Senin, 28 September 2015

Semangat untuk Kembali Menulis

Dari perayaan kecil dengan belanja buku murah di Gramedia Warehouse hari Sabtu kemarin, aku beroleh berkat tak terhingga. Berkat itu berupa semangat yang menyala-nyala (kembali). Aku disemangati oleh Tuhan melalui buku yang kubaca. Terima kasih untuk penulis buku yang sedang kubaca, Prof Rhenald Kasali. Buku yang sedang kubaca saat aku menulis ini adalah 'Myelin'--Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan. Entah mengapa setiap kali aku membaca tulisan sang Prof, aku selalu merasa tersemangati oleh optimismenya yang begitu tinggi. Sekali lagi terima kasih kepada Tuhan untuk pribadi luar biasa ini.

Mengenai buku Myelin, aku sangat tertarik dengan bagian 'knowledge management'. Di situ dijelaskan betapa pentingnya kegiatan dan proses menulis pengalaman dan pembelajaran. Suatu pengalaman yang berharga akan sangat sayang jika hilang tanpa jejak. Pengalaman itu akan semakin memberi dampak jika ditulis sehingga banyak orang yang beroleh transfer pengetahuan. Menurutku, bukan hanya pengetahuan saja yang ditransfer melalui tulisan itu melainkan juga semangat si penulis (dan/atau si pelaku). Semangat itulah yang dibutuhkan oleh semua orang untuk menang dalam hidup, bukan hanya sekedar bertahan hidup.

Bicara tentang menuliskan pengalaman atau pembelajaran, aku jadi terdorong kembali untuk rajin menulis seperti yang biasanya kulakukan dulu. Blog mimiimut ini adalah buktinya. Sejelek apapun mutu tulisan itu, tetap saja tulisan itu bernilai abadi. Apalagi jika tulisan itu benar-benar disusun dengan serius dan penuh semangat. Semangat itu akan terasa benar oleh para pembaca. Contohnya tulisan Prof Rhenald Kasali selama ini.

Aku jadi teringat ketika koas di stase kulit dulu (wah sudah lama juga ya ^^). Seorang dokter senior menceritakan tentang seorang mahasiswa kedokteran yang sukses menjalani stase kulit. Perlu diketahui, di stase kulit, kami dididik untuk bisa menggambarkan kelainan atau penyakit kulit dengan bahasa tulisan. Bisa dibayangkan? Gambarannya seperti melukiskan gambar pemandangan dengan deskripsi tertulis. Nah, si mahasiswa tadi bisa sukses karena konon dia suka menulis di buku harian. Tahu kan buku harian? Ya, dengan rajin menulis apa pun di buku harian, seseorang tentu akan lebih mudah untuk mendeskripsikan sesuatu secara tertulis. Sayang sekali, meskipun aku pun suka menulis di buku harian, aku kurang mampu mendeskripsikan kelainan atau penyakit kulit secara tertulis. Hehe...

Aku jadi dapat ide untuk tahap kehidupanku selanjutnya. Aku akan lebih rajin lagi menuliskan proses belajar dan bekerjaku di lingkungan yang baru besok (kalau keterima). Mungkin blog ini akan semakin aktif dan atraktif. Atau mungkin buku harianku akan semakin banyak terkoleksi. Entah yang mana itu, aku bertekad untuk mendokumentasikan perjalanan hidupku, khususnya dalam proses belajar, bermain, dan bekerja. (Sebenarnya aku kurang suka dengan istilah bekerja... maunya belajar dan bermain saja).

Aku akan mengakhiri tulisan ini dengan mencuplik tulisan Prof Rhenald Kasali di buku Myelin yang kupikir sangat relevan denganku.
Sama seperti seorang dokter hebat. Sehebat apa pun atau sedingin apa pun tangannya dalam menyembuhkan pasien, ia butuh rekam medik, yaitu catatan tertulis menyangkut rekaman historis penanganan medis yang dialami masing-masing pasiennya, obat yang telah ia berikan, pemeriksaan yang dilakukan kolega-koleganya pada spesialisasi yang berbeda-beda, serta hasil pemeriksaan lab dari waktu ke waltu. Yang jelas seseorang tidak dapat menjadi efektif dengan mengandalkan brain memory-nya saja. Ia membutuhkan memori eksternal, yaitu dokuman tertulis.
Selamat berproses. Selamat belajar. Selamat memaknai hidup. God bless us.
 

Tidak ada komentar: