Jumat, 10 Februari 2017

Surat untuk Ibu (7): Tips untuk Luka Hati

Ytk
Ibuku yang dikasihi Tuhan
Yang kukasihi
Dan yang mengasihiku

Shalom! Apa kabar, Ibu? Kiranya Ibu, bapak, dan Yoyo baik-baik saja dan tansah binerkahan di Rumah Pelem Kecut, rumah kemuliaan Tuhan. Kiranya roh, jiwa, dan tubuh Ibu dan seisi rumah Ibu terpelihara aman sentosa di dalam Tuhan Yesus Kristus yang mahamulia. Segala puji, hormat, syukur hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus, amin!

Di penghujung hari ini, aku ingin menyampaikan ungkapan kasih dan kepedulianku kepada Ibu. Khususnya mengenai apa yang kusaksikan hari ini di "Gua Adulam". Aku menyaksikan betapa Ibu berusaha keras untuk tidak berlarut-larut sakit hati dan kepahitan karena perkataan orang lain. Dengan jujur Ibu mengakui bahwa Ibu sering terngiang-ngiang oleh ungkapan-ungkapan orang lain yang begitu tajam dan dalam melukai hati Ibu. Dan dengan jujur pula Ibu mengakui betapa lama dan sukarnya sembuh dari hal tersebut. Untuk kejujuran Ibu itu, aku sangat menghargai dan salut. Karena tidak mudah untuk berkata jujur tentang hati kita di hadapan orang lain.

Karena aku peduli pada Ibu, khususnya masalah kesejahteraan batin Ibu, maka perkenankanlah aku mengusulkan satu tips atau cara untuk Ibu bisa lebih mudah pulih dan sembuh dari luka hati tersebut. Cara ini sederhana saja, Ibu. Aku sudah sering melakukannya. Mudah saja, hanya perlu kemauan dan kesungguhan hati Ibu. Jadi, setiap kali ada orang yang melukai hati Ibu, cobalah untuk mengatakan ini (bisa dibatin atau diucapkan), "Aku memberkati ... (sebut nama orang itu)". Saat mengucapkannya, lepaskanlah segenap emosi Ibu yang penuh kesakitan dan kepahitan itu. Ucapkan saja kalimat tersebut tanpa ditambahi embel embel yang tidak perlu. Ucapkan sampai tidak ada lagi emosi negatif terhadap orang yang bersangkutan. Ini berlaku bagi siapa pun tanpa terkecuali. Silakan mencoba, Ibu, dan rasakan perbedaannya.

Usulku, lakukan hal ini sebelum Ibu menyuarakan isi hati Ibu yang terluka kepada orang-orang lain yang Ibu percayai. Dan, mari kita lihat adakah perbedaan yang nyata.

Ibu, perkara mengampuni orang lain itu adalah perkara yang sangat penting. Karena jika kita tidak mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga pun tidak mengampuni kita juga. Bukankah demikian bunyi sebagian kalimat dalam Doa Bapa Kami?

Jika Ibu merasa begitu berat dan sukar untuk melepaskan pengampunan, berserulah pada TUHAN, Ibu. Atau, Ibu bisa meminta dukungan doa dari orang-orang yang Ibu percayai supaya Ibu dimampukan untuk mengampuni. Hal ini menurutku sangatlah penting, Ibu. Karena jika kita terluka, kita pun berpotensi melukai pula orang-orang lain tanpa kita sadari. Itulah mengapa penting sekali untuk segera membereskan luka-luka jiwa dan hati kita di hadapan Tuhan. Karena, seperti luka yang tidak tertangani bakalan terinfeksi dan menginfeksi bagian tubuh yang lain, demikian juga analoginya dengan luka hati seseorang. Satu orang terluka dapat mengobarkan luka tersebut kepada orang-orang lain. Apalagi jika orang tersebut punya kuasa, wewenang, dan otoritas yang besar.

Ibu, aku menyampaikan ini karena aku peduli pada Ibu dan orang-orang yang kita kasihi. Mohon maaf jika aku menyinggung perasaan Ibu. Tolong pertimbangkan usul yang kusampaikan di atas. Dan terima kasih atas respon dan usaha Ibu untuk mengampuni orang lain sampai terjadi pemulihan. Kiranya TUHAN memampukan Ibu untuk mengampuni dan memberkati orang-orang yang melukai hati Ibu. Shalom!

Dari anakmu yang peduli,
Yohana Mimi

Tidak ada komentar: