Minggu, 16 Juni 2013

Asa Sakit

Asa sakit. Aku malah tertidur lama. Syukurlah ada ibu yang masih sigap menolong. Tapi, tetap saja ini tidak baik. Secara wang sinawang pun tidak. Bukankah aku adalah ibunya Asa? Seharusnya, akulah yang ambil tanggung jawab terbesar untuk menolong dan menghibur Asa, bukannya melimpahkannya pada ibu dan Lek Sar. Meskipun, aku menginap di Pelem Kecut dan di sini adalah kesempatanku untuk beristirahat dari capeknya mengasuh bayi. Aku kudu mengingat kembali janji dan komitmen yang pernah kubuat perihal tugas dan tanggung jawabku sebagai ibu. Aku pernah berjanji pada TUHAN untuk menjadi ibu bagi Asa dengan segala hak dan kewajiban istimewanya. Itu berarti, aku harus siap kehilangan jam-jam tidurku yang nyaman itu. Aku harus rela mengantuk ria manakala Asa rewel minta digendong saat hari sudah larut malam atau masih dini hari. Selama ini, aku masih terlalu mengandalkan kehadiran dan kesediaan mereka-mereka yang ada di dekatku untuk menolong Asa. Syukur masih ada, kalau sudah tidak ada bagaiamana? Sebelum kena batunya, aku mau bertobat terlebih dahulu. Ya, aku bertobat dari kemalasan dan keenggananku untuk menolong Asa. Aku akan kerahkan segenap kekuatan dan kemampuanku, sebisa mungkin, untuk menjadi ibu yang dapat dibanggakan oleh Asa. Kapan? Sekarang! Bukan besok, bukan nanti.

Sekarang Asa lagi tidur, kecapekan setelah semalaman menangis kesakitan. Dalam tidurnya Asa ini, aku akan lebih sering berada di dekatnya untuk siap siapa terhadap semua kebutuhannya. Ini kulakukan bukan karena takut dimarahi atau dicap sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak, melainkan karena aku mengasihi TUHAN dan Asa. Aku mengasihi TUHAN karena aku lebih dahulu dikasihi-Nya. Aku memerlukan anugerah TUHAN untuk bisa menjadi seperti yang TUHAN mau, termasuk menjadi ibu yang baik. Oleh karena itu, cukuplah tulisan ini sampai sekian. Aku akan segera melaksanakan tugasku.

Asa, ini ibu datang! Selamat tidur, selamat istirahat! Sembuh ya, Nak! TUHAN memberkati!

Tidak ada komentar: