Rabu, 03 September 2014

Doa: Ujian JKN

TUHAN, Bapaku yang penuh hikmat dan pengetahuan, di sini aku hendak mengutarakan kegelisahanku mengenai sistem JKN di Ladang Anggur-Mu ini. Begini. Sepengetahuanku, Ladang Anggur-Mu ini terkenal dengan  jiwa kasihnya sehingga dijuluki sebagai RS Toeloeng pada zaman dulu. Sampai sekarang, motto ‘Tolong dulu, urusan belakang’ masih terpampang jelas di tembok IGD. Memang, RS ini cukup dikenal karena cepat, sigap, dan tanggap dalam melayani pasien. Dan itu menjadi kebanggan kami para civitas hospitalia-Mu di sini.
        Namun, dengan adanya sistem JKN yang dicanangkan oleh pemerintah RI, kami mendapat tantangan yang cukup berat. Sistem JKN ini berorientasi pada azas pemerataan finansial, dan sepertinya bukan ada azas kesembuhan secara maksimal. Indikasinya adalah besarnya plafon yang ‘memaksa’ pihak RS khususnya swasta untuk meminimalkan standar pelayanan kesehatan. Selama ini, RS Ladang Anggur-Mu ini cukup nyaman dan tenang dengan standar pelayanannya yang dipandang cukup baik, manusiawi, dan relatif terjangkau. JKN membuat kami harus memutar otak lebih lagi supaya standar pelayanan tetap terjaga kualitasnya dengan pembiayaan yang mepet. Dalam hal jungkir baliknya civitias hospitalia, pasien dikondisikan (oleh aturan) untuk tidak mau tahu dengan apa yang kami alami. Seolah-olah, kami digencet dan dipasung oleh aturan BPJS yang terkesan tidak adil terhadap RS swasta.
        Di Ladang Anggur-Mu ini, aku mendengar dan melihat bagaimana kami para pekerja RS ini berjibaku sedemikian rupa supaya ekonomi RS tidak kolaps. Para dokter spesialis dipaksa untuk menurunkan standar pelayanan yang selama ini dilakukan. Para perawat dipaksa untuk mengawasi supaya jatah plafon tidak kebobolan. Para pekerja administrasi dipaksa untuk menjaga agar proses administrasi dan keuangan pasien JKN tidak semakin besar selisih negatifnya. Kelelahan itu semakin ditambah lagi dengan proses akreditasi RS yang memakan waktu, tenaga, dan biaya yang sangat besar. Aku mengamati bagaimana kondisi mental, spiritual, dan fisik pekerja-pekerja-Mu ini sedang direntangkan sampai batas-batas kemampuan.
        Sungguh, tanpa-Mu kami tidak tahu bagaimana solusi untuk setiap masalah yang kami hadapi karena sistem JKN ini. Kami memerlukan-Mu, TUHAN, untuk membimbing kami, untuk membuka pikiran kami, sehingga kami dapat melihat jalan keluar dari-Mu. Mohon ajari kami apa yang harus dan perlu kami lakukan saat ini, hari lepas hari, selangkah demi selangkah. Beri kami kesatuan hati, kerendahan hati, dan kemauan untuk belajar makin mengerti jalan-jalan-Mu. Mohon berikan roh hikmat dan kepandaian kepada kami masing-masing sehingga kami dapat bersama-sama memikul  beban tanggung jawab ini sehingga masalah-masalah yang timbul karena sistem JKN dapat kami hadapi dan selesaikan dengan baik seturut kehendak-Mu.
              
  Kami percaya, sistem JKN ini adalah satu batu ujian yang harus kami lalui bersama-Mu saat ini. Kami percaya, bahwa selama kami mencari wajah-Mu, mencari kehendak-Mu dalam setiap kebijakan dan keputusan yang kami ambil, penyertaan-Mu dan berkat-Mu berlimpah dan membuat semua orang yang melihatnya takjub sehingga menerbitkan rasa kagum, hormat, dan syukur kepada-Mu. Mari, TUHAN, ajar kami untuk tekun memikul kuk-Mu dan dengan sabar dan rendah hati terus melakukan bagian kami dengan setia. Terima kasih untuk ujian iman ini. Dalam nama-Mu, Yesus Kristus, kami berserah. Amin. 

Tidak ada komentar: