Selasa, 24 Agustus 2010

Boncel Ketemu Bapa

Boncel sepertinya sedang stres. Tidak seperti biasanya. Atau malah ini keadaan yang seperti biasanya. Boncel sudah terbiasa hidup dengan stres. Masalah kecil jadi besar, bahkan yang bukan masalah pun menjadi masalah bagi Boncel. Boncel bingung. Sudah sejak kapan dia memelihara kebiasaan buruknya ini, berpikiran negatif. Pikiran negatif yang menghasilkan perasaan-perasaan negatif, yang kemudian menimbulkan proses penyalahan diri sendiri, sehingga memunculkan rasa rendah diri yang kronis eksaserbasi akut, yang pada akhirnya membuat Boncel makin stres saja. Bagai lingkaran setan. Boncel terjebak dalam lingkaran setan stres. Pikirannya makin kalut. Pola pikirnya kacau. Emosinya labil. Hidupnya jadi hambar cenderung pahit. Padahal kondisi lingkungan sekitar Boncel begitu indah, nyaman, dan dipenuhi oleh kasih sayang baik itu antara sesama anjing maupun dengan manusia-manusia. Sepertinya ada api dalam sekam. Boncel dapat merasakannya. Begitu menyeramkan. Bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu.
Tenangkan hatimu, Boncel… seru suara lembut dalam pikirannya. Boncel pun berusaha menenangkan hatinya. Tapi tetap saja perasaan tidak enak itu terus mengganggunya.
Apa yang menggelisahkanmu, Boncel? Tanya suara itu lagi. Boncel hanya diam. Bukan diam yang menyenangkan. Lebih karena Boncel tidak tahu harus menjawab apa.
Ceritakan satu per satu, Boncel… pinta suara itu dengan lembut. Boncel sebenarnya ingin menceritakan semuanya, tapi tidak tahu dari mana harus memulai. Bingung. Sumpek. Terlalu blur.
Ayolah, Boncel...
“Hmmm…” pikir Boncel, “Baiklah, akan aku coba menguraikan benang kusut dalam otakku yang segedhe bakpao ini.”
Nah, begitu dong. Itu baru namanya Boncel… ^^
“Jadi begini… hei, bagaimana aku harus memanggilmu?”
Panggil saja aku: Bapa…
“Ok, Bapa…” Boncel pun mulai bercerita. “Pagi tadi, aku bangunnya kesiangan. Seharusnya aku bisa bangun lebih pagi lagi. Karena aku bangun kesiangan, aku jadi kekurangan waktu buat berdiam diri di depan tembok kesayanganku.”
Berdiam diri? Untuk apa, Boncel?
“Aku punya kebiasaan untuk mematung di depan tembok garasi. Nggak melakukan apa-apa. Hanya diam. Terkadang terbayang hal-hal yang sudah dan akan kulakukan. Saat-saat seperti itu adalah saat-saat ternyaman bagiku. Aku bisa menjadi diri sendiri tanpa ada keharusan untuk bersikap manis dan sopan selalu seperti halnya kalau aku ada di tengah-tengah keramaian.”
Ok, lanjutkan, Boncel!
“Karena aku bangun kesiangan, waktu-waktu khususku itu terganggu oleh kehadiran manusia bernama Lek Sar yang selalu menyiapkan makanan dan minumanku. Aku jadi nggak bisa enjoy. Seperti hp yang belum penuh discharge tapi sudah harus dipakai lagi dalam waktu yang lama. Otomatis batereku cepat habis.”
Wah, canggih juga kamu, Boncel. Anjing mana yang bisa melek teknologi kalau bukan Boncel ^^ Lanjut!!!
“Aku jadi sebel banget sama Lek Sar. Aku gonggongin dia tiba-tiba sampai kaget.”
Terus? Lek Sar bagaimana?
“Ya dia kaget dan bikin aku tambah geregetan!”
Wah seperti Sherina saja kamu, Cel… pakai geregetan segala ^^
“Itu belum seberapa… gara-gara itu, seharian ini moodku jadi jelek. Aku nggak bisa merasakan sukacita penuh seperti yang sudah-sudah. Bahkan ketika Jabrik dan Geol sedang asyik bercanda tawa, aku nggak bisa ikut tertawa lepas. Seperti ada yang mengganjal.”
I see… Terus?
“Aku jadi merasa marah dan kasihan sama diriku sendiri. Sepertinya aku ini adalah anjing yang paling bodoh, kaku, kikuk, dan susah bergaul. Padahal aku kan Golden Retriever, yang seharusnya jadi anjing yang paling ramah. Aku jadi merasa sangat sangat tidak berguna. Hik hik…”
Boncel menangis dalam diam. Separuhnya dia merasa marah tapi tidak tahu mau ditujukan kepada siapa. Kepada Lek Sar? Bukan salah Lek Sar kalau waktu pribadi Boncel terganggu, itu karena Boncel tidak segera bangun lebih pagi. Kepada Mimi Imut? Tidak juga. Jabrik dan Geol? Apalagi mereka. Mereka sama sekali tidak salah. Kepada Boncel sendiri? Katanya tidak boleh menyalahkan diri sendiri terlalu banyak supaya tidak mengalami distorsi gambar diri. Kalau begitu kepada siapa? Kepada suara lembut yang dipanggilnya Bapa? Mungkin. Mungkin saja Boncel marah kepada Bapa. Tapi apa salah Bapa? Layakkah Boncel marah pada Bapa? Bukankah kata Mimi Imut, Bapa itu selalu benar dan tidak mungkin salah? Duh, Boncel makin bingung… pening kepala Boncel…
Boncel…
“Huhu…” Boncel masih sibuk menangis dalam hati. Menangisi dirinya sendiri. Untunglah tangisannya tidak berubah menjadi lolongan yang menyayat hati. Bisa merinding para manusia kalau mendengarnya.
Boncel…
“Huhu…” Boncel mulai mendengar suara lembut Bapa tapi hatinya masih sibuk menangis.
Boncel…
“Iya, iya… ada apa, Bapa?” dengan agak berat, Boncel menghentikan tangisannya dan mulai berkonsentrasi mendengarkan suara Bapa.
Jangan sedih, ya… kalau Boncel sedih, Bapa juga ikut sedih… Bergembiralah, Boncel…
“Mengapa Boncel nggak boleh sedih?” tanya Boncel.
Boncel kan masih punya Bapa… meskipun nggak ada satu pun yang bisa mengerti Boncel, Bapa selalu mengerti siapa Boncel… Bapa nggak pernah mengejek Boncel… Bapa sayang Boncel…
“Wew…” hati Boncel terenyuh mendengar perkataan Bapa.
Ingat satu lagu ini, Boncel… Ini lagu kesayangan Mimi Imut, lho… Ssst, jangan bilang-bilang Mimi Imut, ya… ^^
Lebih dari bapa di dunia, Kau menjaga hidupku ya Allah
Bahkan lebih dari kasih seorang ibu, Engkau selalu menyambutku
Lebih dari yang dunia tawarkan, Kau b’rikan yang terbaik oh Tuhan
Sekalipun tak seorang mengindahkanku, Engkau tak pernah membuangku
Kau mengasihiku lebih dari yang kuduga
Bahkan di saatku tiada menyadarinya
Kau sentuh hatiku dengan kasih yang sempurna
Kau menyayangiku lebih dari yang kurasa…
“Wew… bagus banget!!!” seru Boncel.
Bagus kan? Kalau hati sedang sedih karena merasa ditinggal sendiri atau tidak ada yang memahami, nyanyikan saja lagu itu, Boncel. Aku pasti senang mendengarkannya.
“Wah, ide yang bagus, Bapa…” kata Boncel. Hati Boncel kini menjadi sumringah. Kesedihan yang tidak jelas juntrungnya itu kini menguap entah ke mana. Boncel mulai bersenandung merdu dari dalam hatinya. Terima kasih, Bapa… dunia ini indah ya…

Tidak ada komentar: