Rabu, 10 Februari 2010

Pelajaran dari Majegan, Sebuah Pil Pahit

Akhirnya setelah hampir dua bulan aku menyelami dunia kerja di Puskesmas Majegan meskipun nggak dalam2 amat, aku mendapatkan hal2 yang membuatku sedikit (atau banyak) merasa tidak nyaman... Apakah itu? Itu adalah kecenderungan manusia untuk membicarakan kekurangan dan kejelekan orang lain di belakangnya. Aku mendapati dalam usia hidupku yang baru seperempat abad ini, nggak peduli di mana, kapan, dan dengan siapa saja, pasti ada aja yang namanya biang gosip. Makin digosok makin sip. Sepertinya telinga ini suka sekali mendengarkan hal2 tidak sedap yang digosok sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk ditelan. Misalkan saja, jika pak A sedang tidak ada, maka sekumpulan orang akan beramai-ramai membicarakan perihal kebiasaan pak A yang buruk atau kekurangan pak A. Tapi nggak pernah aku mendapati ada yang dengan ksatria menyampaikannya kepada pak A setidaknya supaya pak A berubah. Pak A bisa siapa saja dan sekelompok orang itu juga bisa siapa saja.

Selain itu, ini juga yang mengusik ketenangan dan kedamaian hati nuraniku. Aku sepertinya adalah tipe orang yang asosial atau kurang pergaulan. Tapi begitu aku mencoba membuka diri untuk bergaul atau sekedar mengajak atau diajak ngobrol dengan temanku, aku mendapati bahwa sangat rawan dan rentan sekali aku terjatuh dalam sikap yang aku benci itu, yaitu menggosip. Maka, aku pilih untuk lebih banyak diam dan mendengarkan terlebih dahulu daripada mencari-cari dan menambah masalah. Dalam hal ini, pepatah diam adalah emas itu sangatlah tepat untuk diberlakukan.

Hal berikutnya yang sangat kubenci adalah adanya gap atau jurang pemisah atau jarak antara sekelompok orang dengan kelompok yang lain. Kelompok yang kumaksud adalah kelompok pelayanan kesehatan di bagian depan dan bagian perawatan (belakang) Puskesmas Majegan. Sepertinya ada tembok tidak kelihatan yang memisahkan mereka yang membuat hubungan menjadi agak tidak harmonis. Aku menangkap nada sumbang hari ini... seorang ibu drg (pelayanan depan) kudapati membicarakan sesuatu yang tidak menyenangkan berkenaan dengan seorang perawat (pelayanan belakang)... Padahal aku pikir semuanya baik2 saja, nggak ada masalah sama sekali... tapi ternyata, gesekan itu tetap juga ada... di manapun aku berada, ke mana pun aku pergi, selalu saja kujumpai... masalah yang sama, gak di keluarga, gak di koas, gak di puskesmas... Dan pastilah masalah seperti ini bakalan aku temui kembali besok di RS Bethesda, kalau aku jadi gabung ke sana...

Apa aku akan diam saja? Apa aku akan ikut hanyut dalam arus menggosipkan orang lain di belakang? Atau aku berani bersikap beda dengan menyatakan kebenaran yang sederhana, yaitu membalik prosesnya... aku tidak membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain tetapi sebaliknya, mengangkat kebaikan dan kelebihan mereka di depan dan di tengah2 kerumunan orang yang gila gosip? Hmmm... butuh kasih karunia dan keberanian yang berasal dari Atas untuk melakukannya... dan dibutuhkan doa, daya, dan dana untuk mewujudkan kondisi ideal kerajaan Surga itu... Wew... mampukah aku? Tentu saja aku hanya mampu apabila bersama-sama dengan Tuhan... maukah aku? Well... siapa yang nggak mau?

God, help me please... Tolong aku untuk berdiri tegak di tengah angkatan yang bengkok ini... Amin!!!!!!!

Tidak ada komentar: