Minggu, 17 Februari 2013

Presentasi Bak Tahta Pengadilan TUHAN


Siang ini, teman sekerjaku, dr. Yohan, mendapat tugas mempresentasikan kasus menarik dalam setting pelayanan gawat darurat. Dr. Yohan harus mempresentasikan kasusnya di depan Komite Medik, yaitu semacam dewan perkumpulan dokter-dokter dalam rumah sakit. Tujuan dari presentasi ini adalah terutama untuk menilai dan menguji apakah sang presentator sudah cukup menguasai permasalahan dan apakah ia layak untuk ditempatkan di IGD. Sudah dua setengah tahun dr. Yohan, begitu juga aku, berstatus sebagai pegawai kontrak di Rumah Sakit Bethesda. Dalam waktu dua setengah tahun itu, kami para dokter kontrak ini diwajibkan mengikuti rotasi di berbagai bagian dan jaga di IGD maupun Balai Pengobatan satelit untuk belajar mengenal tugas-tugas sebagai dokter umum dan mengetahui kompetensi apa saja yang harus kami miliki. Waktu dua setengah tahun pun berlalu dengan suka dukanya. Dan, inilah saat salah satu dari kami dinilai melalui presentasi kasus. Giliran dr. Yohan kali ini, yang pertama dari angkatanku.
                Dr. Yohan membawakan presentasi kasus berjudul “Perdarahan Cerebellum” (perdarahan otak kecil). Suatu kasus dari bidang saraf, sejenis serangan stroke. Dengan mantap, dr. Yohan memaparkan presentasinya. Persiapannya yang matang tidak mengecewakan. Ia berhasil menjelaskan kronologi pasien yang terkena serangan stroke itu dengan cukup jelas. Diceritakan bagaimana ia ketika berjaga di Balai Pengobatan (BP) Bethesda Wonosari harus menolong sang pasien tersebut. Dengan menilai cepat gejala dan tanda yang diderita pasien, dan dengan kepekaan intuitifnya, dr. Yohan dengan sigap segera memutuskan untuk merujuk sang pasien ke Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta yang peralatan dan sistem pelayanannya lebih lengkap. Berkat keputusan cepat dan tepat itu, dapat dengan segera diketahui adanya perdarahan di otak kecil pasien sehingga pertolongan yang tepat pun dapat segera diberikan. Setelah mondok beberapa hari, sang pasien pun kondisinya membaik dan dapat dipulangkan.
                Bagaimana proses pemeriksaan dan penanganan pasien stroke itu dipaparkan dengan cukup lengkap oleh dr. Yohan. Dan akhirnya, tibalah saat yang mendebarkan itu. Yaitu, saat memberi masukan dan komentar oleh para dokter senior. Ada yang mengomentari sistematika penulisan pemeriksaan fisiknya, ada pula yang mengomentari kekurangan-kekurangan yang ada, dan tidak ketinggalan pula pertanyaan-pertanyaan untuk menguji sejauh mana wawasan dan pengetahuan dr. Yohan. Puji Tuhan, dr. Yohan dapat menjawab dan menganggapi semua komentar dan pertanyaan itu dengan baik. Sungguh luar biasa persiapan dan perjuangan dr. Yohan!
                Meskipun bukan aku yang presentasi, aku merasakan tegang dan sedikit gugup. Bagaimana jika tiba giliranku nanti? Apakah aku juga bisa menjawab setiap komentar dan pertanyaan dengan baik dan lancar? Apakah aku bisa menguasai materi presentasi dengan baik? Kapankah waktuku tiba untuk presentasi? Berbagai pertanyaan yang tidak terucapkan sempat memenuhi hati dan pikiranku. Melihat jalannya presentasi dr. Yohan menimbulkan kesan yang mendalam dalam benakku. Gambarannya kok cukup mirip dengan proses penghakiman atau pengadilan Tuhan pada akhir zaman ya? Maksudnya? Ya, pengadilan Tuhan yang maha adil itu sepertinya bakalan terasa seperti tadi ketika dr. Yohan presentasi. Dalam pengadilan Tuhan, masing-masing kita akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan alasan kita melakukannya. Sama seperti dr. Yohan yang dicecar dengan berbagai komentar dan pertanyaan perihal kasus yang dipresentasikannya, demikian juga kita akan dicecar dengan berbagai standar kebenaran atas perbuatan dan alasan kita ketika pengadilan Tuhan itu tiba. Memang benar, kita yang sudah percaya, mengaku, dan hidup di dalam Kristus Yesus sudah mendapat jaminan keselamatan. Hidup kekal, dibenarkan oleh pengorbanan Tuhan Yesus. Tetapi tetap saja kita akan merasa seperti ditelanjangi dan malu manakala setiap dosa dan kesalahan kita dipaparkan di depan pengadilan Tuhan itu. Yang lebih mendahsyatkan lagi, yang menghakimi kita adalah Pribadi yang sangat mengenal kita dan kita pun mengenal-Nya, meskipun belum sempurna. Tidak ada satupun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Apa yang kita pikirkan dan rasakan pun diketahui-Nya. Ya, kita memang sudah dijamin selamat, hidup kekal di surga, karena Tuhan Yesus. Tapi, tetap saja kita akan merasa tegang di hadapan tahta pengadilan-Nya yang kudus. Sama seperti yang kurasakan ketika melihat dr. Yohan ketika presentasi itu. Bahkan, jauh lebih dahsyat lagi, sebab yang ‘mencecar’ kita nanti adalah TUHAN, Sang pencipta langit dan bumi.
                Sama seperti dr. Yohan yang harus mempersiapkan sungguh-sungguh presentasinya, meskipun tetap saja belum sempurna 100%, demikian juga kita hendaknya mempersiapkan hidup kita untuk menghadapi tahta pengadilan Tuhan. Kita harus siap mempertanggungjawabkan setiap pilihan hidup yang kita ambil. Kita harus siap memperlihatkan hasil pekerjaan kita masing-masing. Kita harus siap untuk dinilai dan dihakimi TUHAN yang maha adil. Rasa malu karena kesalahan yang tampak itu wajar. Namun, jika kita mau mengakui kekurangan dan kelemahan kita, serta dosa-dosa kita, maka kita akan beroleh pengampunan. Itulah anugerah TUHAN. Bagian kita adalah menerimanya dengan iman.
                Aku sangat bersyukur melihat proses presentasi dr. Yohan hari ini. Aku jadi terdorong untuk mempersiapkan diriku kelak jika tiba waktuku untuk presentasi kasusku sendiri. Bersiap untuk menampilkan pengetahuan, wawasan, dan kompetensiku di hadapan rekan-rekan sejawat senior. Dan perenungan tentang tahta pengadilan TUHAN itu pun cukup menyadarkanku untuk tidak main-main lagi dengan hidupku. Aku pun harus mempersiapkan diriku untuk berdiri mempertanggungjawabkan setiap aspek kehidupanku di hadapan-Nya kelak. Maranatha!
               
Bapa, terima kasih untuk pelajaran yang bisa kupetik hari ini dari apa yang kulihat dan kuarasakan. Kiranya Roh Kudus menolongku mempersiapkan diri menjelang hari akhir di mana aku akan berdiri di hadapan tahta pengadilan-Mu yang kudus itu, untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatanku dan setiap motivasiku. Haleluya. Amin.

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Jumat 14 Desember 2013)

Tidak ada komentar: