Jumat, 18 November 2011

Blame Free Culture


Aku mau menuliskan sesuatu saat ini. Tentang “blame free culture”. Sejauh ini aku mendengar dan kadang melihat iklim dan budaya yang tidak sehat yang ada di tempatku bekerja. Kebanyakan orang suka mencari dan menyoroti kesalahan orang lain, kemudian membicarakan di belakangnya. Terus, kalau ada forum-forum atau rapat-rapat, yang ada bukanlah rasa senang, semangat, antusias, atau happy karena dapat berkumpul mempererat tali persaudaraan dan kekompakan melainkan rasa was was dan tidak aman kalau-kalau bakalan “dibantai” atau disalahkan. Kebanyakan orang di sini masih cenderung mencari siapa yang salah jika ada suatu permasalahan yang muncul ke permukaan, bukannya mencari solusi atau jalan keluarnya. Sebagai contoh ya kemarin itu waktu ada rapat SMF umum, di mana aku mendapati mbak Onny merasa fobia karena biasanya rapat-rapat yang dia ikuti isinya ya seperti itu tadi, seperti mencari kambing hitam untuk disalah-salahkan. Mencari titik lemah (berupa pribadi) untuk semakin ditikam dan ditusuk-tusuk sehingga semakin parah kondisinya. Mungkin ada semacam kepuasan tersendiri ya dalam hal seperti itu. Entahlah. Aku pernah baca di bukunya Rick Joyner berjudul “Pencarian Terakhir”, di mana seorang tawanan yang sudah terluka dan jatuh malah akan semakin mendapat pukulan dan tusukan oleh rekan-rekan selama tawanan. Sungguh mengenaskan. Masalahnya adalah karena dalam kondisi tertawan, seseorang tidak dapat melihat dengan jelas dan bertindak hanya berdasarkan rasa sakit (hati) yang dirasakannya. Solusinya, bebaskan tawanan dan sembuhkan luka (hati)nya sehingga dia dapat melihat dengan jelas dan berhenti melakukan “pembunuhan” terhadap sesamanya lagi.

Bagaimana dengan di tempatku bekerja ini? Mungkin masih banyak orang yang dalam kondisi tertawan (hatinya). Tertawan oleh apa? Oleh dosa, kepahitan, sakit hati, dll. Semua itu membuat rasa tidak aman yang juga muncul dalam sikap sehari-hari. Rasa tidak aman  itu pun diproyeksikan ke orang lain sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman juga. Orang yang tidak merasa aman biasanya akan mencari “teman” untuk merasakan “nasib” yang serupa. Hal yang mengerikan seperti itu haruslah dihentikan! Bagaimana? Dengan memutus mata rantai. Sudah bukan lagi saatnya untuk mengutuk kegelapan. Sekarang saatnya untuk menyalakan lilin. Bukan lagi zamannya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab kerajaanMu sudah datang. Sekarang waktunya iman, pengharapan, dan kasih untuk mengalir dengan bebas. Sekarang waktunya untuk memberkati siapa pun yang menganiaya dan bukan mengutuk. Minimal lakukan dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu orang lain untuk berubah. Perubahan atau transformasi itu terjadi melalui diri sendiri. Saat diri kita berubah, maka sekeliling kita pun akan terkena dampaknya.
Kalau aku, aku menanamkan sungguh-sungguh “blame free culture” dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatanku sehari-hari. Aku tidak terlalu peduli dengan sikap orang lain yang masih suka mencari-cari kesalahan orang lain. Kalau sampai aku ditegur atau disalahkan, aku akan mengedepankan sikap mental yang positif. Prinsip yang telah kupelajari: lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Dan sikap yang aku kedepankan adalah berterima kasih untuk perhatian yang diberikan (berupa teguran yang nyata tersebut) serta kesediaan yang rendah hati untuk melakukan yang terbaik. Mari kita buktikan bahwa kebaikan dan kebenaran pasti menang melawan kejahatan dan kekejaman. Yosh! 

Tidak ada komentar: