Selasa, 24 November 2015

Pemahaman Baru tentang Bipolar: Desain Ulang Pola Pikir

Syukur kepada TUHAN untuk pemahaman baru yang kuperoleh mengenai diagnosis bipolar yang kusandang. Selama ini aku berpikir bahwa diagnosis bipolar ini adalah sebuah stigma yang membedakanku dari orang-orang pada umumnya. Dengan stigma tersebut, aku seperti sudah ditandai untuk menjadi objek tontonan dan pertaruhan antara TUHAN dengan yang bukan TUHAN. Dan aku pun menjalani kehidupanku setiap waktu dengan rasa waspada ekstra, berjaga-jaga penuh supaya tidak kalah dengan pihak yang bukan TUHAN. Pendek kata, bipolar bagiku adalah suatu beban yang harus kupikul sepanjang hayat. Kini, pandangan tersebut diperingan dengan satu pemahaman baru. Bipolar tidak lagi semata-mata menjadi beban bagiku. Bipolar menjadi semacam rahmat dalam penyamaran. Entah bagaimana, pikiranku terbuka untuk menyadari bahwa sebenarnya TUHAN sedang mendesain ulang pola pikirku dengan adanya bipolar itu.

Kesadaran ini berawal dari menyimak baik-baik obrolan para ibu Kalyca melalui fasilitas grup WA. Waktu itu, ibu-ibu Kalyca sedang membahas tentang sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya dibandingkan dengan sistem pendidikan yang dianut Kalyca. Intinya adalah sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya itu tidak berhasil membangun karakter manusia yang sejati. Sistem tersebut (yang sudah kualami sejak SD, SMP, SMA, dst) hanya mencetak manusia-manusia penghafal yang tidak paham konsep ilmu pengetahuan. Lebih parah lagi, sistem tersebut telah menghasilkan manusia-manusia yang berorientasi pada hasil akhir tanpa menghargai prosesnya. Sebagai contoh, nilai rapor yang bagus, ranking di kelas, nilai-nilai A, IPK tinggi, jabatan/status mentereng, penghasilan selangit tanpa disertai proses pencapaian yang benar. Sudah umum diketahui bahwa siswa mencontek, sekolah membocorkan soal ujian nasional, mahasiswa titip absen, dosen plagiat, pejabat korup, dll itu adalah akibat dari pembiasaan dan pembiaran dalam sistem pendidikan. Sedangkan manusia yang jujur, adil, kritis, dan berani membela kebenaran malah diasingkan, dicibir, dihina, bahkan sampai dihabisi kariernya, reputasinya, nyawanya. (Ibu-ibu Kalyca tidak sampai membicarakan hal-hal yang disebut terakhir, hanya saja pembicaraan mereka membuatku berpikir sampai ke situ).

Aku yang tumbuh dan berkembang di bawah sistem pendidikan konvensional ala Orde Baru ini pun menjadi buktinya. Masa-masa TK tidak begitu kuingat, tapi sepertinya aku tidak mengalami masalah. Masa-masa SD mengenalkanku pada sistem rangking, sepuluh besar, lima besar, juara umum, EBTANAS, NEM. Aku bahkan berkesempatan untuk mengikuti lomba-lomba seperti LCT P4 dan matematika. Sampai SMP, aku pun masih menjalani pola yang sama. Belajar keras untuk menjadi dan mempertahankan gelar juara kelas sudah menjadi makanan sehari-hari. Dengan itu semua, aku merasa layak dipandang sebagai anak pintar. Tapi tetap saja ada satu kekosongan dalam hatiku. 

Masa-masa SMA adalah awal masa pembalikan prioritas. Sejak kelas dua, aku sudah tidak lagi mengejar prestasi akademik semu. Lulus ujian SMA pun aku tidak lagi ada di jajaran sepuluh besar. Rasanya aneh memang, dan aku sempat sedih karena seperti ada yang hilang yaitu penghargaan dari orang-orang. Kemudian masuk kuliah, mulailah benturan itu terjadi. Aku yang masih belum bebas dari pola pikir lama, yaitu harus menjadi nomor satu secara akademis, harus menyerah di bawah tangan TUHAN yang kuat. Aku harus melepaskan keinginan untuk terus menjadi yang terhebat secara akademis. Banyak pergumulan dalam hati dan pikiran yang membuatku lambat menyerap informasi dari para pengajar. Masa-masa itulah aku mengalami goncangan jiwa yang parah. Waktu itu istilah bipolar belum sepopuler sekarang. Jatuh bangun kualami. Pasang surut naik turun suasana hati kulewati. Aku merasa marah pada siapa pun, mungkin juga pada TUHAN. Aku merasa ditinggalkan. TUHAN pun tidak menyatakan apa-apa. Bingung dan hilang arah kualami. Namun entah bagaimana, ini pasti karena anugerah TUHAN, aku bisa juga lulus dan menyandang gelar dokter. Tentu saja dengan tetap menjaga kondisi supaya tidak jatuh lagi dalam ekstrim manik ataupun depresi. 

Setelah bekerja dan berkeluarga, pelan-pelan aku mulai belajar dan menikmati proses belajar itu. Aku tidak lagi dihantui keharusan untuk menjadi yang nomor satu. Aku belajar untuk tidak lagi memandang sesama rekan sejawatku sebagai pesaing. Aku belajar untuk berani mengeluarkan pendapat dan berdiskusi alih-alih diam atau pura-pura tahu. Aku belajar bahwa hidup itu adalah proses pembelajaran terus-menerus yang tidak akan pernah berhenti oleh lembar ijazah. Dalam dunia pekerjaan pun, aku menyadari bahwa senantiasa belajar itu sangatlah penting. Jika aku lupa belajar, maka aku akan tergilas dalam arus mengejar uang, status, jabatan, dsb. Maka, kutemukan bahwa passion atau hasrat hidupku sebenarnya adalah belajar, bukan semata-mata mengejar predikat semu. Dan dengan hasrat belajar itu, kutemukan kesadaran bahwa hidupku sungguh berharga. Seluruh aspek hidupku sangat berharga di mata TUHAN, termasuk terdiagnosis bipolar itu. 

Jika kurenungkan baik-baik, maka dengan terdiagnosis bipolar, aku semakin menyadari betapa baiknya TUHAN itu. Mungkin jika aku tidak sampai jatuh bangun dalam bipolar, aku akan menjadi lebih baik lagi. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa meskipun harus mengalami bipolar, aku tetap bisa menyatakan bahwa TUHAN baik. Kebaikan-Nya bagiku itu tampak dari cara-Nya menyadarkanku akan kekeliruan pola pikirku. Pola pikir lamaku yang terbentuk oleh sistem pendidikan yang dulu telah, sedang, dan akan terus dirancang ulang menjadi pola pikir yang baru sesuai dengan kehendak-Nya yang mulia. Dengan kesadaran demikian, aku tidak lagi memandang diagnosis bipolar sebagai stigma atau beban hidup yang memalukan. Sebaliknya, aku beroleh pemahaman bahwa semua yang terjadi itu adalah seturut dengan kehendak TUHAN yang mahabaik. Oleh karena itu, sekali lagi aku bersyukur atas segala rahmat dan anugerah-Nya yang tidak terkira. Haleluya. Shalom!


Tidak ada komentar: