengan jalan hidupku.

Setelah pengumuman hasil seleksi PPDS kemarin--aku tidak lolos, terima kasih TUHAN--aku saat ini sedang mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan. Supaya aku siap saat kesempatan atau kairos TUHAN itu datang, aku lagi-lagi membekali diri dengan banyak membaca, mendengar, berdiskusi, bermeditasi, dan bergaul dengan TUHAN dan sesama seintens mungkin.

Kiranya kehendak TUHAN yang sempurna itu terjadi dalam hidupku, di bumi seperti di surga. Amin.