Senin, 20 April 2015

Konvergen dan Divergen

Selamat petang, Bapa—Yesus—Roh Kudus! Wow, dahsyat hari ini! Sore ini aku WA-nan sama Pak Ias, masih membahas tentang cara berpikir convergen dan divergen. Aku tertarik untuk meneliti (iseng) tentang cara berpikir konvergen dan divergen dalam masyarakat pada umumnya. Apa pula itu konvergen dan divergen? Ini penjelasan singkatnya, terinspirasi dari film Divergent banget ceritanya:

1.      Cara berpikir konvergen adalah cara berpikir dengan berbicara kepada diri sendiri sehingga lebih focus dan terarah. Orang itu sendirilah yang mengarahkan pikirannya hendak ke mana.
2.      Cara berpikir divergen adalah cara berpikir dengan mendengar diri sendiri sehingga lebih acak dan sporadic. Arah pikirannya sukar ditebak dan sering dianggap sebagai ide yang melompat-lompat (padahal sebenarnya tidak).

Mengapa aku tertarik? Karena, aku mendapati diriku cenderung berpikir secara divergen, alias lebih banyak ‘mendengar’ suara hati (dan suara-Mu). Sedangkan dua orang yang kutanyai yaitu Pak Ias dan Mas Cah mengatakan mereka cenderung lebih banyak ‘bicara’ kepada diri sendiri. Aku penasaran, apakah orang lain mempunyai cara berpikir konvergen atau divergen. Yang manakah yang lebih dominan dalam masyarakat pada umumnya? Apakah tiap daerah dan kebudayaan berbeda kecenderungannya? Aku berasumsi bahwa yang dominan akan ‘menindas’ atau minimal salah paham terhadap yang lain (yang minoritas). Orang dengan cara berpikir lain akan dipandang aneh, abnormal, bermasalah sehingga harus ‘diluruskan’. Padahal, bisa jadi orang yang dipandang sebagai masalah itu sebenarnya adalah (bagian dari) solusinya.

            Kemudian, aku tertarik untuk melakukan penelitian iseng-iseng dengan menyebar angket dan wawancara mendalam untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi sehingga muncullah kedua cara berpikir tersebut. Apakah factor gender, usia, pola asuh, pendidikan, dll itu ada pengaruhnya? Ataukah itu sudah bawaan dari lahir?
            Lalu, apa kata Alkitab mengenai hal ini? Adakah cara berpikir konvergen dan divergen dalam Alkitab? Adakah contoh-contohnya? Jika ada, lalu apa implikasinya?
         Terakhir, apa tujuan dan manfaat dari mengetahui hal ini? Apa kontribusinya bagi kemanusiaan?


            Hmm, konvergen, divergen. Is it worthy enough, God? Apalah akan jadi beneran ya? Hehe, let’s find out in the future!!!

Tidak ada komentar: