Minggu, 08 April 2012

Alasanku Diam

Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, mengapa aku begitu hemat berbicara. Setelah lama berpikir dan merenung, setidaknya sekarang aku bisa menjawab. Waktu kecil (usia SD), aku pernah baca biografi singkat kakekku, Kolonel Soegiyono. Diceritakan bahwa beliau adalah orang yang tidak banyak bicara. Prinsip beliau adalah "bicara yang penting-penting saja", kurang lebih begitu. Karena aku begitu mengidolakan beliau, aku pun meneladani sikap tersebut. Walhasil, aku tumbuh besar dengan pembawaan tenang dan tidak banyak bicara. Tentu saja hal ini ada positif dan negatifnya. Positifnya, aku jadi terhindar dari kebiasaan menggosip atau menggunjingkan hal-hal yang bukan urusanku. Negatifnya, tentu saja komunikasi dengan orang lain menjadi terhambat karena aku belum terbiasa menjawab secara cepat dan tepat.

Ada lagi satu nasihat yang kudapat dari bacaanku baru-baru ini, yang turut menguatkan sikap tidak banyak bicara ini. Nasihat itu berbunyi demikian, "Kalau tidak menemukan sesuatu yang baik (tentang sesuatu atau seseorang) untuk diutarakan, lebih baik diam." Kalau digabungkan dengan prinsip kakekku, bisa diartikan bahwa hal yang penting-penting itu adalah sesuatu yang baik, yang benar, dan membangun. Boleh dikatakan bahwa selama ini aku masih belum bisa menyampaikan hal-hal baik-benar-membangun dengan cara yang tepat. Aku sedang belajar untuk menyusun dan menyampaikan hal-hal baik-benar-membangun itu pada kesempatan yang akan datang.

Tantangan yang kuhadapi berdasarkan pengamatan dan pengalaman hidup sehari-hari adalah bagaimana dalam keseharian, saat bertemu orang lain, atau terlibat dalam obrolan-obrolan (curhat, menggosip, dsb) aku bisa tetap teguh, tenang, tidak terbawa emosi, tidak mudah terpengaruh, dan tidak terpancing ikut arus. Sebaliknya, aku bisa berani menyuarakan apa yang ada dalam hati dan pikiranku dengan bijak dan asertif meskipun mungkin tidak sejalan dengan pandangan orang kebanyakan. Sebagai contoh, saat bekerja atau santai sambil nonton tayangan di televisi entah itu berita, hiburan, film, infotainment, iklan, dll., pasti ada saja komentar miring/negatif/sumbang dari orang-orang yang sedang menonton bersama-sama. Misalnya saja ketika sedang disiarkan berita tentang kondisi pemerintahan yang carut marut, selalu saja komentar-komentar negatif yang lebih sering muncul dari orang-orang yang sedang menonton siaran tersebut. Nada yang pesimis, menghakimi, dan mengutuk sering sekali terdengar dari sekelilingku. Ketika ada yang meminta pendapat pribadiku mengenai topik tersebut, sebisa mungkin aku tidak ikut arus. Aku tidak mau ikut pesimis, sinis, menghakimi, ataupun mengutuk. Aku berusaha untuk memandang dari sisi terangnya dan menerbitkan harapan yang optimistis. Kalau aku masih belum begitu memahami duduk persoalannya, aku memilih untuk tidak berkomentar apa-apa terlebih dahulu. Jika hati dan pikiran menjadi bertambah keruh dan panas hanya dengan mendengar komentar-komentar negatif itu, lebih baik aku menyingkir sejenak.


Tidak ada komentar: