Selasa, 22 November 2011

Melawan Raksasa--Tentang Suku Jawa

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.(1 Samuel 17:45)

Aku sering sekali menghadapi ‘raksasa’ yang menantangku setiap kali kesempatan itu datang. Raksasa itu ada di dalamku sendiri. Aku harus berperang melawan diriku sendiri. Yang terutama adalah kemalasan dan ketakutan. Mereka mendatangiku dengan rasa ogah-ogahan dan berbagai dalih pembenaran diri sendiri. Tetapi aku melawan mereka dengan namaNya. Barusan tadi aku habis memenangkan pertempuran kecil melawan salah satu dari mereka. Aku tidak mengizinkan rasa malas menghalangi langkahku untuk memeriksa dan berbicara dengan pasien dan keluarganya. Setidaknya aku tadi sudah memperlakukan Ny. S dengan lebih manusiawi. Aku tidak lagi bersikap ketus atau dingin. Aku sedikit bertanya-tanya kepada beliau perihal keluarganya. Mungkin bagi kebudayaan barat, hal ini useless. Tapi aku percaya, apa yang kulakukan ini tidak sia-sia. Inilah salah satu local wisdom dari budaya Indonesia, khususnya Jawa yaitu ramah tamah. Orang Jawa biasa bertanya tanpa maksud untuk sungguh-sungguh mengetahui, hanya sekedar untuk mencairkan suasana dan menjalin keakraban. Ini menurutku bukanlah hal yang memalukan atau pun sia-sia. Sebaliknya, ini merupakan asset berharga dari bangsaku. Aku perlu menggali lebih banyak lagi mutiara-mutiara terpendam yang ada dari kebudayaan Jawa.

Tentang Suku Jawa

Bicara tentang orang Jawa... Stereotipe terhadap orang Jawa, termasuk diriku, adalah mereka malas, lamban, tidak punya etos kerja yang baik, tidak dapat dipercaya, munafik, dan lain sebagainya. Yang namanya stereotype itu cenderung yang negative-negatifnya saja ya. Entah mengapa. Mungkin karena manusia lebih mudah dan lebih suka menilai negative terhadap sesamanya. Itulah sifat dosa. Sekarang, mari kita lakukan pembalikan! Mari kita pandang dari sudut pandang Bapa. MenurutNya, orang Jawa itu tipikalnya seperti apa? Menurutku, orang Jawa itu juga punya kelebihan dan keunikan tersendiri yang berharga di mataNya, tentu saja. Bukan bermaksud menyombongkan atau memuji mengagungkan diri, tetapi aku mau menunjukkan sisi-sisi positif dari orang Jawa. Menurutku, orang Jawa itu sabar, berpikir panjang, lebih bisa menikmati hidup, nrimo, tahan terhadap penderitaan, rendah hati, berusaha untuk membuat orang lain senang dan nyaman, sangat mengabdi kepada Gustinya, nyeni, berperasaan halus, lembut dalam bertutur kata, dan lain sebagainya. Itulah yang kuamati meskipun belum valid-valid benar. Memang sih dalam sejarah, raja-raja Jawa banyak melakukan pertumpahan darah yang tidak kalah kejamnya dengan raja-raja atau orang-orang suku bangsa lainnya. Bahkan mungkin lebih mengerikan dan mengenaskan. Itu adalah sifat nature dosa. Upah dosa adalah maut. Tapi, bukankah ada tertulis bahwa “upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”? syukur kepada Tuhan Yesus! Dia telah menebus bangsa-bangsa, termasuk orang Jawa. Orang Jawa yang telah ditebus itu seperti apa? Tentu saja luar biasa. Dan aku adalah salah satunya! Aku mau dan telah dan akan terus menjadi buktinya. Aku mau mengerjakan keselamatanku dengan takut dan gentar. Biar dunia lihat bahwa karyaNya sungguh nyata di dalamku. Dan biar dunia tahu bahwa Yesus sungguh Tuhan dan Raja atas suku bangsa Jawa ini. Dialah Sang Ratu Adil yang dinanti-nantikan, Tuhan Yesus! Dan aku adalah saksiNya! Yosh! Haleluya!

Tidak ada komentar: