Selasa, 26 April 2016

Berbagi Kegelisahan dengan “Impian dari Yogyakarta” (Y.B. Mangunwijaya)

Saat ini aku sedang menyelesaikan membaca buku “Impian dari Yogyakarta”, kumpulan esai masalah pendidikan dari Y.B. Mangunwijaya. Buku terbitan KOMPAS tahun 2003 itu masih berbicara lantang menggelisahkan hati sanubariku. Romo Mangun masih abadi jiwa dan semangatnya melalui tulisan-tulisan buah pikirannya yang bernas dan menggelitik, seperti biasanya. Kali ini kegelisahan Sang Romo tentang pendidikan dasar Indonesia telah menyalakan juga kegelisahanku yang senada. Romo Mangun yang mumpuni dalam bidangnya telah meninggalkan warisan yang sangat berharga perihal pandangannya tentang pendidikan dasar yang semestinya. Aku yang sedang belajar dan akan terus belajar ini menjadi semakin terpacu, meskipun sedikit pusing, untuk terus menggelorakan semangat kemanusiaan yang sejati.
                
Dari ribuan kata dan kalimat yang tesusun secara apik itu, aku hanya mampu menangkap satu hal yang sangat penting dan relevan bagiku. Hal itu adalah mengenai naluri bertanya atau bereksplorasi yang secara alamiah telah diberikan Tuhan kepada setiap anak manusia. Sejak lahir, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, sampai tua dan meninggal dunia, naluri dasariah itu semestinya terus ada dan terus terpupuk supaya manusia tetap menjadi manusia yang utuh. Sayang sekali, naluri dasar tersebut telah dikerdilkan, digembosi, dan dimatikan oleh sistem pendidikan dasar Indonesia selama tiga puluh tahunan. Itu terbukti dengan yang kualami selama duduk di bangku sekolah dan efeknya pun masih terasa sampai saat ini. Aku tidak lagi punya kehausan untuk bertanya atau mempertanyakan setiap jawaban yang ada. Aku terlalu cepat puas dengan apa yang ada sehingga secara tidak sadar aku mengalami kerugian yang amat fatal. Ini yang kualami sendiri, entah dengan orang lain.
                
Kebiasaan bertanya itu baik, harus dipupuk sejak dini. Sejak anak bisa berbicara dan takjub akan segala sesuatu, ia akan secara naluriah bertanya tentang apa pun yang dilihat, didengar, dirasakan, maupun dialaminya. Mungkin sebagai orang yang lebih tua kita sering jengah dan bosan ditanyai hal-hal yang kita anggap remeh itu. Sebagai akibatnya, kita pun asal-asalan menjawabnya atau lebih parah lagi, menyuruh si anak untuk diam dan jangan bertanya-tanya lagi. Tanpa sadar, kita secara sistematis mematikan kemampuan dasar anak manusia untuk berkembang menjadi dirinya sepenuhnya. Hasilnya, lahirlah generasi yang hanya bisa jadi beo siap pakai (meminjam istilah Romo Mangun) tanpa pernah mengetahui untuk apa dan siapa ia dipakai. Tragis memang, tapi itulah realitas yang terjadi berpuluh-puluh tahun di negeri ini.
                
Sang Romo memang sudah pergi, tapi jejaknya masih bisa kita temui di mana-mana asalkan kita cermat memperhatikan. Salah satu jejaknya adalah kumpulan esai “Impian dari Yogyakarta” ini, yang aku rekomendasikan bagi siapa pun yang punya beban dan kerinduan yang tulus terhadap pendidikan Indonesia. Dengan membaca esai tersebut, setidaknya kita bisa berbagi beban dengan Romo Mangun yang sangat peduli terhadap harkat dan martabat anak bangsa itu. Dengan membaca esai tersebut, bersiaplah untuk menjadi ikut gelisah dan tergelitik untuk melakukan sesuatu. Syukur kepada Tuhan untuk munculnya orang-orang mumpuni pada masa kini seperti Mas Menteri Anies dan Pak Bukik yang juga sangat peduli terhadap masalah pendidikan dasar di sini. Syukur kepada Tuhan karena kesadaran itu mulai muncul dan menyebar bagaikan nyala lilin yang saling membakar satu sama lain.

                
Semoga renungan pendek ini dapat menjadi pemantik kegelisahan kudus demi proses pendidikan yang semakin manusiawi di negeri ini. Salam damai!