Jumat, 25 September 2015

Meditasi untuk Memenuhkan Pikiran

Setelah tulisan tentang kebuntuan yang ringkas, saat ini aku mau menuliskan lagi sesuatu sebelum beristirahat. Ini tentang penyebab kebuntuan itu. Kemungkinan besar salah satu penyebabnya adalah pikiran yang tidak fokus, alias mengembara ke mana-mana. Menurut artikel dari Lumosity yang kubaca, pikiran yang mengembara itu selain menyebabkan tidak fokus ternyata juga mengurangi kebahagiaan seseorang. Aku akui bahwa aku kurang fokus dalam banyak hal. Pikiranku terisi oleh berbagi macam pernak-pernik yang menurutku penting tapi kurang tertata dengan sistematis sehingga nampak berupa potongan puzzle yang belum tersusun. Amburadul, mawut, kalau orang Jogja bilang. Mungkin ini sebangun dengan status Jogja yang kabarnya sedang istimawut ya ^^ just kidding ^^

Kebalikan dari pikiran yang mengembara adalah pikiran yang fokus atau penuh pada saat 'ini'. Apa pula itu pikiran yang fokus dan penuh? Bahasa Inggris mengistilahkannya sebagai 'mindfulness', yang sampai saat aku menulis ini belum kujumpai padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Yang aku ingat dari artikel pendek Lumosity, cara untuk menkondisikan pikiran supaya dapat fokus dan penuh itu adalah dengan cara meditasi. Meditasi? Seperti apa itu ya?

Menurut pemahaman umum, meditasi adalah mengosongkan pikiran. Pikiran dikosongkan untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi, kurang lebihnya begitu. Bingung? Sama, aku juga tidak tahu bagaimana cara mengosongkan pikiran itu. Menurutku, pikiran itu tidak mungkin bisa kosong. Pasti selalu saja ada isinya. Kalau pikiran benar-benar kosong, berarti jiwa seseorang juga ikut kosong alias hilang. Jika jiwa hilang, mau jadi apa orang itu? Sudah pasti jadi orang yang terhilang, tidak waras, abnormal. Lebih parahnya lagi, kalau jiwa orang itu digantikan oleh sesuatu yang lain yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa matematika, fisika, kimia, biologi.

Menurutku pribadi, berdasarkan referensi yang kudapat dan kupercaya sampai saat ini, meditasi yang benar itu adalah meditasi firman Tuhan. Nah, apa pula itu? Bukannya mengosongkan pikiran, meditasi firman Tuhan adalah mengisi pikiran penuh-penuh dengan kebenaran yang berlandaskan firman. Bagaimana itu caranya? Sederhana saja. Dimulai dari berdoa dan membaca Alkitab. Berdoa adalah untuk memohon bimbingan dari Roh Kudus, Roh TUHAN sendiri yang diam di dalam diri orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya. Kemudian, membaca Alkitab dengan sikap hati yang percaya penuh akan kebenarannya. Setelah itu, ambil waktu untuk berdiam diri di dalam suasana doa. Seringkali, ada sesuatu yang digemakan di dalam hati manakala seseorang sedang berdiam diri setelah membaca dan merenungkan sungguh-sungguh bagian firman Tuhan dalam Alkitab itu. Saat gema atau impresi itu muncul, segera saja tangkap dengan seluruh keberadaan diri kita. Seluruh imajinasi, perasaan, gerak-gerik, dan ucapan/nyanyian/doa merupakan respon positif yang dapat memenuhkan pikiran. Bahkan, saking penuhnya, tidak jarang seseorang dapat sampai ke tahap ekstase yang tak terjelaskan.

Menilik kehidupan doaku yang kadang mbleret seperti bohlam yang hampir putus ini, bisa disimpulkan bahwa kebuntuanku dalam menulis itu diakibatkan oleh karena pikiran yang tidak fokus. Pikiran yang tidak fokus itu disebabkan karena kurang disiplinnya diriku dalam berdoa, membaca, dan menulis. Jadi, untuk mengembalikan kemahiranku dalam menulis, aku perlu menekuni kembali kebiasaan baik itu yaitu berdoa, membaca, dan menulis dalam suasana hati yang melekat pada Tuhan. Tentu saja semua itu dilakukan sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan.

Maka, kucukupkan saja sekian tulisan yang tidak dinyana menjadi cukup panjang ini. Aku mau mempraktekkan kembali doa baca dan tulis itu. Setelah itu, mari kita lihat hasilnya dalam tulisan-tulisan yang akan datang.

Tidak ada komentar: