Minggu, 19 Juni 2011

Sekelumit Kesan Tentang Burung Burung Manyar ^^


Akhirnya roman "Burung-Burung Manyar" sudah selesai aku baca dengan seksama. Kesan yang kudapat? Awal-awalnya sih dimulai dengan keriangan dan kegembiraan yang penuh romantika. Kemudian di pertengahan cerita berjalan dengan penuh makna. Tidak terasa kalau perjalanannya panjang dan berliku karena Romo Mangun menuliskan alur ceritanya diselingi wawasan-wawasannya yang sangat dalam tentang kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat. Yang bikin cerita roman ini makin terasa dalam mengiris adalah akhir cerita yang menurut psikologi populer tidaklah happy ending, karena kedua tokoh utama (Teto dan Atik) tidak bersatu sebagai suami istri. Malah, salah satu di antara mereka "dimatikan" oleh Romo Mangun dengan indahnya.

Setelah membaca habis roman tersebut, aku cukup merasa kesepian. Jadi bertanya-tanya apakah itu juga yang dirasakan oleh Romo Mangun? Kesepian di tengah-tengah indahnya karya ciptanya. Memang indah dan manis kisah Teto dan Atik dalam roman ini, tapi sangat terasa sekali aura kesepian meskipun tidak diwarnai oleh nuansa kesedihan yang mengerikan. Semacam perasaan mendambakan sesuatu yang sangat dicintai tapi mustahil dimiliki. Yang sedih adalah orang lain yang melihat, bukan si pelakon itu sendiri. Ini apa ya namanya? Ironi? Bukan. Tragedi? Juga bukan. Memang betul tulis Romo Mangun, yaitu bahwa kisah-kisah cinta romantis yang happy ending hanya ada di roman-roman picisan. Dan terbukti bahwa "Burung-Burung Manyar" bukanlah roman picisan karena sang penulis "tega" tidak menyatukan cinta Teto dan Atik dalam ikatan pernikahan. Yah, mungkin memang seperti itulah kehidupan yang sebenarnya.

Kisah cinta memang menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia. Itu sebabnya begitu banyak cerita tentang kisah cinta yang laris manis. Dan meskipun Burung-Burung Manyar banyak bercerita tentang kehidupan pada zaman revolusi dulu, tetap saja yang menjadi perhatianku sebagai pembaca "awam" adalah bagaimana jalan cerita kisah cinta antara Teto dan Atik. Mungkin memang cinta adalah bahasa universal yang paling mudah dipahami oleh siapa pun juga. Sehingga, sangatlah brilian cara Romo Mangun memasukkan unsur vital tersebut dalam cerita romannya yang sarat akan pembelajaran dan perenungan yang dalam. Semacam coklat manis yang disisipkan untuk meredam rasa pahit obat yang harus diminum.


4 komentar:

akugadiscoklat mengatakan...

Bagus ini ceritanya. mb aku baca duakali tetap terpesona.

mimi imut mengatakan...

@gadis coklat: bagus banget ya... sepertinya bisa dibilang inilah masterpiecenya Romo Mangun (tapi aku belum baca2 semua karya Romo Mangun, maaf kalau keliru). Kapan2 diskusi yukz... hehe... ^^

akugadiscoklat mengatakan...

rara mendut. genduk duku dan lusi lindri mbak... apik keren deh. triologi karangan Romo Mangun... kapan2 diskusi.. boleh2...

mimi imut mengatakan...

wah pingin baca... di perpus cuma ada yang ketiga dari trilogi rara mendut... aku mau baca dari awal... punya gak? hehe... asyik asyik ^^