Senin, 29 April 2013

Didengarkan dan Dimengerti sebagai Wujud Terapi

Dari pengalamanku selama ini mengontrolkan diri setiap bulan untuk kondisi kejiwaanku, aku mendapati bahwa aku sangat senang jika diperlakukan sebagai manusia seutuhnya oleh sang terapis (psikiater), dan bukan hanya sebagai diagnosa berjalan. Selama ini sudah terhitung tiga orang psikiater yang menanganiku. Psikiater pertama adalah teman kuliah bapakku. Beliau adalah tokoh terkenal yang sering menulis di koran. Tulisannya bagus-bagus. Sayangnya, aku kurang bisa mempercayai beliau karena beliau pun tidak bisa mempercayaiku. Setiap kali memeriksakan diri, aku mendapati bahwa beliau tidak pernah mempercayai setiap ucapanku, meskipun mungkin memang banyak ucapanku yang tidak relevan. Beliau hanya berkutat pada diagnosa dan terapi tanpa pernah mengajakku berbicara secara personal sebagai manusia seutuhnya. Walhasil, aku bersikap defensif terhadap setiap langkah terapetisnya. Aku malas minum obat-obat resepannya yang sebagian besar hanya membuatku mengantuk dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun.

Terapis atau psikiater kedua terbilang cukup manusiawi karena beliau setidaknya mau mendengarkan aku. Begitu juga psikiater ketiga. Aku sangat meghargai mereka atas kesediaan mereka menjadi pendengar itu. Mereka tetap menganalisaku dan mengdiagnosa serta menerapi aku dengan obat-obatan, tapi ada nilai lebih dari sikap mereka yang membuatku bisa menghormati mereka. Jika aku ada di posisi mereka, mungkin aku akan lebih bersikap empatik lagi dan lebih menunjukkan sikap mempercayai pasien tanpa harus kehilangan dasar berpijak sebagai profesional. Tapi yang terutama, sentuhan personal itu jauh lebih penting dan bermanfaat daripada tampilan profesional.

Sebagai seorang yang didiagnosa manik bipolar, aku bisa merasakan bagaimana disalahpahami dan tidak dimengerti sepenuhnya oleh sesamaku manusia. Tapi seiring berjalannya waktu, aku belajar bahwa menjadi orang yang tidak dipahami sepenuhnya itu bukanlah akhir dunia. Meskipun tidak ada yang memahamiku, aku dihibur dengan kebenaran bahwa ada Satu Pribadi yang mengenalku dengan sangat biak, melebihi orang-orang yang terdekatku bahkan diriku sendiri sekalipun. Pribadi itu adalah TUHAN yang aku panggil Bapa dalam doaku yang kusembah dalam nama Yesus Kristus. Tuhan Yesus adalah sang terapis atau psikiater sejati yang paling tahu kondisiku dan bagaimana menanganiku. Aku mempercayakan seluruh jiwaku kepada-Nya. Jika Ia mengizinkanku untuk ditangani oleh psikiater yang juga takut akan Dia, maka aku pun belajar untuk beriman dan bersandar pada hikmat-Nya yang luar biasa. Tuhan Yesus pasti mencurahkan himat-Nya kepada psikiater yang menanganiku itu karena aku adalah anak-Nya.

Selain dipahami dan dimengerti, aku pun belajar memahami dan mengerti terhadap psikiater yang menanganiku. Aku belajar untuk menghormati setiap keputusannya dalam menilai dan menerapi perkembanganku. Aku bersyukur karena beliau terbuka terhadap setiap pertanyaan-pertanyaanku. Setiap pertanyaanku selalu dijawabnya dengan baik. Tidak segan-segan beliau berbagi cerita tentang pengalamannya. Tidak jarang kami berdiskusi mengenai berbagai hal berkaitan dengan pekerjaan dan prospekku dalam melanjutkan pendidikan. Aku bersyukur karena menurut beliau, perkembanganku termasuk baik. Oleh karena itu, aku pun bertekad untuk menjalani terapi dengan sebaik-baiknya supaya aku tetap dapat menjadi berkat yang efektif bagi sekelilingku.

Kiranya perjalananku mengarungi samudera jiwa ini dapat menjadi kesaksian yang hidup yang memberkati siapa saja yang melihat dan mendengarnya. Haleluya!

Tidak ada komentar: