Rabu, 20 Februari 2013

Sabar


Kasih itu sabar (1 Korintus 13:4a)

                Bahasa Inggris dari kata sabar kita kenal sebagai patient. Bukan kebetulan bahwa kata ini, patient, berkorelasi atau berhubungan dengan kata “pasien” dalam konteks rumah sakit. Kita mengenal kata “pasien” sebagai orang yang mempercayakan dirinya untuk diperiksa oleh dokter, untuk mengetahui apakah dirinya sehat atau sakit. Kegiatan yang paling jamak kita jumpai diakukan oleh pasien adalah menunggu. Entah itu menunggu waktu untuk diperiksa, menunggu dipanggil perawat, menunggu hasil pemeriksaan, menunggu waktu rawat inap, menunggu kapan diperbolehkan pulang oleh dokter, dan lain sebagainya. Dalam kegiatan menunggu itulah diperlukan apa yang dinamakan sebagai ‘sabar’. Sabar menunggu. Sabar menanti kepastian.
                Bukan hanya pasien yang memerlukan kata ‘sabar’ dalam keseharian mereka. Para perawat pun sangat akrab dengan kata ini. Mereka harus sabar saat dikomplain atau digerutui pasien yang sudah kehilangan kesabaran dalam menunggu. Mereka harus pula sabar saat berhadapan dengan dokter yang tidak simpatik manakala disapa atau dikonsuli (dimintai pertimbangan mengenai masalah medis). Dokter pun tidak luput. Dokter harus sabar menghadapi para pasien yang lambat mengerti keterangan yang mereka sampaikan. Belum lagi jika dikejar ketakutan manakala terjadi kesalahan tindakan, karena zaman sekarang masyarakat sudah pintar dan cerdas sehingga para dokter dituntut untuk lebih bijaksana dalam bersikap.
                Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? Mari kita berkaca pada teladan Tuhan kita Yesus Kristus. Ketika Ia disiksa dan disalibkan, pernahkah kita dapati—baik di dalam Alkitab maupun dalam film seperti The Passion of The Christ—Tuhan Yesus mengeluh atau berteriak kesakitan? Tidak, bukan? Sebaliknya, Ia selalu bersikap sabar. Segala kesakitan dan kepedihan ditanggung-Nya sendiri dengan sabar. Ya, sabar. Bagaimana dengan keseharian kita? Setiap kali ada orang—entah itu dokter, perawat, pasien, atau pekarya lainnya—yang bersikap kurang simpatik kepada kita, marilah kita bersikap sabar seperti Tuhan Yesus telah memberi teladan luar biasa itu. Ya, sabar...

KASIH ITU SABAR
IA SABAR MENANGGUNG SEGALA SESUATU

(disampaikan oleh dr. Mimi ketika membawakan renungan pagi di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta hari Rabu, 20 Februari 2013)

Tidak ada komentar: