Senin, 25 Juli 2011

Habis Nonton The King's Speech, Ini Dia Oleh-olehnya... ^^

The-Kings-Speech_featuredHabis nonton film The King's Speech. Minjem di rentalan. Lebih tepatnya: dipinjemkan Mas Cah. Makasih, mas Cah ^^... Karena suasana menonton yang kurang kondusif, di mana fisik yang terlalu lelah sehingga terkantuk-kantuk dan kurang konsentrasi, serta orang-orang satu rumah yang ternyata tidak ada yang kepingin nonton film ini, maka dengan sedih hati aku kurang bisa menghayati film ini dengan baik. Padahal katanya film ini baguuuus sekali. Ya, menurutku juga bagus sekali. Ceritanya sederhana dan menarik. Tentang Duke of York, yang kemudian menjadi King George VI, yang memiliki keterbatasan dalam berbicara di depan umum. Gagap, itulah masalah beliau. Zaman segitu belum ada siaran televisi global, dan sepertinya siaran televisi nasional pun belum ada. Yang ada baru siaran radio. Alkisah, Duke of York diharuskan membacakan pidato di depan publik. Namun sayang, gagapnya itu membuatnya tidak mampu berkata-kata. Sehingga, sang istri dengan tekun dan sabar membantu mencarikan solusinya. Setelah cari sana cari sini, ketemulah seorang ahli terapi wicara yang nyentrik. Metodenya lain dari yang lain. Untuk mengetahui bagaimana cara sang terapis memberikan terapi untuk sang pangeran gagap, silakan menonton sendiri filmnya. Singkat cerita, sang pangeran yang sebenarnya bukan putra mahkota ini, harus menggantikan sang kakak naik tahta karena sang kakak ternyata lebih memilih menikah dengan janda cerai. Mohon dimaklumi, raja Inggris juga adalah kepala gereka Anglikan, sehingga sangatlah wajar jika sang kakak yang adalah raja harus mengundurkan diri sebab tidak sesuai dengan aturan gereja. Maka, jadilah sang pangeran gagap ini naik tahta menjadi King George VI. Adegan klimaks film ini adalah ketika sang raja yang sudah tidak gagap (thanks to sang terapis) harus memberikan pernyataan perang melalui radio di seluruh negeri. (Waktu itu adalah menjelang perang dunia kedua). Dan adegan klimaks inilah yang sepertinya disebut sebagai The King's Speech itu. Untuk lebih jelasnya silakan menonton sendiri filmnya. Maaf, saya tidak pandai bercerita.

Ada beberapa hal menarik yang cukup berkesan dari film ini. Saya menonton film ini karena ingin berefleksi diri, sehingga mungkin apa yang saya dapatkan ini cuma cocok untuk diri saya sendiri. Mohon maaf bagi yang bingung dan bosan. Yang pertama, adalah tentang kegagapan. Saya merasa diri saya senasib dengan Duke of York atau King George VI. Meskipun secara literal saya tidak gagap dalam bicara, saya merasa diri saya gagap dalam berkomunikasi. Kurang luwes, begitu. Dan sama seperti Duke of York membutuhkan ahli terapi wicara, demikian juga saya membutuhkan tidak hanya satu ahli terapi berkomunikasi. Dalam hal ini, yang lebih utama adalah komunikasi nonverbal. Saya pernah ditegur tentang bahasa tubuh saya yang kurang ekspresif. Syok dan agak down juga mendengarnya. Tapi sekarang saya sudah merasa jauh lebih mendingan. Saya masih terus berusaha dan belajar untuk meluweskan bahasa tubuh saya karena bagaimana pun juga bahasa tubuh saya berbicara lebih keras daripada bahasa verbal.

Kedua, tentang sang terapis. Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh sang terapis. Meskipun bukan dokter ahli jiwa yang sungguhan, sang terapis ini melakukan tugasnya dengan amat baik. Bahkan jauh lebih baik daripada ahli terapi yang resmi. Yang mendorongnya untuk menolong orang lain adalah hatinya yang dipenuhi passion. Pengalaman dalam perang dunia pertamalah yang membuatnya mampu untuk menolong orang-orang yang kesulitan berbicara akibat trauma masa lalu. Dan mungkin bukan kebetulan saya menonton film ini, karena saya pun punya passion juga untuk bisa menjadi seorang ahli terapi jiwa... yah, mirip-miriplah dengan terapi wicara yang ada di film ini. Saya berangan-angan untuk bisa membantu orang-orang yang mengalami guncangan jiwa itu bukan melulu menggunakan obat-obatan kimia ataupun terapi kejang listrik seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli jiwa secara konvensional. Saya lebih ingin mengembangkan terapi dalam bentuk "ngobrol". Saya ingin para pasien nanti bisa mencurahkan isi hatinya dengan sebebas-bebasnya tanpa perlu takut dianalisa begini begitu, tanpa perlu takut akan diberi obat-obat penenang yang melumpuhkan kreativitas mereka. Karena menurut saya, obat-obat dan terapi yang ada itu hanya mengatasi gejala fisiknya saja sedangkan masalah sebenarnya, yaitu masalah jiwa dan rohani, masih belum terselesaikan. Mecontoh tokoh sang terapis di film The King's Speech, saya akan mengembangkan sikap hati yang penuh passion dan compassion dalam membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan saya. Biarlah pengetahuan dan pengalaman saya dapat menjadi alat yang tepat untuk membantu mereka menemukan jalan keluar dari masalah yang membelenggu mereka.

Ketiga, saya sangat terkesan dengan persahabatan antara King George VI dengan sang terapis. Yang namanya persahabatan, pastilah indah (jika Tuhan Yesus beserta). Dan dalam film ini, sungguh tampak begitu indahnya persahabatan yang terjalin. Ada canda, tawa, humor-humor segar, dan ada juga kesal dan marah-marah. Hubungan yang tanpa ada tendensi macam-macam, hanya mengharapkan yang terbaik bagi yang lain. Persahabatan seperti inilah yang patut dicontoh. Meskipun Duke of York sudah menjadi King George VI, sikapnya tidak berubah terhadaap sang terapis. Tetap menghormati dan tahu berterima kasih. Sang terapis pun tidak memanfaatkan hubungan persahabatnnya dengan raja untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Baru tiga hal itulah yang bisa saya bagikan di sini. Tidak rugi saya menonton film ini. Apalagi gambar dan suaranya pun sangat-sangat cantik. Back sound piano klasik yang lembut dan sederhana mengalun mengiringi jalannya cerita, membuat suasana menjadi tambah syahdu. Memang film ini tidak berhiaskan gebyar-gebyar special effect ala film-film hollywood kebanyakan. Tetapi bagi saya, film ini sungguh punya nilai lebih. Mungkin saya akan menonton lagi film ini lain waktu. Dan saya akan menggali lebih lagi tentang latar belakang cerita film ini. Sehingga, ke depannya saya dapat mengambil pelajaran berharga lebih banyak sehingga saya dapat berbagi lebih banyak pula.

Tidak ada komentar: