Selasa, 16 April 2013

Bapakku yang Baik


                Bapak, atau ‘pak’, demikian aku memanggil ayahku. Bapak adalah seorang ayah yang menjalankan fungsinya dengan luar biasa baik. Beliau selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik dengan perbuatan yang nyata. Kata-kata verbalnya memang irit dan cenderung minimal. Tapi itulah bapakku. Jika sudah asyik bekerja, lupalah beliau akan keharusan untuk berkata-kata atau bercakap-cakap. Pekerjaan sehari-harinya adalah membersihkan dan merapikan rumah dengan segala isinya. Setelah rumah beres dan bersih, barulah beliau berangkat ke kantor atau tempat kerjanya di rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta. Kebiasaan uniknya ini kadang membuat ibuku gemas dan kesal karena adanya perbedaan prinsip dan pendirian. Maklum, ibuku lebih suka datang pagi-pagi tepat waktu sedangkan bapakku lebih suka datang santai tanpa mengikuti aturan jam kantor.
                Nama panggilan bapak di rumah maupun di kantor adalah sama, yaitu Erry. Lengkapnya Erry Guthomo. Beliau berprofesi resmi sebagai dokter spesialis anestesi. Pekerjaan profesionalnya adalah membantu membius dan menstabilkan kondisi fisik pasien yang dioperasi. Pekerjaan personalnya adalah menjadi ayah, suami, dan teman yang baik bagi keluarga dan teman-temannya. Dilahirkan sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara membuat bapakku terkondisi untuk selalu bersikap dewasa. Apalagi setelah ditinggal oleh ayahnya, yaitu kakekku, yang meninggal waktu peristiwa G 30 S tahun 1965 dulu itu. Praktis, tugas sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap terhadap ibu dan keenam adiknya menjadi tugas wajib yang harus dipikul sepenuhnya oleh bapakku yang waktu itu baru kelas enam sekolah dasar. Menjadi dewasa secara dini, itulah yang terjadi dalam diri bapakku.
                Sikap bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam diri dan sekitarnya telah terpatri sedemikian rupa dalam jiwa bapakku. Hal ini tampak dari sikap beliau ketika bekerja di ladang TUHAN. Tidak peduli seberapa pun capek dan lelahnya, jika memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk berjaga, maka tugas itu dilakukannya tanpa protes atau mengeluh. Yang ada hanya semangat untuk melakukan pekerjaan dengan murni dan konsekuen. Ya, murni dan konsekuen, sama seperti penghayatan akan nilai-nilai Pancasila yang merupakan jiwa bangsa Indonesia. Bapakku memang seorang Pancasilais sejati, itu yang selalu beliau tekankan. Beliau selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi dalam kebersamaan hidup sehari-hari. Bisa dimaklumi karena beliau tumbuh dan berkembang sebagai anak seorang tentara yang sangat setia kepada bangsa dan negara. Jiwa yang penuh semangat bela negara kakekku itu sepertinya diwarisi dengan segala kepenuhannya dalam diri bapakku. Meskipun sebagai dokter sipil, sikap dan gerak-gerik bapakku terlihat lebih tegap dan gagah jika dibandingkan oleh dokter militer.
                Mekipun minim kata, aku tahu bahwa bapakku sangat menyayangiku. Itu terbukti dengan sikap dan kebiasaan unik beliau dalam menunjukkan kasih dan perhatiannya. Bagi orang lain yang melihatnya, mungkin mereka beranggapan bahwa bapakku adalah pribadi yang angker dan menakutkan. Tapi bagi kami yang mengenalnya, bapakku adalah orang yang lucu, humoris, dan tidak terduga. Bapakku suka memberi kejutan. Jika hatinya sedang berkenan, spontan saja beliau akan memberikan sesuatu tanpa diminta. Sering sekali aku diberinya uang atau barang yang nilainya tidaklah kecil hanya karena beliau memang ingin memberi. Padahal, aku tidak pernah meminta kepada beliau. Sifat bapak yang suka memberi ini memberikanku gambaran yang nyata akan sifat TUHAN sebagai Jehova Jireh, TUHAN yang menyediakan. Sehingga, aku tidak pernah punya perasaan kuatir akan kekurangan apa pun. Aku bersyukur karena figur bapak sebagai ayahku telah dipulihkan sehingga pandanganku akan Bapa di surga pun menjadi tidak terdistorsi. Ini semua karena anugerah TUHAN.
                Sebagai anak yang baik, aku pun ingin menyenangkan hati bapakku. Karena bapakku juga bukan orang yang menyukai sesuatu yang NATO (no action talk only), maka aku pun bertekad hati untuk tidak menjadi pribadi yang demikian. Aku bertekad hati untuk menjadi pribadi yang satu antara kata dan perbuatan. Aku belajar dari bapakku untuk tidak mudah membual atau meninggikan diri dengan berkata-kata indah. Sebaliknya, aku belajar untuk bersikap sepi ing pamrih rame ing gawe yang berarti melakukan segala sesuatu tanpa banyak sesumbar. Dari bapakku pulalah aku belajar menilai pribadi orang lain. Karakter dan kepribadian seseorang nampak terutama bukan dari perkataannya yang fasih melainkan dari sikap dan perilakunya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Aku senantiasa berdoa supaya bapakku dianugerahi kesehatan dan umur panjang supaya dapat menyaksikan perbuatan TUHAN yang nyata dalam generasi demi generasi.

(Rumah sakit ladang TUHAN di Yogyakarta, Selasa 16 April 2013)

Tidak ada komentar: