Rabu, 15 September 2010

Boncel Naik Gunung

Boncel sedang euforia. Ini pertama kalinya Boncel jalan-jalan naik gunung. Sendirian. Nggak bareng Geol dan Jabrik. Cuma ditemani oleh ekor Boncel yang senantiasa mengibas ke kanan dan ke kiri. Maklum, Boncel sedang senang bukan main. Senang kenapa? Karena Boncel sudah lama tidak berjalan-jalan sendiri di alam bebas. Hobby Boncel bertualang tersalurkan kembali setelah lama terkurung di rumah Mimi Imut. Makin gendut. Mimi Imut memang nggak terlalu hobby bertualang seperti Yoyo Imut. Makanya Boncel lebih senang main sama Yoyo Imut dalam hal jalan-jalan. Tapi sekarang pun Yoyo Imut lagi sibuk sendiri dengan kerjaannya di belakang computer. Jadinya, Boncel nggak punya teman untuk jalan-jalan. Geol dan Jabrik lebih hobby ngobrol dan makan, jadinya mereka tambah gendut saja.
Kembali ke cerita semula. Boncel sedang asyik menikmati pemandangan. Angin gunung yang sembribit membuat bulu-bulu Boncel terasa sangat nyaman seperti selimut tebal. Lidah Boncel sesekali terjulur ke luar karena Boncel tidak bisa memproduksi keringat. Cuaca cerah tapi udara terasa sejuk. Boncel bersyukur buat semua keindahan yang dilihat dan dirasakannya. Seandainya Boncel tidak buta warna, pasti Boncel sudah bisa menikmati warna-warni daun yang hijau kuning di hutan gunung.
Ngomong-ngomong, Boncel naik gunung mana sih? Di Indonesia kan banyak banget gunung. Ssst… jangan bilang-bilang… Boncel sedang menjelajah daerah pegunungan yang ada di selatan Jogja, alias Gunung Kidul. Tepatnya lagi di ibukotanya, Wonosari. Lebih pastinya lagi, di daerah Selang. Nah, di situ ada Balai Pengobatan yang cukup terkenal sejak tahun 2003. Di situlah kadang-kadang Mimi Imut bertapa atau bersemedi untuk menambah kesaktiannya. Mimi Imut sedang mempraktekkan ilmu ketabibannya. Dengan bersemedi di Selang, diharapkan ilmu yang dimiliki oleh Mimi Imut dapat semakin mumpuni. Tabib zaman sekarang gitu… hehe…
Tapi Boncel sedang tidak ingin ke tempat semedi Mimi Imut. Takut kualat. Takut nanti dikira pasien. Boncel takut diperiksa sama Mimi Imut. Soalnya Boncel tahu siapa itu Mimi Imut. Waktu kuliah dulu aja Mimi Imut sering mbolos dan kadang-kadang (baca: sering) malas belajar. Gimana bisa jadi tabib yang mumpuni ya? Boncel Cuma bisa garuk-garuk kuping pake kaki belakang setiap kali Boncel mendapati Mimi Imut ketiduran saking malasnya belajar. Pingin rasanya Boncel tukeran tempat sama Mimi Imut, biar Boncel saja yang belajar jadi tabib dan Mimi Imut tinggal main-main aja di rumah. Tapi yah, mimpi tinggal mimpi. Boncel Cuma bisa geleng-geleng kepala mengingatnya.
Di gunung, Boncel mencari tempat yang enak buat duduk-duduk selonjoran. Hari sudah sore. Sebentar lagi matahari sudah terbenam. Burung-burung kecil sudah mulai masuk ke sarang masing-masing. Gantian burung hantu dan kalong yang mencari makan. Hutan jadi ramai oleh riuh rendah suara jangkrik. Suasana yang nggak pernah Boncel jumpai di kota besar. Hmmm… Indahnya bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Bulan sabit pun mulai muncul dengan agak malu-malu. Wah, Boncel kok jadi melankolis begini ya? Hehe…
Mau sampai kapan Boncel duduk-duduk di hutan gunung? Entahlah… Mungkin mau sampai besok atau bahkan Boncel nggak mau pulang. Nanti kalau dicari Mimi Imut bagaimana Cel?
“Biar saja. Lagian Mimi Imut juga sudah nggak pernah main lagi sama aku…” jawab Boncel sambil menguap karena mengantuk.
Tak lama kemudian, Boncel pun tertidur di bawah pohon. Selamat tidur, Boncel. Mimpi indah ya. Dan jangan lupa bangun untuk mewujudkan semua mimpi indah itu. ^^

Tidak ada komentar: