Jumat, 26 Februari 2010

Martin

Hari itu Martin merasa tidak tenang. Pagi dini hari itu, ia menerima SMS penting dari Melody. SMS yang bunyinya mengingatkannya akan kejadian yang hampir mirip setahun yang lalu. Kejadian yang mebuat hidupnya dan Melody menjadi tidak tenang dan was-was karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Grace, sahabatnya.
SMS itu berbunyi demikian, “Martin, tolong doakan Grace. Sepertinya ia kambuh lagi. Aku tidak tahu apa sebabnya tapi Grace sepertinya butuh pertolongan. Miss u. GBU.”
Pesan singkat yang membuat Martin bertanya-tanya, separah apakah kondisi Grace saat ini. Setahun yang lalu, saat Martin dan Melody sedang asyik makan-makan di sebuah warung tenda, tiba-tiba saja mereka mendapat kabar bahwa Grace kabur dari rumahnya tanpa alasan yang jelas. Hari itu masih pagi. Hari Minggu di mana sebagian besar orang masih beristirahat. Martin dan Melody baru saja pulang dari gereja pagi jam enam, karena mereka terbiasa untuk menghadiri kebaktian Minggu jam lima pagi untuk kemudian dilanjutkan dengan berjalan-jalan dan jajan makanan di warung tenda sepanjang jalan menuju gereja. Pagi yang cerah dan indah berubah menjadi mimpi buruk karena Grace, teman dan sahabat mereka yang sangat mereka kasihi, tiba-tiba bertingkah aneh dan tidak seperti biasanya.
Grace yang biasanya ceria dan terbuka, menjadi tampak sedih dan berbeban berat hari-hari itu setahun yang lalu. Entah apa masalahnya. Grace tidak pernah cerita. Begitulah Grace, kalau ada masalah ia jarang menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada sahabat-sahabat terdekatnya termasuk Martin dan Melody.
Kembali ke hari Minggu setahun yang lalu, Martin dan Melody sangat terkejut saat mendengar kabar dari Om Sammy yang mengatakan bahwa Grace telah pergi meninggalkan rumahnya pagi-pagi sekali entah ke mana. Om Sammy adalah adik dari ibu Grace yang paling dekat dengan Grace dan teman-temannya. Om Sammy dan keluarga Grace sedang mencari Grace waktu itu dan meminta Martin dan Melody untuk turut serta mencarinya karena hanya merekalah teman-teman terdekat Grace waktu itu yang mungkin tahu di mana Grace berada.
Martin dan Melody mulai mencari di lingkungan gereja dekat dengan kampung tempat tinggal Grace. Grace memang sangat relijius. Ia sering sekali pergi ke gereja sendirian hanya untuk berdoa atau menyendiri bersama Tuhan. Berbeda dengan Martin dan Melody yang lebih sering menghabiskan waktu berdua dengan mengobrol atau sekedar jalan-jalan, Grace lebih sering menghabiskan waktu dengan sendirian. Entah apa yang dilakukannya saat sendirian. Ada yang bilang Grace berdoa syafaat untuk banyak hal besar yang menentukan jalannya negeri, gereja, bangsa, dan hal-hal besar lainnya. Konon, waktu zamannya kerusuhan dan banyak gereja dibakar, Grace waktu itu membayar harga dengan mendoakan secara sungguh-sungguh sehingga kota Yogyakarta tidak menjadi rusak separah kota-kota yang lainnya. Saat orang-orang lainnya sedang tidur nyenyak atau ketakutan mendengar isu bom di mana-mana, Grace lebih banyak bertekun dalam doa di kamarnya sampai berjam-jam. Entah bagaimana Grace bisa tahan berdoa selama itu. Kata kakak rohani Martin, Bang Immanuel, itu karena Grace mendapat urapan khusus untuk berdoa syafaat dari Tuhan. Martin masih bingung apa itu urapan dan seperti apa bentuknya, tapi ia percaya saja bahwa Grace ada dalam lindungan tangan Tuhan dan sedang dipakai Tuhan untuk kemuliaanNya.
Mereka tidak menemukan Grace di mana pun mereka mencari. Di gereja, sekolah, halte-halte bus, dan di berbagai tempat seperti pasar, kantor pos, dan kantor polisi. Untuk lapor polisi pun masih kurang dari dua puluh empat jam dan Grace bukan diculik melainkan pergi karena keinginannya sediri. Tiga jam mereka mencari dan mencari, namun Grace belum ditemukan juga. Martin dan Melody sangat kelelahan dan kebingungan. Di tengah-tengah kebingungan, Melody mengusulkan sesuatu kepada Martin.
“ Martin, ayo kita berdoa!” seru Melody tiba-tiba.
“Berdoa? Untuk apa?” tahya Martin tambah bingung.
“Yah, kau tahu kan… aku dan Grace terbiasa berdoa dalam berbagai keadaan…”
“Yeah, kalian memang maniak berdoa,” seloroh Martin.
“Jangan bilang begitu! Kami memang hobby berdoa dan apa yang kami doakan itu mulai dari hal-hal sederhana sampai hal-hal yang rumit. Sekaranglah waktu yang tepat untuk berdoa meminta bantuan Tuhan untuk menemukan Grace. Saat kita angkat tangan, maka…”
“Tuhan yang turun tangan,” potong Martin sebelum Melody sempat menyelesaikan kata-katanya. “Okelah kalau begitu… Mari kita berdoa.”
“Ya Bapa…” kata Melody,”Kami saat ini sedang kehilangan Grace…”
“Benar-benar kehilangan, Bapa…” sahut Martin tiba-tiba.
“Tolong kami untuk menemukannya, Bapa, karena kami sangat khawatir akan Grace. Kami semua menyayanginya, Bapa… Kami tidak tahu apa masalah yang sedang dihadapi oleh Grace. Tapi Engkau Allah yang maha tahu, Engkau pasti tahu apa yang sedang dialami oleh Grace. Oleh karena itu, kami mau menyerahkan Grace ke dalam tanganMu, Bapa…”
“Benar, Bapa…”
“Saat ini, tolong lindungi Grace karena kami tidak yakin Grace ada di mana dan sedang melakukan apa…”
“Yes, Lord… Please, Jesus…”
“Demi nama Yesus, kami berdoa dan memohon…”
“Amin!” bersama-sama Martin dan Melody mengucapkan kata ‘amin’ dengan mantap.
Setelah berdoa secara singkat kepada Tuhan, Martin dan Melody merasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Entah bagaimana mereka yakin Grace tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti mereka akan menemukannya dalam kondisi yang selamat.
Tiba-tiba ponsel Melody berbunyi. Rupanya ada SMS penting. “PUJI TUHAN!!! GRACE SUDAH KETEMU!!! SEKARANG ADA DI RUMAH IBU ISADORA!!!” Rupanya dari Om Sammy. Benar kan, setelah berdoa, Grace pasti ketemu… begitu kata Melody dengan penuh sukacita dalam hatinya. Dengan bergegas, Martin dan Melody segera pergi ke rumah Ibu Isadora untuk bertemu dengan Grace.

Tidak ada komentar: