Sabtu, 12 April 2014

Sinetron dan Harapanku

Sinetron masih menyuguhkan cerita-cerita cinta yang kelam, tragis, dan penuh air mata derita. Jarang sekali yang menceritakan tokohnya berkemenangan dalam perjalanan cintanya. Sungguh miris. Inikah potret masyarakat Indonesia yang ditangkap oleh para sineas televisi itu? Tidak adakah yang mampu memotret keindahan dan keagungan cinta kasih yang berkemenangan? Di manakah terang dan garam dunia itu?

Herannya, banyak juga orang yang rela perasaannya dipermainkan oleh cerita sinetron yang berlarut-larut itu. Apa yang sebenarnya mereka saksikan? Berkaca diri? Dengan cermin yang suram? Betapa malangnya! Seandainya saja mereka pernah mengecap kasih surgawi yang agung dan mulia, tentu mereka tidak akan tertarik dengan gambaran palsu cinta sinetron-sinetron itu.

Herannya lagi, aku sudah tidak merasa benar sendiri terhadap mereka yang masih mau dikadalin sinetron. Aku tidak marah-marah atau gemas lagi. Toleransi sudah berkembang menjadi pengertian dan simpati terhadap sesamaku yang terpikat oleh sinetron. Bahkan, terhadap man behind the scene sinetron itu sendiri pun aku mungkin akan mengembangkan sikap peduli yang tulus. Mungkin ini bisa menjadi salah satu pokok doaku. Mungkin pula, ini kesempatanku untuk menulis cerita yang indah dan lebih layak tonton di TV.

Hei, apakah 'Hikayat Putri Asa" bisa dibuat sinetron ya? Apakah ceritanya cukup kuat dan menarik? Kira-kira, siapa yang mau memproduserinya? Siapa sutradaranya, ya? Hehe, mimpi, mimpi. Boleh, kan? ^^

Tidak ada komentar: