Kamis, 08 Januari 2015

Penyembahan Puja

Kacau! Kacau sekali jalannya ibadah di tempat pemujaan pagi itu. Penyanyi dan pemusik kejar-kejaran nada. Jemaat pun sangat tidak antusias dalam melantunkan puji-pujian. Tidak ada suasana penyembahan yang syahdu menghanyutkan kalbu. Yang ada hanyalah gerutuan dalam hati yang memuncak menjadi nyanyian sumbang. Mana mungkin ada damai sejahtera yang melegakan kalau begini caranya! Duh, Tuhan, ampunilah kami.
                Persiapanku menjadi sia-sia, acara ibadah menjadi berantakan. Padahal aku dan rekan-rekan sudah latihan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Alat-alat musik dan sound sistem sudah dicek semua. Demikian juga perlengkapan multi media, semua sudah siap, rapi jali. Kurang apa lagi? Apakah memang jemaat di tempat kami ini ditakdirkan untuk tidak bisa mengekspresikan pujian dan penyembahan dengan segenap keberadaan? Bukankah Tuhan merindukan umat-Nya untuk menyembah-Nya dengan segenap kekuatan, akal budi, dan tentunya roh jiwa?
                Ah, sudahlah. Aku sudah kapok memimpin pujian dan penyembahan di mana tidak ada keselarasan antara tim ibadah dengan jemaat. Meletihkan sekali rasanya. Bayangkan saja bagaimana kita sudah bersemangat mengajak jemaat untuk menyanyikan gita nada bagi Tuhan tapi jemaat sepertinya adem ayem saja. Atau mereka bertepuk tangan tapi lirak-lirik samping kiri kanan karena tidak percaya diri dan malah sibuk melihat orang lain yang juga sama-sama tidak antusias. Apalagi saat masuk ke dalam musik penyembahan yang lembut mengalun. Semestinya, semua dapat masuk ke dalam suasana doa sembari menyanyi. Tapi kenyataannya? Garing! Pujian yang diulang-ulang terasa sangat lama dan membosankan. Salah siapa ini?
                Namaku Puja Rahayuningtyas. Setengah tahun sudah aku memimpin tim ibadah ekspresif di tempat pemujaan ini. Tantangannya banyak sekali. Mulai dari kebiasaan dan tata cara ibadah yang terkesan monoton dan kurang bergairah, sampai ke gegar budaya antara generasi senior dan junior yang berbeda selera musik dan pemahaman teologisnya. Aku yang berada di antara gap generasi itu, dalam usiaku yang menginjak kepala tiga ini, harus menjadi mediator untuk menjaga komunikasi dan menyampaikan aspirasi. Tempat pemujaan ini, lebih tepatnya disebut gereja, adalah gereja yang cukup dinamis bagi denominasinya. Namun sedinamis-dinamisnya, tetap saja ada karakter yang melekat yang menjadi semacam penghalang bagiku untuk mengajak jemaat mencoba lebih ekspresif dalam ibadahnya, khususnya dalam melantunkan pujian sembahyang.
                “Mbak Puja,” kata bapak pendeta suatu ketika,”Mungkin ada baiknya Mbak Puja istirahat dulu dari melayani pujian di depan.”
                “Maksud Bapak? Apakah saya sudah tidak layak lagi?”
                “Bukan, bukan begitu. Saya melihat Mbak Puja sepertinya terlalu letih. Itu saja.”
                “Jadi?”
                “Ambillah waktu untuk retret pribadi, Mbak. Siapa tahu akan ada penyegaran dari Tuhan. Untuk ibadah Natal dan Tahun Baru kali ini, biar diserahkan ke anak-anak pemuda dan remaja saja.”
                Maka, di sinilah aku pada malam tahun baru kali ini. Tidak ada hingar-bingar persiapan acara Natal dan tahun baru di gereja. Aku lebih banyak berdiam diri di rumah, mengurus acara natal kecil keluargaku. Dan acara itu pun bukan aku yang menyusun. Aku hanya membantu mengiringi musiknya saja. Ya, aku bisa bermain piano atau kibor sekadarnya. Dan waktu-waktu luang yang ada lebih banyak kugunakan untuk mencari wajah Tuhan—istilah umum untuk bermeditasi secara imanku—di kamar atau di tempat aku bisa berdua saja dengan-Nya.
                Kudapati memang aku letih, lesu, dan berbeban berat. Aku terlalu terobsesi untuk membawa jemaat bisa ikut dalam pujian penyembahan yang mengalir dalam suasana hadirat Tuhan yang syahdu itu, meskipun tetap dalam pakem tata liturgi yang menjadi ciri khas gerejaku. Begitu terobsesinya aku sehingga aku melupakan esensi dari penyembahan dan pujian itu sendiri. Ya, memuji dan menyembah Tuhan itu bukanlah paksaan dari luar. Itu adalah sikap hati yang murni. Sikap hati yang murni itu akan terekspresikan dengan sendirinya secara alamiah tanpa dibuat-buat. Dan manakala hati yang murni itu bersentuhan dengan hati Tuhan, maka terciptalah atmosfer pujian penyembahan yang sangat indah. Dalam suasana itulah, hati kita—roh dan jiwa, serta tubuh—benar-benar dapat merasakan, bahkan melihat dan mendengar Tuhan sendiri ada bersama-sama kita.
                Malam tahun baru di rumah keluarga besarku, kami sekeluarga duduk melingkar di atas tikar pandan yang hangat. Setelah mendengarkan renungan dari seorang saudaraku, tibalah saatnya untuk bersaat teduh. Dengan mantap, aku memainkan musik lembut untuk membantu saudara-saudaraku merenungkan isi firman Tuhan yang disampaikan. Jemariku dengan lancar menari-nari menekan nada-nada merdu yang meneduhkan. Dan tanpa kutahan-tahan, aku bersenandung mengikuti alunan nada itu. Hatiku terangkat dalam sukacita dan damai surgawi. Kudengar satu per satu anggota keluargaku pun turut bersenandung mengikuti irama dan musik yang lembut. Meskipun tanpa lagu khusus, kami masing-masing mengangkat pujian spontan dari hati masing-masing. Maka, terciptalah musik penyembahan yang maha indah dalam balutan kesederhanaan.

                Tak satu pun yang ketinggalan dalam alunan penyembahan malam tahun baru itu. Tak satu pun yang pulang dengan sia-sia. Semua mendapatkan berkat dan rahmat yang tiada terhingga. Wajah-wajah penuh syukur dan pengagungan menghiasi ruangan. Aku percaya, malaikat-malaikat pun ikut bersenandung bahagia melihatnya. Terlebih lagi Tuhan yang menerima ungkapan syukur, doa, dan pujian itu. Maka, aku pun bersyukur atas segala yang ada dalam hidupku. Tak sia-sia aku menghidupi namaku, Puja. Rahayu. Ning Tyas. Pujian, damai sejahtera, di dalam hati yang bening. ***

Tidak ada komentar: