Rabu, 19 Juni 2013

Iman bagi Pertanyaan Eksistensial

Ibrani 11: 8 (BIS)
Karena beriman, maka Abraham mentaati Allah ketika Allah memanggilnya dan menyuruhnya pergi ke negeri yang Allah janjikan kepadanya. Lalu Abraham berangkat dengan tidak tahu ke mana akan pergi.

Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Bapa orang beriman itu hanya pergi begitu saja tanpa tahu arah tujuannya, tanpa bisa merumuskan dengan jelas 'destiny'nya. Bagi TUHAN, itulah hakikat karunia iman yang sejati. Beriman berarti pasrah bongkokan pada sang pemberi iman itu sendiri. Ke mana Ia mengutus, ke situlah kita pergi. Tidak perlu kita tanya sampai memperoleh jawaban yang detil. Cukuplah kita tahu garis besarnya saja. Pegangannya adalah janji TUHAN atas hidup kita yang tidak pernah gagal. Bagian kita hanya percaya saja dan melangkah terus.

Kita akan tahu dan mengerti setelah kita melangkah dalam iman dan ketaatan. Kita akan memahami saat kita sudah sampai ke tujuan. Selama perjalanan, kita munbgkin masih meraba-raba dan mengira-ira. Tidak apa-apa, yang penting kita terus melangkah  di jalan-Nya. Meskipun belum mempunyai rumusan yang lengkap dan tepat mengenai tujuan hidup, kita beroleh penghiburan yaitu bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kita bersama sang Imanuel, TUHAN sendiri, yang diam di dalam kita dan kita di dalam Dia. Ada tertulis bahwa penyertaan-Nya itu sempurna. Sempurna berarti tidak perlu diragukan, tidak perlu dipertanyakan, tidak perlu didebat. Dalam kesempurnaan penyertaan TUHAN itulah kita beroleh hikmat, wahyu, dan pengertian. Nikmati saja proses perjalanan panjang bersama TUHAN ini karena itulah bagian terbaik bagi kita.

Begitu juga dengan diriku. Begitu sering pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul yang membuatku menghentikan langkah. Bukannya salah atau tidak boleh bertanya-tanya, melainkan jangan sampai aku frustrasi jika jawaban yang jelas dan rinci belum juga kuperoleh. Semestinya aku bersandar terus pada Sumber Damai dalam hatiku bahkan juga sewaktu bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu. JIka aku mencoba sok kuat dan sok bijak dalam bertanya-tanya, entah apa jadinya. Syukur atas anugerah TUHAN yang menjagaiku seperti perisai! Dalam pergumulan pencarian jawaban itu, aku tahu bahwa perjalanan batinku tidak sia-sia karena adanya persekutuan yang erat dengan TUHAN. Sama seperti Yakub yang akhirnya diberkati menjadi Israel setelah pergumulan panjangnya dengan TUHAN, aku percaya demikian juga nanti aku akan beroleh 'sesuatu' yang membuatku terberkati.

Bagaimana dengan dirimu, kisanak sesama musafir? Adakah dirimu digelisahkan pula oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti "siapakah aku", "dari mana aku", dan "hendak ke mana"? Jangan frustrasi! Kamu tidak sendirian! Aku di sini menemanimu. Mari kita jalani rute kita masing-masing dengan iman yang teguh kepada Sang Pembimbing Agung. Mari izinkan Dia menyatakan diri-Nya yang sejati kepadamu secara pribadi. "Jangan takut", itu kalimat favorit-Nya. Bersedialah dan belajarlah untuk mengenali pribadi-Nya. Izinkanlah Dia menjadi bagian dalam dirimu. Dan, saksikanlah bagaimana Dia menolongmu menjawab pertanyaan-pertanyaan dan pergumulan-pergumulanmu itu.

Mari... ^^

Tidak ada komentar: