Senin, 01 Desember 2014

Yadi Si Dokter Galau

Perkenalkan, namaku Yadi. Komplitnya Suyadi. Jadul? Biarlah. Itu nama pemberian orang tuaku. Tidak akan  kurombak-rombak. Aku cukup bangga dengan nama pemberian orang tua karena bagiku, orang tua adalah figur wakil Tuhan di muka bumi, sehingga setiap pemberian mereka akan selalu  kuterima dengan ikhlas hati dan lapang dada. Aku hidup, tinggal, dan bertumbuh di sebuah kota paling nyaman di seluruh dunia—menurutku—yaitu Yogyakarta. Ya, nyaman. Nyaman bagi hatiku yang sedang dirundung galau ini, meminjam istilah populer anak muda zaman sekarang. Galau, sungguh galau memang. Bagaimana tidak? Aku harus merelakan istri terkasih pergi menuntut ilmu selama tiga tahun di negeri orang—bukan negeri binatang, tumbuhan, ataupun makhluk halus—di mana matahari dikatakan terbit di Asia, yaitu Jepang.
                Pasti kalian akan bertanya-tanya, bagaimana ceritanya sehingga makhluk galau seperti diriku  ini bisa menjadi sedemikian galaunya. Bagaimana bisa makhluk galau menjadi dokter, punya istri, lagi? Yah, panjang ceritanya. Tapi tidak terlalu panjang juga sih. Panjang atau pendek kan relatif. Aku kuliah di fakultas kedokteran di sebuah kota di Indonesia, tidak perlu kusebut namanya, malu. Di fakultas tersebut, aku bertemu dengan kekasih hatiku, yang saat ini sudah resmi menjadi isteriku. Kami adalah rekan satu angkatan. Aku lupa siapa yang menembak duluan, gak penting. Yang kuingat, tahu-tahu kami sudah jadian. Simpel, begitu saja. Kami pacaran selama kuliah. Tidak neko-neko memang, lurus-lurus saja. Maklum, aku adalah anak yang cukup alim karena bapakku adalah seorang hamba Tuhan. Iyalah, masa’ hamba setan? Serius, bapakku adalah seorang pendeta jemaat di kota kelahiranku. Mungkin karena pengaruh doa bapak yang mustajab, aku bisa melalui masa-masa perkuliahan disertai pacaran dengan sukses dan selamat. Yah, setidaknya selamat sampai memasuki jenjang pernikahan kudus di gereja. Selamat tanpa harus mengalami kecelakaan seperti yang banyak dialami rekan-rekan segenerasiku, generasi Y ini.
                Aku menikah tepat setelah disumpah menjadi dokter. Rani, isteriku, sangatlah beruntung. Ia lahir dari keluarga pendidik, alias dosen. Itu pulalah yang membentuknya sehingga ia pun berjiwa pendidik. Rani pernah curhat padaku bahwa ia merasa tidak cocok bekerja sebagai dokter klinisi. Ia lebih cocok berkutat dengan jurnal-jurnal dan penelitian. Maka, dengan bulat hati, dipilihlah jalur karier sebagai seorang peneliti. Setelah lulus jadi dokter, ia pun mengambil jenjang pendidikan selanjutnya yaitu setingkat S2 dan S3. Tidak tanggung-tanggung, ia memilih pergi ke Jepang. Konon, di sana ia merasa lebih nyaman dan sejahtera dalam belajar dan meneliti. Tidak seperti di sini, yang katanya sangat tidak nyaman karena banyak hal yang tidak relevan terjadi. Tidak usahlah kusebutkan, kita pasti tahu apa itu.
                Setelah Rani berangkat ke Jepang, aku luntang-lantung di kota kelahiranku ini. Sebuah pengumuman lowongan pekerjaan terpampang di gereja tempatku berjemaat. Bapak menyuruhku menerima lowongan tersebut. Lowongan itu adalah untuk tenaga dokter umum di sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota Jogja. Karena aku tidak punya rencana lain, maka  kusanggupi permintaan bapak itu. Tanpa ba bi bu, aku mendaftar dan diterima di sana. Maka, perjalananku sebagai seorang dokter galau pun dimulai.

Masa Orientasi
                Setahun pertama adalah masa-masa perkenalanku dengan dunia kerja. Sebagai dokter umum, aku ditugaskan untuk jaga di IGD. Karena baru saja lulus dan minim sekali pengalaman, aku masih harus bekerja di bawah supervisi dokter-dokter senior. Setahun aku menjalani masa-masa orientasi di rumah sakit. Seperti masa-masa menjadi dokter muda (istilah untuk koas saat ini), aku diharuskan menjalani stase-stase di masing-masing bagian. Aku harus mengikuti dokter spesialis yang ditunjuk oleh masing-masing bagian ke manapun mereka pergi selama dinas di rumah sakit. Selama mengikuti dokter spesialis, aku bebas tugas dari IGD. Ini adalah saat-saat yang menyenangkan namun kadang membosankan. Menyenangkan karena aku bisa berleha-leha sementara dari capeknya bertugas di IGD. Membosankan karena aku tidak melakukan apa pun yang cukup menantang secara intektual, hanya mengikuti ritme kerja para spesialis. Tidak banyak yang berkesan selama masa orientasi kerja ini. Paling-paling aku mendapat tambahan ilmu dan keterampilan yang bisa membekaliku untuk tugas jaga di IGD. Masa-masa ini, aku punya waktu yang cukup berkualitas dan berkuantitas dalam komunikasi dengan Rani melalui fasilitas chatting di media sosial dan kadang-kadang melalui Skype. Rani pun sempat cuti selama dua minggu dalam tahun orientasi itu, sehingga aku punya waktu berdua yang sangat spesial dengannya. Tidak perlu  kuceritakan ya detilnya, malu. Tapi aku harus berhati-hati supaya Rani tidak sampai hamil selama dia menjalani masa pendidikannya. Yah, inilah salah satu sumber kegalauanku. Tidak puas memang, tapi mau bagaimana lagi? Hiks hiks...
Jaga... jaga... jaga...
                Tahun kedua adalah masa-masa kawah Candradimuka bagiku. Aku  mulai dijadwal jaga di IGD secara semi mandiri. Pagi, siang, dan malam, tidak tentu setiap hari. Tidak ada hari libur. Tanggal merah pun aku sering tetap dijadwal jaga. Tidak jarang, rekan-rekan sejawatku yang juga sama-sama dokter junior memintaku tukar jaga dengan berbagai macam alasan. Yang mau ikut pelatihanlah, acara keluargalah, atau sekedar ingin istirahat. Karena aku tidak ada tanggungan keluarga, belum, maka aku pun selalu menyanggupi permintaan-permintaan itu. Ada untungnya juga aku dan Rani terpisah oleh samudera. Aku jadi leluasa untuk dijagakan. Ini untung apa rugi ya? Entahlah.
                Karena waktu kerja yang menggila, kesempatan untuk komunikasi dengan Rani menjadi berkurang. Apalagi, ada aturan baru yang melarang kami para karyawan menggunakan multimedia untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan selama jam kerja. Padahal, jam kerjaku bisa sampai 24 jam sehari, itu pun masih ditambah lembur pada hari libur nasional. Karena komunikasi yang kurang intens, aku kurang mendapat informasi tentang Rani dan apa yang sedang dikerjakannya. Setiap kali ada waktu istirahat,  kugunakan untuk tidur. Dan kalau waktu tidur sudah habis, aku pun kembali disibukkan dengan kerja pelayanan. Otomatis, tidak ada lagi waktu untuk chatting sampai puas. Sering, aku lebih memilih untuk tidur daripada chatting dengan Rani. Hal ini menyebabkan hubungan kami agak renggang. Kami mulai jarang berbagi cerita, curhat, ataupun saling menyemangati seperti biasanya. Rani semakin sibuk dengan penelitiannya, aku semakin lelah dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Badan remuk, hati pun lelah. Tahun ini Rani tidak pulang selama cutinya. Lengkaplah sudah kegalauanku. Maka, aku pun memilih untuk tidur lebih banyak. Mau bagaimana lagi?
               
Senior oh Senior
                Siang ini, aku mendapat teguran yang cukup keras dari seorang dokter senior supervisiku. Tidak tahu apa sebabnya, tahu-tahu doker tersebut menghardikku. Ia menegur ketika aku hendak pulang. Katanya, aku melakukan kesalahan fatal. Pasien yang kemarin kutangani kondisinya menurun. Kata sang senior, aku kurang melakukan tindakan yang dibutuhkan. Aku juga katanya lalai melaporkan kondisi yang seharusnya diwaspadai. Tanpa tedeng aling-aling, beliau menyebut segala hal yang seharusnya  kulakukan. Aku hanya bisa diam dan diam. Tidak tahu aku harus berkata apa. Untunglah, senior itu tidak menghardikku di depan rekan-rekan sejawat yang lain. Kalau tidak, entah apa jadinya. Pasti aku akan malu dan down berat. Mungkin aku akan depresi.
                Sesampaiku di rumah,  kurenungi apa-apa yang sudah  kulalui. Rasa terkejut dan malu masih menggelayuti hati dan pikiranku. Kesepian dan kesedihan karena jauh dari Rani pun semakin mendera. Aku tidak tahu harus apa lagi. Mau tidur kok rasanya tidak terlalu mengantuk. Mau mengajak Rani chatting kok belum waktunya. Saat itu pastilah Rani sedang sibuk-sibuknya dengan kegiatannya di laboratorium yang sejuk dan nyaman. Sungguh jauh berbeda dengan kondisi mirisku di sini. Kalau boleh memilih, ingin rasanya aku pergi ke Jepang untuk menemani Rani. Mungkin di sana aku bisa beroleh kelegaan sejenak dari penatnya kerja keras tiada henti.

Oase
                Hari-hari berikutnya, aku semakin tidak bersemangat untuk bekerja. Aku semakin sering datang terlambat untuk tugas jaga. Kesibukan di IGD berlalu begitu saja tanpa benar-benar kunikmati. Sejawat senior semakin sering mengomentari kekurangsigapanku. Tidak tahu mereka betapa galaunya diriku. Rekan-rekan sesama dokter junior masing-masing sibuk dengan tugasnya. Tidak ada lagi tempat berlabuh. Aku lelah. Capek. Ingin istirahat.
                Rupanya, dokter kepala IGD melihat kondisiku yang semakin tidak prima itu. Diberikannya izin supaya aku mengambil cuti sementara waktu. Kumanfaatkan saja kesempatan ini untuk berlibur ke Jepang menemani Rani. Di situlah kegalauanku memperoleh penawarnya.
                “Begitulah Dek Rani, yang aku alami selama hampir tiga tahun ini,” aku mengeluhkan semua itu sambil duduk di bangku sebuah taman yang terkenal oleh patung Hachikonya.
                “Wah berat sekali ya bebanmu, Mas. Seandainya aku bisa terus menemanimu di Jogja,” Rani memegang sebelah tanganku dengan lembut. Pandangannya ia arahkan sepenuhnya kepadaku dengan penuh simpati.
                “Yah, mau bagaimana lagi? Inilah risiko menjadi dokter yang melayani orang banyak.”
                “Sabar ya, sebentar lagi penelitianku selesai. Aku akan segera pulang dengan membawa oleh-oleh gelar PhD,” hiburnya dengan senyum termanis.
                “Selamat ya, Dek,” aku tersenyum.
                “Terus? Cuma itu?” alis mata Rani naik. Ia mengharapkanku mengucapkan sesuatu yang lebih.
                “Sementara itu dulu. Aku bingung mau bilang apa lagi. Stres aku, Dek. Pekerjaan gak ada habisnya. Tidur rasanya kurang melulu. Hancur badan ini,” nada bicaraku mulai meninggi.
                “Sabar, Mas. Tenang, sekarang nikmati liburan dulu. Jangan mikir pekerjaan. Santai. Di sini gak ada senior yang menjengkelkan, gak ada pasien yang rewel, gak ada jadwal jaga yang menggila.”
                “Susah, Dek. Di sana gak ada kamu. Aku harus pintar-pintar curi waktu hanya untuk jumpa di dunia maya.”
                “Hei, sekarang kan kita sudah ketemu di dunia nyata. Lihatlah sekitar kita, Jepang yang penuh dengan keramahan. Taman yang sederhana namun indah ini cukup untuk rekreasi dan refleksi, bukan?”
                “Ya, di Jepang sini semuanya serba teratur dan nyaman. Kesederhanaan yang penuh makna  terlihat di mana-mana. Orang-orangnya juga berbudaya. Mereka masih memegang nilai-nilai luhur tradisional di samping mengembangkan teknologi praktis yang sedemikian canggihnya. Tidak seperti di negeri kita, Dek. Di sana untuk antri saja susah, semuanya berebutan. Dunia kerjanya apalagi. Telikung sini telikung sana, senior menindas junior, junor harus pintar-pintar menjilat supaya posisinya aman. Belum budaya korupsinya yang sudah mengurat akar. Doh...”
                “Aduh Mas, jangan terlalu banyak mengumbar keluh kesah seperti itu. Lama-lama nanti jadi mengutuki diri sendiri lho. Cobalah melihat hal-hal baiknya.
                “Misalnya?”
                “Misalnya, kita masih bisa bernafas menghirup oksigen secara gratis. Coba bayangkan pasien-pasien yang harus pakai ventilator di ICU itu. Berapa rupiah mereka harus keluarkan setiap harinya? Belum lagi obat-obatan, jasa medis, dan tetek bengek lainnya. Masih sangat beruntunglah kita yang sehat dan bisa bekerja ini.”
                “Enak sekali kamu Dek bisa ngomong seperti itu. Di sini kamu tidak menjumpai ketegangan dan kelelahan seperti yang kualami. Tidak ada pasien yang tiba-tiba apneu, tidak ada jeritan kesakitan mereka yang cedera karena kecelakaan, tidak ada tekanan dari keluarga pasien yang panik. Sungguh beruntung kamu bisa bekerja dengan tenang.”
                “Di satu sisi bisa dibilang begitu, Mas. Tapi aku selalu ingat akan rekan-rekan sejawat yang lain, yang berjibaku di garis depan seperti di pelosok-pelosok negeri kita. Mereka mengandalkan pengetahuan medis seadanya untuk menolong masyarakat. Perkembangan dan kemajuan dalam dunia medis jarang mereka ketahui  kalau mereka tidak beroleh kesempatan untuk itu. Tugasku di sini adalah menjadi salah satu mata rantai ilmu pengetahuan untuk memberi jawaban atas permasalahan kesehatan yang ada di dunia, termasuk di negeri kita. Aku harus ingat itu semua, kalau tidak, aku bisa terlena dan lupa.”
                Sejenak kami diam merenungi kegelisahan masing-masing. Tidak kusangka ternyata Rani pun mengalami kegalauan yang tidak kalah beratnya dariku. Suasana taman di sekitar kami yang asri tidak berhasil membuat kami cukup berbahagia. Patung Hachiko yang menjadi maskot taman seolah turut merasakan kugundahan kami. Beruntunglah engkau, Hachiko. Engkau hidup dan mati dengan mulia dan terhormat, menjadi teladan kesetiaan yang tulus antara anjing dan tuannya. Engkau tidak dibingungkan dengan ironi dan paradoks tragis seperti yang kami alami. Sederhana sekali hidupmu yang penuh integritas itu.
                “Sudah sore, Mas. Ayo kita pulang,” kata Rani memecah keheningan syahdu itu.

                “Mari, Dek. Selamat tinggal, Hachiko. Sampai jumpa lagi,” aku menggandeng Rani dan melangkah dengan lebih santai. Memang tidak semua kerisauan hatiku terhapus, tapi aku cukup lega bisa mencurahkan isi hatiku bersama isteri tercinta ini. Terima kasih, Tuhan, untuk perjalanan yang penuh makna ini. 

Tidak ada komentar: