Senin, 19 Januari 2015

Elang Mati

Ini adalah cerita tentang seekor elang yang menyia-nyiakan hidupnya. Alkisah, ada seorang pemburu yang menaruh beberapa ekor telur elang di antara kawanan ayam hutan. Telur-telur tersebut menetas, menghasilkan elang-elang aneka rupa. Mereka hidup bersama-sama dengan ayam-ayam hutan, mengais-ngais tanah, berburu cacing, berkotek-kotek, dan terbang rendah ke sana ke mari. Tidak ada yang merisaukan hati para elang itu meskipun tubuh besar mereka merupakan keganjilan yang nyata bagi siapa pun yang melihat.
                Hingga suatu saat, elang-elang muda itu melihat seekor elang besar terbang tinggi jauh di langit biru yang cerah. Sayap lebarnya mengembang dengan gagahnya. Salah seorang elang muda itu bertanya, “Wah, kerennya, siapakah gerangan dia?”
                “Dia adalah burung elang, sang raja para burung,” sahut salah seekor ayam hutan muda, “Sudah, jangan melihatnya terus. Ayo lanjutkan tugas kita berburu cacing!”
                Para elang muda itu pun kembali menekuni kegiatannya bersama kawanan ayam hutan sambil berkotek-kotek. Rupanya, sang elang yang sedang melayang di angkasa mengetahui keberadaan para elang muda itu. Ia pun menukik menuju kawanan elang muda yang sedang bercengkerama di atas tanah lapang di tengah hutan. Ayam-ayam hutan berlarian, bersembunyi ke dalam rimbunnya semak. Tinggallah elang-elang muda yang terpesona oleh sosok sang elang nan gagah itu.
                “Hai, kalian anak-anak muda! Mengapa kalian tidak terbang tinggi? Bukankah kalian adalah elang sama sepertiku?” sang elang keheranan.
                “Apa? Apa katanya? Kita adalah elang? Lho, bukankah kita adalah ayam hutan? Wah…” elang-elang muda itu saling menatap dengan bingung.
                “Ya, tentu saja kalian adalah elang. Lihat saja sayap kalian yang lebar, paruh kalian yang besar, cakar kalian yang tajam melengkung. Semua itu nyata sekali menunjukkan bahwa kalian adalah elang, bukan ayam hutan,” sang elang semakin heran dengan ketidaktahuan para elang muda akan jati diri mereka.
                “Sudahlah. Ikutlah aku sekarang!” sang elang mengajak para elang muda meninggalkan hutan menuju pegunungan tempat tinggal para elang yang sesungguhnya. Tanpa banyak protes, para elang muda itu mengikuti sang elang meskipun dengan susah payah karena harus memanjat gunung. Maklum, mereka sama sekali belum bisa terbang tinggi.
                Singkat cerita, para elang muda itu menyadari identitas sejati mereka sebagai elang, raja para burung. Mereka menerima tugas pokok dan fungsional yang melekat pada jati diri mereka yaitu terbang tinggi dan berburu makanan. Untuk bisa menguasainya, mereka harus belajar keras, mulai dari nol. Karena selama ini mereka tinggal bersama ayam hutan dengan bahasa ala ayam hutan, mereka harus belajar menguasai bahasa elang yang menurut mereka sangat njelimet. Semua itu harus mereka jalani sebagai konsekuensi logis atas pilihan hidup mereka.
                Ketika para elang muda itu tenggelam dalam kesibukan belajar dan berlatih, seekor elang muda yang paling senior memisahkan diri dari rekan-rekannya. Bukannya terbang tinggi ataupun berlatih berburu, ia malah kembali ke lapangan dekat hutan. Di sana, ia sibuk bercengkerama dengan kawanan ayam hutan. Mengais cacing, berkotek-kotek, adu jalu, terbang rendah ke sana kemari. Bagi si elang muda senior, kesenangan bersama ayam hutan itu jauh lebih bermakna daripada belajar cara terbang dan berburu yang membosankan.
                “Lho, bukankah kamu sudah mengikuti elang agung itu ke gunung tinggi? Mengapa kamu malah kembali bermain di sini bersama kami para ayam hutan ini? Tidakkah kamu merasa rugi dengan waktumu, hai elang muda?” seekor ayam hutan bertanya dengan penuh keheranan.
                “Ah, aku sudah bisa terbang rendah dan berburu cacing. Hidup ini bukan hanya untuk belajar terbang dan berburu, melainkan juga untuk bersenang-senang, mengikuti kata hati, dan bermasyarakat bersama. Lagipula, apa untungnya bagiku jika aku belajar terbang dan berburu seperti itu? Hanya melelahkan badan saja!” begitulah jawab si elang muda senior sambil mengais-ngais tanah.
                Maka, elang muda senior itu pun asyik bercengkerama dengan kawanan ayam hutan. Setiap hari ia selalu bergaul dengan ayam-ayam hutan, tanpa mempedulikan tatapan tajam elang-elang muda lainnya yang kelelahan belajar terbang dan berburu. Berkali-kali elang-elang muda yang lain menegur dan menasihati si elang muda senior supaya kembali menekuni tugas pokok dan tanggung jawabnya sebagai seekor elang sejati. Tapi apa jawabnya?
                “Sudah, urus saja urusan kalian sendiri! Ini hidupku, mau melakukan apa juga terserah padaku! Jangan halangi aku dari bersenang-senang di sini!”
                “Tapi kakak senior, kita adalah elang! Tidakkah engkau malu? Tidakkah engkau risau jika menjadi contoh yang tidak baik?” seru seekor elang muda yang lebih junior.
                “Ah, apa pedulimu, hai anak kecil? Urus saja hidungmu yang sering ingusan seperti dulu itu, tidak usah kau urusi seniormu ini!” dengan ketus dan nada mencela, si elang muda senior menampik segala nasihat dan teguran sesama elang muda. Berbagai hinaan dan ejekan meluncur manakala elang-elang muda lainnya menasihati si elang muda senior untuk mengingat jati dirinya. Begitu seterusnya setiap hari. Sehingga, elang-elang muda itu lelah menegurnya dan akhirnya membiarkannya saja berkubang dengan kawanan ayam hutan. Elang muda senior tertawa sinis penuh kemenangan.
                Tahun berganti tahun, elang muda senior itu tinggal bersama kawanan ayam hutan, meninggalkan rekan-rekannya yang sudah mahir terbang tinggi dan berburu. Ia tidak peduli akan hal itu. Baginya, yang dipedulikannya hanyalah kesenangan hati dan kepuasan saat ia berhasil mengalahkan ayam-ayam hutan dalam lomba berburu cacing, mengais tanah, berkotek, dan beradu jalu. Ia merasa menjadi raja para ayam karena tubuh elangnya yang jauh lebih besar daripada para ayam.
                Suatu ketika, seorang pemburu melihat si elang muda senior itu. Karena dilihatnya si elang tidak terbang tinggi seperti burung elang pada umumnya, si pemburu segera menembak si elang. Matilah si elang muda senior itu. Pemburu itu membawa bangkai si elang muda senior ke pengawet binatang liar. Setelah diawetkan, tubuh elang muda senior itu pun dijual kepada kolektor binatang awetan di kota besar. Semua orang yang melihatnya merasa kagum melihat tubuh mati si elang muda senior. Nampak gagah, tapi tidak ada kehidupan lagi. Sementara itu, para elang muda lainnya sedang menikmati hidup merajai angkasa. 

Senin, 12 Januari 2015

Senyum Intan

“Bu Sum, jika ada waktu, bisakah saya bertemu siang nanti sehabis pelajaran agama? Saya sudah tidak kuat lagi. Hidup saya sepertinya sudah tidak berharga lagi –Intan L. Kencana”
                Itulah sepenggal surat yang kubaca suatu pagi. Intan adalah seorang muridku dalam mata pelajaran agama Kristen di SMP tempatku mengajar. Aku sangat suka memperhatikannya saat aku mengajar di depan kelas. Kulihat Intan selalu tersenyum memperhatikan pelajaran yang kusampaikan. Senyumnya manis dan membuatku tambah bersemangat. Tapi senyum itu menghilang beberapa waktu entah mengapa.
                Suatu ketika aku menyapa Intan seusai pelajaran, “Halo, Intan! Apa kabar? Kok tidak tersenyum seperti biasanya?” Intan hanya membalasku dengan senyuman hampa. Tatapannya seperti menyimpan kesedihan yang mendalam.
                “Baik, Bu Sum. Selamat siang,” ia menjabat tanganku tanda berpamitan. Tidak ada kata, tidak ada cerita. Aku pun semakin penasaran, ada apa gerangan dengan murid yang kusayangi ini?
                “Ya Tuhan, tolonglah hamba untuk mengembalikan senyum anak-Mu Intan,” batinku menyerukan doa setelah Intan pergi dari hadapanku. Tuhan pun tidak terlalu lama menjawab doaku. Keesokan harinya, sepucuk amplop tertutup teronggok di atas meja kerjaku. Tidak ada nama pengirimnya. Kubuka dan kubaca surat pendek itu.
                Maka, siang itu seusai mengajar, aku menunggu Intan di ruang agama. Tidak sabar aku ingin bercakap-cakap dengannya, dari hati ke hati. Dari semua murid, Intan termasuk anak yang cerdas. Temannya tidak banyak, mungkin karena ia tidak pandai bicara ngalor ngidul. Namun sekali berbicara, banyak hal mendalam yang disampaikannya. Ibarat air, Intan bagaikan air yang tenang dan dalam. Menghanyutkan.
                Langkah kaki yang sudah kukenal itu membuyarkan lamunanku. Kupasang senyum tulus terbaik dan kusambut ia yang langsung duduk di hadapanku.
                “Selamat siang, Intan,” senyum menyertai pandangan simpatikku. “Senang sekali Bu Sum bisa bertemu dengan Intan sekarang. Mari, adakah yang hendak Intan sampaikan?”
                Intan tertunduk. Bahunya bergetar. Tidak ada kata yang terucap. Hening memenuhi ruangan. Rupanya ia menahan tangis.
                “Menangis saja, Nak, jangan ditahan-tahan,” tanganku menyentuh bahunya. Ingin rasanya kupeluk ia dengan penuh kasih. Naluri keibuanku mendorongku untuk merengkuhnya. “Mari, menangis saja di bahu Bu Sum,” maka akupun memeluknya. Intan menangis tersedu-sedu. Baju batik seragamku basah oleh air matanya. Tidak apa-apa, ini adalah risiko dari kasih.
                Lima belas menit berlalu. Intan sudah lebih tenang. Nafasnya masih sesenggukan. Aku menyodorkan berlembar-lembar tisu dan dihapusnya air dari mata dan hidung.
                “Sudah lega?” tanyaku dengan lembut dan penuh empati. Intan mengangguk satu kali.
                “Nah, Intan boleh lho bercerita apa saja. Bu Sum mendengarkan,” lanjutku.
                “Bu Sum jangan cerita ke siapa-siapa ya…” bisik Intan lirih. Aku pun berjanji.
Intan bercerita tentang masalah dalam keluarganya. Ayah Intan adalah seorang pemborong bangunan. Ibunya tidak bekerja formal di sektor publik, namun ia sangat rajin dan bertanggung jawab mengurus rumah tangga. Karena tuntutan pekerjaan, ayah Intan sering pergi ke luar kota bahkan luar pulau selama berminggu-minggu. Selama ini tidak ada masalah dengan itu karena ayah Intan mengkompensasikannya dengan oleh-oleh atau hadiah-hadiah cantik dan mahal. Setiap kali ayahnya pulang, ibu Intan menyambutnya dengan hangat dan mesra. Mereka berpelukan dan tidak malu mengekspresikan cinta di hadapan Intan. Intan sangat bahagia dengan keluarganya ini. Rasanya, hidup serasa di surga.
Namun, gambaran surga itu hancur seketika. Ayah yang sangat Intan kagumi ternyata berselingkuh dengan seorang pegawainya. Dan lebih jauh dari itu, sang ayah pun sudah mempunyai seorang anak dari hasil perselingkuhannya. Ibu Intan tidak dapat menerima hal itu. Perceraian mulai diajukan. Ayah Intan menetap di luar kota bersama wanita lain dan anak hasil hubungan mereka. Sedangkan Intan tetap tinggal di kota ini bersama ibunya. Ibu Intan pun mulai bekerja di sektor publik, tidak lagi hanya diam di rumah.
“Aku sedih, Bu Sum. Hancur sudah hidupku!” seru Intan sedih bercampur marah dan geram. “Keluargaku sudah seperti neraka. Aku benci ayahku. Kini aku cuma punya ibu.”
“Tenang, Intan. Kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Bu Sum, bukan?” hiburku. Aku sangat kaget mendengar penuturan Intan yang demikian gamblang.
“Semuanya sia-sia, Bu Sum! Buat apa aku juara kelas namun keluargaku hancur begini? Apa gunanya aku berprestasi tinggi tapi orang tuaku bercerai? Rasanya hidupku sudah tidak berarti lagi!” kembali Intan menumpahkan kemarahannya yang selama ini dipendam.
“Tidak ada yang sia-sia, Intan. Jangan putus asa, Tuhan tahu pergumulanmu,” aku berusaha membangkitkan optimisme Intan meskipun sepertinya sangat sulit. Kucoba mengingat-ingat ayat firman Tuhan yang tepat untuk saat itu.
“Bu Sum, aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Rasanya aku sudah tidak mau menghadapi hari esok. Sudah capek,” perkataan Intan ini membuatku terhenyak. Jangan-jangan ia akan melakukan tindakan nekad. Aku harus melakukan sesuatu.
Sejenak aku diam, menyerukan doa singkat nan darurat kepada-Nya, “Tuhan, tolong berikan hamba hikmat dan perkataan yang sesuai untuk menyemangati Intan. Amin.”
Sejurus kemudian, aku mendapat gagasan yang sepertinya baik. “Intan, mari kita berdoa bersama.”
Intan tampak kebingungan. Tapi ia tidak menolak. Maka aku memimpin doa bersama. Kugenggam kedua tangannya, kututup mataku, dan mulai memanjatkan doa.
“Bapa yang baik, di sini kami datang di hadirat-Mu yang kudus dengan membawa segenap pergumulan yang dialami oleh anak-Mu yang kekasih, Intan. Bapa, saat ini Intan sedang sedih karena masalah dalam keluarganya. Engkau tahu masalah apa itu. Ayah dan ibu Intan sedang dalam proses perceraian. Dan, Intan sedih karena hidupnya terasa sia-sia, tidak berharga lagi,” kumulai kalimat-kalimat awal dengan bahasa yang sederhana.
“Intan, sekarang akuilah perasaan yang ada dalam hatimu di hadapan Tuhan. Berdoalah dengan kata-katamu sendiri saat ini,” kugenggam tangan Intan lebih erat.
“Ya Tuhan…” suara Intan bergetar menahan tangis, “Aku mengaku saat ini sedang merasa sedih, marah, dan kecewa terhadap orang tuaku, khususnya terhadap ayahku. Aku marah karena ayah mengkhianati ibu dan meninggalkan kami. Aku marah terhadap ibu karena membiarkan ayah pergi dan memilih bercerai. Aku sedih terhadap diriku sendiri karena hidupku terasa tidak berarti.”
Aku melanjutkan memimpin doa, “Ya Bapa, inilah pengakuan anak-Mu yang Kau kasihi. Sekarang tirukan kata-kata Bu Sum, ya, Intan: ‘Ya Tuhan, saya mengaku bahwa saya telah terluka. Hati saya terluka oleh (sebut siapa yang telah melukai) yang telah (sebut perbuatan apa yang melukai). Maka saat ini, saya mengampuni (sebut siapa). Saya mengakui bahwa keinginan saya untuk membalas sakit hati saya ini adalah dosa. Saya bertobat. Ampunilah saya.’”
Kudengar Intan mengikuti doa itu kata demi kata dengan sedikit terbata-bata. Memang berat mengampuni orang yang telah melukai hati kita. Tapi kita harus melakukannya karena jika tidak, maka kita pun tidak diampuni. Sebab, demikianlah prinsip kebenaran firman Tuhan dalam hal pengampunan. Pembalasan adalah hak-Nya. Sekali-kali kita tidak boleh menuntut balas atas perbuatan orang lain yang telah melukai kita.
Dan inilah bagian yang paling mendebarkan. “Ya Tuhan, mari nyatakan kepada Intan peristiwa apa dalam keluarganya yang pertama kali membuat Intan terluka. Mari, Roh Kudus, nyatakanlah itu kepada Intan.” Aku diam, Intan pun diam. Kami sama-sama menunggu.
Aku membuka mataku dan kulihat ekspresi wajah Intan. Beberapa menit kemudian, ada perubahan dalam air mukanya. Intan tampak meneteskan air mata. “Adakah sesuatu yang Roh Kudus nyatakan saat ini, Intan?” Intan mengangguk pelan.
“Apakah itu?” tanyaku. Suasana doa masih melingkupi kami berdua.
“Aku diingatkan ketika ibu menangis di kamar sendirian. Waktu itu ibu baru tahu kalau ayah selingkuh. Aku tidak tahu harus berbuat apa,” kata Intan dengan mata yang masih terpejam. “Aku merasa duniaku hancur saat itu juga. Aku tidak bisa berpikir. Semuanya terasa seperti mimpi buruk.”
“Baiklah, mari kita berdoa lagi,” aku kembali memegang tangan dan bahu Intan dengan lembut. “Ya Tuhan, saat ini kami minta Engkau mengobati luka yang terjadi saat Intan melihat ibunya menangis sendirian di kamar. Kami minta Engkau menyatakan saat itu kepada Intan, apakah yang menjadi isi hati-Mu. Kami mohon,” kembali terjadi keheningan. Kami menunggu.
Beberapa waktu berlalu, kulihat ekspresi wajah Intan melembut. Air mata masih menetes di kedua pipinya. Namun kali ini kulihat ada tarikan bibir ke samping yang membentuk senyuman manis.
“Adakah yang Tuhan nyatakan saat ini, Intan?” aku masih terpesona melihat senyuman Intan yang luar biasa indah itu.
“Ya… aku seperti mendengar ada yang mengatakan, ‘Jangan takut. Ini Aku. Aku selalu menyertaimu’”. Senyuman itu masih ada di sana, begitu manis dan lembut. Hadirat Tuhan yang penuh kasih terasa dengan amat kuat.
“Sungguh kami amat bersyukur pada-Mu, Ya Bapa, yang maha kasih dan maha kuasa. Terima kasih untuk apa yang telah Engkau nyatakan dalam diri Intan. Betapa luar biasa penyertaan-Mu, Bapa, terutama dalam saat-saat tergelap hidup Intan. Mari, Roh Kudus, saat ini teguhkanlah iman anak-Mu ini supaya dapat terus tegak berdiri menjalani hidup. Sebab hidupnya adalah sangat berharga di hadapan-Mu. Kami serahkan dan naikkan doa ini di dalam nama Tuhan Yesus, penebus dan juruselamat kami yang hidup. Amin.”

Itulah saat-saat terindah yang kukenang bersama Intan Luh Kencana puluhan tahun yang lalu. Saat ini aku sudah pensiun. Dan salah satu kenangan indah tentang murid-muridku adalah saat aku berdoa bersama mereka, bersama-sama menanggung beban berat yang mereka rasakan. Intan adalah salah satu di antaranya. Saat ini ia sudah melangkah dalam terangnya hidup yang penuh harapan. Ayah dan ibunya telah bercerai, namun Intan tetap tegar dan tetap mampu tersenyum. Senyumnya bukanlah senyum yang dipaksakan. Senyum itu lahir dari hati yang telah mengampuni. Senyum itu pula yang mengantarnya menjadi seorang perempuan yang berbahagia dan sukses. Terpujilah nama Tuhan! ***

Jumat, 09 Januari 2015

Cuci Piring Pagi Hari

Aku bangun jam setengah enam pagi lalu segera ke dapur. Kubuka kran, air sejuk mengalir membasahi kedua tanganku. Suara gemericiknya membuatku terjaga, demikian juga kesegarannya menghilangkan kantukku. Kulihat di bak cuci sudah banyak gelas, piring, mangkuk, sendok, dan garpu yang kotor bekas makan semalam. Rasa malas membayangi benakku. Kesal aku, mengapa harus aku yang membersihkan semua ini? Mengapa tidak dilakukannya sendiri? Mencuci piring adalah pekerjaan yang menyebalkan. Selalu!
                Setahun sudah aku hidup bersama suami yang kupilih dan disetujui oleh ayah ibuku. Setahun sudah aku menjalani rutinitas mencuci piring setiap pagi. Tidak pernah aku mendapati suamiku mencuci piring atau gelasnya sendiri. Padahal, dulu ketika pacaran, ia selalu menggembar-gemborkan untuk bisa bekerja sama dalam berumah tangga. Tapi mana buktinya? Ia membiarkanku melakukan pekerjaan yang tidak kreatif ini sendirian, sementara ia asyik browsing sendiri.  Aku ingin pekerjaan cuci piring yang membosankan ini cepat selesai sehingga bisa segera melakukan hal lain yang lebih menyenangkan.
                Ah, tinggal satu gelas dan satu piring lagi yang perlu dibilas. Tidak sabar aku ingin beranjak dari sini. Kudengar ia berjalan ke dapur, mungkinkah ia berniat membantu? Bruk! Ia menambahkan nampan, mug, poci, mangkuk, dan beberapa sendok garpu yang belum dicuci. Rupanya baru saja dipakai untuk minum kopi dan makan pagi ini. Kemudian ia pergi lagi, melanjutkan browsing. “Arrggghhh!!!” teriakku dalam hati.

Sepuluh menit kemudian…

                Selesai sudah kewajibanku mencuci piring. Rasa lega yang kudambakan memenuhi hatiku. Sekarang waktunya untuk menyeterika. Bertumpuk-tumpuk pakaian menjejali ember. Satu per satu aku menggosokkan seterika panas pada baju, celana, rok, dan pakaian-pakaian dalam. Kulipat rapi dan kususun menjadi satu tumpukan. Ini pun bukanlah pekerjaan yang kunikmati. Kembali anganku menerawang ke masa-masa sebelum berumah tangga.
                Dulu, dia dan aku sepakat membangun rumah tangga. Dia bekerja, dan aku di rumah. Tunggu, di rumah pun aku mengerjakan hal-hal domestik. Berarti, aku pun bekerja, bukan? Baiklah, aku ralat. Kami sama-sama bekerja. Dia di sektor publik, alias lebih banyak berhubungan dengan orang lain di luar rumah. Kami sepakat untuk membangun hubungan yang didasari nilai-nilai kerja sama, gotong royong, saling membantu. Tanpa pernah kusadari, bentuk kerja sama itu seperti apa.
                Dulu, kupikir kami akan sama-sama melakukan berbagai hal dengan gembira. Kupikir kami akan sering bersama menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sehingga tidak terasa membosankan. Ternyata, dia lebih sering pergi berurusan dengan klien-kliennya. Di rumah, dia sibuk browsing urusan pekerjaan yang adalah hobbynya itu. Sedangkan aku? Aku harus merelakan kesenanganku membaca dan menulis demi menyelesaikan hal-hal rutin yang membekukan pikiran. Adilkah ini?
                Setengah tumpukan baju selesai kurapikan. Masih setengahnya lagi. Kusemangati diriku yang bermandikan peluh karena gerah. Ventilasi di ruang setrika ini memang kurang, harus ada sedikit perombakan. Ini pun perlu dijadikan diskusi bersamanya. Semoga dia tidak terlalu sibuk malam ini.
Setahun berlalu dengan cukup menyenangkan bersamanya. Makin lama makin kulihat sisi-sisi negatif darinya yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Ia rupanya tidak sabaran manakala sedang dalam kondisi capek. Ia pun kurang peka terhadap perasaanku. Empatinya kurang. Buktinya, dibiarkannya aku melakukan hal-hal membosankan ini sendiri sementara ia bersenang-senang browsing.

Satu jam berlalu…

                Ia membelikanku nasi, lauk, sayur. Lumayan untuk makan pagi. Aku memang belum bisa memasak, dan entah kapan akan bisa. Sambil makan, aku memperhatikannya yang sedang bersiap-siap hendak pergi. Tampak bersemangat sekali pagi ini, seperti biasanya. Dicangklongnya tas hitam berisi peralatan, nyawa pekerjaannya. “Semoga lancar dan berhasil”, demikian doaku. Dalam diam kuhabiskan makanku. Kenyang. Syukur. Puji Tuhan.
*
                Rutinitas pagi seperti itu selalu berulang. Cuci piring, menyeterika, makan, minus memasak. Kemudian kami sibuk sendiri-sendiri. Ia di luar, aku di rumah. Kuhabiskan waktu yang ada dengan melakukan apa pun yang bisa mengangkat semangatku. Pokoknya jangan sampai terlalu banyak tidur saja. Begitu terus setiap hari. Bosan. Jenuh. “Tuhan, tolong aku. Bebaskan aku. Lakukanlah sesuatu. Ubahlah sesuatu,” seruku sungguh-sungguh.
                Esok pagi, aku masih cuci piring. Masih menyeterika. Masih minus memasak. Masih mengeluh. Tidak ada yang berubah.
                Esoknya lagi, masih cuci piring. Seterika. Minus memasak. Masih sama.
                Esoknya lagi.
                Lagi.
**
                Jam setengah lima pagi, aku bangun. Ia masih tertidur. Aku tersenyum memandanginya. Ia masih sama, aku juga. Kuteduhkan hatiku, kuheningkan pikiranku. Kusapa Dia yang selalu ada. Setengah jam berlalu dalam keheningan yang kudus.
                Aku melangkahkan kaki ke dapur. Kubuka kran air. Air mengalir sejuk membasahi kedua tanganku. Sejuk dan segar, membangkitkan semangatku untuk menyambut hari yang baru. Kulihat piring-piring, gelas, mangkuk, sendok, dan garpu yang kotor bekas makan semalam. Tersenyum aku melihatnya dan kumulai mencuci satu per satu. Satu demi satu kubersihkan dengan sabun cuci cair beraroma lemon. Hmmm, wangi. Bersih. Kubilas satu demi satu dengan penuh perhatian. Tidak terasa semua piring gelas mangkuk sendok garpu itu sudah selesai kucuci. Lega dan puas memenuhi hati sanubari. “Terima kasih, Tuhan, pagi ini indah sekali!” batinku sambil menyunggingkan senyum.
                Kulanjutkan dengan menyeterika baju-baju yang teronggok berjejalan di ember. Satu per satu kurapikan, kugosok, dan kulipat rapi. Kutumpuk menjadi satu, siap kumasukkan ke dalam lemari. Dalam hatiku ada nyanyian yang menyeruak ingin segera didendangkan. “Hari bahagia dalam hidupku, berjalan bersama-Mu, Yesus Tuhanku… Sebab Kau sertaku, selalu sertaku… Sepanjang hidupku… bahagia selalu… sertaku…” Tanpa terasa, semua baju celana rok pakaian dalam pun rapi tertumpuk. Puas, lega.
                Kulihat ia sudah membelikanku makan pagi. Nasi, sayur, lauk dan susu kedelai. Kumakan dengan penuh syukur. Kuperhatikan dia yang sedang makan juga di hadapanku. Lahap betul! Kusunggingkan senyum, mataku menyipit, ekspresi kebahagiaan murni. Ia pun membalas tersenyum. Betapa senangnya hatiku. Kulihat ia sudah bersiap-siap hendak menemui kliennya, entah yang mana dan di mana. Tas hitam kesayangannya tidak lupa dicangklongnya, nyawa pekerjaannya. “Semangat, semangat, sukses, sukses,” doaku dalam hati. Kuantarkan dia sampai di gebang depan. Dia pun berpamitan, melambaikan tangannya, dan pergi menyambut rejeki.
                Aku duduk bersandar di sofa ruang tamu. Kuhirup nafas sedalam-dalamnya. Kuhembuskan sambil menyebut nama-Nya. Kupejamkan kedua bola mataku. Konsentrasiku penuh akan kehadiran-Nya. Ungkapan syukur yang tak terkatakan memenuhi kalbuku. “Terima kasih, Tuhan! Engkau sungguh baik!” Tuhan telah menjawab doaku. Sekelilingku masih tetap sama. Aku masih mencuci piring, masih menyeterika tiap pagi, dan masih belum bisa memasak. Tapi satu hal telah berubah. Hatiku. ***



Kamis, 08 Januari 2015

Penyembahan Puja

Kacau! Kacau sekali jalannya ibadah di tempat pemujaan pagi itu. Penyanyi dan pemusik kejar-kejaran nada. Jemaat pun sangat tidak antusias dalam melantunkan puji-pujian. Tidak ada suasana penyembahan yang syahdu menghanyutkan kalbu. Yang ada hanyalah gerutuan dalam hati yang memuncak menjadi nyanyian sumbang. Mana mungkin ada damai sejahtera yang melegakan kalau begini caranya! Duh, Tuhan, ampunilah kami.
                Persiapanku menjadi sia-sia, acara ibadah menjadi berantakan. Padahal aku dan rekan-rekan sudah latihan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Alat-alat musik dan sound sistem sudah dicek semua. Demikian juga perlengkapan multi media, semua sudah siap, rapi jali. Kurang apa lagi? Apakah memang jemaat di tempat kami ini ditakdirkan untuk tidak bisa mengekspresikan pujian dan penyembahan dengan segenap keberadaan? Bukankah Tuhan merindukan umat-Nya untuk menyembah-Nya dengan segenap kekuatan, akal budi, dan tentunya roh jiwa?
                Ah, sudahlah. Aku sudah kapok memimpin pujian dan penyembahan di mana tidak ada keselarasan antara tim ibadah dengan jemaat. Meletihkan sekali rasanya. Bayangkan saja bagaimana kita sudah bersemangat mengajak jemaat untuk menyanyikan gita nada bagi Tuhan tapi jemaat sepertinya adem ayem saja. Atau mereka bertepuk tangan tapi lirak-lirik samping kiri kanan karena tidak percaya diri dan malah sibuk melihat orang lain yang juga sama-sama tidak antusias. Apalagi saat masuk ke dalam musik penyembahan yang lembut mengalun. Semestinya, semua dapat masuk ke dalam suasana doa sembari menyanyi. Tapi kenyataannya? Garing! Pujian yang diulang-ulang terasa sangat lama dan membosankan. Salah siapa ini?
                Namaku Puja Rahayuningtyas. Setengah tahun sudah aku memimpin tim ibadah ekspresif di tempat pemujaan ini. Tantangannya banyak sekali. Mulai dari kebiasaan dan tata cara ibadah yang terkesan monoton dan kurang bergairah, sampai ke gegar budaya antara generasi senior dan junior yang berbeda selera musik dan pemahaman teologisnya. Aku yang berada di antara gap generasi itu, dalam usiaku yang menginjak kepala tiga ini, harus menjadi mediator untuk menjaga komunikasi dan menyampaikan aspirasi. Tempat pemujaan ini, lebih tepatnya disebut gereja, adalah gereja yang cukup dinamis bagi denominasinya. Namun sedinamis-dinamisnya, tetap saja ada karakter yang melekat yang menjadi semacam penghalang bagiku untuk mengajak jemaat mencoba lebih ekspresif dalam ibadahnya, khususnya dalam melantunkan pujian sembahyang.
                “Mbak Puja,” kata bapak pendeta suatu ketika,”Mungkin ada baiknya Mbak Puja istirahat dulu dari melayani pujian di depan.”
                “Maksud Bapak? Apakah saya sudah tidak layak lagi?”
                “Bukan, bukan begitu. Saya melihat Mbak Puja sepertinya terlalu letih. Itu saja.”
                “Jadi?”
                “Ambillah waktu untuk retret pribadi, Mbak. Siapa tahu akan ada penyegaran dari Tuhan. Untuk ibadah Natal dan Tahun Baru kali ini, biar diserahkan ke anak-anak pemuda dan remaja saja.”
                Maka, di sinilah aku pada malam tahun baru kali ini. Tidak ada hingar-bingar persiapan acara Natal dan tahun baru di gereja. Aku lebih banyak berdiam diri di rumah, mengurus acara natal kecil keluargaku. Dan acara itu pun bukan aku yang menyusun. Aku hanya membantu mengiringi musiknya saja. Ya, aku bisa bermain piano atau kibor sekadarnya. Dan waktu-waktu luang yang ada lebih banyak kugunakan untuk mencari wajah Tuhan—istilah umum untuk bermeditasi secara imanku—di kamar atau di tempat aku bisa berdua saja dengan-Nya.
                Kudapati memang aku letih, lesu, dan berbeban berat. Aku terlalu terobsesi untuk membawa jemaat bisa ikut dalam pujian penyembahan yang mengalir dalam suasana hadirat Tuhan yang syahdu itu, meskipun tetap dalam pakem tata liturgi yang menjadi ciri khas gerejaku. Begitu terobsesinya aku sehingga aku melupakan esensi dari penyembahan dan pujian itu sendiri. Ya, memuji dan menyembah Tuhan itu bukanlah paksaan dari luar. Itu adalah sikap hati yang murni. Sikap hati yang murni itu akan terekspresikan dengan sendirinya secara alamiah tanpa dibuat-buat. Dan manakala hati yang murni itu bersentuhan dengan hati Tuhan, maka terciptalah atmosfer pujian penyembahan yang sangat indah. Dalam suasana itulah, hati kita—roh dan jiwa, serta tubuh—benar-benar dapat merasakan, bahkan melihat dan mendengar Tuhan sendiri ada bersama-sama kita.
                Malam tahun baru di rumah keluarga besarku, kami sekeluarga duduk melingkar di atas tikar pandan yang hangat. Setelah mendengarkan renungan dari seorang saudaraku, tibalah saatnya untuk bersaat teduh. Dengan mantap, aku memainkan musik lembut untuk membantu saudara-saudaraku merenungkan isi firman Tuhan yang disampaikan. Jemariku dengan lancar menari-nari menekan nada-nada merdu yang meneduhkan. Dan tanpa kutahan-tahan, aku bersenandung mengikuti alunan nada itu. Hatiku terangkat dalam sukacita dan damai surgawi. Kudengar satu per satu anggota keluargaku pun turut bersenandung mengikuti irama dan musik yang lembut. Meskipun tanpa lagu khusus, kami masing-masing mengangkat pujian spontan dari hati masing-masing. Maka, terciptalah musik penyembahan yang maha indah dalam balutan kesederhanaan.

                Tak satu pun yang ketinggalan dalam alunan penyembahan malam tahun baru itu. Tak satu pun yang pulang dengan sia-sia. Semua mendapatkan berkat dan rahmat yang tiada terhingga. Wajah-wajah penuh syukur dan pengagungan menghiasi ruangan. Aku percaya, malaikat-malaikat pun ikut bersenandung bahagia melihatnya. Terlebih lagi Tuhan yang menerima ungkapan syukur, doa, dan pujian itu. Maka, aku pun bersyukur atas segala yang ada dalam hidupku. Tak sia-sia aku menghidupi namaku, Puja. Rahayu. Ning Tyas. Pujian, damai sejahtera, di dalam hati yang bening. ***

Jumat, 02 Januari 2015

Naik Bus Kota

“Asa, bangun! Ayo, bangun. Waktunya mandi pagi!” seru mama, membuatku terbangun dari tidur bertaburan mimpi indah. Aku pun bangun sambil masih terkantuk-kantuk. Rasa haus mendorongku berteriak minta sebotol susu, “Mimiiiiik!” Dengan sigap, mama membuatkanku susu dan kuhisap dengan lahap. Sensasi mengenyot dot karet dengan menggigitinya merupakan hal ternikmat bagiku yang masih batita ini. Kata seseorang bernama Freud, entah siapa itu, aku sedang fase oral yaitu merasakan kenikmatan terbesar melalui mulut.
                Selesai berfase oral ria, aku pun mandi pagi dibantu mama dan papa. Byur, byur! Hangatnya air di ember membuatku ingin berlama-lama bermain air. Tapi seperti biasa, pasti aku disuruh cepat-cepat gosok gigi dan menyudahi acara mandi pagi yang menyenangkan. Rasa kantuk berangsur-angsur menghilang, digantikan rasa antusias. Aku merasakan gejolak euforia pagi. Endorfin dan serotonin sedang berlomba-lomba mencerahkan suasan hatiku. Rasanya ingin segera berlarian dan bermain-main sepuas hati.
                “Asa, pakai baju ini dulu, yuk!” kata mama sambil memakaikanku baju untuk jalan-jalan. Lho, tidak pakai baju rumah? Wah, hendak ke mana ya ini? Dengan menampilkan wajah protes, aku menatap wajah oval mama. “Kita mau jalan-jalan naik… bus kotaaa!” serunya dengan mimik girang. Wow, bus kota! Aku suka bus kota! Kan ada lagunya, “The wheel on the bus go round and round, round and round…
                Papa dan mama menggandengku menuju halte atau shelter trans jogja terdekat. “Kita mau ke Malioboroooo!” seru papa dengan penuh semangat. “Beli tiket dulu, yaaaa!” Kulihat papa membayar sejumlah uang kepada penjaga halte. Berurutan, aku, mama, dan papa masuk ke halte setelah penjaga menyorongkan kartu kecil di sebuah alat yang membuat palang halte berputar sehingga orang bisa lewat. Menarik sekali, rasanya ingin minta papa mama membuatkanku mainan semacam itu di rumah.
                Halte masih sepi. Hanya ada dua orang lain yang sedang duduk menanti di dalamnya. Karena kami hendak ke Maloboro, kami harus naik bus jalur A1 dengan transit terlebih dahulu ke bandara. Dari bandara, kami ganti naik bus A1 dengan tujuan Malioboro. Tidak terlalu lama, bus yang kami tunggu tiba dan kami pun naik. Busnya masih sepi sehingga kami dapat tempat duduk yang nyaman. Mama memangkuku. Kulihat di luar hujan mulai turun. Untunglah papa membawa payung. Perjalanan ke arah bandara ini sungguh nyaman, membuatku mengantuk.
                Tak terasa, bus tiba di halte bandara. kami turun ke halte, menantikan bus A1 arah Malioboro. Hujan turun semakin deras. Halte penuh dengan orang. Aku tidak bisa melihat dengan leluasa karena terhalang orang-orang yang berdiri. Kulihat mereka tidak rapi mengantre. Mereka berkerumun di dekat pintu, menanti bus dengan raut muka yang tidak sabar. Mama mengajakku duduk di kursi besi yang kebetulan kosong. Papa memilih berdiri, menunggu kalau-kalau busa A1 tiba.
                “Bus A1 tujuan kota, Malioboro, dst tiba. Penumpang diharap bersiap. Dahulukan yang mau turun, hati-hati melangkah, kaki kanan terlebih dahulu!” seru seorang petugas halte. Dengan sigap, papa dan mama menggandengku. Sewaktu kami hendak melangkah, seorang ibu gemuk tiba-tiba menyerobot. Ia masuk ke bus dengan seorang temannya yang juga gemuk. Walhasil, kami gagal naik bus. Petugas bus menyetop kami karena bus sudah penuh sesak. “Waaaa, mamaaa, papaaa, diseroboooot!” teriakku.
                “Sssst… sssst… jangan teriak-teriak, Asa!” seru papa menenangkanku. Aku panik, sedih, dan dongkol. Seharusnya ibu-ibu gemuk itu mengantre di belakang kami. Seharusnya kami yang naik busa A1 itu. “Waaaa…. Bus… Asa mau naik busss!!!” teriakku. Papa dan mama menenangkanku. Mereka mengatakan padaku bahwa bus A1 masih ada lagi, jangan khawatir. Dengan menahan tangis, aku pun menunggu lagi.
                Sepuluh menit berlalu. Bus A1 berikutnya telah tiba. Kali ini papa dan mama berdiri di dekat pintu. Papa menggendongku supaya aku tidak tertinggal. Begitu pintu bus dibuka dan beberapa orang telah keluar dari bus, papa dan mama menerobos masuk secepat mungkin. Aku melihat seorang ibu setengah baya hendak menerobos juga tapi terhalang oleh petugas bus. Rupanya kuota sudah terpenuhi. Bus sudah penuh sesak. Kasihan ibu itu, batinku, tapi mau bagaimana lagi? Kami berhasil juga naik bus A1.
                Di dalam bus, kami berdiri bergelantungan pada pegangan. Kali ini mama yang gantian menggendongku. Tujuannya supaya mendapat tempat duduk dan papa yang berdiri. Tapi sayang sekali, tak ada satu pun penumpang yang mau memberikan tempat duduknya. Padahal kulihat mereka masih muda dan tampak kuat-kuat. Sedangkan mama kulihat capek sekali menggendongku. “Maaf, bisa geser sedikit? Ini, bawa anak kecil, terima kasih,” kata mama kepada seroang pemuda yang duduk dengan santainya. Sambil berdecak merasa terganggu, pemuda itu hanya bergeser sedikit tanpa mau berdiri. Mama pun duduk di ujung kursinya dengan sangat tidak nyaman karena memangkuku. Kasihan mama.
                Jalan raya padat merayap. Jogja semakin penuh oleh kendaraan bermotor. Mobil-mobil menjejali jalan. Klakson berbunyi riuh rendah. Bus pun tidak bisa melaju dengan kencang karena lalu lintas tidak lancar. Melalui kaca jendela bus yang bening, kulihat suasana lalu lintas yang sarat akan mobil dan sepeda motor. Jarang sekali kulihat ada sepeda melintas. Padahal dulu katanya kotaku ini adalah kota sepeda. Sekarang kotaku jadi makin panas dan tidak nyaman karena polusi udara dan polusi suara semakin menggila. Untunglah hari itu hujan turun, sehingga suasana panas dapat teredam.
                Kriiiiing… Kriiing… dering ponsel tiba-tiba memecah suasana di dalam bus. “Ya! Baru macet ini! Di depan Amplaz! Ya! Bla bla bla!” seseorang menjawab panggilan ponselnya dengan amat keras. Semua penumpang bisa mendengarkan dengan jelas isi pembicaraannya. Untunglah dia tidak mengaktifkan loud speaker. Bisa-bisa semuanya tahu apa yang sedang diperbincangkan melalui ponsel itu. Kulihat mama dan papa tersenyum geli mendengarnya.
                Tiba-tiba aku mencium aroma tidak sedap. Bau itu khas sekali, seperti bau waktu aku pup. Waduh, siapa nih yang kentut di dalam bus? Rasanya mual. Mama dan papa kulihat menutup hidungnya. Demikian juga semua penumpang. Wah, padahal Malioboro masih jauh. Bagaimana ini?

                Ketika bus sampai di halte depan RS Bethesda, mama dan papa mengajakku turun. Lho, kan belum sampai Malioboro? Mengapa turun di sini? Apa karena bau yang tidak sedap itu? Atau karena mama yang terlalu capek duduk tidak nyaman di bus? Ah, entahlah. Aku cukup mengikuti saja. Aku kan masih sangat kecil untuk diajak berurun angan. Kami pun turun, ke luar halte, dan menyeberang jalan. Rupanya mama dan papa mengubah tujuan perjalanan. Kami tidak jadi ke Malioboro. Sebagai gantinya, kami jalan-jalan ke Mal Galeria. Wah, senang sekali! Nanti pulangnya naik apa ya? Naik bus lagi? Semoga lebih nyaman ya. Semoga orang-orang tahu bagaimana mengantre dengan rapi. Semoga orang-orang di bus tidak egois. Dan semoga aku tidak kapok naik bus kota lagi. ***