Sabtu, 27 April 2013

Bersyukur Atas Stigma

Mungkin ini saatnya aku kembali bercerita tentang hidupku, yang jarang sekali kuungkapkan, kecuali kepada orang-orang yang sungguh-sungguh kupercaya. Ini tentang kondisi kejiwaan yang ada padaku sejak usia remaja. Mungkin juga sudah ada yang tahu dan maklum akan keadaan yang aku alami. Tapi izinkan di sini aku untuk menceritakan kembali dengan bahasaku yang semoga dapat mudah dimengerti. Baiklah, kita mulai saja ya.

Aku menerima bahwa diriku didiagnosa gangguan manik bipolar. Sejak kapan tepatnya aku tidak begitu ingat. Tapi aku hanya ingin menekankan bahwa aku bersyukur dengan keadaan yang menurut pandangan umum dianggap sebagai stigma ini. Ya, stigma. Stigma sebagai orang yang 'gila', tidak waras, tidak normal, tidak umum. Aku menerima dengan rasa syukur segala macam stigma itu. Malah, aku cukup bangga dengan dianggap sebagai orang yang tidak umum, karena itu berarti aku bukanlah orang pasaran. Itu berarti ada nilai keunikan dan kehususan yang ada padaku, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sikap ini pun aku jaga betul supaya tidak pula terjerumus dalam kesombongan, karena kesombongan adalah awal kejatuhan dan kehancuran. Cukuplah aku mengembangkan sikap bersyukur atas keunikan diriku ini.

Ilmu kedokteran jiwa hanya menyebutkan ciri-ciri dari suatu gangguan jiwa tanpa menghakimi bahwa hal itu adalah dosa. Kitalah manusia religius yang kerap kali menjatuhkan penghakiman terhadap orang yang sudah terstigmatisasi. Salah satunya adalah stigma 'gila' bagi semua orang yang pergi ke psikiater untuk mendapatkan pertolongan. Sudah sekian lama aku tidak lagi merasa terstigma, meskipun stigma itu mungkin masih diberikan oleh beberapa orang, manakala aku datang ke psikiater untuk kontrol. Rahasia dari sikap santai dan enjoy itu adalah "tidak menstigma diri sendiri dan tidak menstigma orang lain". Rumusan sikap itu aku dapatkan dari tulisan seseorang di blognya. Dengan tidak menstigma diri sendiri, aku terbebas dari sikap menyesali diri yang berlebihan. Dengan tidak menstigma orang lain, aku terbebas dari sikap menghakimi orang lain dengan tidak adil.

Satu hal yang menjadi penghiburanku adalah bahwa aku tidak sendirian sebagai orang yang terlah terstigma. Di dunia yang fana ini, ada banyak orang lain juga yang telah terstigma oleh kondisi mereka masing-masing. Ada yang terstigma karena sakit kronis seperti kanker, ada yang terstigma karena sakit yang belum ada obatnya seperti HIV/AIDS, ada yang terstigma karena kesalahan mereka sendiri seperti menjadi hamil di luar nikah, menjadi orang tua tunggal, dsb. Ini memberiku pemahaman bahwa aku tidak sendirian dalam menanggung beban stigma. Satu lagi yang paling menghiburku adalah bahwa Yesus Kristus sendiri telah menanggung stigma di antara segala stigma, yaitu mati disalib. Salib pada waktu itu adalah suatu bentuk hukuman yang paling kejam dan siapapun yang tergantung di sana distigma sebagai seseorang yang paling malang, berdosa, dan terkutuk. Yesus Kristus terstigma sebagai seorang yang menghujat TUHAN, karena menyatakan bahwa diri-Nya adalah Pribadi TUHAN itu sendiri, meskipun kebenarannya memang demikian. Dengan tekun Ia memikul stigma itu dengan keyakinan penuh bahwa yang dilakukan-Nya adalah tidak sia-sia. Jika dibandingkan dengan yang dialami-Nya, stigma yang kualami masih belum ada apa-apanya. Aku masih belum sampai mencurahkan darah sampai mati. Aku baru sebatas mengalami 'mati karakter dan reputasi'. Mungkin juga tidak, mungkin karakter dan reputasiku masih belum dimatikan. Jadi, aku patut bersyukur amat sangat untuk kondisiku ini.

Dengan pengalaman ini, aku bisa mengambil pelajaran berharga. Aku belajar untuk lebih bisa bersyukur dan menikmati keadaan tanpa harus menjadi minder atau sombong. Aku belajar untuk lebih bisa berempati dengan sesama yang mengalami masalah yang serupa atau lebih berat. Aku belajar untuk meringankan beban hati dan pikiran dengan cara berbagi seperti ini. Kiranya apa yang kubagikan ini dapat bermanfaat, menginspirasi, dan memotivasi kita semua untuk lebih lagi bersyukur atas hidup kita. Bukankah hidup ini indah, kawan?

Tidak ada komentar: