Senin, 12 Januari 2015

Senyum Intan

“Bu Sum, jika ada waktu, bisakah saya bertemu siang nanti sehabis pelajaran agama? Saya sudah tidak kuat lagi. Hidup saya sepertinya sudah tidak berharga lagi –Intan L. Kencana”
                Itulah sepenggal surat yang kubaca suatu pagi. Intan adalah seorang muridku dalam mata pelajaran agama Kristen di SMP tempatku mengajar. Aku sangat suka memperhatikannya saat aku mengajar di depan kelas. Kulihat Intan selalu tersenyum memperhatikan pelajaran yang kusampaikan. Senyumnya manis dan membuatku tambah bersemangat. Tapi senyum itu menghilang beberapa waktu entah mengapa.
                Suatu ketika aku menyapa Intan seusai pelajaran, “Halo, Intan! Apa kabar? Kok tidak tersenyum seperti biasanya?” Intan hanya membalasku dengan senyuman hampa. Tatapannya seperti menyimpan kesedihan yang mendalam.
                “Baik, Bu Sum. Selamat siang,” ia menjabat tanganku tanda berpamitan. Tidak ada kata, tidak ada cerita. Aku pun semakin penasaran, ada apa gerangan dengan murid yang kusayangi ini?
                “Ya Tuhan, tolonglah hamba untuk mengembalikan senyum anak-Mu Intan,” batinku menyerukan doa setelah Intan pergi dari hadapanku. Tuhan pun tidak terlalu lama menjawab doaku. Keesokan harinya, sepucuk amplop tertutup teronggok di atas meja kerjaku. Tidak ada nama pengirimnya. Kubuka dan kubaca surat pendek itu.
                Maka, siang itu seusai mengajar, aku menunggu Intan di ruang agama. Tidak sabar aku ingin bercakap-cakap dengannya, dari hati ke hati. Dari semua murid, Intan termasuk anak yang cerdas. Temannya tidak banyak, mungkin karena ia tidak pandai bicara ngalor ngidul. Namun sekali berbicara, banyak hal mendalam yang disampaikannya. Ibarat air, Intan bagaikan air yang tenang dan dalam. Menghanyutkan.
                Langkah kaki yang sudah kukenal itu membuyarkan lamunanku. Kupasang senyum tulus terbaik dan kusambut ia yang langsung duduk di hadapanku.
                “Selamat siang, Intan,” senyum menyertai pandangan simpatikku. “Senang sekali Bu Sum bisa bertemu dengan Intan sekarang. Mari, adakah yang hendak Intan sampaikan?”
                Intan tertunduk. Bahunya bergetar. Tidak ada kata yang terucap. Hening memenuhi ruangan. Rupanya ia menahan tangis.
                “Menangis saja, Nak, jangan ditahan-tahan,” tanganku menyentuh bahunya. Ingin rasanya kupeluk ia dengan penuh kasih. Naluri keibuanku mendorongku untuk merengkuhnya. “Mari, menangis saja di bahu Bu Sum,” maka akupun memeluknya. Intan menangis tersedu-sedu. Baju batik seragamku basah oleh air matanya. Tidak apa-apa, ini adalah risiko dari kasih.
                Lima belas menit berlalu. Intan sudah lebih tenang. Nafasnya masih sesenggukan. Aku menyodorkan berlembar-lembar tisu dan dihapusnya air dari mata dan hidung.
                “Sudah lega?” tanyaku dengan lembut dan penuh empati. Intan mengangguk satu kali.
                “Nah, Intan boleh lho bercerita apa saja. Bu Sum mendengarkan,” lanjutku.
                “Bu Sum jangan cerita ke siapa-siapa ya…” bisik Intan lirih. Aku pun berjanji.
Intan bercerita tentang masalah dalam keluarganya. Ayah Intan adalah seorang pemborong bangunan. Ibunya tidak bekerja formal di sektor publik, namun ia sangat rajin dan bertanggung jawab mengurus rumah tangga. Karena tuntutan pekerjaan, ayah Intan sering pergi ke luar kota bahkan luar pulau selama berminggu-minggu. Selama ini tidak ada masalah dengan itu karena ayah Intan mengkompensasikannya dengan oleh-oleh atau hadiah-hadiah cantik dan mahal. Setiap kali ayahnya pulang, ibu Intan menyambutnya dengan hangat dan mesra. Mereka berpelukan dan tidak malu mengekspresikan cinta di hadapan Intan. Intan sangat bahagia dengan keluarganya ini. Rasanya, hidup serasa di surga.
Namun, gambaran surga itu hancur seketika. Ayah yang sangat Intan kagumi ternyata berselingkuh dengan seorang pegawainya. Dan lebih jauh dari itu, sang ayah pun sudah mempunyai seorang anak dari hasil perselingkuhannya. Ibu Intan tidak dapat menerima hal itu. Perceraian mulai diajukan. Ayah Intan menetap di luar kota bersama wanita lain dan anak hasil hubungan mereka. Sedangkan Intan tetap tinggal di kota ini bersama ibunya. Ibu Intan pun mulai bekerja di sektor publik, tidak lagi hanya diam di rumah.
“Aku sedih, Bu Sum. Hancur sudah hidupku!” seru Intan sedih bercampur marah dan geram. “Keluargaku sudah seperti neraka. Aku benci ayahku. Kini aku cuma punya ibu.”
“Tenang, Intan. Kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Bu Sum, bukan?” hiburku. Aku sangat kaget mendengar penuturan Intan yang demikian gamblang.
“Semuanya sia-sia, Bu Sum! Buat apa aku juara kelas namun keluargaku hancur begini? Apa gunanya aku berprestasi tinggi tapi orang tuaku bercerai? Rasanya hidupku sudah tidak berarti lagi!” kembali Intan menumpahkan kemarahannya yang selama ini dipendam.
“Tidak ada yang sia-sia, Intan. Jangan putus asa, Tuhan tahu pergumulanmu,” aku berusaha membangkitkan optimisme Intan meskipun sepertinya sangat sulit. Kucoba mengingat-ingat ayat firman Tuhan yang tepat untuk saat itu.
“Bu Sum, aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Rasanya aku sudah tidak mau menghadapi hari esok. Sudah capek,” perkataan Intan ini membuatku terhenyak. Jangan-jangan ia akan melakukan tindakan nekad. Aku harus melakukan sesuatu.
Sejenak aku diam, menyerukan doa singkat nan darurat kepada-Nya, “Tuhan, tolong berikan hamba hikmat dan perkataan yang sesuai untuk menyemangati Intan. Amin.”
Sejurus kemudian, aku mendapat gagasan yang sepertinya baik. “Intan, mari kita berdoa bersama.”
Intan tampak kebingungan. Tapi ia tidak menolak. Maka aku memimpin doa bersama. Kugenggam kedua tangannya, kututup mataku, dan mulai memanjatkan doa.
“Bapa yang baik, di sini kami datang di hadirat-Mu yang kudus dengan membawa segenap pergumulan yang dialami oleh anak-Mu yang kekasih, Intan. Bapa, saat ini Intan sedang sedih karena masalah dalam keluarganya. Engkau tahu masalah apa itu. Ayah dan ibu Intan sedang dalam proses perceraian. Dan, Intan sedih karena hidupnya terasa sia-sia, tidak berharga lagi,” kumulai kalimat-kalimat awal dengan bahasa yang sederhana.
“Intan, sekarang akuilah perasaan yang ada dalam hatimu di hadapan Tuhan. Berdoalah dengan kata-katamu sendiri saat ini,” kugenggam tangan Intan lebih erat.
“Ya Tuhan…” suara Intan bergetar menahan tangis, “Aku mengaku saat ini sedang merasa sedih, marah, dan kecewa terhadap orang tuaku, khususnya terhadap ayahku. Aku marah karena ayah mengkhianati ibu dan meninggalkan kami. Aku marah terhadap ibu karena membiarkan ayah pergi dan memilih bercerai. Aku sedih terhadap diriku sendiri karena hidupku terasa tidak berarti.”
Aku melanjutkan memimpin doa, “Ya Bapa, inilah pengakuan anak-Mu yang Kau kasihi. Sekarang tirukan kata-kata Bu Sum, ya, Intan: ‘Ya Tuhan, saya mengaku bahwa saya telah terluka. Hati saya terluka oleh (sebut siapa yang telah melukai) yang telah (sebut perbuatan apa yang melukai). Maka saat ini, saya mengampuni (sebut siapa). Saya mengakui bahwa keinginan saya untuk membalas sakit hati saya ini adalah dosa. Saya bertobat. Ampunilah saya.’”
Kudengar Intan mengikuti doa itu kata demi kata dengan sedikit terbata-bata. Memang berat mengampuni orang yang telah melukai hati kita. Tapi kita harus melakukannya karena jika tidak, maka kita pun tidak diampuni. Sebab, demikianlah prinsip kebenaran firman Tuhan dalam hal pengampunan. Pembalasan adalah hak-Nya. Sekali-kali kita tidak boleh menuntut balas atas perbuatan orang lain yang telah melukai kita.
Dan inilah bagian yang paling mendebarkan. “Ya Tuhan, mari nyatakan kepada Intan peristiwa apa dalam keluarganya yang pertama kali membuat Intan terluka. Mari, Roh Kudus, nyatakanlah itu kepada Intan.” Aku diam, Intan pun diam. Kami sama-sama menunggu.
Aku membuka mataku dan kulihat ekspresi wajah Intan. Beberapa menit kemudian, ada perubahan dalam air mukanya. Intan tampak meneteskan air mata. “Adakah sesuatu yang Roh Kudus nyatakan saat ini, Intan?” Intan mengangguk pelan.
“Apakah itu?” tanyaku. Suasana doa masih melingkupi kami berdua.
“Aku diingatkan ketika ibu menangis di kamar sendirian. Waktu itu ibu baru tahu kalau ayah selingkuh. Aku tidak tahu harus berbuat apa,” kata Intan dengan mata yang masih terpejam. “Aku merasa duniaku hancur saat itu juga. Aku tidak bisa berpikir. Semuanya terasa seperti mimpi buruk.”
“Baiklah, mari kita berdoa lagi,” aku kembali memegang tangan dan bahu Intan dengan lembut. “Ya Tuhan, saat ini kami minta Engkau mengobati luka yang terjadi saat Intan melihat ibunya menangis sendirian di kamar. Kami minta Engkau menyatakan saat itu kepada Intan, apakah yang menjadi isi hati-Mu. Kami mohon,” kembali terjadi keheningan. Kami menunggu.
Beberapa waktu berlalu, kulihat ekspresi wajah Intan melembut. Air mata masih menetes di kedua pipinya. Namun kali ini kulihat ada tarikan bibir ke samping yang membentuk senyuman manis.
“Adakah yang Tuhan nyatakan saat ini, Intan?” aku masih terpesona melihat senyuman Intan yang luar biasa indah itu.
“Ya… aku seperti mendengar ada yang mengatakan, ‘Jangan takut. Ini Aku. Aku selalu menyertaimu’”. Senyuman itu masih ada di sana, begitu manis dan lembut. Hadirat Tuhan yang penuh kasih terasa dengan amat kuat.
“Sungguh kami amat bersyukur pada-Mu, Ya Bapa, yang maha kasih dan maha kuasa. Terima kasih untuk apa yang telah Engkau nyatakan dalam diri Intan. Betapa luar biasa penyertaan-Mu, Bapa, terutama dalam saat-saat tergelap hidup Intan. Mari, Roh Kudus, saat ini teguhkanlah iman anak-Mu ini supaya dapat terus tegak berdiri menjalani hidup. Sebab hidupnya adalah sangat berharga di hadapan-Mu. Kami serahkan dan naikkan doa ini di dalam nama Tuhan Yesus, penebus dan juruselamat kami yang hidup. Amin.”

Itulah saat-saat terindah yang kukenang bersama Intan Luh Kencana puluhan tahun yang lalu. Saat ini aku sudah pensiun. Dan salah satu kenangan indah tentang murid-muridku adalah saat aku berdoa bersama mereka, bersama-sama menanggung beban berat yang mereka rasakan. Intan adalah salah satu di antaranya. Saat ini ia sudah melangkah dalam terangnya hidup yang penuh harapan. Ayah dan ibunya telah bercerai, namun Intan tetap tegar dan tetap mampu tersenyum. Senyumnya bukanlah senyum yang dipaksakan. Senyum itu lahir dari hati yang telah mengampuni. Senyum itu pula yang mengantarnya menjadi seorang perempuan yang berbahagia dan sukses. Terpujilah nama Tuhan! ***

Tidak ada komentar: