Jumat, 24 Juni 2011

Hikmah dari Turba ^^ Amazing ^^

Selamat pagi, Bapa...

Terima kasih seribu! Terima kasih untuk pengalaman turba ke bantaran kali Code kemarin. Terima kasih untuk acara jalan-jalan ke sana ke mari bareng mas Cah. Terima kasih untuk sentuhanMu melalui karya tulis Romo Mangun yang membuka hati dan pikiranku sehingga tumbuh kasih dan semangat sosial. Horisontal melengkapi vertikal sehingga sempurnalah "salib" kasihMu. Terima kasih untuk revolusi hatiku yang terus Engkau kerjakan, Bapa.

Setelah turba kemarin, aku jadi makin bersemangat menyongsong hidup omah-omah bareng mas Cah. Tidak ada ketakutan atau pun keraguan. Aku akan makin banyak kesempatan untuk turba, mengidentifikasikan diriku dengan mereka yang ada di "bawah", merakyat. Aku ingin menghayati hidup seperti yang pernah dihayati oleh orang-orang berjiwa besar lainnya, yang sebenarnya punya kesempatan untuk "naik terus sampai ke puncak" tapi lebih memilih "turun ke bawah". Di antara orang-orang berjiwa besar tersebut terdapatlah pribadi-pribadi yang aku kagumi, yaitu Engkau sendiri, Romo Mangun, Mother Theresa, dll. Aku mulai menghormati semangat sosial yang dimiliki saudara-saudaraku umat Katholik, Bapa... Sungguh luar biasa mereka! Tidak ada lagi tempat dalam hatiku untuk mendiskreditkan mereka...

Aku akan menikmati kesempatan-kesempatan bersentuhan hati dengan mereka-mereka yang termasuk "wong cilik" di mana pun itu. Pintu rumahku nanti akan senantiasa terbuka untuk mereka yang memerlukan sentuhan kasih. Contohnya, seandainya ada orang yang datang untuk meminta-minta uang, aku tidak akan cuek atau pura-pura sibuk seperti yang selama ini dibiasakan di rumahku. Aku akan menyambutnya masuk, mengajak dia ngobrol, memberi makan minum secukupnya, dan baru memberinya uang sekedarnya begitu dia mau beranjak pergi. Begitulah caraku nanti dalam memerangi kemiskinan akan kasih ^^

Bapa, aku pernah sok rohani. Sekarang aku nggak mau sok sosial. Aku mau sungguh-sungguh digerakkan dan dimotivasi olehMu sendiri. Aku percaya, bukan kebetulan aku "menemukan" mutiasa hikmat dari Romo Mangun (baru sekarang). Luar biasa sekali, Bapa! Meskipun Romo Mangun sudah tidak ada di dunia ini, karya-karyanya masih tetap "berbicara" menyentuh hati. Sungguh dahsyat dampaknya! Aku mau ah jadi seperti itu juga, Bapa. Kiranya karya-karya tulis dan karya-karya hidupku juga dapat menyentuh dan memotivasi banyak orang juga. Haleluya!

Dengan terbukanya mata hatiku, aku tidak lagi merasa beban-beban kerja di RS dan di BP sebagai pengorbanan yang sia-sia. Aku akan memandang dengan perspektif baru. Bukan dengan kasihku yang tidak sempurna, melainkan dengan kasih agapeMu, Bapa, aku akan bertindak menjadi perpanjangan tanganMu. Maranatha!

Tidak ada komentar: