Sabtu, 28 Januari 2017

Surat untuk Ibu (4): Pengaruh Tulisan

26 Januari 2017

Ytk Ibuku yang kusayangi

Shalom! Semangat pagi, Ibu!
Sudahkah Ibu bersukacita hari ini? Puji syukur pada Tuhan Yesus untuk Ibu yang dilimpahi anugerah dan berkat kesehatan, kecukupan, dan kebahagiaan. Terima kasih pada Tuhan Yesus untuk kesempatan yang diberikan sehingga aku bisa menyampaikan cinta kasihku pada Ibu. Terima kasih, Ibu, untuk kesediaanmu menanti dan menerima perwujudan cinta kasihku.

Ibu, apa lagi yang bisa kusampaikan? Selama kusaksikan Ibu masih bersemangat untuk hidup, bekerja, dan melayani Tuhan, selama itu pulalah aku akan terus menyampaikan ungkapan hatiku pada Tuhan dan pada Ibu. Aku hanya ingin Ibu tersemangati dan makin bersukacita dalam setiap hal yang Ibu jalani. Jika selama ini aku sering berdoa dan menyampaikan isi hati dan pikiranku kepada Tuhan, maka bolehlah sekarang aku berbagi semangat dan isi hati kepada pribadi-pribadi yang selama ini kudoakan. Ibu adalah yang pertama kubagikan isi hati melalui surat. Aku harap Ibu tidak bosan. Terima kasih, Ibu, untuk kesediaanmu dalam membaca tulisanku yang acak adut.

Ibu, entah kenapa aku suka sekali menulis. Rasanya damai dan sejahtera sekali saat aku bisa menuliskan segenap pikiran dan perasaanku. Aku seperti hidup dan lebih hidup saat menulis. Inikah yang dinamakan talenta/minat dan bakat, Bu? Jika iya, maka betapa aku sangat bersyukur dan terberkati. Karena dengan tulisan, aku bisa menyampaikan banyak hal kepada siapa pun. Kepada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Termasuk kepada Ibu!

Ibu, aku belajar bahwa ternyata tulisan itu sangatlah besar pengaruhnya. Dengan tulisan, aku bisa membangun namun bisa juga menghancurkan. Semakin besar keterampilanku dalam menulis, semakin besar pula dampak pembangunan ataupun kehancuran yang diakibatkannya. Seperti potensi yang ada pada setitik atom atau nuklir. Bisa sangat membangun (jika dijadikan reaktor untuk pembangkit energi), bisa sangat merusak (jika digunakan sebagai bom atau senjata perang). Oleh karena itu, aku memilih menggunakan keterampilan menulisku untuk membangun. Aku memilih untuk membangun semangat dan motivasi orang lain, termasuk Ibu, supaya Tuhan disenangkan lebih dan lebih lagi.

Maafkan dan ampuni aku, Ibu, jika aku pernah melukai hatimu melalui perkataan, sikap, dan tulisan-tulisanku di masa yang telah lalu. Terima kasih, Ibu, telah mendidik dan mengajarku melalui teladanmu untuk menyatukan kata dan perbuatan. Aku akan terus belajar dan bertumbuh.

Ibu, inilah isi hati dan pikiranku saat ini melalui surat ini. Akan kutulis lagi surat untuk Ibu nanti atau besok. Selama masih ada kesempatan, aku akan terus membanjiri Ibu dengan surat-suratku. Mohon Ibu berkenan. Terima kasih. Shalom!

Salam semangat,
Yohana Mimi

Tidak ada komentar: