Senin, 21 Desember 2009

Sahabat Bukan Berhala

Tahu apa itu berhala? Sayang di dekat saya tidak ada kamus, makanya saya tidak dapat menuliskan definisi lengkapnya di sini. Tapi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama, kita semua tahu bahwa yang dimaksud dengan berhala itu adalah sesuatu atau seseorang yang kita puja melebihi Tuhan yang selayaknya kita puja. Berhala bisa berwujud macam-macam. Ada yang berupa patung dewa dewi, lukisan, uang, hobby, pekerjaan, dll. Sahabat atau teman pun bisa menjadi berhala bagi kita apabila kita terlalu memujanya. Padahal, hanya ada satu Sahabat saja yang layak untuk terima pemujaan kita. Dan Sahabat yang layak kita puja itu pun punya sifat cemburu yang kudus yang tidak ingin kita terjerumus dalam penyembahan berhala yang sia-sia. Dia akan melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatian kita apabila kita mulai melenceng dari kekudusanNya.

Saya pernah mengalami saat2 di mana saya sangat menginginkan memiliki seorang saja sahabat. Rasanya kesepian yang tiada tara. Kemudian saya berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan supaya Dia memberikan saya sahabat seperti yang saya inginkan. Dan karena kemurahan hatiNya, Tuhan pun memberikan apa yang saya pinta. Saya pun sangat senang. Sahabat yang saya dapatkan itu begitu dekat dan melekat di hati. Hampir setiap hari kami bertemu dan menghabiskan waktu bersama-sama. Saking seringnya kami berkumpul, sampai-sampai waktu untuk keluarga pun menjadi berkurang. Bahkan mungkin tanpa saya sadari, waktu untuk Tuhan pun tersita karena saya terlalu asyik dengan sahabat saya itu. Hingga suatu ketika, saya mengalami kejadian pahit yang membuat sahabat saya menjauhi saya. Sekali lagi saya merasa kesepian dan kehilangan. Kemudian saya pun mulai sadar bahwa saya sebenarnya sudah mempunyai satu Sahabat sejati yang tidak akan pernah mengecewakan, menjauhi, atau meninggalkan saya sendirian. Saya bersyukur akhirnya Tuhan mengintervensi hubungan persahabatan saya yang tidak sehat itu sehingga saya tidak lagi memberhalakan siapa pun juga.

Sahabat memang penting dan perlu bagi jiwa kita, tetapi bukan untuk dipuja apalagi disembah karena hanya Satu saja yang berhak dan layak untuk terima pujian dan sembah kita.

Kamis, 10 Desember 2009

Makan Bersama Sahabat

Saat-saat yang paling pribadi dan hangat untuk mengenali sahabat kita lebih dekat lagi adalah saat-saat makan bersama dengannya. Tidak peduli di mana dan siapa yang mengajak makan (baca: mentraktir), saat-saat berharga itu tetaplah ada dan terasa. Bukan masalah harga maupun jenis makannya yang menjadi pokok utama, melainkan bagaimana kita dapat saling berbagi dan menghabiskan waktu bersama. Mungkin bagi saya yang tidak biasa ngobrol sambil makan, hal itu akan terasa agak sulit dan janggal. Maklum, bagaiamana orang bisa makan sambil bicara? Mulut kan cuma satu, kalau penuh dengan makanan yang sedang dikunyah, perkataan menjadi susah untuk dilafalkan. Betulkan? Hehe.... Meskipun demikian, saya sangat menghargai dan menyukai orang-orang yang terbiasa untuk ribut waktu makan. Maksudnya bukan ribut-ribut seperti orang bertengkar, melainkan ribut karena asyik bercerita ini itu.

Makan bersama sahabat karib dapat membuat kita lebih santai dan rileks dalam membagikan hidup dan pengalaman. Dari yang seharian sepaneng kerja atau belajar, urat saraf akan sedikit dikendorkan dengan memasok asupan bergizi sambil mendengarkan celoteh sahabat kita. Apalagi jika makannya rame-rame bersama lebih dari satu orang sahabat. Pasti tambah seru dan hangat saja suasananya. Makin mantap jika ada doa bersama sebelum dan sesudah makan, asal jangan kelamaan. Hehe...

Semakin sering kita bersama-sama dengan sahabat kita, termasuk saat-saat suka seperti saat makan bersama, akan semakin mempererat hubungan persahabatan yang terjalin. Makan bersama bukanlah kegiatan yang melulu jasmani saja lho. Buktinya, Tuhan Yesus di dalam Wahyu 3 mengatakan bahwa Dia mengetuk pintu orang dan barangsiapa yang membukakannya, maka Tuhan akan masuk mendapatinya dan... makan bersama-sama dengannya... Nah, betul kan? Tuhan saja hobby makan, mengapa kita tidak? Asal jangan rakus saja ya... Hehe...

Rabu, 09 Desember 2009

Berdoa Bersama Bu Indarti

Saat-saat yang paling mengesankan bersama Bu Indarti adalah saat-saat kami berdoa bersama. Biasanya di sekolah sesudah semua murid pulang, dan hanya tinggal aku atau dengan beberapa murid saja bersama Bu Indarti di ruang agama, kami biasa melakukan sharing kehidupan kami masing-masing. Setelah sharing itu, Bu Indarti kemudian mengajak kami semua berdoa sambil bergandengan tangan. Sangat menyenangkan sekali mendengarkan Bu Indarti berdoa. Karena saat berdoa, Bu Indarti benar-benar menunjukkan kedekatannya terhadap TUHAN dan isi doanya pun begitu indah. Keindahan dalam kesederhanaan. Bu Indarti mendorong kami semua anak didiknya untuk senang berdoa dan mempunyai hubungan yang intim dengan Bapa. Kami belajar melalui kehidupan Bu Indarti bahwa doa adalah cara yang paling ampuh untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, sesederhana maupun serumit apapun itu.

Ada tiga momen paling berkesan dalam hidupku saat berdoa bersama Bu Indarti. Momen pertama adalah saat aku lulus SMA dengan hasil ujian yang tidak terbaik, lulus sih tapi hasilnya masih di bawah prestasi temanku Yiska. Aku yang terbiasa menjadi nomor satu harus merendahkan hati mengakui presatsi orang lain. Sebelum datang ke tempat perayaan kelulusan, aku menyempatkan diri datang ke ruang agama SMP 5 untuk bertemu Bu Indarti dan berdoa bersama. Dan dengan penuh hikmat, Bu Indarti pun berdoa membesarkan hatiku. Momen kedua adalah saat aku akan masuk kuliah. Waktu itu aku sama Bu Indarti di rumahku, kami habis memuji dan menyembah Tuhan dengan sederhana. Aku yang main piano, Bu Indarti yang menyanyi. Nggak tahu gimana, Bu Indarti merasa sangat kepenuhan Roh Kudus dan tergerak untuk berdoa bersamaku. Kami pun masuk ke kamarku dan mulai berdoa. Bu Indarti berdoa dengan bahasa Roh yang luar biasa, aku cuma ngikutin aja. Kemudian secara khusus Bu Indarti mendoakanku yang mau masuk kuliah, karena sepertinya aku bakalan mengalami saat2 terberat dalam hidupku. Dan memang benar, aku mengalami hal2 yang sangat traumatis saat aku kuliah. Momen ketiga, adalah saat kami berdoa bersama di GKJ Sawokembar Gondokusuman, malam2 setelah kebaktian Sabtu sore. Kami sama2 berlutut. Yang aku ingat, waktu itu aku menyanyikan lagu Di Jalanku Kudiiring, dan Bu Indarti kembali mendoakanku secara khusus yang sudah masuk kuliah.

Wah, pokoknya bersama Bu Indarti tidak pernah membosankan deh. Dan saat2 yang paling kutunggu ketika aku main ke rumah Bu Indarti adalah saat kami berdoa bersama. Karena kami telah belajar percaya bahwa ada kuasa dalam doa, apalagi doa sepakat. Terima kasih Tuhan buat guru yang sangat luar biasa ini.

Berdoa Bersama Sahabat

Berdoa untuk sahabat dan didoakan sahabat adalah hal luar biasa. Namun ada lagi hal yang tidak kalah luar biasanya yaitu berdoa bersama sahabat kita. Saat kita berdoa sendiri, kita seperti menanggung segala beban dan persoalan yang kita hadapi maupun dihadapi orang lain di atas bahu kita sendiri. Rasanya mungkin luar biasa berat. Namun saat kita berdoa bersama-sama, kita akan saling tolong-menolong menanggung beban yang berat itu bersama-sama. Istilah kerennya adalah berbagi beban. Rasanya tentu akan lebih ringan dan lebih melegakan. Dan hal seperti itulah yang diinginkan oleh Tuhan bagi kita semua yaitu supaya kita saling bertolong-tolongan menanggung beban satu sama lain. Dalam doa yang dipanjatkan bersama-sama itu, ada kasih dan kuasa yang dilepaskan sehingga mempererat persekutuan kita dengan Tuhan dan dengan sahabat yang berdoa bersama kita. Dalam doa bersama itu pula kita akan merasa lebih dikuatkan dalam hati karena kita tahu dengan pasti bahwa sahabat kita ada bersama kita dan sungguh2 peduli dengan kita. Kita tidak lagi merasa seorang diri dalam menjalani hidup di dunia dari hari ke hari.

Ada banyak cara kita dapat melakukan doa bersama. Kita dapat bertemu muka dengan muka dan berdoa bersama pada waktu dan tempat yang sama. Namun jika tempat tidak memungkinkan, kita dapat mengambil satu waktu khusus dalam suatu hari untuk berdoa di tempat masing-masing. Misalnya aku berada di kamarku dan sahabatku ada di kamarnya di rumah masing-masing, kami sepakat untuk saling mendoakan tepat pada jam 9 malam. Ada lagi cara lain yaitu memanfaatkan teknologi yang ada. Misalnya dengan mengirimkan pokok doa melalui SMS atau email kepada sahabat kita.

Ikatan batin yang didasari oleh kasih yang tulus dan murni akan tercipta saat kita dan sahabat kita saling mendoakan. Sehingga, bukan hal yang mustahil jika pada suatu waktu salah seorang mempunyai masalah namun sahabatnya sudah ikut merasakan apa yang dirasakannya sebelum ia sempat mengatakan kepada sahabatnya. Aku dan seorang sahabatku dulu juga sering mengalami hal yang demikian. Kami jarang sekali mengeluhkan masalah kami namun setiap kali kami ada masalah, kami sudah saling mendoakan bahkan sebelum diminta. Dan kami sering takjub sendiri akan ketepatan suara hati atau firasat yang sering kami rasakan satu sama lain. Semua ini hanya dimungkinkan karena Tuhan sendiri yang bekerja di antara kami.

Mari kita bangun hubungan persahabatan yang kuat dan melekat dengan mengembangkan kehidupan doa bersama-sama. Sebab, seperti firman Tuhan katakan, ada kuasa dalam doa sepakat. Sudahkah?

Sahabat Adalah Anugerah

Tahu apa itu anugerah? Ya, anugerah. Anugerah adalah sesuatu yang kita dapatkan meskipun kita tidak layak mendapatkannya. Semuanya terserah kepada sang pemberi anugerah itu sendiri. Jadi, bukan karena kebaikan hati atau perbuatan baik kita kita layak menerimanya namun semata-mata karena kemurahan hati sang pemberi anugerah. Contoh anugerah terbesar yang kita kenal adalah keselamatan jiwa kita dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita diselamatkan bukan karena kebaikan atau perbuatan baik kita karena apa pun yang kita lakukan tidaklah dapat menebus kita dari dosa-dosa kita. Hanya Tuhan sendirilah yang mampu menyucikan kita dari semua dosa kita dan menyelamatkan kita. Dan ternyata Dia mau melakukannya karena begitu besar kasihNya pada kita. Itulah yang dinamakan anugerah keselamatan. Luar biasa sekali bukan?

Ada lagi satu hal luar biasa yang merupakan anugerah Tuhan namun sering kali kita abaikan atau menganggapnya sebagai hal yang wajar saja kita dapatkan. Hal itu adalah persahabatan. Ya, sahabat dan persahabatan adalah anugerah Tuhan. Tidak pecaya? Coba pikirkan, kita yang cenderung egois dan hanya mementingkan diri sendiri ini kok bisa-bisanya mempunyai seseorang atau lebih yang memperhatikan dan mengasihi kita sedemikian rupa sehingga hidup kita menjadi penuh warna. Siapa sih yang mau jadi teman dan sahabat orang yang hanya peduli pada keadaan dirinya sendiri? Tapi syukur kepada Tuhan yang telah menempatkan sahabat-sahabat baik di sepanjang jalan kehidupan kita sehingga kita tidak lagi sendirian.

Waktu SMP aku pernah merasa sangat miskin sekali karena aku merasa tidak mempunyai sahabat yang bisa kukasihi dan mengasihiku dangan tulus. Aku begitu merindukan persahabatan sejati seperti yang ada dalam cerita-cerita yang kubaca. Aku mulai berdoa untuk mendapatkan sahabat, seorang saja sudah cukup. Aku menuliskan keinginan dan kerinduan hatiku itu ke dalam buku harianku sampai berlembar-lembar. Namun sepertinya aku tidak mendapatkan jawaban. Setelah lama berselang, dan aku sudah letih berdoa, aku mendapati bahwa Tuhan menjawab doaku dengan caraNya yang ajaib. Aku menyadari bahwa aku telah dikelilingi oleh sahabat-sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Rasanya bukan karena doaku aku memperoleh sahabat-sahabat itu. Semua karena anugerahNya saja. Syukur kepada Tuhan sekali lagi.

Sudahkah kita bersyukur untuk anugerah Tuhan berupa persahabatan yang kita miliki saat ini? Dan bagi yang belum mempunyai atau menyadari kehadiran sahabat, sudahkah kita berdoa dan memohon kepada Tuhan dengan segala kerendahan hati bahwa kita memerlukan kehadiran sahabat?

Selasa, 08 Desember 2009

Gita


Gita adalah salah satu teman yang pernah mengisi hari-hariku. Mengapa aku katakan "pernah"? Karena sampai saat aku nulis ini, aku sudah seperti kehilangan kontak dengannya. Aku nggak pernah lagi SMSan, telpon, ketemu, atau main ke rumahnya. Padahal dulu aku paling sering nggangguin Gita. Begitu seringnya kami bersama sehingga kami sudah seperti saudara kembar saja. Sayang kebersamaan itu hanya berlangsung beberapa tahun saja. Selebihnya, kami praktis gak pernah ketemu lagi sejak aku mulai sakit jiwa. Hik hik...

Pertama kali ketemu Gita itu di gereja waktu ibadah Sabtu sore. Aku lupa tahunnya, 2001 atau 2002. Yang jelas, waktu itu aku ingetnya lagi ngobrol sama mbak Nina, ngobrol asyik. Tiba2 Gita datang dan memperkenalkan dirinya. Kesan pertamaku sama dia... hmm... gak gitu berkesan... aku masih belum ngeh kalau dia bakalan jadi sahabatku. Kemudian kami jadi sering ketemu dan sering duduk bareng di gereja Sabtu sore. Kami sama2 suka berdoa. Kami sering mendoakan kebaktian Sabtu sore supaya hadirat Tuhan turun dan kebatiannya dapat memberkati orang banyak. Aku pun turut menjadi saksi hubungan antara Ardi dan Gita yang waktu itu juga pertama kali ketemu di gereja Sabtu sore. Sayang, sekarang mereka sudah nggak jadi pasangan lagi. Masing2 sudah pada punya pasangannya sendiri sekarang.

Kalau mau menceritakan tentang Gita bisa panjang lebar nih. Aku cuma bisa bilang bahwa meskipun Gita sudah melupakanku dan nggak menganggap aku sebagai sahabatnya lagi, mungkin menganggap aku sebagai bagian dari masa lalu yang harus dilupakannya, aku tetap menganggapnya sebagai sahabat dan saudaraku yang terkasih. Bagaimanapun juga kami pernah melalui suka dan duka bersama-sama, merasakan pahit manisnya melayani Tuhan. Aku berdoa supaya suatu saat nanti aku bisa ketemu lagi sama Gita dan mulai kembali persahabatan ini dari awal. Yah, gak bisa dipaksakan sih... Cukup percayakan kepada Tuhan Yesus saja, the Master of friendship...

Bagi yang ingin tahu pribadi Gita lebih lanjut, silakan buka weblognya di www.raragita.wordpress.com Di situ Gita banyak bercerita tentang dirinya dan perenungannya yang dalam akan makna hidup yang dihayatinya. Selamat membaca! ^^

Saat Berkendara Bersama Keluarga


Saat berkendara naik mobil sekeluarga adalah saat2 terasyik di mana aku bisa menikmati kebersamaan dengan bapak, ibu, dan Yoyo. Biasanya kami sekeluarga melakukan ritual jalan2 hari Minggu malam setelah pulang dari gereja. Kami makan2 di luar alias jajan kemudian bapak ngajak muter2 ke mana gitu. Yang menarik adalah kebiasaan masing2 kami saat berkendara. Bapak yang menyetir, biasanya senang muter lagu2 nostalgia tempo dulu yang menurutku membosankan. Jadi, sebelum bapak sempat memutar lagu2 jadul itu, biasanya aku lebih dulu request untuk menyalakan radio. Aku suka mendengarkan radio saat berkendara, stay tune di radio Sasando 90,3 fm. Biasanya aku suka mendengarkan siaran kotbah, dialog firman Tuhan, dan lagu2 rohani. Karena bagiku, siaran itu jauh lebih berguna dan membangun daripada mendengarkan lagu2 jadul yang termehek-mehek. Beda lagi dengan ibu. Ibu suka nonton sinetron. Makanya di mobil bapak dipasang juga televisi kecil khusus untuk ibu. Kalau sudah jalan, ibu selalu nyetel TV di stasiun RCTI yang menayangkan sinetron stripping yang nggak mutu dan nggak jelas itu. Maka jadilah kacau balau isi mobil. Ada yang nonton tv, ada yang ndengerin radio. Suara jadi campur aduk. Untung Yoyo nggak ikut2an... Dia lebih menikmati suasana yang ada tanpa perlu menambah jadi kisruh. Hehe...

Itulah keluargaku yang unik dan asyik. Aku sangat bersyukur dengan keluargaku ini. Bersyukur dengan berkat dan anugerah yang Tuhan beri sehingga aku masih punya keluarga yang lengkap. Bersyukur karena aku masih bisa jalan2 dengan santai dan enaknya tiap minggu. Semua karena Tuhan yang membangun keluarga ini sehingga menjadi keluarga kemuliaanNya. Segala puji hormat syukur hanya bagi Tuhan Yesus. Hurrrayyy... hehe... ^^

Memberi, Memberi, dan Memberi


Waktu aku naik mobil bareng Yoyo, sampai di perempatan dekat Syantikara, aku melihat dua orang anak jalanan sedang membagi-bagikan kertas kecil seperti amplop yang ditulisi "untuk anak jalanan". Rupanya makin praktis saja ya cara mengemis sekarang, nggak perlu ngomong panjang lebar, cukup ditulis di kertas dan dibagi-bagikan ke pengendara yang berhenti di lampu merah. Kemudian, beberapa saat setelah membagi-bagikan kertas, mereka kembali mengambil atau mengunduh kertas berikut uang yang dimasukkan ke kertas itu oleh para pengendara yang tergerak oleh belas kasihan. Karena aku dan keluargaku sudah berkomitmen (cieeeh berkomitmen ^^) untuk tidak pernah memberikan uang bagi para pengemis ataupun anak jalanan, maka aku pun tidak tergerak oleh belas kasihan. Namun waktu itu aku tergerak untuk memberi dengan kreatif. Bukannya uang yang aku selipkan melainkan pembatas alkitab/buku bergambar anjing lucu dengan tulisan "Tuhan menyertaimu". Entah apa atau Siapa yang mendorongku untuk berbuat demikian, yang jelas aku merasa sangat puas dan senang dengan apa yang kulakukan. Sangat kreatif, bukan? Aku berdoa dalam hati supaya anak yang menerima pemberianku itu tidak membuang apa yang kuberi dan terlebih lagi, dia mendapat berkat dari Tuhan.

Aku jadi punya ide yang cukup kreatif dan brilian nih. Aku mau beli pembatas alkitab bergambar anjing lucu seharga @Rp2000,00 itu sebanyak-banyaknya untuk kemudian dapat kubagi-bagikan dengan penuh semangat dan kasih kepada para pengemis dan anak-anak jalanan. Ternyata karunia motivasi memberi itu masih ada padaku. Aku mau kembangkan ah supaya aku lebih banyak memberi dengan cara yang kreatif punya. Hehe... Boleh kan? Tuhan aja kreatif gitu lho, anakNya ya kudu kreatif. Betul? ^^

Baca Buku Lagi: When Dreams Come True


Aku lagi baca buku When Dreams Come True tulisannya pasangan suami istri Eric & Leslie Ludy. Nggak nyesel aku beli nih buku. Isinya bener2 mantabz. Menceritakan tentang perjalanan dan pergumulan dua orang muda dalam pencarian akan Tuhan dan akan cinta yang sejati. Menceritakan bagaimana mereka sebelum bertemu, waktu bertemu, bersahabat, dan akhirnya menjalin hubungan percintaan yang murni dan kudus. Waktu aku menulis ini, aku masih belum selesai membaca itu buku. Sekali lagi aku bersyukur karena aku nggak salah pilih buku. Nggak sia2 kubelanjakan uang untuk membelinya.

Buku ini ditulis secara bergantian oleh Eric dan Leslie sehingga menciptakan suasana yang unik karena menampilkan dua sudut pandang yaitu sudut pandang Eric dan sudut pandang Leslie. Lebih indah dan lebih seru daripada novel romantis manapun, bahkan lebih seru daripada Twilight Saga, karena kisah ini merupakan kisah nyata dan di dalamnya nyata betul campur tangan TUHAN di dalam membentuk, mempersiapkan, dan menyatukan Eric dan Leslie. Cara mereka menuturkan kisah mereka pun sangat manis dan menyentuh. Dengan membaca buku ini, aku terdorong untuk lebih sungguh2 lagi mendekat pada Tuhan dalam segala hal termasuk dalam kehidupan cinta. Tuhan ternyata tidak memandang hina setiap aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya kehidupan asmara.

Tag line di depan sampul buku ini mengatakan "Kisah nyata yang menginspirasi setiap insan yang merindukan cinta sejati". Dan berikut ini adalah yang tertulis di sampul belajangnya:
Kisah cinta memang selalu menarik. Tetapi tak ada kisah cinta yang lebih menarik selain kisah cinta yang menggambarkan kemurnian cinta. Kisah antara Eric Ludy dan Leslie Runkles adalah kisah cinta yang manis dan tidak dibuat-buat. Buku ini berisi kisah nyata tentang diri mereka sendiri.
Kita dapat menyaksikan pergumulan mereka dalam mencari jati diri, saat mereka jatuh bangun membangun relasi dengan teman-teman sebaya, dan jalinan cinta kasih mereka yang luar biasa. Bagi sebagian orang, kisah mereka mungkin tidak melegenda seperti layaknya kisah Cinderela, tetapi kisah mereka benar-benar menggambarkan impiann yang menjadi nyata!
Buku ini tidak hanya akan membuat Anda terinspirasi dalam mendapatkan pasangan hidup, tetapi juga membuat Anda terinspirasi untuk menjalani kehidupan yang benar.

Ternyata Eric dan Leslie telah menulis buku best seller sebelumnya berjudul When God Writes Your Love Story. Aku jadi pingin nyari dan baca buku itu. Penasaran... hehe... Ok deh, sekian dulu promosi bukunya. Selamat mencari, membeli/meminjam, dan membaca ya... GBU full!!!

Ditinggal Sahabat

Apa yang paling menyedihkan dalam hidup ini? Yang jelas salah satunya adalah perpisahan. Perpisahan oleh karena maut, itu yang paling sering membuat seseorang sangat bersedih. Tapi ada satu jenis kesedihan yang sangat luar biasa menyakitkan, yaitu saat kita ditinggalkan oleh sahabat, bukan karena maut yang memisahkan melainkan karena putus hubungan kasih dengan sahabat. Putus hubungan dengan kekasih atau pacar itu jauh lebih mendingan daripada putus hubungan dengan sahabat. Ada ungkapan yang mengatakan lebih baik kehilangan pacar daripada kehilangan sahabat. Ungkapan itu tepat sekali.

Aku pernah punya seorang sahabat yang sangat kukasihi dan mengasihiku, sebut saja namanya Melody (nama disamarkan). Kami sering sekali menghabiskan waktu bersama-sama. Saking seringnya kami bersama-sama, kami sudah seperti saudara kembar saja. Hubungan persahabatan kami dapat membuat orang lain menjadi iri karena sedemikian lekatnya. Tapi bagi kami sendiri, hubungan itu ada untuk memberkati diri kami dan orang lain di sekitar kami. Tapi ketika aku mulai sakit dan jatuh dalam kondisi depresi yang parah, entah mengapa sahabatku Melody mulai jarang main lagi bersamaku. Seolah-olah ada jurang yang memisahkan kami berdua. Apalagi dengan ditambah sibuknya kegiatan Melody yang mulai mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar, praktis aku tidak dapat lagi mengganggunya dengan SMS atau telepon-telepon iseng sekedar untuk ngobrol atau say hello. Rasanya sangat sedih. Aku sangat merasa kehilangan seorang sahabat terbaik yang pernah kumiliki.

Bagi yang mempunyai seorang atau lebih sahabat yang sudah lama tidak bertemu, ada baiknya untuk mulai kembali menghubunginya dan membangun kembali tali persahabatan. Bukankah sekarang teknologi sudah sedemikian majunya? Mumpung belum terlambat. Mari.

Senin, 07 Desember 2009

Yiska Temanku


Temanku yang bernama Yiska Martelina ini sungguh luar biasa. Sejak aku mengenalnya di SMP sampai sekarang, Yiska ini masih tetap rajin dan tekun belajar. Selain itu, pribadinya pun menampakkan inner beauty yang sangat cantik. Setiap orang yang mengenalnya selalu menyukainya karena keramahan dan kerendahhatiannya. Dulu waktu SMP Yiska sudah terkenal sebagai anak yang rajin belajar sehingga prestasi akademisnya pun stabil baik. Di SMA pun dia juga bertahan sebagai anak yang rajin, cerdas, dan pandai. Semua guru dan teman2 menyukainya. Mungkin cuma aku yang menganggapnya sebagai "saingan" karena aku waktu sekolah dulu begitu terobsesi dan berambisi untuk selalu menjadi yang terbaik.

Yiska adalah tipe anak teladan. Bukan hanya karena dia bersekolah di SMA Teladan, tapi dia memang sungguh2 mempunyai karakter seorang teladan yang patut diacungi jempol. Meskipun dia rajin dan pandai, tidak sepertiku yang egois, Yiska sangat suka membantu teman2 lain yang kesulitan dalam belajar. Dia tidak segan2 meminjamkan pekerjaan rumahnya untuk dicontek teman2 yang kesulitan mengerjakan pekerjaan yang sama. Di kelas pun Yiska suka berbaur dengan semua golongan anak, ngobrol sana sini, haha hihi, dan tidak lupa membantu mengerjakan tugas2 sekolah bersama. Aku sering iri dengan kebaikan hati Yiska yang tulus dan tidak dibuat-buat itu. Bodohnya aku, aku masih saja menganggap Yiska sebagai saingan dalam hal kepopuleran. Doh... ampun Tuhan... ^^

Kesetiakawanan dan kebaikan hati Yiska tampak dan teruji sewaktu aku mulai sakit tahun 2002 dan kumat2an tahun 2004 dan 2007. Dari semua orang yang kuanggap sebagai teman dan sahabat terbaikku, Yiska termasuk orang yang tetap care dan peduli padaku. Dia tetap menganggapku teman dan sahabatnya meskipun aku pernah melakukan hal2 yang tidak baik padanya. Dia tidak malu berjalan bersamaku dan duduk di dekatku waktu kuliah. Meskipun di kuliah Yiska termasuk sebagai mahasiswa berprestasi, dia tidak menyombongkannya. Dia selalu membuatku merasa nyaman dengan tidak membanding-bandingkan prestasi yang diperolehnya denganku yang miskin prestasi. Dan sampai Yiska lulus dokter lebih dulu pun, dia tetap setia menjadi sahabatku dan teman yang baik bagiu. Aku sungguh beruntung dan bersyukur mengenalnya. Tuhan benar2 baik.

Kepandaian yang Sejati


Waktu aku SD, khususnya kelas 5 dan 6, aku begitu ambisius untuk mengejar dan mempertahankan prestasi akademis menjadi ranking 1 di kelas. Begitu ambisiusnya aku sehingga waktuku kuhabiskan untuk belajar dan belajar. Motivasi yang ada adalah supaya tetap menjadi yang nomor satu di sekolah. Menjadi nomor satu bagiku waktu itu identik dengan predikat anak yang pandai atau pintar. Aku begitu haus akan pengakuan sebagai anak yang pintar. Bagiku, kepintaran dan kepandaian adalah segala-galanya, waktu itu. Tanpa kusadari, aku terjebak dalam pola pikir yang salah. Pola pikir yang sangat dangkal dan menyesatkan. Aku belajar bukan untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang melainkan semata-mata hanya untuk nilai yang bagus supaya aku dianggap sebagai anak yang pintar. Aku pikir waktu itu aku telah mencapai semuanya, apa yang seharusnya diraih oleh manusia. Ternyata aku salah. Ada yang jauh lebih penting daripada sekedar mengejar kepintaran dan prestasi akademis. Aku melupakan nilai-nilai persahabatan dan kesetiakawanan. Setiap orang teman yang berprestasi aku pandang sebagai saingan atau lawan yang harus kukalahkan. Aku tidak rela posisiku sebagai yang terbaik terancam oleh mereka.

Menjadi pintar atau pandai tidaklah salah. Yang menjadikannya salah adalah motivasi yang tidak pas. Karena motivasiku waktu itu adalah supaya aku mendapat pengakuan dari orang lain bahwa aku ini pandai, maka kepandaianku itu tidak pas dan tidak pada tempatnya. Mungkin secara lahiriah aku terlihat lebih pandai dan pintar, tapi sebenarnya aku sama saja dengan anak-anak yang lain. Aku bisa meraih prestasi itu karena aku lebih dahulu menguasai bahan pelajaran karena aku "mencuri start" dengan memanfaatkan hari2 libur yang ada untuk belajar dan belajar. Tapi aku masih belum memahami dan menghayati esensi dari belajar dan apa yang kupelajari. Aku masih belum mengembangkan jiwa seorang pembelajar yang tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya. Aku terlalu cepat puas hanya dengan mendapatkan nilai2 bagus di setiap ulangan dan ujian.

Sekarang aku seperti disadarkan kembali bahwa menjadi pintar itu tidak salah asalkan dengan motivasi yang benar. Motivasi yang bukan melulu demi egoku sendiri melainkan demi memuliakan nama Tuhan. Jika aku megejar kepandaian untuk memuliakan Tuhan, maka aku tidak akan terlalu mempedulikan apa kata orang. Kepandaian yang kuhasilkan dari jerih payah belajarku itu akan dipakai Tuhan untuk memperluas kerajaanNya asalkan aku melekat erat dan berserah padaNya. Dan rahasia dari kepandaian yang sejati adalah adanya takut akan TUHAN seperti yang tertulis dalam Amsal 1:8.

Sudahkah aku mengejar kepandaian dalam Tuhan? That's the very question.

Minggu, 06 Desember 2009

Saat Sedih Bersama Sahabat


Saat seseorang sedang merasa sedih, apa yang dapat dilakukan oleh teman atau sahabatnya? Memberi nasihat? Memberi penghiburan? Mendorongnya untuk berhenti bersedih? Sebenarnya, cara yang paling tepat untuk menunjukkan simpati dan empati yang mendalam adalah dengan cukup menemaninya saja. Titik. Tanpa kata tanpa suara. Kehadiran seorang atau lebih teman atau sahabat itu sudah cukup menjadi penghiburan. Masih ingat cerita Ayub? Ya, Ayub yang di alkitab itu, bukan Pak Ayub tetangga sebelah... ^^. Ayub yang ditimpa kemalangan bertubi-tubi itu lho. Ya, benar. Dia mendapat penghiburan bersama sahabat-sahabatnya yang datang hanya untuk menemaninya duduk terpekur, meskipun pada akhirnya sahabat-sahabatnya tidak kuat juga "tapa bisu" bersama Ayub. Tapi setidaknya pasti Ayub sempat merasa terhibur dengan kehadiran mereka saat mereka masih berdiam diri dan belum mulai menyalahkannya. Siapa lagi yang bisa dijadikan contoh? Oh iya, Tuhan Yesus sendiri. Saat-saat menjelang penyalibanNya yang mengerikan, Tuhan Yesus sempat stres sedemikian rupa sehingga Dia mengajak tiga orang murid terdekatNya untuk menemaniNya berdoa, meskipun ketiga murid itu pada akhirnya jatuh tertidur. Bayangkan. Tuhan Yesus sendiri yang Raja segala raja, Tuhan semesta alam, begitu membutuhkan kehadiran sahabat-sahabatNya saat ia merasa sangat bersedih sampai mau mati rasanya. Apalagi kita yang hanya manusia yang begitu rapuh dan lemah ini.

Waktu aku sedang stres dan depresi, aku tidak tahu mau apa lagi. Masuk kuliah hanya sekedar lewat saja, tanpa ada sesuatu yang aku tuju. Pernah suatu ketika seorang sahabatku, sebut saja Yiska, mengajak aku untuk jalan-jalan saat aku sedang dirundung rasa sedih yang tiada taranya. Kami pun berjalan-jalan ke arah lembah UGM (tempat untuk rekreasi di sekitar kampus). Saat yang paling mengesankan bagiku adalah saat kami hanya duduk-duduk bersama tanpa kata di bangku taman. Yiska tidak berusaha mencairkan suasana, hanya menemaniku duduk saja. Dan aku pun menikmati kebersamaan kami yang sangat sederhana dalam diam yang khidmat itu. Seperti orang yang mengheningkan cipta saja suasananya waktu itu ^^. Dalam hati aku bersyukur pada Tuhan atas sehabatku Yiska yang setia menemaniku ketika aku sedang dalam kondisi terendah dalam hidupku. Kiranya Tuhan memberkatinya berlimpah-limpah dengan kasih setia dan rahmat. Dan sekarang setelah aku sudah baik kembali, aku selalu teringat akan saat-saat yang menyedihkan itu. Memang benar, sahabat sejati adalah sahabat yang tetap hadir saat kita sedang dalam keadaan yang tidak baik.

Sudahkah kita menjadi sahabat sejati bagi mereka yang sedang dirundung duka?

Jumat, 04 Desember 2009

Surat untuk Sahabat

Sahabat...
Terima kasih untuk kehadiranmu yang mencerahkan hari-hariku. Terima kasih untuk keberadaanmu yang mengusir duka lara dan kegalauanku. Engkau adalah pemberian dan anugerah terindah yang Tuhan beri. Engkau adalah malaikat tanpa sayap yang memberkatiku dengan hal-hal berharga. Sekali lagi terima kasih, Sahabat.

Sahabat...
Entah apa jadinya kalau engkau tidak ada. Entah apa jadinya kalau engkau tidak hadir di sini. Aku sungguh beruntung dan bersyukur mengenalmu sebagai sahabatku. Tidak ada kata yang dapat melukiskan betapa aku sungguh bersyukur dan berterima kasih akan kehadiranmu.

Sahabat...
Aku selalu mengingatmu dalam doaku. Aku percaya engkau pun mendoakan aku seperti aku mendoakanmu. Banyak hal yang kita lalui bersama yang telah membentuk kita menjadi semakin dewasa dan semakin kuat. Seiring dengan itu, persahabatan kita pun semakin melekat erat. Dengan doa-doa yang kita panjatkan bersama, segala hal dapat kita lalui bersama dengan Sahabat sejati kita.

Sahabat...
Satu hal yang kuminta darimu... tetaplah menjadi sahabatku apapun yang terjadi. Jarak, ruang, dan waktu tidak dapat membuatmu menghilang dari hatiku. Perselisihan dan pertengkaran tidak dapat membuat kita berpisah. Kasih yang murni dan kudus itulah yang menyatukan kita.

Sahabat...
Sampai di sini dulu suratku... Percayalah bahwa persahabatan kita tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun. Bahkan sampai kepada kekekalan di surga nanti kita akan tetap bersahabat. Kiranya Tuhan memberkatimu dan memberkatiku juga. Salam persahabatan...

Dari sahabatmu.

Nyanyian Hati Sang Sahabat Sejati


You feel that you're lonely
It doesn't mean that you are alone
You feel that nobody wants you
It doesn't mean that no one cares about you
Listen to the words I say
For I will always be by your side
You mean everything to Me
And I will never leave you
'cause I love you so

You think that you're nothing
Before Me you are something beautiful
You think that you can't do anything
But you can do a lot of things with Me
So listen to the words I say
For I will always be by your side
You mean everything to Me
And I will never leave you
'cause I love you so

When I say that I love you
It means I'll give the best for you
When I say that I love you
I will give everything for you
No more fear about the future
And blame for the past
I'll give everything
When I say that I love you

I want you to know that I died for you
I want you to know that I give all My life
For you...
When I say that I love...
Say that I love you...

When I say that I love you
I realy do...

Lagu di atas adalah lagu favoritku yang menceritakan isi hati Sang Sahabat sejati, yang telah rela mati bagiku (dan bagimu semua). Kata-katanya sangat menyentuh hati dan perasaanku sewaktu aku mendengar untuk pertama kalinya. Dibawakan dengan apik oleh duet Franky Sihombing dan Wawan Yap dengan gaya musik yang sangat ngepop dan sangat sesuai dengan perkembangan zaman. Anak-anak muda zaman sekarang sering banyak yang merasa kesepian meskipun berada di tempat yang ramai atau sedang bersama dengan orang lain. Kesepian yang tidak dapat dijelaskan. Kesepian yang tidak dapat diisi oleh apa dan siapapun di dunia ini. Hanya satu Pribadi yang sanggup mengisi kekosongan dalam hati itu dan mengusir rasa sepi yang menggelayuti.

Sudahkah anda semua mengundang Dia masuk ke dalam hati? Karena saat ini, Dia sedang mengetuk pintu hatimu (dan hatiku), untuk mendapati kita dengan penuh kerinduan... Kerinduan seorang Sahabat yang sungguh-sungguh murni dan kudus...

Yuk, kita buka pintu hati kita bagi Dia, Yesus Kristus Tuhan... ^^

Ngobrol Sendiri

Aku lagi kesepian nih...
Ah yang betul?
Iya nih...
Kenapa bisa begitu?
Karena teman dan sahabat yang biasa kuajak bicara sedang sibuk dengan urusannya sendiri, tidak bisa kuganggu seperti biasanya...
Hmmm...
Kenapa hmmm? Ada sesuatu yang ingin disampaikan?
Ya...
Apa itu?
Jangan terlalu sering mengganggu sahabatmu...
Mengapa?
Karena dia bisa bosan dan tidak mau lagi berteman atau bersahabat denganmu...
Kok begitu?
Ya, semua ada titik jenuhnya, termasuk dalam hubungan persahabatan...
Lho?
Iya, firman Tuhan dalam Amsal kan mengatakan demikian... jangan terlalu sering berkunjung ke rumah temanmu... nanti dia bosan...
Tapi kan...
Nggak ada tapi...
Hmmm... ok deh...
Bukankah sahabatmu tidak cuma satu?
Iya sih...
Dan bukankah ada Satu Pribadi yang paling baik yang lebih bisa kamu 'ganggu', yang tidak akan pernah bosan sampai kapanpun dengan gangguanmu?
Iya iya...
Jangan cuma iya iya aja, segeralah sapa Sahabatmu itu... Dia sudah sedemikian rindu padamu...
Ok...

And the story goes...

Duri dalam Daging


Hari ini aku kontrol lagi untuk kesekian kalinya. Kontrol kesehatan jiwaku yang semakin lama semakin membaik saja kondisinya. Dokter Mahar yang menanganiku selama ini masih tetap menganjurkan untuk minum obat secara teratur sekali setiap hari. Menurut perhitungan beliau, obat akan diturunkan dosisnya secara perlahan-lahan nanti setelah aku melawati masa-masa internship/magang. Waktu aku tanya pengobatannya nanti sampai seperti apa, beliau cuma menerangkan bahwa "penyakit" yang aku alami ini seperti penyakit gula atau hipertensi yang tidak dapat sembuh tetapi hanya terkontrol. Itu kesimpulan yang aku tarik sendiri dari penjelasan beliau. Yah, memang secara medis demikian adanya. Tetapi aku tetap positive thinking donk. Dalam Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil. Penyakit apapun itu, termasuk penyakit jiwa kronis, dapat disembuhkan secara sempurna dan total, entah bagaimana prosesnya, asalkan ada iman yang teguh dan ketaatan yang sungguh2 terhadap TUHAN. Sudah dua tahun ini aku nggak kambuh lagi kumatnya, suatu kemajuan yang luar biasa. Kalau dua tahun lagi aku juga nggak kambuh, maka pengobatan dapat dikurangi secara bertahap dan semoga dapat berhenti.

Aku menargetkan dalam empat tahun ini, aku dapat berhenti minum obat, mbuh dasarnya apa. Tapi itu adalah target yang aku canangkan supaya aku bersemangat dalam menjalani proses terapi yang panjang ini. Mengapa? Aku ada beberapa pertimbangan. Empat tahun lagi aku sudah 29 tahun. Mungkin aku sudah menikah dan berkeluarga. Aku sudah tidak lagi ditanggung oleh bapak ibuku. Sementara, harga obat yang kuminum itu mahalnya ajubile. Satu blister bisa sampai 500 ribuan. Padahal dalam sebulan aku minum tiga blister. Bisa sampai 1,5 jutaan. Iya kalo suamiku besok kerja di Bethesda, bisa dapat kortingan. Kalau enggak? Repot kan? Belum lagi kalo seandainya suamiku besok bukan dokter, semakin repot saja menjelaskan seluk beluk "penyakit" yang didiagnosa ada padaku ini.

Secara pribadi, aku sudah nggak ambil pusing lagi dengan "penyakit" itu. Aku anggap saja sebagai "duri dalam daging". Kalau toh TUHAN berkenan untuk mencabutnya, ya puji TUHAN. Kalau enggak, ya tetap puji TUHAN. Sama seperti nasihat TUHAN terhadap Paulus, cukuplah kasih karuniaNya padaku. Maka, aku akan tetap bersyukur akan kasih setia TUHAN padaku. Selama aku masih bisa bernafas, memuji, dan menyembah TUHAN, aku akan terus meninggikan namaNya dalam seluruh kehidupanku. Terserah orang mau bilang apa. Yang penting, ada Yesus dalam hatiku. Hehe... Segala kemuliaan hanya bagi TUHAN saja. Haleluya!!!!!!!

Doa untuk Sahabat


Tuhan, aku mau berdoa untuk sahabatku...
Terima kasih, Tuhan, buat sahabat terbaik yang telah engkau berikan padaku...
Sahabat yang mengisi hari-hariku dengan keceriaan...
Sahabat yang mengusir kesepian dan kegalauan hatiku...
Sahabat yang ada saat suka dan saat duka...
Terima kasih, Tuhan, buat hubungan persahabatan yang boleh terjalin dengan indah ini...
Terima kasih Engkau telah mempercayakanku untuk memiliki seorang atau lebih sahabat...
Bersama-sama kami melangkah semakin dekat kepadaMu...
semakin mengenalMu, menyelami kasihMu, dan mengalami indahnya hadiratMu...
Bersama-sama kami akan melakukan perkara besar di dalamMu dan demi namaMu...

Tuhan, aku percaya Engkaulah yang telah mempertemukan kami dan menyatukan kami sebagai sahabat sepenanggungan...
Engkau yang telah ikat batin kami dengan kasihMu yang murni dan kudus...
Aku berdoa supaya Engkau memberkati sahabatku, Tuhan...
Berkati dia/mereka dengan kasih, sukacita, dan damai sejahteraMu yang melampaui segala akal itu...
Dan berkati hubungan persahabatan kami ini, Tuhan...
Kiranya hubungan kami dapat menjadi berkat buat sekeliling kami dan kami dapat menjadi saksiMu di bumi ini...

Tuhan, jangan biarkan aku menjadi beban bagi sahabatku, tetapi sebaliknya, izinkan aku menanggung beban sahabatku itu...
Berikan aku telinga yang mau mendengar semua keluh kesahnya dan hati yang lapang untuk menerimanya apa adanya...
Berikan aku mulut yang mampu mengatakan kebenaran tepat pada sasaran sesuai dengan kehendakMu...
Dan berikan aku kerelaan dan kesungguhan hati untuk berdoa senantiasa bagi sahabatku...
Terima kasih Tuhan, Engkau telah mendengar doaku...

dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa dan mengucap syukur...
amin....

Kamis, 03 Desember 2009

Sahabat yang Berdoa

Memiliki sahabat yang perhatian dan baik kepada kita, yang rela berkorban demi kita itu biasa dan wajar. Tetapi memiliki sahabat yang senantiasa berdoa bagi kesejahteraan kita itu hal yang luar biasa. Doa merupakan nafas hidup orang percaya. Dengan doa, seseorang dapat berhubungan secara langsung dengan TUHAN, pencipta alam semesta. Melalui doa, semua keluh kesah dan kebutuhan dapat disampaikan dan kita mendapatkan jawaban, penghiburan, serta penguatan dari TUHAN. Doa yang benar bukanlah doa satu arah melainkan seperti percakapan dua arah. Kita berbicara, TUHAN mendengar. TUHAN berbicara, kita mendengar. TUHAN mendengar, kita pun mendengar. Dalam doa, kita dapat menyampaikan segala macam isi hati yang ada. Kita pun dapat bersyafaat untuk berbagai macam kebutuhan. Secara khusus, kita dapat mendoakan orang-orang yang kita kasihi termasuk sahabat kita. Dengan menyediakan waktu untuk mendoakan sahabat kita secara khusus, kita telah memperkuat ikatan batin antara kita dengan sahabat kita tersebut. Kita menyukakan hati TUHAN juga saat kita berdoa bagi kebutuhan dan keselamatan sahabat kita. Dalam doa, kita dapat meminta TUHAN untuk melindungi dan memberkati sahabat kita sesuai dengan kebutuhannya yang spesifik.

Aku pernah mendoakan sahabatku dengan cara yang sangat sederhana. Aku tuliskan doa itu ke dalam buku harianku. Isi doanya hanya meminta kepada TUHAN supaya TUHAN memberkati sahabatku dan khususnya hubungannya dengan kekasihnya waktu itu. Kata-katanya cukup sederhana dan tidak terlalu spektakuler. Tapi yang membuatku heran adalah sahabatku ternyata sangat terberkati dengan doa sederhana itu. Suatu ketika aku mengizinkannya untuk membaca-baca buku harianku dan dia pun menemukan doa yang aku tulis khusus untuknya itu. Sahabatku itu adalah seorang pendoa syafaat yang terbiasa mendoakan orang lain dengan luar biasa. Aku pikir, doaku itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan doa yang biasa sahabatku lakukan. Tapi ternyata, sahabatku sangat berterima kasih dengan doa yang kutulis itu. Ia merasa sangat terberkati dan dikuatkan.

Dari sini aku menarik kesimpulan, bahwa sesederhana apa pun doa yang kita naikkan bagi sahabat kita, doa itu tetap berkuasa. Yang terpenting adalah saat kita berdoa, kita selalu mengenakan kasih TUHAN sebagai pendorongnya. Karena tanpa kasih, doa-doa sedahsyat apa pun tidak akan ada gunanya. Sudahkah kita berdoa untuk sahabat kita hari ini?

Bu Indarti Sang Guru Teladan Indonesia

Bu Indarti yang kukenal adalah seorang ibu dan guru yang mempunyai kasih yang sangat luar biasa kepada anak2 didiknya... lebih dari sekedar guru yang hanya membagikan ilmu kognitif, Bu Indarti memainkan perannya sekaligus sebagai seorang ibu bagi semua anak... Setiap kali mengajar di ruang kelas, Bu Indarti tidak hanya mengajarkan tentang teori atau Firman Tuhan yang saklek, tetapi juga membagikan hidupnya sehari-hari... Bahkan kalau boleh jujur, justru cerita2 Bu Indarti yang sangat down to earth itulah yang dipakai Tuhan untuk memberkati kami para muridnya... Kami disuguhi berbagai kisah dan peristiwa dalam kehidupan Bu Indarti yang beraneka warna... Bagiamana pergumulannya sebagai seorang guru di sekolah favorit yang murid2nya cerdas2, bagaiman pergumulannya di keluarganya, bagaimana anak2nya, bagaimana imannya bertumbuh, semua diceritakan dengan sedemikian apik dan menarik sehingga menjadikan pelajaran agama Kristen di SMP 5 (waktu itu) menjadi sangat tidak membosankan... Saat Bu Indarti menceritakan kisah2 yang ada di Alkitab pun merupakan saat2 yang menyenangkan dan menggairahkan karena Bu Indarti dalam membawakannya pun sangatlah imajinatif... Seperti seorang guru play group yang mendongeng bagi anak2 kecil... sungguh sangat berkesan...

Hubungan yang terjalin antara Bu Indarti dan murid2nya (termasuk di dalamnya adalah Mimi imut) tidak hanya terjalin di dalam ruang kelas tetapi juga di luar lingkungan sekolah... Bu Indarti begitu menyayangi murid2nya sehingga semua muridnya dari semua angkatan dapat dihafal, baik namanya, orang tuanya, rumah tempat tinggalnya, pekerjaannya sekarang, keluarganya sekarang, dsb... Sangat jarang ada guru yang seperti Bu Indarti... Bu Indarti adalah guru yang layak untuk mendapatkan predikat guru teladan seIndonesia, bukan hanya guru favorit...

Tribute to lek Nono & Bu Guru Pike ^^

Akhir2 ini hari2ku dipenuhi dengan kegiatan chatting ngalor ngidul yang didominasi oleh 2 orang sahabat dan teman yang terhitung baru kukenal... Senang sekali setiap kali aku menghabiskan waktuku dengan duduk di depan laptop sambil berhaha hihi melalui YM atau FB... ketakutan dan kegalauan pun menyingkir sudah saat aku mulai ngobrol dengan mereka... walaupun isi obrolan sering nggak mutu dan nggak berbobot, aku sangat senang menikmati hubungan persahabatan dan pertemanan yang unik dan menarik ini... karena, hey.... persahabatan yang sejati kan bukan dinilai dari banyaknya obrolan berbobot melainkan dari ikatan batin yang terjadi di antara para pribadi yang terlibat di dalamnya... hehe...

Siapa sajakah teman2 yang paling sering aku ajak chatting akhir2 ini? Dua orang beruntung itu adalah: Lek Nono a.k.a. Cahyono Satriyo Wibawa dan bu guru Pike a.k.a. Susana Ike siapa, gitu... aku lupa nama lengkapnya... maaf, bu...

  1. Lek Nono; teman dan sahabat yang biasa aku panggil dengan sebutan "lek" ini benar2 adalah paklekku, berdasarkan cerita dari Om Romi yang mengatakan bahwa simbahnya Lek Nono adalah lek dari simbahku, Mbah Kasmolo. Pertama kali kenal Lek Nono ya dari situs pertemanan terpopuler di Indonesia saat ini yaitu Facebook. Nggak tahu siapa dulu yang menyapa, lupa... yang jelas, sekarang tiada hari tanpa mengganggu Lek Nono. Entah lewat FB, YM, SMS, atau bahkan langsung telpon pake HP... lama2 bisa mahal nih kalau keseringan telpon... hehe... Lek Nono ini orangnya sangatlah baik dan lucu... ceria dan senantiasa bersemangat dalam aktivitasnya sehari-hari... Pekerjaan favoritnya adalah mainan solder... itu lho, alat yang dapat melelehkan kawat patri atau tenol untuk alat2 listrik... hehe... Aku sangat bersyukur dan beruntung bisa kenal Lek Nono... semoga Lek Nono tidak menyesal telah mengenalku karena aku sering nggangguin dia setiap hari... ^^
  2. Bu Guru Pike; teman dan sahabat yang satu ini tinggalnya di Sidoarjo, aku kenal juga lewat Facebook... thanks to Lek Nono yang telah mengenalkanku padanya... aku duluan yang ngeadd dan nyapa bu Pike... yang lucu, bu Pike mengira aku ini pacaran sama Lek Nono, padahal aku kan cuma sering becanda aja di wall FBnya lek nono... haha... Setiap hari aku selalu chatting dengan bu Pike via FB atau YM kalau bu Pike dah gak ada kerjaan di kantor... seringnya ya cuma berhaha hihi aja... paling2 menggosipkan Lek Nono atau orang yang bu Pike sukai... hehe... itulah cewek, kalo sudah ngobrol suka lupa waktu... thanks to kemajuan teknologi sehingga membuat hubungan komunikasi menjadi makin cepat dan canggih..

Yah, itu tadi 2 dari sekian banyak temanku yang kukasihi dan kusayangi... Mereka berdualah yang akhir2 ini mengisi hari2ku dengan keceriaan dan canda tawa sehingga aku bisa berkata a.d.i.o.s. to sorrow... Thank God, You Are good... Bless lek Nono dan Pike abundantly please... in the name of Jesus... Amen!!!!!!!

Perkataan Jujur dari Sahabat

Kejujuran terpahit lebih baik daripada kebohongan termanis. Itulah slogan yang pernah kubaca beberapa waktu yang lalu di televisi. Siapa pun pasti tidak suka dengan yang namanya kebohongan. Dan siapa pun juga pasti tidak suka dengan yang pahit-pahit. Tapi bagaimana jika kebohongan itu terasa manis sedangkan kejujuran itu terasa pahit? Mana yang kita pilih? Maunya sih memilih kejujuran yang terasa manis... tapi apa mungkin semua yang jujur dan terbuka itu rasanya manis dan enak didengar?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang menyanjung-nyanjung orang lain dengan maksud tertentu. Semakin manis sanjungan itu, semakin busuk pula maksud yang tersembunyi di baliknya. Seperti ada pepatah mengatakan, ada udang di balik batu. Kita harus waspada dan tidak mudah tersanjung terhadap orang yang terbiasa bermulut manis karena manis di bibir belum tentu manis di hati. Justru sebaliknya, kita perlu buka telinga lebar-lebar terhadap perkataan jujur yang terdengar pahit dan kasar yang disampaikan secara terbuka oleh orang-orang yang tulus. Merekalah yang layak untuk dipercayai. Mereka yang tidak terbiasa menjilat dengan perkataan-perkataan manis, mereka yang berbicara apa adanya, mereka yang tidak biasa berdiplomasi. Ya, kepada merekalah kita seharusnya menaruh kepercayaan lebih.

Mereka yang berani berkata benar tanpa tedeng aling-aling itu layak untuk jadi teman, rekan, mitra, bahkan sahabat. Mungkin secara manusia mereka terlihat bodoh dan kurang berpendidikan, tetapi bukankah ada tertulis bahwa "yang bodoh dari Allah dipakai untuk memalukan yang berhikmat"? Dan ada satu lagi nasihat bijak yang mengatakan supaya kita tidak menilai seseorang beradasarkan penampilan luarnya saja. Memang saat perkataan jujur dari teman dan sahabat yang kita percayai itu kita dengar, rasanya akan sakit dan tidak enak. Tapi rasa sakit yang tidak enak itu akan menyelamatkan kita dari sikap yang salah, dari kesesatan, dari kesalahan yang tidak perlu.

Waktu aku SMP, aku pernah memimpin pujian di acara persekutuan. Rasanya benar-benar luar biasa waktu itu. Aku berusaha semampuku untuk memimpin teman-temanku memuji dan menyembah Tuhan. Ketika acara selesai, seorang temanku dengan jujur mengatakan bahwa gayaku dalam membawakan acara itu terlalu kaku. Sontak saja aku merasa tersinggung dan tidak terima waktu itu. Ada perasaan marah dan tidak terima. Tapi setelah lama berselang, baru aku menyadari bahwa perkataannya sungguh benar. Aku memang berpembawaan terlalu kaku. Dan dengan jujur namun penuh kasih, temanku itu telah menyampaikan hal-hal yang perlu kudengar. Aku pun menyadari bahwa mungkin bukan kapasitasku untuk memimpin pujian di depan. Aku mungkin lebih cocok untuk berdoa di belakang layar. Aku bersyukur dengan komentar jujur temanku itu. Karena dengan itu, aku dapat bercermin dan mengenali diriku sendiri dengan lebih baik.

Jadi, bagaimana dengan anda semua? Pernahkah anda merasa tersinggung oleh perkataan jujur teman atau sahabat anda? Bersyukurlah untuk kejujuran mereka. Bercerminlah dari apa yang mereka katakan dan terimalah diri anda apa adanya, bersyukurlah karena teman dan sahabat anda tidak membiarkan diri anda menjadi seadanya.

Jawablah...


Apa alasanmu bersahabat?
Apakah hanya demi kepentingan sesaat?
Apakah hanya karena menginginkan status?
Apakah karena adanya kesamaan minat?
Ataukah karena sesuatu yang lain?
Sesuatu yang bernilai kekal, sesuatu yang membuat hatimu tergetar, sesuatu yang membuat hidupmu lebih hidup?

Apakah arti sahabat bagimu?
Apakah hanya sebagai teman ngobrol?
Apakah hanya sebagai teman curhat?
Apakah hanya sebagai teman untuk berbagi?
Ataukah karena sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, yang telah mengikatkan hatimu dengannya, sehingga jiwa kalian pun berpadu?

Apa yang kauinginkan dari sahabatmu?
Waktu yang selalu ada untukmu?
Perhatian yang selalu diberikan?
Pertolongan yang selalu ada?
Atau apapun itu, engkau tidak peduli asalkan kalian tetap bersahabat?

Apa yang sudah kamu lakukan untuk sahabatmu?
Memberikan kembali apa yang sudah diberikan olehnya?
Membalas semua kebaikannya?
Menolongnya saat dia butuh pertolongan?
Atau tidak peduli apapun itu, tetap menganggapnya sebagai sahabatmu?

Sudahkah kamu memiliki sahabat?
Sudahkah kamu menjadi sahabat?
Sudahkah kamu bersahabat hari ini?

Don;t Worry, Be Happy!


Don't worry, be happy! Begitu bunyi slogan suatu produk yang sering diiklankan di media massa. Sebuah slogan yang sangat bagus dan membangkitakn semangat. Aku yang sering dilanda ketakutan, kecemasan, dan rasa pesimistik yang akut ini memang harus senantiasa mendengar kata2 penguatan seperti itu... Jangan takut, jangan kuatir, jangan bimbang... Berusukacitalah, bergembiralah, bersemangatlah, jadilah kuat... Ya, kecenderunganku untuk menyendiri dan murung terus itu memang harus dihilangkan sedikit demi sedikit, diganti dengan kebiasaan baru yang membangun... Aku perlu belajar bersukacita dengan mereka yang bersukacita, bukan hanya menangis dengan mereka yang menangis... Aku perlu belajar untuk rileks, santai, dan enjoy aja dalam menjalani hidup ini... Aku perlu mendorong diriku untuk lebih banyak bersosialisasi dengan teman2, hang out bareng2, dan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan mereka yang aku sebut sebagai teman... Kareana hidup ini terlalu indah dan berharga untuk dijalani... Jangan lagi diisi dengan kesedihan dan kemurungan... Kesendirian yang mencekam haruslah diganti dengan kebersamaan yang hangat...

Don't worry, be happy! Sekali lagi aku diingatkan untuk senantiasa besukacita dan berpengharapan dalam Tuhan... aku sangat heran dan kagum dengan teman2ku yang selalu nampak ceria dan bersemangat, seolah-olah hidup mereka tanpa beban... padahal kami sama2 menghadapi persoalan hidup yang nggak ringan, tapi sepertinya mereka selalu mempunyai stok semangat dan sukacita yang melimpah ruah... Dari mana datangnya sukacita itu ya? Hmmm... aku juga pingin bersukacita, mengusir kegalauan yang sering menyerangku tanpa ampun itu...

Don't worry be happy! Aku tidak menyesali diriku dan keberadaanku saat ini. Kalau aku selalu kelihatan kalem dan tidak seantusias teman2ku, mungkin memang itulah kelebihan (& kekurangan)ku. Aku suka menikmati segala sesuatunya dengan nggak banyak gerak atau omong. Aku lebih suka mendengar, tenang, dan menikmati suasana yang ada. Biarlah orang menganggapku sebagai anak yang pendiam dan tidak banyak omong. Yang penting hatiku tetap melekat erat pada TUHAN dan aku dapat merasakan terus damai sejahteraNya yang melampaui segala akal itu. Aku akan berusaha untuk terus bersukacita dan bersemangat meskipun dengan gayaku sendiri yang luar biasa kalem... hehe... pembenaran... pembenaran...

Don't worry be happy! Yes, aku tidak akan kuatir dan akan senantiasa bersukacita. Ini janjiku. Amin!!!!!!!

Sahabat Bagaikan Doraemon


Pernah nonton Doraemon? Pasti tahu donk dengan tokoh animasi Jepang yang sangat terkenal dan melegenda ini... Doraemon yang datang dari masa depan untuk membantu Nobita supaya bisa sukses, Doraemon yang punya kantong ajaib berisi barang2 unik untuk membantu Nobita, dan Doraemon yang suka dorayaki tetapi paling takut sama tikus... Pastinya banyak yang mikir, enak ya kalau ada Doraemon... enak ya kalau punya Doraemon sebagai teman dan sahabat... apa-apa pasti diturutin... segala keinginan pasti terpenuhi... Dan langsung saja ada yang menyambar dengan mengatakan "itulah gunanya teman". Teman yang baik yang selalu menuruti keinginan kita, itulah yang selalu dinanti-nanti. Teman yang baik adalah teman yang selalu mengerti kita, mengerti semua kebutuhan kita, dan berusaha menolong kita apa pun yang terjadi. Hmmm... Benarkah demikian?

Ada satu hal yang sering dilupakan. Saat Nobita mulai menyalahgunakan alat-alat Doraemon untuk kesenangannya pribadi, pasti ada konsekuensi logis dari apa yang diperbuatnya. Biasanya akan menjadi senjata makan tuan tuh alat-alat yang digunakan jika dipakai secara sembarangan. Maka cocoklah peribahasa ini: "Barangsiapa menabur angin akan menuai badai". Untung dalam cerita Doraemon, angin yang ditabur kecil-kecilan saja sehingga badai yang dituai pun nggak terlalu menyeramkan. Kalau menyeramkan, anak-anak kecil bakalan takut nonton Doraemon sendirian. Hehe... Demikian juga dalam persahabatan dan pertemanan. Akan ada konsekuensi logis jika kita memanfaatkan hubungan persahabatan atau pertemanan itu untuk kepentingan pribadi kita yang egois.

Doraemon adalah robot masa depan yang telah diprogram sedemikian rupa untuk menjadi sahabat yang membantu Nobita dalam menyelesaikan masalah sehari-harinya. Bagaimana dengan sahabat yang ada di sekitar kita? Mereka bukan robot. Mereka adalah manusia yang diciptakan Tuhan dan dibentuk sedemikian rupa bukan hanya untuk membantu kita menyelesaikan masalah yang kita hadapi sehari-hari melainkan juga untuk membentuk karakter kita dari hari ke hari. Semakin dekat dan karib kita dengan sahabat kita, akan semakin intens pula pembentukan karakter yang terjadi. Tidak jarang akan timbul friksi dan konflik antara kita dengan sahabat kita itu. Tapi hubungan persahabatan yang sejati akan mampu mengatasi konflik seberapa besar pun itu. Dan seperti Nobita dan Doraemon yang akhirnya dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, kita dan sahabat kita pun pada akhirnya dapat pula mengatasi setiap persoalan dan masalah yang ada meskipun prosesnya tidak instan.

Jadi, hargailah sahabat kita itu lebih dari Nobita menghargai Doraemon... karena Doraemon hanya fiksi belaka, sedangkan sahabat kita itu nyata adanya. ^^

Selasa, 01 Desember 2009

Sahabat, Sang Penjaga Rahasia

Setiap orang pasti mempunyai rahasia. Entah itu tua, muda, laki-laki, perempuan, besar, kecil, semua tidak terkecuali. Rahasia bisa bermacam-macam. Ada rahasia perusahaan, rahasia hubungan, rahasia hati, dsb. Ke manakah rahasia-rahasia itu disimpan? Di dalam deposito? Di bawah bantal? Di buku diary? Ada banyak cara untuk menyimpan rahasia, tapi ada satu cara yang paling indah. Sederhana dan mudah saja. Bagikan saja rahasia itu kepada seseorang yang paling kita percayai yang dengan bangga kita sebut sebagai sahabat. Dengan berbagi rahasia, kita sebenarnya sedang menginvestasikan kualitas persahabatan yang bernilai sangat tinggi. Kepercayaan, itulah yang sedang kita investasikan. Kita akan belajar untuk mempercayai orang lain dengan setulus hati. Dan orang yang kita percayai pun akan menjaga kepercayaan itu dengan sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa dia layak dipercaya. Rahasia yang dibagikan dan disimpan bersama akan memperkuat ikatan persahabatan yang ada. Ada semacam rasa memiliki dan dimiliki yang timbul saat rahasia itu dibagikan.

Aku pernah punya seorang sahabat yang sampai sekarang pun masih menjadi sahabatku meskipun sudah jarang ketemu. Waktu kami SMP, kami sering sekali bersama-sama. Ke mana-mana selalu bersama. Suatu ketika, sahabatku itu menceritakan rahasia hatinya kepadaku. Dia sedang menyukai seseorang. Tanpa memandang perasaannya, aku bocorkan rahasianya itu kepada teman-temanku yang lain. Dan ternyata sahabatku itu sangat kecewa kepadaku. Dia kemudian mengatakan ketidaksukaannya terhadap sikapku. Dia bilang kenapa aku begitu, padahal dia tidak pernah membocorkan rahasiaku kepada orang lain. Perkataannya yang jujur itu sungguh membuatku tertempelak. Aku merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Sejak saat itu, aku benar-benar berhati-hati untuk tidak bocor mulut. Sungguh suatu pengalaman yang berharga.

Semakin seseorang mampu mengekang lidahnya untuk tidak membocorkan rahasia orang lain, semakin berhargalah nilainya sebagia seorang sahabat. Bersyukurlah mereka yang mempunyai sahabat yang dapat dipercaya dalam hal menjada kerahasiaan. Rahasia memang bukanlah segala-galanya, karena cepat atau lambat semua hal yang tersembunyi itu akan terbuka juga. Tapi ada waktunya untuk menyimpan rapat-rapat suatu rahasia untuk menjaga agar semua hal baik tetap pada tempatnya. Dan di situlah seorang sahabat sebagi penjaga rahasia dibutuhkan keberadaannya.

Sudahkah kita menjadi sahabat yang mampu menjaga rahasia sahabat kita dengan baik? Sudahkah kita mempercayai sahabat kita untuk menyimpan rahasia hati kita? ^^