Selasa, 13 Oktober 2015

Sekali Lagi Tentang Belajar

Saat aku sedang menuliskan tulisan ini, aku sedang duduk di kursi belajar. Tepatnya di depan meja belajar hasil rancangan Mas Cah. Meja belajar kali ini sangatlah unik dan spesial. Terbuat dari kayu (tidak tahu namanya) kekuningan, sederhana, namun sangat nyaman. Buku-buku beraneka tema tersusun dengan rapi di rak-rak yang menghiasi meja tersebut. Lampu belajar tergantung di sisi kiriku, menerangi dengan optimal sehingga mataku dapat membaca dengan nyaman. Inilah tempat ternyaman untuk belajar di rumah Cahaya.

Membicarakan meja belajar membuatku ingin berbagi cerita tentang proses belajarku. Aku memahami proses dan kegiatan belajar sebagai duduk di depan meja belajar untuk membaca buku pelajaran dan menulis sesuatu. Bayangan aku yang sedang asyik duduk menulis di meja belajar itu sudah terpatri sejak aku kecil dulu. Bagiku, saat-saat ternyaman dan terasyik itu adalah saat sedang belajar. Di situ aku bisa hanyut larut dalam asyiknya menjelajah dunia ide (meminjam istilah Plato) dan sejenak melupakan realita di sekitarku.

Namun keasyikan sejati dalam belajar itu sempat terdistorsi manakala aku terjebak dalam sistem ranking dan nilai ketika duduk di bangku sekolah formal. Aku melupakan esensi utama dalam belajar karena tergiur iming-iming semu menjadi juara kelas. Aku belajar dengan tujuan semu mengejar prestasi, merebut ranking pertama, dan dengan susah payah mempertahankannya. Aku hidup dalam ilusi seolah aku telah menjadi manusia yang pintar dan bijak, padahal aku hanyalah seorang pengumpul nilai bagus di rapor. Kalau boleh kukatakan, aku sebenarnya nol besar dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.

Syukur kepada Sang Hikmat, aku dituntun dan disadarkan dengan cara-Nya, baik itu lembut maupun keras. Cara-Nya yang lembut adalah dengan membuatku mengubah prioritas hidupku secara sadar karena aku 'menemukan' dan memilih mengejar hal yang terutama, lebih dari sekedar prestasi akademis. Aku tidak lagi terobsesi untuk menjadi juara satu, dengan konsekuensi logis yaitu aku benar-benar tidak menjadi juara satu. Rasanya ada yang hilang saat aku tidak lagi menerima tepuk tangan riuh atas prestasi akademik.

Cara-Nya yang keras adalah dengan membuatku (nyaris) kehilangan kewarasan karena salah menaruh prioritas hidup. Sudah tidak berprestasi akademik, aku kelewat asyik mengejar hal yang (kuanggap) terutama dalam hidup sehingga tidak menyadari bahwa musim kehidupan telah berganti. Aku menolak perubahan. Akibatnya, aku tergilas olehnya. Syukur kepada TUHAN, aku tidak dibiarkan tertinggal oleh zaman. Melalui orang-orang berhati baik, Ia menyeretku dan mengembalikanku pada posisiku yang seharusnya, meskipun dengan cara yang tidak selalu enak. Dalam keadaan yang sepi karena tidak paham apa pun, aku terus diajar-Nya sampai aku bangkit dan berjalan lagi, meskipun masih belum mengerti.

Proses pencarian jati diri, tujuan, kehendak TUHAN, dan arah hidup yang spesifik telah mengantarku sampai di titik ini. Aku duduk di depan layar laptop ini, menuliskan tulisan ini, dengan hati dan pikiran yang kufokuskan sungguh-sungguh. Entah bagaimana, aku berhasil membangkitkan semangat dan hasrat mula-mulaku untuk belajar. Sambil menunggu proses kehidupan selanjutnya, aku mau berdiam sejenak untuk menghitung-hitung apa saja yang sudah kupelajari sejauh ini.

  • Aku belajar bahwa kepintaran dan kecerdasan itu adalah anugerah TUHAN. Namun anugerah itu haruslah kuterima dengan iman yang disertai perbuatan, yaitu dengan cara belajar sungguh-sungguh dan berserah penuh pada-Nya.
  • Aku belajar bahwa keberhasilan itu adalah suatu proses kehidupan, bukan semata-mata tujuan. Dan aku dapat mencapainya bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan bersama TUHAN. Dialah yang menggerakkanku, dan menggerakkan orang-orang yang turut ambil bagian dalam proses hidupku.
Hidup sejatinya adalah proses belajar. Belajar itu bukan semata-mata untuk memperoleh nilai atau predikat atau status duniawi. Belajar itu adalah untuk hidup itu sendiri. Demikianlah yang bisa kubagikan saat ini. Semoga menumbuhkan semangat yang sama bahkan lebih untuk belajar. Shalom!

Tidak ada komentar: