Sabtu, 28 Januari 2017

Surat untuk Ibu (3): Gua Adulam

25 Januari 2017

Shalom, Ibuku yang terkasih!

Hari ini sungguh luar biasa ya, Bu! Kita masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk berkarya di Bethesda, di mana Dia telah tempatkan kita. Sekalipun sepertinya ada banyak hal yang menjadi hambatan dan tantangan, entah bagaimana selalu saja ada jalan keluarnya. Entah bagaimana, selalu ada stok sukacita yang melimpah ruah yang selalu terpancar dari Ruang Pertemuan F.

Bicara tentang Ruang Pertemuan F, bagiku ini sangatlah inspiratif. Setiap kali aku kehilangan orientasi (kerja), aku selalu berkunjung ke Ruang Pertemuan F. Mengapa? Karena di sana ada pribadi-pribadi luar biasa, Bu! Di sana, pribadi-pribadi luar biasa itu saling bersinergi sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan daya dorong dan energi bagi sistem kerja di Bethesda.

Yang terutama dan pertama, di Ruang Pertemuan F itu ada pribadi Ibu Pudji Sri Rasmiati, yang dijuluki Kartininya Bethesda. Ibu menjadi spirit penyemangat dan penggerak semua orang yang tergabung dalam barisan pejuang mutu civitas hospitalia Bethesda. Bisa dikatakan, Ibu adalah semacam pembimbing spiritual, guru, atau bahkan ibu rohani bagi kita-kita di Bethesda.

Kemudian, ada Bu Endang yang berpandangan global sehingga mampu memperkaya wawasan tim yang Ibu pimpin. Selanjutnya, Bu Yohana Martini, yang punya passion luar biasa dalam mendidik dan mengajar orang lain. Pak Adhi, yang piawai dalam logika dan diplomasi secara verbal. Tidak ketinggalan, ada Pak Purwoko yang melengkapi tim dengan talentanya dalam hal hitung-hitungan, rumus, dan wawasan ekonomi.

Tahukah Ibu betapa luar biasanya Ibu dalam mengenali kelebihan dan kekuatan masing-masing orang/pribadi yang bekerja bersama Ibu itu? Ibu tidak merasa terancam atau tersaingi oleh mereka. Sebaliknya, Ibu selalu memberdayakan orang demi orang seturut minat dan bakat mereka. Sungguh aku kagum dan salut terhadap Ibu!

Satu hal penting yang selalu kupegang dari Ibu adalah bagaimana menilai orang dari kinerja mereka, bukan melulu dari perkataan mereka. Ibu menilai dan mengenali karakter setiap orang dengan cara menugasi mereka melalui hal-hal kecil dan sederhana. Jika mereka bertanggung jawab, maka mereka adalah pribadi yang dapat dipercaya. Itu sebabnya aku selalu bersemangat mengerjakan tugas-tugasku sedemikian rupa, meskipun mungkin tugas-tugas tersebut terbilang remeh dan kecil.

Tentang Ruang Pertemuan F, bagaimana kalau kita namakan ruangan tersebut sebagai: Gua Adulam?

Ibu, satu hal yang aku rindukan dari Ibu adalah: bersyukurlah, Ibu... bersyukurlah Ibu, untuk Gua Adulam ini. Gua di mana banyak pribadi menjadi pejuang mutu yang perkasa berkat karya bakti Ibu yang sepenuh hati. Karena dengan hati bersyukur itu, Ibu niscaya mudah mengampuni dan tidak mudah sakit hati lagi. Trust me!

Terima kasih, Ibu, telah menjadi laksana Debora bagi kami semua, warga Bethesda. Segala puji, hormat, syukur bagi Tuhan Yesus yang maha mulia. Shalom!

Anakmu yang mengagumimu,
Yohana Mimi

N. B. : gua Adulam adalah gua tempat Daud dan para pengikutnya berproses menjadi cakap dan perkasa hingga disegani lawan dan dihormati kawan.

Tidak ada komentar: