Sabtu, 23 November 2013

Budaya Tulis dan Budaya Lisan

Aku masih melanjutkan membaca buku "Healing & Christianity", mungkin bakal aku perpanjang meminjamnya. Banyak hal menarik menarik yang aku dapatkan dari sejarah pelayanan kesembuhan ilahi dalam iman Kristen. Aku heran dan kagum akan ketelimam Pak Kesley, sang penulis buku, dalam menggali informasi dan memaparkannya secara runtut. Aku makin takjub pula dengan budaya tulis yang sudah mengurat akar dalam masyarakat Barat itu, sehingga menghasilkan karya-karya tulis yang membentuk sejarah dunia. Bagi masyarakat Timur, khususnya Indonesia yang lebih banyak bertutur lisan, budaya tulis baru dikembangkan kemudian. Tidak heran jika tidak/belum banyak dijumpai karya-karya tulis dari anak bangsa yang cukup menyejarah. Oleh karena itu, aku harus terus belajar menulis dan menulis lebih sering.

Meskipun karya tulis ilmiah belum terlalu membudaya, bangsa Indonesia aku dapati kaya akan karya sastra. Bangsa Indonesia memang gagap dalam mengumpulkan dan memaparkan data-data secara ilmiah, tetapi jangan salah, mereka sangat piawai dalam menyusun simbol-simbol/perlambang-perlambang dalam bentuk sastra. Lihat saja karya para pujangga pada masa lampau seperti Mpu Tantular, Mpu Prapanca, Ranggawarsita, dll. Karya mereka penuh akan bahasa-bahasa indah yang bernilai filosofis. Pada zaman modern dan postmodern pun banyak penulis Indonesia yang menciptakan karya-karya yang sangat mumpuni. Aku yang awam dalam hal sastra ini cukup menikmati hasil karya mereka yang melukiskan pergumulan dan kegelisahan batin melihat perkembangan zaman. Sebagai seorang anak bangsa, aku bersyukur untuk berkat TUHAN ini.

Hal lain yang aku dapati dari kebiasaan hidup anak bangsaku adalah budaya tutur kata atau mengobrol. Jika bangsa Jepang memiliki pepatah "tiada duduk tanpa membaca", maka mungkin bangsa Indonesia menjalankan prinsip "tiada duduk tanpa mengobrol". Sisi positifnya adalah sisi manusiawi anak bangsaku menjadi lebih terasah. Manusia pada dasarnya memerlukan hubungan yang mendalam dari hati ke hati dengan sesamanya. Hal itu paling mudah diperoleh melalui mengobrol dengan orang di sampingnya. Di mana saja, dengan siapa saja, kapan saja, selalu ada saja obrolan yang terjadi. Dengan mengobrol, terjadi semacam katarsis jiwa sehingga membantu mengurangi/meringankan beban hidup. Sisi negatif dari budaya lisan ini adalah tidak terdokumentasikannya isi obrolan sehingga pemikiran-pemikiran brilian yang muncul pun banyal yang lewat/hilang begitu saja. Sangat disayangkan.

Tidak ada komentar: