Sabtu, 13 April 2013

Terima Kasih, Bu Sari



            Kami memanggilnya Bu Sari. Seorang perempuan ramah yang setia menyapa kami, para pekerja rumah sakit ini, dengan berbagai macam makanan dagangannya. Setiap jam delapan sampai sembilan pagi, Bu Sari selalu datang menyambangi kami di kulon desa, tempat favorit kami untuk makan-makan, begitu kami menyebutnya. Di kulon desa itulah keakraban yang murni dan alami terjadi manakala kami menyantap makanan dagangan Bu Sari. Ada nasi kucing (nasi dengan lauk teri atau tempe ditambah sedikit sambal khas angkringan Jogja), nasi gudangan (nasi dengan lauk sayur bayam, taoge, dengan disertai parutan kelapa), nasi pecel, dan yang terbaru adalah nasi jinggo. Minumannya pun beraneka macam ragamnya. Ada jus jambu, jus alpokat, susu kedelai, dan kadang teh hangat. Belum cukup itu, masih ditambah lagi gorengan tempe dan kletik-kletik­ khas desa seperti lanting, kacang polong goreng, ketela berbentuk kubus kecil-kecil yang digoreng, dsb. Suasana sangat meriah ditimpali senda gurau para karyawan. Murah harga-harganya pula. Maka, kloplah sudah menjadi murah meriah.
                Sebagian besar karyawan sudah sangat akrab dan mengenal instalasi satu ini, yaitu instalasi Bu Sari (IBS). Berbagai macam bagian tumpah ruah menyambut setiap kedatangan perempuan energik meskipun sudah berumur ini. Dengan menarik bawaannya melintasi lorong-lorong rumah sakit menuju pos favoritnya, kulon deso, Bu Sari selalu nampak ceria dan semangat. Keceriaannya itu menular kepada kami para karyawan. Dengan keramahan sederhana, dagangannya pun laris manis mengisi perut-perut kami yang lapar dan dahaga. Lapar dan dahaga jasmani dan jiwani. Bukan hanya tubuh kami saja yang dikenyangkan, melainkan jiwa kami juga mendapatkan seteguk penyejuk dahaga. Karyawan-karyawan yang akan memulai berjibaku setiap hari memperoleh energi mereka dari instalasi Bu Sari ini.
                Selain melepas penat dan lelah psikis, instalasi Bu Sari yang fenomenal ini dapat pula menjadi ajang peleburan sekat-sekat atau kelas-kelas masyarakat yang meninabobokkan kami. Sekat-sekat berupa penggolongan semu masyarakat kelas atas, menengah, dan bawah yang diwakili para dokter, perawat, pramurukti, satpam, admin, dll menjadi lebur tak berbekas manakala Bu Sari datang. Serbuan perut-perut lapar membuat kami melupakan bahwa kami telah dilabeli stempel-stempel palsu kelas masyarakat itu. Di situlah kami dapat saling ejek, menghina dina satu sama lain tanpa takut kena hukuman. Di situlah pula kami dapat saling berbagi tanpa ada ewuh-pakewuh. Sungguh suasana kerakyatan yang egaliter yang indah terjadi. Dan semuanya ini karena faktor Bu Sari.
                Apa yang begitu sukar dan rumit dicapai oleh berbagai macam program ala top down untuk menyatukan semangat para karyawan rumah sakit, entah itu oleh bagian sosio pastoral, bidang, maupun kelompok-kelompok kerja, sepertinya telah tercapai dengan begitu sederhana dan mudahnya oleh instalasi Bu Sari ini. Tidak ada ekskulsivisme yang jamak terjadi pada paguyuban-paguyuban yang ada. Yang ada hanyalah perasaan hangat kekeluargaan yang menyatukan kami setiap civitas hospitalia ini. Sederhana. Tidak sukar. Hanya karena perut lapar dan keramahan seorang Bu Sari.
                Suatu saat nanti mungkin aku akan meluangkan waktu untuk bersepeda, main ke rumah Bu Sari, bertemu dengan Bu Sari dan keluarganya. Di sana mungkin nanti aku akan berbagi apa yang ada padaku, berbagi hidup, berbagi cerita, berbagi sukacita. Hitung-hitung sebagai ‘balas jasa’ atas semua yang telah Bu Sari sumbangkan bagi kesejahteraan rumah sakit ladang anggur TUHAN ini. Terima kasih, Bu Sari. TUHAN memberkatimu!   

(Jumat, 8 Maret 2013—rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta berhati nyaman)

Tidak ada komentar: