Rabu, 20 Februari 2013

Doa bagi Kota Tercinta


Saya masih ingat, waktu itu saya masih kelas satu SMP. Suasana negeri terasa sedemikian mencekam. Isu-isu akan adanya pembakaran atau perusakan rumah-rumah ibadah menghantui kota-kota di Indonesia, termasuk kota di mana saya tinggal, Yogyakarta. Kerusuhan-kerusuhan dimulai dengan peristiwa penyerbuan markas sebuah partai politik pada tanggal 27 Juli 1996, menyebar ke Situbondo (meskipun mungkin tidak berhubungan secara langsung), Surabaya, Kerawang, Rengasdengklok, Pekalongan, Tasikmalaya, dan Kalimantan Barat. Suasana sungguh kelam dan mencekam.
                Yang masih menjadi ingatan yang sangat membekas adalah waktu itu, ketika masih pelajaran agama, seorang kakak kelas dengan gaduh menangis mengabarkan berita buruk. Waktu itu internet belum seperti sekarang, baru beberapa orang saja yang bisa mengaksesnya. Ia, sang kakak kelas (mbak Tina), dengan sesenggukan melapor ke Bu Indarti (guru agama SMP 5) tentang isu bahwa Yogyakarta akan segera bernasib sama seperti Situbondo dll. Kami yang masih dalam suasana belajar tentu saja kalang kabut. Dengan sigap, Bu Indarti menenangkan kami. Dengan tenang meskipun bercampur emosi juga, beliau segera mengajak kami semua berdoa. Doa yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu diiringi ratap tangis karena ketakutan. Kami semua sepakat memohon supaya Tuhan melindungi kota Yogyakarta tercinta.
                Tidak berselang lama kemudian, saya diajak kakak sepupu saya (mbak Etta—sekarang Bu Siswadi ^^), untuk menghadiri suatu acara semacam persekutuan doa. Lokasinya saya ingat betul, di gedung pertemuan GKJ Gondokusuman Sawokembar. Ternyata di sana sudah banyak berkumpul kakak-kakak kelas saya. Dalam acara tersebut, kami bersatu hati berdoa memohon belas kasihan TUHAN bagi kota tercinta, Yogyakarta. Lagu yang menjadi theme song adalah lagu berjudul “Doa bagi Kota Tercinta”. Begini syairnya:
Kami sujud di kaki-Mu, merendahkan diri
Bersatu dengan tangis-Mu, bagi kota tercinta
Biar belas kasih-Mu, Bapa, kian  bertambah nyata
Dicurahkan atas kami, lawatlah umat-MU
Ampunilah, s’lamatkanlah, pulihakanlah kota tercinta
Sinari dengan terang kasih-Mu, dengar doa kami
               
Sungguh ajaib dan luar biasa. Yogyakarta sampai hari ini tidak pernah diberitakan mengalami kerusuhan berskala besar seperti halnya Jakarta (Mei 1998) ataupun kota-kota lainnya. Dengan tidak bermaksud menyombongkan diri, Yogyakarta memang istimewa. Istimewa dalam hal apa? Istimewa dalam hal anugerah TUHAN atas kota Yogyakarta berupa keamanan dan kenyamanan. Saya percaya ini semua salah satunya karena kesungguhan dan kesatuan hati umat TUHAN yang bersatu padu bergotong royong menyengkuyung acara doa bersama demi keamanan kota ini. Saya percaya kegerakan doa ini bukan hasil pemikiran atau kecakapan manusia, melainkan murni dari hati dan pikiran TUHAN melalui anak-anak-Nya yang rindu. Rindu kepada apa? Rindu kehendak TUHAN jadi di bumi seperti di surga, di Yogyakarta dan di Indonesia seperti di surga. Dan sejarah telah membuktikan bahwa hal ini tidak mustahil terjadi. Yogyakarta dikenal sebagai city of tolerance, kota yang penuh toleransi, sampai saat ini. Jika Yogyakarta aman, maka Indonesia pun boleh bernafas lega. Tidak heran jika Yogyakarta disebut pula sebagai barometernya keamanan Indonesia. Oleh karena itu, kita patut bersyukur.
                Satu hal lagi yang kita rindukan yaitu supaya Yogyakarta menjadi city of God, kotanya Tuhan. Bagaimana supaya hal ini terwujud? Tidak lain dan tidak bukan yaitu dengan sekali lagi nyengkuyung doa yang sungguh-sungguh bagi kesejahteraan kota kita. Tidak harus dengan skala massal, karena kemungkinan akan digerebek polisi ^^, cukup dengan masuk ke kamar (atau ke tempat khusus, yang penting tidak pamer, dan cukup diketahui TUHAN), kunci pintu, dan berdoa syafaat. Apa yang perlu didoakan? Nah, semoga formulir kecil ini dapat membantu kita. ^^

Kota di mana saya tinggal: ____________________________________________________
Nama walikota/bupati saya: ___________________________________________________
Hal yang tidak saya sukai mengenai kota ini (kemacetan, dll): ________________________
                ___________________________________________________________________________
Bagaimana saya melihat hal ini sebagai kesempatan untuk melayani kota saya:
                ___________________________________________________________________________
                ___________________________________________________________________________
DOAKAN!
·         Pemerintah dan para pimpinan kota lainnya (Gubernur, Walikota, Camat, Lurah, RT/RW dll) agar hikmat dan takut akan TUHAN ada dalam kehidupan mereka.
·         Keamanannya (angka kriminalitas menurun, tidak ada perpecahan dan kerusuhan), kestabilan ekonomi, dan kesejahteraan kota secara umum.
·         Gereja dan para pemimpin Kristen di kota kita, agar mereka mempunyai hikmat dan kesempatan untuk mengabarkan kabar baik dan menegakkan kerajaan TUHAN di kota kita.

Daftar Kepustakaan:
·          Jimmy B. Oentoro, City of Praise/Kota Pujian, Harvest Publication House, Jakarta, 2003

(ditulis oleh dr. Mimi sebagai bahan pelayanan literatur dalam Persekutuan Keluarga Murakabi GKJ Gondokusuman Sawokembar Yogyakarta di Ladang Anggur TUHAN, hari Rabu tanggal 20 Februari 2013)

Tidak ada komentar: