Jumat, 26 Februari 2010

Melody

Hari masih gelap. Jam empat pagi. Tapi ada satu suara nyaring berbunyi dari balik bantal. Melody yang masih tertidur lelap terpaksa bangun dengan setengah hati karena tidak tahan dengan suara bising dan getaran ponsel yang dirasanya sangat mengganggu. Siapa ya pagi2 begini kirim SMS, tanya Melody dalam hati. Semoga jangan dia lagi. Melody tahu pasti siapa yang biasanya kirim SMS di waktu2 yang menurut kebanyakan orang “tidak tepat”. Siapa lagi kalau bukan Grace. Hhh, Grace… anak itu lagi… Akhir2 ini Grace sering mengiriminya SMS yang tidak jelas apa maksudnya. Tapi mau bagaimana lagi, Melody sudah menganggap Grace seperti saudaranya sendiri. Suka tidak suka, Melody tetap harus menerima Grace apa adanya dan siap membantunya kapan saja. Bukankah demikian yang dinamakan sahabat?
Dibukanya SMS dari Grace. Hmmm… pesan yang lagi2 tidak jelas maksudnya apa, batin Melody. Sepagi ini Grace sudah bangun. Apakah dia tidak bisa tidur lagi? Mungkinkah Grace kambuh lagi insomnianya dan mulai berkelakuan yang tidak wajar seperti yang dulu pernah terjadi? Melody merinding mengingatnya. Grace, Grace… Apapun yang terjadi, aku tetap peduli padamu, kata Melody dalam hati. Melody pun bangun, duduk bersila di atas tempat tidurnya, dan mulai berdoa seperti yang biasa ia lakukan sejak dulu. Doa yang tulus dari seorang sahabat yang terpisah oleh kesibukan masing-masing.
“Bapa…” kata Melody memulai doanya, “Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan Grace kali ini. Tapi aku mohon, jaga dan lindungilah dia, Bapa, jangan sampai dia terkena hal-hal yang mengancam jiwanya. Ampuni aku, Bapa, karena aku terlalu sibuk bekerja sehingga aku tidak bisa menemani Grace sepanjang waktu. Tapi di hatiku, dia tetaplah sahabatku. Aku tidak mau kehilangan Grace, Bapa… karena itu, aku mohon, jagalah Grace setiap waktu. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa… amin.”
Doa yang singkat tapi tulus. Itulah Melody. Setiap kali ada masalah dengan seseorang yang dikenalnya dengan baik, ia selalu membawanya ke dalam doa syafaat. Melody memang seorang pendoa syafaat, terutama bagi teman-teman terdekatnya termasuk Grace. Sering sekali ia terlibat apa yang dinamakan peperangan rohani demi menolong teman-temannya keluar dari masalah mereka masing-masing. Satu per satu didoakannya mereka dengan penuh kasih dan empati. Sampai berjam-jam pun Melody rela berlutut berdoa sampai sesuatu yang supra alami terjadi. Melody punya kelebihan berupa kemampuan untuk melihat dan mendengar apa yang tidak semua orang bisa lihat dan dengar. Dulu ia sering melihat bagaimana pertempuran yang sengit terjadi antara bala tentara Tuhan dengan setan-setan. Bahkan, Melody dapat merasakan apa yang orang lain rasakan meskipun orang itu belum menceritakan persoalannya pada Melody. Hal inilah yang mungkin membuat Grace merasa minder dan kehilangan kepercayaan dirinya sehingga membuat jiwanya labil. Tapi Melody tidak ambil pusing. Ia tetap menghibur Grace dengan mengatakan bahwa ia sendiri sebenarnya tidak menginginkan mempunyai karunia khusus tersebut karena beban yang ditanggungnya sangatlah berat. Melody pernah berdoa supaya Tuhan Yesus mengambil kembali karunia khusus tersebut. Sungguh kebalikan dari Grace yang selalu meminta supaya Tuhan Yesus mengizinkannya untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di surga ataupun di neraka.
Selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya di hadapan Tuhan, Melody berdiam diri sejenak. Ia teringat akan masa-masa lalu ketika ia baru mengenal Grace. Ia teringat bagaimana dulu mereka berkenalan, menjadi sahabat sepenanggungan, menjadi partner dalam doa syafaat, menjadi saudara dalam kesusahan, bahkan sampai perpisahan yang menyedihkan sebelum akhirnya bertemu kembali setelah beberapa waktu. Ah, kalau saja waktu itu ia tidak bertemu dengan Grace, pastilah hidupnya akan tenang dan damai. Tapi entah mengapa, Tuhan Yesus sepertinya sengaja mempertemukannya dengan pribadi bernama Grace yang sangat unik yang membuat hidupnya menjadi tidak tenang namun penuh warna. Grace benar-benar telah dipakai Tuhan untuk membuat hidupnya penuh dengan gejolak-gejolak emosi yang tidak terduga. Hubungan persahabatan yang unik yang terjalin di antara keduanya ini sepertinya memang bukan hubungan persahabatan yang biasa. Seperti ada semacam tali tidak kelihatan yang telah mengikat hati keduanya. Tali yang bukan sembarang tali melainkan tali yang terjalin oleh kasih sejati yang tidak berasal dari dunia ini. Kasih sejati yang hanya ada dalam Tuhan saja. Dan sepertinya memang hanya Tuhan sendirilah yang dapat memutuskan tali itu.
Melody menghela napas. “Yah, Tuhan, kalau memang ini kehendakMu, biarlah kehendakMu saja yang terjadi. Aku siap melakukan apa saja yang Engkau mau supaya kulakukan. Aku akan menjaga Grace sekali lagi, bahkan berkali-kali sampai kapan pun karena aku mengasihinya. Grace adalah sahabat yang Engkau berikan kepadaku untuk membantuku belajar bagaimana mengasihi dengan tulus dan senantiasa ada untuk memberi pertolongan, seberat apa pun itu. Ini aku, Tuhan, pakailah aku…aku siap…” Melody pun membuka matanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu sudah jam setengah lima pagi. Sudah hampir fajar. Dihidupkannya radio kesayangan pemberian Martin, kekasih hati yang merupakan calon pasangan hidupnya. Didengarnya suara penyiar radio dari stasiun Petra FM yang lembut. Acara saat teduh pun dimulai. Suara lantang pendeta Gilbert Lumoindong, S.Th terdengar dengan mantap dan menguatkan hati. Melody pun terhanyut dalam hadirat Tuhan sembari mendengarkan acara-acara yang silih berganti dengan nyanyian rohani yang diputarkan oleh si penyiar. Hari yang indah bagi Melody untuk mulai mempersiapkan dirinya untuk bekerja memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
“Selamat pagi, Bapa… selamat pagi, Yesus…selamat pagi, Roh Kudus…” gumam Melody menyapa Tuhan, Allah Tritunggal. Dan hari pun dimulai bagi Melody.

Tidak ada komentar: