Minggu, 14 April 2013

Pak Harto, Sang Pemerhati yang Penuh Aksi


Penampilannya sederhana, tidak terlalu menyolok. Pekerjaan rutinnya pun tidak terbilang spektakuler, ‘hanya’ berkutat di depan komputer menekuni data-data rekam medis. Jika aku menjadi beliau, aku pasti sudah mati kebosanan. Dialah Pak Daniel Suharta. Kami akrab memanggilnya Pak Harto, seperti nama presiden kedua Indonesia itu. Setiap hari aku berjumpa dengan Pak Harto. Bukan suatu kebetulan jika aku ditempatkan di ruangan besar kantor rekam medis bersebelahan dengan Pak Harto. Setiap pagi, kami selalu bersalam komando ria dan menyapa dengan yel “jiwa korsa”, seolah-olah kami adalah anggota Kopasus sungguhan. Maklum, aku dan Pak Harto masih berkerabat dekat dengan abdi negara alias tentara di keluarga masing-masing. Adanya persinggungan dengan para jiwa korsa di keluarga itu membuat aku dan Pak Harto memiliki pula jiwa militan yang kuat dan tangguh. Hal itu tampak dari langgam bahasa percakapan kami sehari-hari. Tidak ada rasa mengasihani diri sendiri, pesimistik, negativistik, dan berbagai macam kelemahan dalam karakter setiap kali kami bercakap-cakap. Yang ada adalah saling menguatkan, menyemangati, dan meneguhkan sikap dan pendirian.
                Di rumah sakit ladang TUHAN ini, Pak Harto terkenal dengan kegiatannya bersepeda. Beliau dipercaya untuk menggiatkan kegiatan bersepeda para karyawan rumah sakit. Dengan senang hati dan penuh semangat, Pak Harto menggiati bersepeda itu. Ternyata, dalam keseharian pun, Pak Harto adalah seorang pesepeda yang aktif. Aktif dalam arti giat berpikir dan beraksi nyata di masyarakat, bukan hanya terkungkung di lingkungan rumah sakit saja. Hati Pak Harto tertambat pada sikap dan budaya masyarakat yang tampak pada lalu lintas jalan raya kota Yogyakarta tercinta. Pak Harto rajin menulis tentang toleransi masyarakat dalam berkendara dan menggunakan fasilitas publik seputar lallu lintas. Seringkali tulisan beliau menjadi headline “kompasiana”, sebuah situs jurnalisme publik yang sangat terkenal dan populer itu. Saking produktifnya menulis, Pak Harto pun membukukan artikel-artikelnya menjadi satu jilid yang disimpannya sebagai pengingat dan penyemangat hidup. Aku sempat dikasih pinjam jilidan itu dan membaca beberapa artikel ciamik beliau. Sangat tajam namun masih dalam koridor sopan santun ala wong Yogyakarta tulisan-tulisan beliau.
                Dalam pandangan Pak Harto, toleransi hidup masyarakat yang sesungguhnya nampak dari sikap mereka di jalan raya. Apa pun agama, kepercayaan, suku, dan rasnya akan tampak karakter aslinya manakala diperhadapkan dengan situasi-situasi di jalan raya. Sebagai contoh ketika menanti antrian lampu lalu lintas di perempatan jalan, Pak Harto sering prihatin karena sebagian besar pengguna jalan lebih memilih membunyikan klakson kendaraan mereka ketimbang rela antri bersabar menunggu giliran menjalankan lagi kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran dan kerelaan bekorban demi kepentingan bersama masyarakat kita masih jauh dari ideal. Bandingkan dengan masyarakat Jepang yang masih tertib antri ketika menerima bantuan saat gempa dan tsunami melanda wilayah mereka beberapa waktu yang lalu. Contoh lain lagi yang membuat geram hati Pak Harto adalah bagaimana hak para pejalan kaki diserobot atau dilanggar oleh para pengguna jalan yang lain, terutama para pengendara sepeda motor. Trotoar-trotoar yang seharusnya aman dan nyaman dipakai untuk berjalan kaki menjadi tempat yang sering digunakan para pengendara motor yang tidak sabar menunggu antrian kendaraan yang sudah terlalu padat di jalan raya. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan yang menjadi hak si lemah masih belum bisa diberikan oleh si kuat dalam masyarakat kita sehari-hari.
                Keprihatinan Pak Harto pada masalah-masalah lalu lintas dan sopan santun di jalan raya menunjukkan betapa peka hati beliau terhadap masalah-masalah yang dihadapi sesama di sekitarnya. Di tempat kerja pun Pak Harto tidak tinggal diam manakala melihat atau mendengar sendiri akan adanya ketidakbenaran dan ketidakadilan. Bisa dikatakan bahwa Pak Harto adalah manusia yang bertindak dan beraksi (man of action), bukan hanya berpikir dan berwacana. Meskipun bukan pemegang jabatan tinggi, kepedulian dan pengaruh beliau sangat besar terasa. Ini semua tidak lain dan tidak bukan adalah karena satunya kata dan perbuatan Pak Harto. Aku bisa katakan bahwa Pak Harto termasuk salah satu manusia langka yang ada di negeri Indonesia, bahkan di muka bumi ini. Langka karena tidak banyak orang mau bersusah payah atau repot-repot menegakkan kebenaran dan keadilan padahal mereka mampu untuk itu. Langka karena banyak orang yang suka berdiskusi dan berwacana tetapi tidak mau mewujudkan hasil diskusi tersebut dalam tindakan yang nyata dan sederhana. Langka karena dalam kesederhanaan itulah terilhat wibawa luar biasa.
                Banyak hal yang bisa kupelajari dan kuteladani dari Pak Harto. Aku belajar bahwa menjadi dokter tidak harus berubah sikap menjadi arogan atau menjaga-jaga wibawa di hadapan orang lain. Kewibawaan atau citra diri seseorang itu akan terpancar dengan sendirinya ketika kita dapat bertindak sesuai dengan perkataan kita. Selain itu, status sosial ataupun harta kepemilikan kita tidak seberapa penting jika dibandingkan dengan karakter kita yang jauh lebih dari emas nilainya. Yang terakhir, sikap kita terhadap diri sendiri maupun orang lain tampak dalam keseharian kita melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap waktu. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak. Semua hal ini hanya dapat terjadi jika kita bekerja sama dengan pribadi Utama alam semesta, yaitu TUHAN. Maju terus, Pak Harto! Salam komando!             

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Minggu 14 April 2013)
                

Tidak ada komentar: