Jumat, 30 Januari 2009

Cemburu Itu

Hari telah beranjak semakin malam. Aku kembali duduk menekuri meja belajar yang telah setia menemaniku selama ini. Di meja itulah aku eprnah tertawa dan menangis, mencurahkan seluruh isi hatiku baik secara lisan maupun tertulis kepada Sang Bapa. Benar-benar meja yang penuh kenangan. Bahkan mungkin sudah lebih dari sekedar meja, lebih merupakan sebuah altar atau mezbah untuk berdoa. Ya, mezbah doaku adalah meja belajarku.

Pagi ini, di meja belajarku, aku mencurahkan isi hatiku secara jujur kepada Tuhan Yesus. Isi curahan hatiku itu tentang rasa cemburuku terhadap seorang temanku, atau lebih tepatnya adik kelasku, yang selama ini tidak pernah memperhatikanku meskipun aku sangat memperhatikannya. Bisa dibilang aku mengalami apa yang namanya bertepuk sebelah tangan. Ditambah lagi temanku itu sepertinya sedang dekat dengan orang lain yang tidak kukenali dengan baik. Klop sudah. Aku benar-benar cemburu.

Ketika aku sudah menyerahkan seluruh isi hatiku termasuk rasa cemburuku kepada Tuhan, aku mendapatkan penghiburan. Penghiburannya adalah sebagai berikut. Ternyata Tuhan juga pernah mengalami yang namanya cemburu. Cemburu yang dirasakanNya jauh lebih dahsyat lagi. Namanya cemburu ilahi. Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih itu bisa merasakan cemburu juga? Menurutku begini penjelasannya. TUHAN telah menciptakan manusia serupa gambaranNya dengan satu maksud atau tujuan, yaitu untuk bersekutu denganNya. Karena TUHAN itu adalah kasih, maka Dia memberikan menusia kehendak bebas untuk memilih, apakah mau menyembahNya secara sukarela atau tidak. Prinsip Tuhan adalah tanpa paksaan. Dan seringnya, manusia itu memilih untuk menduakan TUHAN. Bisa dibayangkan tidak bagaimana perasaan TUHAN?

Manusia menduakan Tuhan dengan berbagai macam cara misalnya dengan menyembah allah lain, mengandalkan kekuatan lain, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, dsb. Dalam kasusku, aku mungkin telah menduakanNya saat aku terlalu terobsesi dengan temanku itu tadi. Terlalu terobsesinya aku sehingga ketika kudengar suaraNya yang lembut tapi tegas untuk melupakan temanku itu beberapa waktu yang lalu, aku tidak langsung menanggapiNya dan terus saja asyik dengan harapan-harapan yang kubangun sendiri. Hasilnya? Ya, aku akhirnya mengalami cemburu buta yang menyakitkan. Cemburu manusiawi yang sangat jauh levelnya dari cemburu ilahinya Tuhan. Sungguh memalukan.

Saat ini aku sedang menata kembali hatiku supaya aku bisa tenang dan bisa kembali berhubungan secara intim dan akrab dengan Tuhan. Rasa sakit yang kurasakan akibat cemburu itu pun berangsur-angsur mereda saat kualihkan fokusku padaNya. Aku tidak lagi mengharapkan yang tidak masuk akal. Aku serahkan kembali harapanku kepada Tuhan Yesus. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Kutuliskan semua ini selain untuk latihan menulis juga sebagai pengingat akan bahayanya rasa cemburu yang merusak. Cukup sudah kebodohanku itu sampai di sini. Sekarang aku mau berbalik pada TUHAN dan hanya mengharapkan kasih setiaNya saja.

Terpujilah TUHAN yang telah menjaga hatiku dan menarikku kembali ke dalam hatiNya yang kudus itu. Haleluya!!!

Tidak ada komentar: