Jumat, 09 Januari 2015

Cuci Piring Pagi Hari

Aku bangun jam setengah enam pagi lalu segera ke dapur. Kubuka kran, air sejuk mengalir membasahi kedua tanganku. Suara gemericiknya membuatku terjaga, demikian juga kesegarannya menghilangkan kantukku. Kulihat di bak cuci sudah banyak gelas, piring, mangkuk, sendok, dan garpu yang kotor bekas makan semalam. Rasa malas membayangi benakku. Kesal aku, mengapa harus aku yang membersihkan semua ini? Mengapa tidak dilakukannya sendiri? Mencuci piring adalah pekerjaan yang menyebalkan. Selalu!
                Setahun sudah aku hidup bersama suami yang kupilih dan disetujui oleh ayah ibuku. Setahun sudah aku menjalani rutinitas mencuci piring setiap pagi. Tidak pernah aku mendapati suamiku mencuci piring atau gelasnya sendiri. Padahal, dulu ketika pacaran, ia selalu menggembar-gemborkan untuk bisa bekerja sama dalam berumah tangga. Tapi mana buktinya? Ia membiarkanku melakukan pekerjaan yang tidak kreatif ini sendirian, sementara ia asyik browsing sendiri.  Aku ingin pekerjaan cuci piring yang membosankan ini cepat selesai sehingga bisa segera melakukan hal lain yang lebih menyenangkan.
                Ah, tinggal satu gelas dan satu piring lagi yang perlu dibilas. Tidak sabar aku ingin beranjak dari sini. Kudengar ia berjalan ke dapur, mungkinkah ia berniat membantu? Bruk! Ia menambahkan nampan, mug, poci, mangkuk, dan beberapa sendok garpu yang belum dicuci. Rupanya baru saja dipakai untuk minum kopi dan makan pagi ini. Kemudian ia pergi lagi, melanjutkan browsing. “Arrggghhh!!!” teriakku dalam hati.

Sepuluh menit kemudian…

                Selesai sudah kewajibanku mencuci piring. Rasa lega yang kudambakan memenuhi hatiku. Sekarang waktunya untuk menyeterika. Bertumpuk-tumpuk pakaian menjejali ember. Satu per satu aku menggosokkan seterika panas pada baju, celana, rok, dan pakaian-pakaian dalam. Kulipat rapi dan kususun menjadi satu tumpukan. Ini pun bukanlah pekerjaan yang kunikmati. Kembali anganku menerawang ke masa-masa sebelum berumah tangga.
                Dulu, dia dan aku sepakat membangun rumah tangga. Dia bekerja, dan aku di rumah. Tunggu, di rumah pun aku mengerjakan hal-hal domestik. Berarti, aku pun bekerja, bukan? Baiklah, aku ralat. Kami sama-sama bekerja. Dia di sektor publik, alias lebih banyak berhubungan dengan orang lain di luar rumah. Kami sepakat untuk membangun hubungan yang didasari nilai-nilai kerja sama, gotong royong, saling membantu. Tanpa pernah kusadari, bentuk kerja sama itu seperti apa.
                Dulu, kupikir kami akan sama-sama melakukan berbagai hal dengan gembira. Kupikir kami akan sering bersama menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sehingga tidak terasa membosankan. Ternyata, dia lebih sering pergi berurusan dengan klien-kliennya. Di rumah, dia sibuk browsing urusan pekerjaan yang adalah hobbynya itu. Sedangkan aku? Aku harus merelakan kesenanganku membaca dan menulis demi menyelesaikan hal-hal rutin yang membekukan pikiran. Adilkah ini?
                Setengah tumpukan baju selesai kurapikan. Masih setengahnya lagi. Kusemangati diriku yang bermandikan peluh karena gerah. Ventilasi di ruang setrika ini memang kurang, harus ada sedikit perombakan. Ini pun perlu dijadikan diskusi bersamanya. Semoga dia tidak terlalu sibuk malam ini.
Setahun berlalu dengan cukup menyenangkan bersamanya. Makin lama makin kulihat sisi-sisi negatif darinya yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Ia rupanya tidak sabaran manakala sedang dalam kondisi capek. Ia pun kurang peka terhadap perasaanku. Empatinya kurang. Buktinya, dibiarkannya aku melakukan hal-hal membosankan ini sendiri sementara ia bersenang-senang browsing.

Satu jam berlalu…

                Ia membelikanku nasi, lauk, sayur. Lumayan untuk makan pagi. Aku memang belum bisa memasak, dan entah kapan akan bisa. Sambil makan, aku memperhatikannya yang sedang bersiap-siap hendak pergi. Tampak bersemangat sekali pagi ini, seperti biasanya. Dicangklongnya tas hitam berisi peralatan, nyawa pekerjaannya. “Semoga lancar dan berhasil”, demikian doaku. Dalam diam kuhabiskan makanku. Kenyang. Syukur. Puji Tuhan.
*
                Rutinitas pagi seperti itu selalu berulang. Cuci piring, menyeterika, makan, minus memasak. Kemudian kami sibuk sendiri-sendiri. Ia di luar, aku di rumah. Kuhabiskan waktu yang ada dengan melakukan apa pun yang bisa mengangkat semangatku. Pokoknya jangan sampai terlalu banyak tidur saja. Begitu terus setiap hari. Bosan. Jenuh. “Tuhan, tolong aku. Bebaskan aku. Lakukanlah sesuatu. Ubahlah sesuatu,” seruku sungguh-sungguh.
                Esok pagi, aku masih cuci piring. Masih menyeterika. Masih minus memasak. Masih mengeluh. Tidak ada yang berubah.
                Esoknya lagi, masih cuci piring. Seterika. Minus memasak. Masih sama.
                Esoknya lagi.
                Lagi.
**
                Jam setengah lima pagi, aku bangun. Ia masih tertidur. Aku tersenyum memandanginya. Ia masih sama, aku juga. Kuteduhkan hatiku, kuheningkan pikiranku. Kusapa Dia yang selalu ada. Setengah jam berlalu dalam keheningan yang kudus.
                Aku melangkahkan kaki ke dapur. Kubuka kran air. Air mengalir sejuk membasahi kedua tanganku. Sejuk dan segar, membangkitkan semangatku untuk menyambut hari yang baru. Kulihat piring-piring, gelas, mangkuk, sendok, dan garpu yang kotor bekas makan semalam. Tersenyum aku melihatnya dan kumulai mencuci satu per satu. Satu demi satu kubersihkan dengan sabun cuci cair beraroma lemon. Hmmm, wangi. Bersih. Kubilas satu demi satu dengan penuh perhatian. Tidak terasa semua piring gelas mangkuk sendok garpu itu sudah selesai kucuci. Lega dan puas memenuhi hati sanubari. “Terima kasih, Tuhan, pagi ini indah sekali!” batinku sambil menyunggingkan senyum.
                Kulanjutkan dengan menyeterika baju-baju yang teronggok berjejalan di ember. Satu per satu kurapikan, kugosok, dan kulipat rapi. Kutumpuk menjadi satu, siap kumasukkan ke dalam lemari. Dalam hatiku ada nyanyian yang menyeruak ingin segera didendangkan. “Hari bahagia dalam hidupku, berjalan bersama-Mu, Yesus Tuhanku… Sebab Kau sertaku, selalu sertaku… Sepanjang hidupku… bahagia selalu… sertaku…” Tanpa terasa, semua baju celana rok pakaian dalam pun rapi tertumpuk. Puas, lega.
                Kulihat ia sudah membelikanku makan pagi. Nasi, sayur, lauk dan susu kedelai. Kumakan dengan penuh syukur. Kuperhatikan dia yang sedang makan juga di hadapanku. Lahap betul! Kusunggingkan senyum, mataku menyipit, ekspresi kebahagiaan murni. Ia pun membalas tersenyum. Betapa senangnya hatiku. Kulihat ia sudah bersiap-siap hendak menemui kliennya, entah yang mana dan di mana. Tas hitam kesayangannya tidak lupa dicangklongnya, nyawa pekerjaannya. “Semangat, semangat, sukses, sukses,” doaku dalam hati. Kuantarkan dia sampai di gebang depan. Dia pun berpamitan, melambaikan tangannya, dan pergi menyambut rejeki.
                Aku duduk bersandar di sofa ruang tamu. Kuhirup nafas sedalam-dalamnya. Kuhembuskan sambil menyebut nama-Nya. Kupejamkan kedua bola mataku. Konsentrasiku penuh akan kehadiran-Nya. Ungkapan syukur yang tak terkatakan memenuhi kalbuku. “Terima kasih, Tuhan! Engkau sungguh baik!” Tuhan telah menjawab doaku. Sekelilingku masih tetap sama. Aku masih mencuci piring, masih menyeterika tiap pagi, dan masih belum bisa memasak. Tapi satu hal telah berubah. Hatiku. ***



Tidak ada komentar: