Selasa, 14 Oktober 2014

Masalah di Pintu Gerbang Kota

Selamat sore, TUHAN. Aku baru saja membaca habis buku Nick Vujicic ‘Unstoppable’. Ada satu pelajaran penting yang cukup berkesan, yaitu mengenai mewartakan kebenaran tanpa menyerang keyakinan orang lain meskipun tahu bahwa yang mereka percayai itu salah. Semua orang perlu mendengar kabar baik yang disampaikan dengan bahasa kasih yang kuat. Membaca kisah-kisah perjalanan dan perjumpaan Nick, aku jadi tertantang melakukan hal-hal yang serupa di mana aku Engkau tempatkan. Jargonnya, kalau Nick bisa, mengapa aku tidak?
                Jadi, ada di mana kita sekarang? Mari kita ‘berperkara’. Saat ini aku ‘ada’ di RS Ladang Anggur-Mu yang merupakan salah satu ‘pintu gerbang’ kota di mana banyak orang datang dari berbagai tempat dengan berbagai kebutuhan di bidang kesehatan. Apapun agama/keyakinan, suku bangsa, bahasa, jenis kelamin, usia, pangkat, jabatan, dan pekerjaannya, semua orang disambut dan dilayani sesuai kebutuhan kesehatannya masing-masing. Di sini, berhimpun pula para pekerja lading anggur-Mu dengan berbagai talenta dan kemampuan masing-masing, bahu-membahu mengurus ladang anggur-Mu. Ada berbagai macam sikap dan motivasi yang mewarnai tiap pelayanan dan pekerjaan. Ada yang sungguh-sungguh menghayati pekerjaan rutinnya sebagai panggilan-Mu yang kudus. Ada yang baru sekedar mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang sekedar mengisi watu-waktu yang ada dengan melakukan apapun sekedarnya saja.
                Pertanyaannya, aku tergolong yang mana? Secara jujur, aku memiliki semangat untuk sungguh-sungguh menjadi saksi-Mu di sini. Masalah yang sedang kugumulkan saat ini adalah mengenai posisi atau tempatku berpelayanan, bukan sekedar bekerja rutin. Aku sedang ‘mencari’ tempatku di dalam-Mu dengan berfokus pada hadir-Mu di dalamku. Aku berpengharapan bahwa melalui hidup dan apa yang kulakukan, pribadi-Mu yang mulia dan penuh kasih itu dapat dikenal dan dinyatakan.
                Setiap masalah yang kulihat dan kudengar di sini cukup membuatku terdorong berpikir keras mencari jalan keluarnya. Aku terdorong mencari solusi dari hulu ke hilir untuk setiap puncak gunung es permasalahan yang timbul. Misalnya, mengenai kebijakan PONEK yang bertabrakan dengan kebijakan JKN di lapangan RS. Secara prinsip, aku tahu bahwa program PONEK itu sangat penting karena prioritasnya adalah keselamatan ibu dan anak. Namun, kebijakan JKN membuat langkah pelayanan RS seakan terpasung oleh besaran plafon yang sangat minimalis, sehingga para pekerja di lapangan memilih untuk bersikap pragmatis praktis yaitu lebih mengutamakan masalah finansial RS daripada masalah kemanusiaan. Aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka karena mereka pun kurang mendapat petunjuk atau arahan dari pimpinan RS perihal masalah ini. Pimpinan RS pun sepertinya kurang bisa memahami kondisi lapangan sehingga kurang bersikap tegas dan kebijakannya dirasa kurang mantap.
                Aku yang masih belum fasih berbicara ini pun dengan tergagap-gagap mencoba menyampaikan pandangan dan pikiran semampuku, seberapa pun yang bisa kusampaikan dan diterima oleh para pekerja itu. Meskipun yang kusampaikan bukanlah hal yang popular lagi praktis, aku cukup lega karena setidaknya aku menyampaikan hal yang sesuai dengan hati nuraniku.
                Aku mendangar dan menangkap banyak hal namun belum mampu menyampaikan buah pikiranku dengan runtut dan sistematis di forum-forum rapat. Oleh karena itu, aku mengambil waktu untuk belajar ‘public speaking’ sederhana secara khusus mulai minggu ini bersama Bu Betty. Harapanku adalah supaya aku bisa berbicara dengan lebih mantap, percaya diri, dan runtut sehingga menjadi bagian dari solusi yang efektif.
                Inilah yang sedang menjadi kerinduan hatiku saat ini, Bapa. Terima kasih untuk berkat-Mu. Barukh Hashem. 


Tidak ada komentar: