Rabu, 19 Juni 2013

Pilihan Menjadi Dokter

Mengapa begitu banyak orang yang ingin menjadi dokter? Demi apa? Status? Kekayaan? Atau panggilan? Kepuasan? Di Indonesia, dan seluruh dunia pada umumnya, anak-anak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter. Dalam benak mereka, dokter adalah pribadi yang luhur mulia. Jas putih yang disandang melambangkan kesucian dan kemurnian hati yang sigap menolong. Ketenangan hati dan ketajaman pikiran seorang dokter menjadi syarat utama kesembuhan. Obat-obatan dan tindakan medis menjadi sarana efektif di tangan dokter yang cakap. Berurusan dengan penyakit dan kondisi kritis merupakan makanan sehari-hari seorang dokter. Karena kemampuannya dalam mendiagnosa dan memberi terapi itulah banyak orang mempercayakan proses kesembuhan di tangan dokter. Tidak heran, profesi dokter masih dihormati dalam masyarakat sampai sekarang.

Ketika aku memilih profesi dokter sebagai bagian dari identitasku, aku melakukannya bukan tanpa sadar. Aku memilih dengan kesadaran bahwa profesi dokter dapat menjadi sarana efektif untuk pekabaran Injil. Pertimbangannya adalah bahwa masyarakat Indonesia masih sangat menghormati profesi ini. Apa yang dikatakan dokter akan lebih didengarkan daripada apa yang dikatakan pendeta. Apalagi jika yang disampaikan berkaitan dengan hidup mati seseorang secara harafiah. Dan dalam kondisi kritis seorang pasien, dokterlah yang memiliki akses paling dekat untuk mengabarkan Injil keselamatan. Masalahnya adalah ketika idealisme itu bertabrakan dengan pragmatisme dalam dunia kerja sehari-hari. Ketika diperhadapkan dengan kondisi 'suam-suam kuku', aku ditantang untuk ikut lebur atau bertahan dengan visi misi yang mendasari pilihanku atas profesi ini.

Ternyata, tantangan yang kuhadapi bukan hanya kondisi eksternal 'suam-suam kuku' saja. Faktor internal pun turut berperan. Rasa lelah, bosan, disorientasi, dan kemalasan sering menggodaku. Jika aku tidak waspada, aku bisa jatuh dalam 'padang gurun' pekerjaan rutin yang menjemukan. Saat berjumpa dengan pasien, keluarganya, dan rekan-rekan di tempat kerja bisa menjadi hambar dan mekanistik. Kemanusiaan memudar digantikan profesionalisme yang dingin. Pasien tidak lagi dipandang sebagai manusia seutuhnya, hanya merupakan seonggok diagnosa yang tercatat rapi dalam rekam medis. Motivasi semula menjadi agen kerajaan Surga terdistorsi secara perlahan-lahan. Api yang menyala-nyala meredup secara laten. Jika tidak ada sesuatu yang mengejutkan, mungkin aku tidak akan bisa bangun lagi.

(Disalin dari coretan buku Kiky hari Rabu, 19 Juni 2013, di belakang meja ladang anggur TUHAN di Yogyakarta)

Tidak ada komentar: