Rabu, 27 Agustus 2014

Harta Berharga: Pengharapan

Pada hari Sabtu tanggal 19 April 2014, aku bercakap-cakap dengan rekanku yang bernama Pak Ias. Kami bercakap-cakap perihal kesusahan-kesusahan di dunia, perihal kerusakan lingkungan, kebobrokan manusia dan masyarakat, perihal Indonesia. Banyak hal yang memprihatinkan dan membuat susah hati dan pikiran. Dalam mendengarkan, aku memahami dan turut merasakan keprihatinan yang mendalam. Dalam diam, aku bertanya-tanya dan mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tahu jawabannya ada di dalam TUHAN dan diperlukan hikmat serta wahyu untuk menyampaikannya secara tepat.

Di dalamku ada iman dan pengharapan yang tidak berkesudahan akan penyelamatan TUHAN atas dunia ini. Dibutuhkan kasih yang besar untuk bisa mengkomunikasikan apa yang kupercayai dan kuharapkan itu supaya jawaban yang kuberikan tidak hambar. Aku pun membaca kitab Wahyu. Setidaknya, aku mendapat penghiburan akan apa yang bakal terjadi dari sudut pandang surga. Sebuah skenario ilahi yang jauh lebih spektakuler dan dahsyat daripada utopia manusia mana pun sedang terjadi. Di sana, kejahatan akan menerima hukumannya yang setimpal. Di sana, kebenaran dan keadilan akan menang mutlak. TUHAN-lah sang benar dan sang adil yang dirindukan manusia dengan segenap hidup dan mati.

Beberapa waktu kemudian, pikiranku masih bertanya-tanya, dengan cara apa TUHAN memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang semakin suram ini. Dengan jalan bagaimanakah penyelesaian dari TUHAN itu terjadi atas karut-marutnya dunia ini? Meskipun demikian, hati dan jiwaku merasa tenang, aman, damai--ayem tentrem rahayu. Aku telah menerima dengan iman segala janji TUHAN yang indah dan penuh pengharapan itu. Sehingga, meskipun belum menemukan kata-kata yang tepat, aku cukup berbahagia karena telah memiliki harta karun paling berharga yang dicari oleh semua orang. Harta itu berupa hikmat dan wahyu yang TUHAN karuniakan dan akan dinyatakan pada waktunya. Bagianku adalah menjaga hati senantiasa supaya pelita iman dan pengharapan tetap menyala dalam jiwa. Dan bagi mereka yang ditentukan TUHAN, harta berharga itu dapat kubagikan sesuai dengan porsi masing-masing.

Terpujilah nama TUHAN yang telah menjagai hati dan pikiranku dengan anugerah-Nya yang memagariku seperti perisai! Maranatha! ^^

Tidak ada komentar: