Senin, 15 April 2013

Murakabi Selayang Pandang


Setiap Rabu sore sampai malam, aku dan Mas Cah biasanya menghadiri acara persekutuan doa dan pendalaman Alkitab kalangan keluarga berjiwa muda di lingkungan GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Persekutuan ini akrab disebut sebagai persekutuan keluarga Murakabi, disingkat PKM. Pada awal pembentukannya, PKM ini merupakan singkatan dari Persekutuan Keluarga Muda karena awalnya dibentuk sebagai wadah bersekutu keluarga-keluarga anggota jemaat GKJ Gondokusuman yang masih terbilang muda usia perkawinannya. Seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya keluarga muda saja yang menjadi anggota aktifnya, melainkan juga para ibu-ibu yang sudah janda ataupun lama usia perkawinannya. Dengan hikmat dan kearifan yang ada, maka dipakailah nama “murakabi” sebagai pengganti kata “muda”.
                Murakabi sendiri kurang lebih berarti menjangkau sampai luas, bukan hanya berguna bagi lingkungan keluarga atau kelompok sendiri. Dengan filosofi yang indah itulah persekutuan ini bertumbuh. Anggota yang datang dan berinteraksi semakin lama semakin bertambah banyak dan erat hubungannya. Seperti layaknya persekutuan pada umumnya, setiap Rabu acara diisi dengan puji-pujian, doa, berbagi kesaksian hidup, dan pemaparan aplikasi firman TUHAN oleh para pembicara yang berkompeten di bidang masing-masing. Acara sering berlangsung santai, tidak kaku, selalu penuh canda tawa. Tidak ada kata bosan atau kapok bagiku dan Mas Cah untuk mengikuti acara-acara persektuan bersama keluarga murakabi ini.
                Ada tiga hal penting yang menjadi catatan dari adanya persekutuan murakabi ini. Hal pertama adalah pengenalan akan TUHAN dan kebenaran firman-Nya. Dalam setiap acara persekutuan itu, setiap pembicara tidak melulu berlatar belakang theologia atau kependetaan. Malah seringnya pembicara berasal dari kalangan awam atau profesional seperti dokter, psikolog, pendidik, marketing, dan lain sebagainya. Wawasan kami jadi bertambah luas. Kami menjadi mengerti mengenai dunia kesehatan, psikologi, pendidikan, bisinis, dan lain-lain yang lebih membumi dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Setiap tema atau materi dibahas secara mendalam dan diberi dasar kebenaran firman TUHAN-nya oleh pendeta yang selalu hadir mendampingi persekutuan murakabi ini. Yang paling menarik dari sesi ini adalah bagian diskusi interaktifnya. Setiap orang yang merasa tergerak atau berkepentingan selalu melontarkan komentar atau pertanyaan cerdas dan menggelitik yang semakin mempertajam perspektif kami akan tema yang diusung. Bisa dikatakan, dalam persekutuan murakabi ini, selalu terjadi proses pembelajaran yang tidak pernah berakhir. Pembelajaran akan hidup dan dasar firman TUHAN yang menjadi penuntun bagi hidup itu.
                Hal kedua adalah tentang persekutuan antaranggota murakabi itu sendiri. Setelah dibekali dengan firman TUHAN dan hikmat kehidupan sehari-hari, maka dalam keseharian, para anggota murakabi selalu mempraktekkannya pertama-tama dengan mewujudkan kasih yang tulus antara sesama anggota. Keakraban dan keguyuban yang indah terjadi dengan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari anggota persekutuan murakabi ini. Hal itu tampak dari aktivitas dan kegiatan yang bersifat sosial kekeluargaan yang sering terjadi. Misalnya, jika ada anggota yang sakit atau tertimpa musibah, maka anggota-anggota yang lain selalu berinisiatif untuk menjenguk dan memberikan dukungan dalam doa, daya, dan terkadang dana pula. Hal ini pernah kurasakan ketika aku melahirkan anak pertama kami, Asa, di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta ini. Sebagian besar anggota persekutuan murakabi beramai-ramai datang menjenguk dan mendoakan kami waktu itu. Persekutuan yang indah ini sungguh nyata kurasakan. Jika bukan TUHAN yang bekerja membentuknya, maka tidak mungkin kesatuan hati dan keakraban yang murni itu dapat terwujud sedemikian rupa.
                Hal ketiga adalah kegiatan atau aksi persekutuan murakabi terhadap lingkungan di luar persekutuan. Selama ini persekutuan murakabi sering mempersembahkan talenta dalam memuji TUHAN di gereja-gereja lain dan acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan dan penghiburan kematian. Dari hal-hal sederhana itu, terjalin suatu komunikasi dan semangat yang nyata dalam berbagi kasih dan berkat kepada sesama di luar tembok gereja. Selain itu, sedang dilakukan pula usaha yang bersifat menjangkau semua orang di gereja yaitu usaha menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari dalam harga murah yang siap diantar sesuai pesanan. Ke depannya, mungkin akan ada aksi yang lebih luas lagi yang dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bukan hanya masyarakat Kristen dalam lingkungan gereja.
                Murakabi adalah persekutuan dengan semangat yang terus-menerus bertumbuh, mengalir, dan bergerak menjangkau ke luar kepada lingkungan yang lebih luas, sama seperti makna filosofinya. Aku sungguh bersyukur terlibat dan terhisap dalam persekutuan yang indah ini. Kiranya murakabi dapat terus menjadi saluran berkat yang memberkati setiap orang yang ada di sekitarnya. Bravo! Maju terus murakabi!

(Rumah Sakit Ladang Anggur TUHAN di Yogyakarta, Senin 15 April 2013)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

halo Mbak Mimi, saya Lia, anggota baru di PKM. Puji Tuhan saya diperkenankan Tuhan untuk membaca tulisan mbak Mimi (btw, boleh kan saya panggil mbak supaya lebih akrab? hehehe...). Tulisan mbak Mimi semakin memperkuat dan mendorong hati saya untuk ikut bersekutu, berguyub ria di PKM. Semoga Tuhan selalu memberkati persekutuan kita dan pelayanan kita sehingga kita bisa benar-benar menjadi "murakabi" bagi banyak orang. Terimakasih mbak Mimi. Tuhan Yesus memberkati :)

mimi imut mengatakan...

halo juga, Mbak Lia ^^ selamat datang ^^ selamat bergabung ^^ terima kasih sudah dolan ke blog ini... Tuhan memberkati ^^