Selasa, 03 September 2013

Dunia Menanti Jawaban

Dunia ini penuh dengan misteri di balik berbagai masalah yang belum terpecahkan. Kebencian mewarnai sikap hidup manusia yang dicengkeram ketakutan akan hal yang tidak diketahuinya. Jawaban yang klise dan dangkal dari para manusia yang dipandang ahli dan "linuwih" itu membuat muak, bosan, dan menyuburkan apatisme. Kehausan dan kelaparan akan kebenaran yang sejati dan hakiki sedang melanda generasi manusia yang hidup di zaman akhir ini. Kegelapan semakin kelam, masa depan semakin suram. Dalam lembah bayang-bayang maut ini, terserulah jeritan minta tolong dari jiwa-jiwa yang sengsara, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku?" Jawaban yang sudah akrab itu bisa datang segera, tapi bisa juga lama setelah jiwa-jiwa itu kembali ke kekekalan.

Jeda waktu menunggu jawaban kadang dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang sudah hilang akal, kesabaran, dan pengharapan. Maka, muncullah ide-ide dan cita-cita yang meniadakan keabsolutan yang merupakan ciri dan hak TUHAN. Muncullah paham-paham, ideologi-ideologi, dan isme-isme yang mengenyahkan pengenalan akan TUHAN. Mereka menjanjikan jawaban semu yang kedengarannya manis bak madu tapi sesungguhnya penuh racun mematikan. Dibangkitkannya kebencian dan dendam kesumat menggantikan kasih dan keadilan. Cita-cita mereka adalah mendirikan kerajaan manusia yang bersimaharaja atas dunia dan segala isinya. Maka, sepanjang sejarah, muncullah kerajaan-kerajaan, kekaisaran-kekaisaran, negara-negara, ideologi-ideologi yang diwarnai dengan pertumpahan darah yang kejam. Bumi penuh oleh darah, kekerasan, dan kematian.

Sampai kapan? Sampai jawaban yang sejati itu tiba, terwujud dengan indahnya. Jawaban itu berkata, "Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya." Jawaban itu meneguhkan bahwa hanya pribadi TUHAN-lah sang pencipta yang mahakuasa, yang sanggup memberikan pertolongan itu. Dialah yang sanggup menjawab kebutuhan mendasar manusia akan eksistensi dan tujuan hidupnya di dunia ini. Dan, jawaban-Nya tentu lebih dari klise atau dangkal. Ia akan mengenyangkan dan memuaskan lapar dan dahaga manusia yang paling dalam. Kasih dan keadilan menjadi ciri utama kehadiran-Nya. Tidaklah sia-sia menantikan jawaban TUHAN itu. Pertolongan-Nya tidaklah terlambat tapi juga tidak terlalu cepat. Yang dibutuhkan di sini adalah kesabaran (baca: ketahanan) dalam berharap.

Tidak ada komentar: