Selasa, 21 Juni 2011

Kegelisahanku Kemarin, Jujur tapi Sakit... T_T

Selamat sore, Bapa...

Aku harus menuliskan ini sebelum aku curhat-curhat sama orang lain, Bapa. Meskipun berat rasanya, aku harus menyampaikan terlebih dahulu isi hatiku kepadaMu. Urgent banget. Ya, ini penting sekali. Begini... Tadi waktu "nggak sengaja" baca-baca jadwal jaga di BP Wonosari, aku menemukan hal yang menggelitik hatiku. Di lembaran kosong, tertulis namaku (dr Yohana) dan angka-angka 7 deret dimulai dari angka 5, 8, 13, dst. Di atasnya tertulis "Juli 2011". Cukup mencurigakan, bukan? Aku pikir apa mungkin ini jadwal jagaku? Kok cum aku sendiri yang ditulis? Aneh, bukan? Kemudian, aku tanya ke Pak Budi dengan sopan dan ramah. Kata Pak Budi, itu memang benar jadwalku di bulan Juli. Aku tanya, kenapa cuma aku sendiri yang ditulis? Kata Pak Budi lagi, untuk mengatur jadwal perawat yang jaga malam. Khusus yang jaga aku, perawat yang jaga malam harus 2 orang. Kalau yang lain nggak perlu. Dah, aku nggak bertanya-tanya lagi. Langsung diem dan berpura-pura santai. Padahal dalam hati aku merasa sangat terpukul meskipun aku secara objektif memahami keadaannya. Kalau aku yang jaga, maka perawat-perawat mungkin menilai banyak kurangnya. Kurang tegas, kurang tanggap, kurang semuanya deh. Memang betul, tidak salah. Dan aku sendiri pun mengakuinya. Kalau datang pasien yang gawat, aku lebih banyak diam. Parah bukan, Bapa? Mungkin para perawat sudah pada tahu, diam-diam ngomong di belakangku, tapi belum ada yang dengan berani dan bijak ngomong di depanku. Tanpa diomongi pun aku sudah tahu dan sudah bisa merasa, kok, Bapa. Masalahnya memang ada di aku.

Bapa, ampuni aku kalau aku kurang hati-hati menjaga hati dan pikiranku. Mungkin tadi sebaiknya aku tidak mengorek-ngorek keterangan kalau akhirnya malah membuatku berkecil hati. Mungkin sebaiknya aku tetap tidak tahu menahu apa-apa. Itu lebih aman dan nyaman. Tapi kok sepertinya nggak bener juga ya...

Bapa, memang enak mendengar pujian daripada kritikan, meskipun kristik itu jujur apa adanya. Karena dengan pujian, aku lebih bersemangat dan entah bagaimana bisa bertindak sesuai dengan pujian-pujian tersebut. Misalnya tadi, Meryl memujiku tampak lebih "charming" hari-hari ini. Dan aku merasa tambah PD. Sikap dan pikiranku pun mengarah ke arti kata "charming" itu. Sebaliknya, ketika Pak Budi menjawab pertanyaanku apa adanya tanpa memperhalus atau mengurangi bahasanya, meskipun sesuai dengan kenyataan, rasanya sangat menghancurkan hati. Mana yang lebih baik, Bapa, mengatakan sesuatu yang sesuai kenyataan atau memberi pujian positif sehingga kenyataan yang negatif itu dapat berubah seperti pujian yang positif? Hmmm...

Bapa, mungkin aku bukan orang yang suka mendengar hal-hal yang tidak enak meskipun sesuai kenyataan. Aku lebih suka tidak difokuskan melulu pada kekuranganku, tetapi diberkan semangat dan pengharapan yang meskipun belum terjadi saat ini, mampu mendorongku untuk maju sehingga melampaui kenyataan yang pahit itu. Hmmm...

Satu lagi, Bapa, kegelisahanku. Ibuku begitu mengkuatirkan apa kata orang di belakang, alias "rasan-rasan" orang lain. Sehingga, ibuku selalu mendorongku untuk bersikap baik dan perfect dengan alasan supaya tidak dirasani. Terus terang, Bapa, aku nggak suka dinasihati seperti itu. Bolehlah disuruh bersikap baik, tapi kalau alasannya supaya nggak dirasani orang lain kok kedengarannya wagu ya? Tidak, Bapa, aku tidak menyalahkan ibuku. Aku cuma ingin tidak dididik terus dalam iklim takut akan manusia melebihi takut akanMu. Itu saja sih yang ingin kusampaikan saat ini. It's hurt, Father God, Lord Jesus, Holy Spirit...


Dan Tuhan pun menjawab:
Jangan tawar hati, jangan sedih...
Jangan pikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu...
Bersemangatlah... bersukacitalah!!!

Tidak ada komentar: